Destiny 41

Destiny 41
Rivalitas Maria dan Fidel


__ADS_3

Sekilas matanya mengerjap. Pintu kamarnya diketuk. Sekilas juga, ia sempat lihat jam


di ponsel, yang diletakan di meja kecil samping spring bed. Masih jam enam, menurut prakiraannya. Dengan sempoyongan, Diaz beringsut. Ternyata Maria.


“Kamu ternyata, Mar. Ada apa?” Diaz mendesis kesal.


“Jam segini kok masih molor sih?” kikik Maria.


Diaz menghela napas. “Masalah buat kamu?” Ia membalas ledekan tersebut dengan


ganasnya. Sirna sudah kantuknya. “Mending kasih tahu, apa maksud kamu bangunin aku


pagi-pagi gini.”


“Aku mau minta tolong dianterin ke makam Papi sama Mami aku. Udah lama nggak


ziarah ke sana.”


“Nggak bisa apa pergi sendiri?!”


“Bisa sih. Tapi kan biar hemat ongkos aja.” kata Maria nyengir.


“Terus kenapa harus aku? Ada Martin atau Agatha kan. Papa-Mama juga bisa


nganterin.” kata Diaz yang masih keberatan.


“Nggak cukup apa, aku harus sering nganterin kamu ke kampus?”


“Agatha kan masih sekolah. Sekolahnya nggak libur hari sabtu. Bang Martin pergi


liputan. Sementara Om dan Tante kan udah pergi dari kemarin buat melayat. Jadi tinggal


kamu doang, Yaz, harapanku. Pleaaseee…." rajuk Maria dengan ekspresi yang bikin Diaz


mulas saja.


“Ya udah, bawa aja Innova itu. Nggak dipake si Martin juga kan.” ujar Diaz kusut.


“Kuncinya ada di bufet.”


“Aku lagi males nyetir mobil. Kamu dong yang nyopirin aku ke sana. Pleaseee…” rajuk Maria sekali lagi.


Diaz dengan gemasnya memutar bola mata. “Hadeuh, nih anak…”


“Nanti aku bikinin makanan spesial deh.”


Diaz melotot.


“No way!!! Ogah. Aku nggak bakal mau makan masakan kamu lagi. Tapi kalau kamu mau traktir aku makan siang dan makan malam, lain persoalan.” Diaz kedap-kedip pada Maria.


Maria masih tampak senewen. Namun apa boleh buat. Ada persoalan yang jauh lebih penting daripada sekadar traktiran. Itu ziarah.


“Ya udah deh, aku traktir kamu. Tapi anterin aku ke sana yah.”


💜💜💜💜💜


Kemana mata menjelajah, selalu sama pemandangannya. Nisan, nisan, nisan. Ada


nisan benar-benar biasa, sederhana, menengah, hingga mewah. Dan nisan yang tertangkap oleh retina Diaz itu merupakan nisan yang cukup mewah. Ia baru tahu, orangtua Maria ternyata orang yang cukup berada. Maria ternyata sungguh seorang peranakan. Nama ibunya berbau Italia. Fransesca Rossi. Oh dari situ toh asal usul wajahnya yang keeropaan.


“Lagi mikirin apaan sih? Mikirin aku yah, Yaz?”


“Shit!” raung Diaz kesal setelah menengok ke arah suara yang memanggilnya. “Kamu


ngagetin aja, Mar.”

__ADS_1


“Ma---af.” kata Maria memasang senyuman termanis.


“Fuuuh… lagian siapa juga yang mikirin kamu? Ge-er banget!” semprot Diaz. “Udah


yuk, langsung kemana gitu kek. Aku laper. Tadi blon sempet sarapan.”


“Iya, iya.”


Di tengah jalan, beberapa langkah setelah menjauhi makam kedua orangtua Maria,


mereka berdua dikagetkan oleh seseorang. Tampak Maria begitu sebal melihat perempuan bermata sipit itu. Fidel, salah satu saingannya yang lain. Mahasiswa fakultas Psikologi yang seangkatan. Mau apa perempuan itu ke sini?


“Eh Fidel,” sapa Diaz.


Fidel menengok. Tersenyum, walau mata tak bisa berdusta. “Eh Diaz, ngapain lu ke


sini?”


“Nganterin nih anak buat ziarah ke makam orangtuanya,” Diaz mendelik ke arah


Maria. “Nggak usah manyun gitu deh, Mar. Kamu tuh jadi makin jelek.”


Maria mendengus. “Yaz, buruan yuk ke mobil. Kamu udah laper kan.”


“Buru-buru banget sih.” kata Diaz nyengir.


Fidel terkekeh, Maria makin menekuk bibir.


“Eh Del, lu ngapain ke sini?” tanya Diaz dengan alis terangkat secara tak sengaja.


“Sama kayak tunangan lu, mau ziarah juga.” kata Fidel dengan penekanan lebih pada


kata tunangan.


“Oh iya yah, ziarah ke makam adek lu yang meninggal pas kita lagi ujian praktek


Fidel mengangguk, tersenyum.


Tampak Maria mulai menunjukan simpatinya. “Meninggal? Meninggal karena apa?”


Diaz terkekeh. “Jelasin, Del.”


“Adek gue meninggal pas lagi tidur, Mar. Setelah diperiksa lebih lanjut sama dokter,


ternyata adek gue kena serangan jantung.”


“Badannya segede gajah sih. Gimana nggak serangan jantung?” kata Diaz terkekeh,


tanpa maksud melecehkan. Terkadang Diaz seringkali melontarkan guyonan-guyonan pahit secara spontan.


“Yeee, lu ini yah. Gitu-gitu Hiro itu baik banget. Setelah kepergiannya, rumah kerasa


sepi banget. Nggak ada lagi terdengar candaan-candaan atau permainan gitarnya. Lagian, awas lho, ngeledekin orang yang udah mati, lu bisa didatengin arwahnya.” ujar Fidel


terkekeh.


“Iya, iya, gue minta maaf.” ujar Diaz nyengir.


“Aku turut berduka yah, Del,” kata Maria yang mulai menunjukan senyumannya pada


sang saingan. Tapi tetap saja, perasaan senewen itu tak kunjung hilang.


“Makasih, Mar.” kata Fidel yang langsung memalingkan pandangan ke Diaz kembali.


“Eh, udah dulu yah, Yaz. Gue udah ditunggu sama keluarga gue. Itu nyokap manggil-

__ADS_1


manggil gue mulu.”


Diaz mengangguk.


Sesampainya di Innova, Diaz menyampaikan uneg-uneg yang sudah lama dipendam


kepada Maria. “Mar, kalau aku lihat, kamu kenapa begitu dingin sih ke Fidel? Fidel itu


orangnya baik lagi. Dia bukan tipe manusia yang kamu harus sinisin. Emang dia ada salah apa sama kamu?”


Seraya memasang sabuk pengaman, Maria menjawab, “Nggak apa-apa. Udah yuk,


kita pergi cari makan. Kamu udah laper kan.”


Diaz hanya bisa tersenyum.


Sepertinya Maria belum mau terbuka soal kedinginan hatinya pada Fidel. Sebetulnya, selain karena faktor Diaz, ada satu lagi yang membuat Maria begitu senewen tiap bersua dengan Fidel. Segalanya bermula saat Maria dan Fidel masih semester satu. Mereka berdua berada di sebuah unit kegiatan kemahasiswaan yang sama, English Debate Club.


Saat itu merupakan empat bulan sebelum Maria datang ke rumah Diaz. Kedua


orangtua Maria masih terasa napas kehidupannya. Maria memang sefakultas bareng Diaz.


Tapi perempuan itu belum terlalu akrab. Wajar saja Diaz tak begitu mengetahui kasus


tersebut. Fidel menyebarkan isu bahwa Maria mengidap virus HIV.


Kelewatan sekali memang. Andaikata isunya benar, tak selayaknya Fidel seenak


udelnya berkoar-koar. Usut demi usut, Fidel melakukan hal itu karena cemburu dengan Maria yang cukup eksis di English Debate Club.


Isu itu memang terbukti tak benar. Maria tak terbukti mengidap HIV. Namun isu itu


sudah memakan maut yang jauh mengerikan dari sebuah virus HIV. Kedua orangtua Maria


tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat saat hendak mengurus segala hal yang benar-benar bisa membuktikan bahwa Maria tak mengidap HIV. Tak cukup puas dengan hasil di beberapa rumah sakit, orangtua Maria mengkrosceknya lebih lanjut ke sebuah rumah sakit ternama di


Singapore.


Maria tahu orangtuanya harus menjadi korban karena rasa cinta yang begitu besar.


Perempuan itu juga tahu bahwa Fidel bukanlah seratus persen penyebab kematian kedua orangtuanya. Bahkan Fidel sudah meminta maaf secara langsung saat hari penguburan.


Namun luka hati tetap luka hati. Terasa sulit bagi Maria untuk bisa memaafkan ulah Fidel


yang sudah menebarkan isu yang tak enak tersebut. Ia selalu berpandangan, andaikata Fidel tak menyebarkan isu tersebut, mungkin kedua orangtuanya masih ada.


Maria begitu kesumat terhadap Fidel. Bayangan kasus HIV itu masih terus


memburunya. Ia masih sebal sekali dengan Fidel. Apalagi bukan soal HIV itu pun, Maria


juga geregetan dengan Fidel. Kenapa Fidel selalu saja bersikap sinis padanya. Padahal dirinya selalu bersikap baik. Berkali-kali malah. Salah satunya saat menolong Fidel yang diganggu mantannya yang terus menerus memaksa untuk membayarkan segala biaya selama berpacaran. Hei, ide soal melempari sang mantan Fidel dengan sekantong kresek penuh receh


di depan khalayak itu kan merupakan buah pikiran dari Maria. Seharusnya Fidel


berterimakasih. Nyatanya Fidel tak jauh beda dengan mantannya. Sama-sama muka tembok.


Sementara untuk kedekatan Fidel dan Diaz sendiri, bermula saat proses pemakaman


kedua orangtua Maria. Diaz yang masih belum mengetahui kronologis kematian kedua orangtua Maria, berjumpa dengan Fidel. Fidel terus terang mengaku–atau kita bisa anggap saja gadis itu sedang menjilat–dirinya itu merupakan sahabat karib Maria di English Debate Club. Kecocokan jalan pikiran membuat Fidel jadi akrab dengan Diaz.


Fidel inilah juga yang menjadi orang pertama di kampus yang mengetahui soal


pertunangan Diaz dengan Maria. Diaz sering menumpahkan kekesalannya soal pertunangan dan segala hal yang berhubungan dengan Maria kepada Fidel.


Demikianlah Fidel jadi

__ADS_1


mengetahui soal luar-dalamnya perasaaan Diaz ke Maria.


__ADS_2