
Bandara Soekarno-Hatta, 1 Juli 2013,
“Diaz, bantuin aku,” Maria tergopoh-gopoh berlari-lari menyusuli Diaz yang agak jauh.
“Koper ini berat tahu.”
Suara kencangnya itu jadi menarik perhatian para pengunjung bandara. Banyak yang
memperhatikan; dikiranya sedang ada proses pembuatan film drama. Diaz jadi jengah. Dengan ogah-ogahan, ia kembali pada Maria, tunangannya itu. Ia menggeram.
“Lagian ngapain bawa banyak banget barang bawaan? Kita cuma liburan di sana, bukan
tinggal. Holiday, not stay or live. Understand?” protes Diaz merengus dahsyat. Beberapa kali ia mendengus.
“Kamu kayak nggak tahu cewek aja. Yah cewek kan emang gitu, barang bawaannya selalu lebih banyak dari cowok.” bela Maria sengit.
“Aku punya banyak teman cewek dan suka travelling, tapi nggak serempong kamu deh.
Contohnya, si Velita itu.”
Maria cemberut. “Apa sih? Kok jadi bawa-bawa dia? Mau CLBK yah?”
Diaz nyengir. “Kalau iya, kenapa?”
Auw, perut Diaz melilit. Bukan karena gejala sakit perut, tapi karena cubitan Maria yang
langsung bilang, “Rasain.”.
“Sakit, Mar.” Cowok itu masih mengelus-elus perutnya. “Iya, iya, aku bantuin–atau
tepatnya, kita barter. Kamu bawain ranselku ini–“ Ia menunjuki ransel warna merah tua campur coklat tua yang digendongnya. “--yang nggak seberat kopermu itu.” Tunjuknya pada koper Maria ukuran besar warna ungu tua. “Mau nggak?”
Maria memutar bola mata.
“Jangan kelamaan mikir deh, pesawatnya sebentar lagi dateng.” desak Diaz nyengir.
Gadis itu tersenyum. “Ya udah deh, aku mau. Aku juga emoh seret-seret koper yang beratnya ngalahin emasnya Monas itu.”
Diaz terkekeh seraya melepaskan ranselnya – lalu menyerahkannya pada Maria yang sudah
melepaskan pegangan dari koper bermasalah tersebut. “Emang kamu udah pernah megang?”
“Itu cuman joke doang, Diaaaaz…”
“Oh joke yah? Garing dong berarti, krik-krik-krik.”
Perut Diaz melilit lagi. “Udah buruan jalan, ntar kita bisa nggak jadi lagi ke Puerto Rico-nya.”
Maria tersenyum, seraya menenteng ransel itu yang cukup bikin dia ngos-ngosan. Walau kepayahan, sekiranya tak seberat koper yang isinya… yah kelebihan beban, karena
gadis itu membawa barang-barang yang kebanyakan tak seharusnya dibawa (untung Diaz dibekali uang lebih oleh Papa-nya untuk biaya tambahan karena kelebihan beban). Sambil berjalan–yang kini ganti berada di depan Diaz, ia mengulumkan sebuah senyuman lebar.
Pikirannya menayangkan beberapa momen luar biasa. Mulai dari saat kali pertama kali
datang ke rumah Diaz hingga kejadian waktu itu. Diaz akhirnya mengaku juga soal perasaan cintanya itu.
💜💜💜💜💜
Diaz mengernyitkan keningnya. Alangkah kagetnya dirinya saat tahu siapa yang
sedang duduk di bangku ruang tamu itu. Itu kan teman kuliahnya, si centil yang hobi
mengepang dua rambut panjangnya. Ia tersenyum menjijikan, sekiranya begitulah anggapan Diaz. Di samping Diaz, duduklah seorang gadis yang berambut pendek sebahu. Ia tersenyum seadanya. Gadis itu masih dirundung duka dan anak seusia itu memang sering kesulitan untuk bisa menghapus duka. Yang bikin Diaz tambah herannya lagi, di dekat dua orang gadis itu,
ada beberapa buah koper besar. Kekagetan itu mengikis habis rasa lelahnya setelah empat jam lalu sibuk rapat mempersiapkan acara Natal fakultas.
“Maria?”
“Oh, kalian sudah saling kenal toh?” sela Pak Hendrikus yang sebetulnya itu terlihat
sekali sandiwaranya, hanya saja Diaz dan Maria tak terlalu memperhatikannya.
“Dia kan teman sefakultasku, Pa,” jawab Diaz.
“Dia mau apa sih ada di rumah?”
Wajahnya menunjukan ekspresi tak senang. Pendekatan cinta yang dilakukan Maria adalah faktornya.
“Mulai hari ini, dia tinggal di rumah ini bersama adiknya, Agatha.” Saat kata terakhir
diucapkan, Pak Hendrikus menoleh ke objek yang dimaksud.
“Soalnya beberapa waktu lalu, orangtua mereka tewas dalam sebuah kecelakaan. Dan karena ayahnya itu sahabat baik Papa kamu, dan Papa kamu juga tiba-tiba teringat perjanjian sewaktu kalian masih batita, makanya ia dan adiknya tinggal di rumah kita.” Ibu Tantri tahu, pasti Diaz akan melayangkan protes lagi. Diaz tak bisa berkata apa-apa lagi. Itu musibah, kan?
“Dan Diaz, lu tahu nggak perjanjian Papa sama bokapnya itu apa?” goda Martin yang
juga ikut ada di ruang tamu. “Ternyata lu sama gadis itu–“ tunjuk Martin pada Maria yang memerah kedua pipinya. “–dijodohkan dari masih batita.”
Diaz melongo, serasa tak percaya. Mimpi apa sih dia semalam sampai harus mengalami peristiwa ini? Dia kan masih 21 tahun, terlalu muda untuk menjalin hubungan pertunangan yang tinggal sedikit lagi menuju pernikahan.
Pak Hendrikus terkekeh. “Sebetulnya itu juga ide dari Papi-nya Maria juga. Karena melihat lahir di tahun dan tanggal yang sama–yaitu tanggal 25 Desember, beliau punya ide liar untuk menjodohkan kamu sama Maria. Ia pikir, mungkin kalian memang pasangan yang dijodohkan Tuhan. Selain kesamaan tanggal dan tahun lahir, ayah mereka dan Papa juga
sudah bersahabat sejak SD.”
“Kalau tinggal doang sih nggak apa-apa, Pa. Tapi aku menentang keras perjodohan
ini. Aku masih muda–juga bisa cari jodoh sendiri. Ngapain sih? Kurang kerjaan banget sih Papa sama Papi-nya itu.” Diaz meradang.
“Diaz, jaga ucapanmu itu yah. Nggak sopan bicara soal orang yang sudah mati seperti
itu.” tegur Pak Hendrikus.
“Terserah.” Diaz mengangkat bahunya. “Yang jelas, sampai kapan pun, aku nggak mau dijodohin, apalagi sama gadis centil kayak dia.” Jari telunjuknya mengarah pada Maria.
Lalu ia melengos begitu saja masuk kamarnya.
Melihat itu, hati Maria kebas. Namun ia paksakan diri untuk tersenyum. Saat itu, ia
berpikir mungkin Diaz sungguh tak menyukainya. Sepertinya percuma saja ia terus mendekati Diaz. Apa dia batalkan saja rencana perjodohan itu? Tapi perjanjian perjodohan itu kan berarti jatuhnya wangsit? Papi-nya sudah berpulang, dan pamali wangsit tak dipenuhi.
Kata para tetua yang masih berpikiran kolot, kita bisa dihantui si pemberi wangsit. Bisa sial tujuh turunan. Seret rejeki, seret jodoh. Maria jadi bimbang, jadi galau.
💜💜💜💜💜
“Udah deh, lupain kata-kataku itu, cuma becanda doang kok. Nggak mungkin aku
bisa suka sama cewek centil kayak kamu. Mending Serena deh ketimbang kamu.” kata Diaz yang masih tertawa ngakak.
Kata-kata Diaz itu bikin Maria jadi mendengus dan menggeram. Suasana hatinya jadi
muram lagi. Tambah senewennya lagi, ia sempat mendengar Diaz mengungkit soal Serena lagi.
“Si Serena lagi ngapain yah di sana? Dia baik-baik aja kan yah?” dengan ekspresi
yang…. yang mendorong Serena untuk terus berwajah mangkel dan mengertak-ngertakan
giginya. Maria kembali ngambek dan ngambeknya dia seperti anak kecil. Padahal ia anak sulung, dan Agatha sempat tak habis pikir mengapa punya kakak yang kekanakan seperti itu.
Ngambeknya Maria sungguh merepotkan keluarga Rohie. Repot, yah karena ada
kedekatan emosional antara Pak Hendrikus dan Pak Sulis, ayah Maria. Kalau Maria jadi sakit dan harus menderita penyakit serius, Pak Hendrikus bisa terus dihantui rasa bersalah.
Oh iya, tak hanya Pak Hendrikus sebetulnya, Ibu Tantri juga sama. Ibu Maria sahabat sealmamater dengan ibu Diaz. Itulah sebabnya, Ibu Tantri masuk ke dalam kamar Maria yang dihias cukup girly. Ada dorongan dari dalam lubuk hati Ibu Tantri sebabnya.
Sudah jam sepuluh malam, Maria belum makan dan terus mendekam dalam kamar. Ibu Tantri takut gadis itu terkena diare atau penyakit gawat lainnya. Dilihatnya, calon
menantunya itu tengah berada di atas tempat tidur dan sibuk dengan notebook-nya.
Sepertinya Maria sedang ber-fun ria di situs Facebook, Twitter, Blog atau Youtube. Tapi
mungkin pilihan terakhir lebih tepat. Itu bisa dilihat dari headset yang dikenakannya.
“Maria, makan, yuk,” ajak Ibu Tantri. “Kamu kan dari tadi belum makan, dan sekarang juga sudah jam delapan malam. Yuk, makan, nanti perutmu sakit.”
“Nanti aja, Tante,” tolak Maria halus dengan tatapannya masih pada layar notebook.
“Aku mau kerjain tugas dulu. Juga belum lapar, kok.”
Ibu Tantri tak mudah percaya begitu saja. Ia beringsut ke arah Maria berbaring sambil
bermain dengan notebook-nya itu. “Tugasnya di Youtube yah? Kok kartun?” sindir Ibu
Tantri.
Wajah Maria merah. Ia terburu-buru menutup browser-nya dan mengambil posisi
__ADS_1
duduk sama seperti Ibu Tantri. “Tanteeee!! Kok ngelihat sih? Malu tahu.”
Ibu Tantri terkikik. “Oya, Maria, kamu ribut lagi yah sama Diaz?” selidik ibu Diaz yang jago memasak masakan Italia karena diajari oleh ibu Maria yang memang kelahiran
Lecce, Italia.
Maria mengangguk lemah. “Diaz suka banget bikin aku kesal, Tante.” desahnya.
Ibu Tantri terkikik lagi. “Itu artinya dia memang suka, kan ada yang bilang, ‘Dari
benci jadi cinta.’” ucap Ibu Tantri melantur.
Maria nyengir. “Tante bisa aja.”
Ibu Tantri terkekeh. “Kalau lihat kamu tersenyum gitu, kamu udah nggak ngambek
lagi dong?”
Maria hanya tersenyum.
“Makan yuk, Mar. Nanti kamu sakit.”
“Aku belum lapar tapi, Tante.”
“Tapi kamu belum makan. Diaz cerita ke Tante, kamu juga belum makan sejak
siang.”
Gadis itu mendengus. “Kalau Diaz khawatir sama aku, kenapa dia nggak datang
sendiri ke sini?”
“Diaz kan pemalu, Sayang. Mungkin dia malu untuk menyatakan rasa sayangnya ke
kamu. Walau awalnya judes ke kamu, akhir-akhir ini Tante lihat ia sebetulnya juga suka
kamu. Tiap kamu ngambek, ia datang ke Tante supaya bujuk kamu untuk nggak ngambek lagi.” Ibu Tantri mungkin hanya membela anak bungsunya itu.
Maria tertegun. “Tapi kenapa kalau di depanku, dia dingin sih? Terutama tadi sore
waktu masih di jalan, sempat-sempatnya ia nyebut-nyebut Serena.”
“Kan Tante udah bilang tadi, Diaz pemalu.” ujar Ibu Tantri memegangi kedua bahu
Maria. “Plus mungkin ia lagi cuma menggoda kamu, Maria. Cuma bercanda, nggak serius.”
“Pemalu, tapi suka pasang tampang manis ke tiap cewek. Aku juga nggak yakin, dia
tadi cuma bercanda.” Maria coba menangkis fakta yang disodorkan Ibu Tantri.
“Masa sih? Kalau Tante lihat sih, Diaz itu anaknya suka ramah ke semua orang, hanya
saja orang lain–khususnya perempuan–suka salah tafsir.” Ibu Tantri masih terus membela
anak bungsunya itu. “Kamu itu tuh, jangan terlalu sensitif gitu ah. Nggak baik.”
Maria memutar bola mataya di tengah rangkulan Ibu Tantri.
“Oya, Maria, kamu ingat, nggak, waktu awal-awal kamu tinggal di sini?” pancing Ibu
Tantri.
Maria mengangguk pelan.
“Tepatnya lagi, tiga hari sejak kamu datang.” lanjut Ibu Tantri. “Kamu ingat, nggak,
waktu pertama kali coba belajar masak sama Tante?”
“Nggak akan pernah lupa, Tante.” Maria mulai angkat suara kembali. “Tante kan lagi
ngajarin masak soto ayam.”
“Terus di akhir acara memasak kita, Diaz pulang dari kampusnya. Terus kamu
tawarin soto buatanmu ke Diaz yang pergi ke dapur buat makan siang. Tapi sayangnya, Diaz malah dingin ke kamu, kan? Dia malah bilang,…” Ibu Tantri sengaja tak meneruskan lagi kata-katanya, ia sedang menggoda Maria saja.
“…’Siapa sih lu? Sok kenal banget!’ “ Maria yang melanjutkan sisanya. “Aku nggak
bakal lupa, Tante”
Maria hanya menjawab dengan kedua pipi memerah dan kepala tertunduk.
“Kamu bilang: ’Kenapa sih Diaz cuek begitu? Jahat. Kasar. Nggak sensitif. Nggak
romantis.’ Terus kamu juga bilang: ‘Kenapa sih Diaz nggak bisa seromantis cowok-cowok lain?’ Itu kan yang kamu bilang waktu itu? Tante nggak bakal lupa, lho. Itu semua serasa baru kemarin saja kejadiannya bagi Tante.”
Maria tetap menunduk dan pipinya masih memerah.
“Dan sekarang… Kalau menurut Tante, apa yang dilakukan Diaz selama ini, itu
semua sudah cukup romantis. Karena menurut Tante, romantis itu adalah saat dimana pasangan kita suka melakukan hal-hal tak terduga di luar dugaan dengan mengorbankan apa saja yang dia mau, dan itu semua dilakukan demi kita–kebahagiaan kita. Dan dalam hal ini, Diaz sudah banyak sekali melakukan aksi-aksi romantis. Salah satunya, soal video dan tiket itu.”
Maria tak menjawab. Hanya bergeming dan tetap menundukan kepala.
Ibu Tantri tersenyum. “Daripada kamu terus merenung seperti itu, lebih baik kamu
makan dulu,” ajak ibu Tantri sambil memegang dan setengah menarik tangan Maria. ”Ayo!”
“Iya, Kak. Kakak makan dulu aja.” ujar Agatha yang selama Maria ngambek, berada
di ruang tengah–sedang menonton kanal kesukaannya, HBO. “Selain Kakak belum makan, juga belum mandi. Aku ogah tidur di samping orang yang bau.” Ia menjepit hidungnya.
Maria menatap nyalang adiknya itu.
“Kakak kalau lagi ngambek itu mengerikan. Kayak Mak Lampir. Serem ah, takut.”
Langsung saja Agatha tersaruk-saruk untuk berusaha kabur dari cengkeraman Maria yang
lupa sudah dengan aksi ngambeknya pada Diaz. Kakaknya itu malah ganti ngambek padanya.
Sejak kedatangan Maria dan adiknya, tidak pernah ada lagi kejadian-kejadian
membosankan di kediaman Rohie. Selalu saja ada peristiwa menarik, selain pertengkaran
kecil Maria dengan Agatha atau pun Maria yang ngambek karena Diaz.
Di jam sepuluh malam, Maria terus mengejar Agatha hingga ruang tengah. Ia bersiap
untuk memukul adiknya dengan bantal guling yang ia bawa dari kamarnya di lantai atas.
“Eh Maria,” ujar Diaz tersenyum. Agatha berlindung di balik badan kakak iparnya itu.
Maria semakin menekuk bibirnya.
“Wah kayaknya bakal ada drama lagi nih. Sayang Papa lagi dinas ke luar kota.” sela
Martin yang duduk di bangku sembari matanya masih terus terpaku ke layar televisi.
“Ta, awas aja yah kalau kamu ke kamar nanti.” ancam Maria pada Agatha yang sibuk
menjulur-julurkan lidahnya. Gadis itu berjalan cepat menuju kamarnya lagi, sayang Diaz
sudah menangkap tangannya.
“Maria, udahan dong ngambeknya,” ucap Diaz sambil memegangi tangan Maria.
“Please, berhenti ngambeknya itu. Masa udah dua puluh lima tahun, masih ngambek cuma
gara-gara hal sepele?”
“Sepele katamu?” tantang Maria. “Kamu nyebut-nyebut nama Serena itu tadi, kamu
bilang sepele?”
“Ya elah, Mar, itu cuma bercanda doang. Aku nggak serius bilangnya. Lagian…”
Diaz tercenung. Ia tak berani mengatakannya. Bukannya takut ngambeknya Maria bakal
berkepanjangan hingga akhirnya jadi masalah serius, hanya saja ia tak tahan gadis itu terus-
terusan menjauh darinya. Yah walaupun lucu juga memandangi wajah Maria dengan bibir
ditekuk.
“…lagian apa?” selidik Maria dongkol.
__ADS_1
“Sebetulnya Diaz suka sama Serena. Dia suka sama baunya. Wangi, katanya.”
Interupsi Martin nyengir.
“Tin, lu jangan ikut campur yah!” Saat Diaz mendamprat abangnya itu, pegangannya
pada tangan Maria mulai melemah. Tapi tunangannya itu masih belum main pergi begitu saja.
“Jadi maksudmu aku ini bau gitu?” semprot Maria.
Diaz menatap Maria lagi. Cowok itu pasrah.
“Bukan gitu, Mar. Tapi-tapi-tapi…” Ia
mengertakan gigi, lalu menghela napas.
“….oke aku jujur ngaku sama kamu deh.”
“Ngaku soal apa? Kamu beneran cinta sama gadis duyung itu?” Cemburu Maria makin membabi buta.
“Aku ngaku, dan sebetulnya Martin juga udah tahu,” Ia melirik abangnya yang masih
terkekeh. “aku ini punya indra penciuman yang bagus sebetulnya. Saking bagusnya, aku bisa mencium pheromone seseorang, dan punyanya Serena adalah yang terbaik. Walaupun gitu, pheromone Serena itu tetap nggak bisa membuat aku… aku… aku…” Diaz terdiam. Keringat dingin berhamburan deras. Menghela napas lagi. “…aku nggak bisa lupain kamu. Saat aku mikirin Serena, wajah kamu datang dan menyingkirkan wajahnya dari otakku. Dan selalu begitu.”
Maria terhenyak.
“Ih so sweet…” kata Agatha yang masih berdiri di belakang Diaz.
Martin bersiul-siul dengan tatapan jahil.
Ibu Tantri tersenyum geleng-geleng kepala saat tak sengaja ke ruang tengah. Ibu Diaz
itu mau menuju ke kamarnya.
💜💜💜💜💜
Diaz masih terpingkal di tengah kepayahannya menyeret koper Maria yang berat itu. Ia terkekeh mengamati sikap tunangannya itu. Cara berjalan Maria sungguh menggelitikinya.
Maria berjalan terhuyung-huyung, sorot matanya tak fokus ke objek apapun di hadapannya.
Faktanya, gadis itu berjalan sambil melamun. Masih saja terus terbayang-bayang memori-
memori yang kelak menyenangkan hatinya.
Perut Diaz mulas–terlalu banyak tertawa. Selain mulas, cowok itu juga mengerutkan
keningnya. Ia tersaruk-saruk menghampiri ceweknya itu. Benar kan, dengan cara berjalan seperti itu, Maria sudah membuat masalah dengan orang lain.
“Eh, sorry yah…” kata Maria membungkuk seperti orang Jepang dengan ojigi-nya.
Matanya langsung melebar seketika.
“Kamu?”
“Kalau jalan tuh pake mata yah?” ucap Tiara sinis. Tidak seratus persen sinis.
Sinisnya hanya ke Maria, kok. Setengah bagian matanya malah ceria sekali. “Eh Diaz,
ketemu lagi,”
Tak hanya Tiara, ada pula Fidel, Ester, dan Adel.
Diaz nyengir kaku. “I-iya, ketemu lagi kita yah? Kalian semua lagi mau pergi kemana?”
Maria defensif sekali menjagai tunangannya tersebut. Ia mengambil ancang-ancang
seperti seseorang yang tengah bermain gobag sodor. Tapi itu tetap tak menghalangi Tiara untuk beringsut lebih dekat pada Diaz.
“Ke hatimu, Diaz Sayang….” ujar Tiara mengulum senyum menjijikan. Ia mencolek
dagu Diaz.
“Ra, jangan lebay.” Fidel dongkol. “Nggak ada dalam perjanjiannya kan, adegan
colek-colekan.”
Ester juga ikutan menegang.
Hanya Adel yang bersikap tak mencolok dengan jawaban, “Tiara ngajakin aku sama yang lainnya buat pelesiran ke–“
“ – bawel lu yah. Ya udah ikutan aja godain Diaz kalau keberatan.” semprot Tiara.
Diaz terkekeh, Maria sewot. “Apaan sih kalian semua ini? Dasar kegatelan. Cowok
itu kan banyak, tapi kenapa masih ngincer cowok orang sih?”
Tiara melepas kacamata hitamnya. Ia menatap sengit Maria. Semburnya: “Suka-suka gue dong. Lagian gue sama Diaz tuh nyaris aja berpacaran kalau lu nggak sok nyebarin gosip nggak enak soal gue. Ngapain sih bilang ke semua orang di kampus, gue jalan bareng sama om-om?”
“Lagian lu kan juga belum nikah sama Diaz. Itu artinya Diaz masih bisa digoda-
goda.” ujar Fidel nyengir.
“BEEEE-TUUUUL!!!” Dasar tak kreatif. Lagi-lagi Ester hanya menimpali. Entah dia tengah membenarkan kata-katanya siapa, Tiara atau Fidel.
Maria jadi semakin meradang. Jemarinya siap mencakar-cakar wajah Fidel.
“Udah, udah, nggak usah berantem. Yang berlalu, biarkan berlalu – Oke?” kata Diaz
mengondusifkan suasana. “Lagian waktu itu Maria hanya salah paham, Ra. Dia nggak tahu itu Papa lu. Kok masih diingat-ingat aja sih? Lupain-lah.”
"Tapi gara-gara dia, nama baik gue sempat tercemar di kampus selama dua bulan.”
tukas Tiara.
“Emang udah tercemar, kan?” ejek Maria.
“Kamu kan sudah terkenal genit sama suka
cari muka ke dosen-dosen.”
Ester dan Fidel ngakak. Hanya Adel yang terlihat anteng.
Tiara menggeram. Kedua tangannya siap mencakar-cakar wajah Maria yang nyaris
tanpa jerawat atau komedo.
Cowok itu sekarang benar-benar kepayahan. Selain menyeret koper Maria yang
sungguh berat, ia juga harus menyeret Maria untuk menghindarkan mereka berdua dari
menjadi tontonan para pengunjung bandara; sudah ada beberapa orang yang memperhatikan ia, pasangannya, dan ketiga perempuan yang baru datang. “Udah dulu yah, Tiara. Kami pergi dulu, pesawatnya juga baru datang.”
“Ya udah, bareng aja lagi. Gue sama yang lain juga mau ke Puerto Rico kok. Lu mau
ke sana, kan?” ucap Tiara tersenyum, menyusul Diaz segera.
“Kamu kapan sih bisa jauh-jauh dari Diaz?” rengut Maria. “Dan please, stop stalking
kehidupanku atau Diaz. Annoying banget, tahu.”
“Kamu juga, Fidel. Aku makin muak lihat muka kamu.” tukas Maria mengertakan
gigi. “Juga kamu, Ester. Ngapain sih pake bergaul sama Tiara si cabe-cabean ini?”
Fidel tak merespon. Hanya tergelak kesetanan.
“Suka-suka gue dong, Kak.” desis Ester menjulurkan lidah.
Tiara terkekeh. “Kayaknya bakal selamanya tuh. Karena gue nggak tahan jauh–jauh
dari Diaz.” Cewek itu memberikan tatapan yang membuat Diaz salah tingkah. “Lagian kan lebih enak pergi rame-rame daripada berdua, Mar.”
“Gue setuju.” timpal Fidel yang diekori oleh anggukan Ester. “Nggak baik kali jadi
serakah gitu.”
“Kita juga nggak bakal ngegerecokin acara kalian banget.” kata Ester nyengir.
Ganti Maria yang menggeram.
Diaz menghela napas. Ia menatap ke langit-langit. Ia jadi teringat mimpi sewaktu
terlelap di studio itu. Di mimpi itu, ia seperti tali tambang yang ditarik ke kedua sisi
berlawanan. Mungkinkah sesampainya di Puerto Rico, ia bakal mengalami kejadian yang agak-agak mirip dengan mimpinya itu? Ah entah mengapa ia teringat juga dengan Kenneth. Bulu romanya berdiri dan ia mulai mengkhayal macam-macam yang tak seharusnya dipikirkan. Masih terpatri di benaknya kejadian buruk yang menimpa Agatha silam.
__ADS_1