
“Hello, dear,” Nicole langsung menghampiri mereka yang baru saja turun. Istri Caio
itu langsung memeluk dan mencium pipi Agatha dan Serena. “Is your sleep nice?”
“Si, señora–ya, nyonya.” kata Agatha tersenyum, mencoba mempraktekan kembali
kemampuan berbahasa Spanyol yang sudah lama tak digunakan. “Mi sueño hermoso (mimpi yang indah)."
“Soy feliz de la escuchar (senang mendengarnya).” Nicole tersenyum.
“Come on, vamos comer. Let’s ea.”
Di meja makan terhidang sajian-sajian lokal. Ada Shrimp Mofongo, Sofrito Puertorriqueno, dan Asopao Chicken. Diaz berkali-kali meneguk air liurnya sewaktu memandangi
masakan-masakan yang ada di meja makan.
Kata Caio, itulah nama-namanya. Kesemuanya itu sungguh menggiurkan.
“Nyenyak tidur semalam?” tanya Caio tersenyum.
Diaz mengangguk, matanya terus tertuju pada beberapa piring yang tak sabar ia
segera cicipi kelezatannya.
Saat bersamaan, Martin, Agatha, Serena, Tiara, dan Teguh tiba juga di lantai bawah.
Tiara langsung menempeli Diaz. Diaz risih. Cowok itu menyeringai Tiara dengan maksud
memberikan kode agar Tiara menjauh. Namun Tiara malah tersenyum genit dan mengerjap-erjapkan mata. Diaz mendengus, ia beringsut pada Caio.
“Senor, kamar mandi, err, toiletnya dimana yah?” tanya Diaz. “Sepertinya aku perlu
ke toilet nih.”
__ADS_1
“Masuk saja ke pintu yang terbuka itu, toiletnya ada di sebelah kiri.” jawab Caio.
“Tapi sebaiknya tunda dulu saja mandinya, makanan ini sangat sayang untuk dilewatkan.
Apalagi ada yang perlu diberitahukan.”
Diaz menghela napas. Ia tersenyum pasrah, kembali menuju meja makan. Didapatinya
Martin terkekeh; Agatha dan Serena juga, walau sepintas lebih terlihat nyengir. Tiara terus saja mengamatinya seraya mengerjapkan matanya dan tersenyum. Yang lebih menyebalkan lagi, Teguh membuang napas sembari berkata, “Ah, andai Maria ada di sini. Kalau tahu ia masih ada di Indonesia dan dalam kondisi di ambang maut, lebih baik daku tak ikut ke negeri eksotis ini.” Itu sungguh bikin hati Diaz panas. Ingin rasanya menjotos Teguh hingga babak
belur.
Keluarga Caio segera saja duduk di kursi-kursi yang baru saja ditambahkan. Sebelum
Diaz dan lainnya tiba, kursi-kursi yang mengelilingi meja persegi panjang itu jumlahnya tak sebanyak sekarang; hanya cukup untuk keluarga Caio. Entah dari mana kursi-kursi itu, tapi Diaz bersikap masa bodoh. Perutnya terus berbunyi.
“Let's pray!” seru Caio sembari membuat tanda salib. Seperti tiga puluh delapan
persen penduduk Puerto Rico, Caio dan keluarganya merupakan penganut agama Katolik Roma. Tak seratus persen sesuai dengan agama yang berkiblat ke Vatikan tersebut, agama yang mereka anut sudah tercampur dengan muatan lokal. Di Puerto Rico, ada beberapa agama yang merupakan turunan dari Kristen. Salah duanya ialah Yoruba dan Palo Mayombe.
satupun dari para Indonesia itu yang memasang tampang ‘uh, masakan apa nih’. Semuanya berbinar-binar memakannya.
“Senorita, que sabe muy bien (masakannya enak sekali).” kata Agatha pada Nicole seraya mengacungkan
jempol.
Nicole tersenyum–mendesahkan kata-kata, “Gracias por el cumplido (Terimakasih untuk pujiannya).”
“My wife is wonderful great at cooking. And yet she’s expert at dancing and singing,
too.” Caio membenarkan–sekaligus mempromosikan–istrinya dengan nada suara penuh kebanggaan. Tapi ia juga tak sedang menggombal. Dengan mengenakan gaun merah yang mengilap, Nicole jadi begitu anggun.
Senyuman Caio itu menyebabkan sang istri memerah. “Ah, you exaggerate me, dear.
__ADS_1
I’m getting shy.”
Meledaklah tawa di ruang gado-gado itu. Teguh tampak kesulitan memahami obrolan
yang terjadi. Maklum saja, si gila berpuisi ini memiliki kemampuan bahasa Inggris yang tak terlalu bagus; ia hanya jago dalam hal bersastra. Beruntung Martin tak keberatan untuk membantunya mengartikan obrolan yang terjadi. Ah tapi tetap saja, cowok yang punya jenggot membentuk huruf I di antara dagu dan bibir bawahnya itu memiliki selera humor yang payah. Mungkin kalau sedang membahas dunia perklenikan, barulah ia bisa tertawa--setidaknya nyengir.
“Oh, guys, about your plan to come home, I and my family have a good idea,” ujar
Caio di tengah-tengah suasana tawa tersebut. “You know, since you all came to this country–with Serena, i guess they got suspicious. Mereka mencurigai– “
Pandangan matanya tersapu
ke arah Diaz, Martin, dan Agatha yang duduk beriringan, dimana Diaz duduk diapit abang
dan adik iparnya. “–kalian memiliki hubungan dengan Serena atau Atlantis. I think, you will
find difficulties in coming back home safely. ”
Tak ada yang menyela. Semua orang Indonesia itu terus memusatkan perhatian pada Caio. Tegang sekali suasananya.
“So we have a plan to deliver you home fast and safely.”
Caio masih jadi objek pandangan mata para Indonesia.
“Pedro will bring you all to Bosco. His house is nearby. Dari sana, Bosco mungkin
bisa memberikan kepada kalian jalan keluar agar bisa kembali pulang dengan selamat.”
Puerto Rico merupakan sebuah negara tropis. Sama seperti Indonesia, negara itu hanya memiliki dua musim. Saat Diaz, dkk datang, cuacanya begitu hangat. Sebelumnya,
kota San Juan sudah diguyur hujan selama dua bulan terakhir (Musim hujan di Puerto Rico berlangsung antara bulan April dan November). Desember ini, matahari menyelimuti negeri tersebut.
Benar apa yang dikatakan Caio. Rumah Bosco tak jauh. Dengan menggunakan Ford
__ADS_1
minibus yang disetir oleh Pedro, anak sulung Caio, Diaz, dkk, telah tiba di kediaman Bosco.