
Bibir gadis itu ditekuk. Beberapa kali menghela napas. Harapannya, selepas kelas
Metodologi Penelitian Hukum oleh Pak Nugraha Bowo, ia dapat ke bioskop menonton sebuah film yang pasti akan sangat terasa menyenangkan bila ditonton bersama seorang terkasih. Sayang, ia sedang ada masalah dengan si terkasih itu. Sudah lama sekali, ia hanya memandangi nama si terkasih: Diaz Rohie. Dilema apakah harus menelepon atau mengirimkan pesan untuk mengajaknya menonton? Apalagi di saat suasana hatinya sedang buruk sekali jika membayangkan apa yang lelaki itu lakukan padanya. Lelaki itu sungguh menjengkelkan dirinya. Berani sekali, ia memikirkan perempuan lain, bahkan memuji perempuan itu. Itu mungkin yang ada di pikiran si gadis.
“Hey, Mar,” seru seseorang dengan suara yang tak asing di telinganya.
Di hadapannya sudah berdiri seorang pria lain. Pria itu berwajah pipih sekali – nyaris
seperti orang kelaparan di padang pasir – dengan jenggot yang tumbuh lurus dari bibir
bawah ke puncak dagu.
"Dikau sedang apa di sini?” sapa Teguh. Alexander Teguh Gotama merupakan
mahasiswa yang sudah lama dikenal aneh.
Yah aneh, luar biasa aneh. Tak satupun dari
kawan-kawannya yang bisa mengerti arah pembicaraannya. Ia selalu melantur – selalu
berbicara hal-hal berbau klenik, mistis, atau sesuatu yang bisa bikin kalian terkencing-
kencing. Satu lagi, cara ia berbicara seperti orang berpuisi. Semakin sulit, bukan, untuk
mengerti ia sedang berbicara apa?
“Eh Teguh,” Maria tersenyum takut-takut. Ia sudah tahu, lelaki itu punya perasaan ke
dirinya dan pernah kedapatan berusaha menjampi-jampinya agar suka lewat sebotol
minuman. Untung yang minum itu temannya yang bernama Inggit. Dan Teguh sungguh
kecewa sekali.
“Dikau mengapa kalut seperti itu?”
“Nggak ada apa-apa kok,” jawab Maria tersenyum masih takut-takut. “Oya, kamu ada
acara nggak? Atau masih ada kelas lagi nggak?”
Teguh menggeleng. “Ada apa dikau tanya-tanya seperti itu?”
“Eeee…” Maria masih agak takut juga mengajak lelaki itu, walau sebetulnya lelaki itu sudah berubah sedikit sejak peristiwa di Puerto Rico itu. “Aku.. aku mau ajak kamu nonton, mau nggak nemenin aku nonton? Nggak enak nonton sendirian tahu.”
Teguh hanya tersenyum, senyum biasa, tak ada yang istimewa. “Boleh. Tapi dikau
yang bayari yah, daku sedang bokek.”
Maria memutar bola matanya. “Yah nggak apa-apa deh.”
Gadis itu berjalan bersama mahasiswa teraneh di fakultas hukum. Mereka berjalan
menyusuri basement gedung Yustinus, menaiki tangga, melewati hall Yustinus yang cukup luas, walau kecil juga, terus-terus-terus berjalan menuju lantai 5 Plaza Semanggi. Saat berada di hall Yustinus, Maria memepetkan tubuhnya ke Teguh; lelaki itu jadi gelisah tapi senang juga sebetulnya.
"Mar, dikau berdiri terlalu dekat,” desah Teguh yang was-was. Ia was-was bukan
karena Diaz yang menyaksikannya berjalan berdua saja dengan Maria.Namun lebih karena ditakuti Caio, ia tak akan menemui jodohnya kalau mengganggu hubungan cinta Diaz dan Maria.
“Kenapa sih?” tanya Maria yang mulai heran.
“Kamu bukannya suka sama aku kan?
Aku tahu kok dari anak-anak.”
“I-iya sih, ta-tapi i-itu dulu,” jawab Teguh gugup. “Se-sebelum daku tahu soal siapa
jodoh daku dari Caio.”
“Caio? Siapa tuh?”
“Salah seorang kenalan di Puerto Rico sana.”
“Puerto Rico? Kapan kamu ke sana?”
__ADS_1
“Libur Natal dan tahun baru silam.”
“Pas Natal?” Alis Maria bertautan. “Diaz juga ke sana natal kemarin.”
“Iya, daku sempat ketemu dia kok di sana.”
“Yang benar?”
Teguh mengangguk.
Lampu-lampu ide Maria menyala benderang.
“Oh iya, aku mau nanya sama kamu,
Guh.”
“Tanya apa?”
“Ini soal Diaz.” ucap Maria tersenyum penuh makna. “Dia selama di sana, ada nggak kamu lihat–dia sedang genit-genitan sama cewek lain. Tebar pesona gitu, maksudku.”
Gadis itu sepertinya masih belum yakin dengan informasi dari Dion. Tidak yakin jika Diaz sungguh-sungguh mencintainya. Soalnya Diaz lebih sering berlaku dingin, sih.
“Oh itu,” Teguh agak kecewa.
Lama sekali terjadi keheningan. Teguh terus menerus bergeming sewaktu Maria beberapa kali mendesaknya untuk menjawab pertanyaan yang cukup menyayat hati. Sayang Teguh bukan tipe pria yang bisa balik menyakiti. Setelah lama berpura-pura tidak tahu dan terus menggeleng, dirinya akhirnya menyerah juga. Katanya: “Sebetulnya Diaz sungguh mencintai dikau, Maria.”
Maria terbelalak. “Serius?”
“Berlaksa-laksa serius.” kata Teguh berusaha meyakinkan Maria.
“Daku ingat, si Diaz itu beberapa kali menyebut nama dikau di kala ia tidur. Bahkan
selama perjalanan menuju kediaman Bosco pun, tak terhitung nama dikau disebut olehnya.”
Maria melepaskan gamitannya dari lengan Teguh. Sembari berjalan, ia terpekur.
Rasa-rasanya ia sulit memercayai cerita Teguh barusan. Kata-kata Dion, cerita Teguh,…. tak ada satupun dari keduanya yang membuatnya…
Masa sih Diaz seperti itu? Tapi kenapa dia selalu dingin ke aku yah? Sekalinya
💜💜💜💜💜
Agatha yang tadi ceria sekali ekspresinya memainkan ponsel cerdas, mendadak
mengernyitkan dahi. Kakaknya masuk dan merengut kesal; dan sepertinya AC tak cukup kuat untuk mendinginkan suasana hati Maria. Seharusnya ia tak perlu bingung. Sebab
penyebabnya selalu sama.
“Kenapa, Kak?” tanya Agatha yang langsung memasang duduk bersila. Diletakannya
ponsel tersebut di sebelahnya. “Masalah sama Bang Diaz lagi?”
Bibir Maria masih ditekuk. Mengangguk. Ia beringsut menuju tempat tidur. Makin
mengeluh lagi melihat adiknya.
“Kamu ini… ada meja belajar, selalu aja belajarnya di atas tempat tidur. Rapikan
buku-bukumu itu. Kakak mau tidur.”
Agatha tergopoh-gopoh merapikan buku-bukunya dan bergegas menuju meja belajar.
Ia tidak berdebat seperti yang sudah-sudah. Di atas bangku, ia menatapi lagi kakaknya yang sekarang sedang berebahan di atas tempat tidur. Tatapan kakaknya seperti menyiratkan kekesalan dan kekecewaan sekaligus. Kesal karena perlakuan orang yang dicintai selalu saja dingin. Kecewa karena… haruskah ia bertahan di dalam kondisi seperti ini?
“Kak,”
“Hmmm…”
“Kakak sebetulnya cinta nggak sih sama Bang Diaz?”
“Kakak udah pernah bilang kan?” jawab Maria, masih tanpa menatap adiknya.
“Daripada ngurusin masalah Kakak, mending kamu ngerjain PR kamu itu.”
__ADS_1
Agatha bodoh. Mengapa pula ia harus mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu?
Bukankah sudah jelas dari tindak-tanduk Maria selama ini? Mulai dari mulai belajar
memasak, mengurangi kebawelan dan kegenitannya, dan kejadian itu.
Lima hari setelah upacara pemakaman kedua orangtuanya, Pak Luthfan datang ke
rumahnya. Notaris ayahnya itu datang memberitahukan padanya perihal surat wasiat beserta pembagian warisan yang keseluruhan harta itu dibagi untuknya dan Maria. Tak seperti kasus-kasus warisan sebelumnya, kasus yang ini begitu adem ayem. Tak ada kisruh. Cukup mempermudah Pak Luthfan untuk menyampaikan isi lain dari surat wasiat. Mendengar beberapa poin dari wasiat ayahandanya, begitu girangnya Maria. Tanpa basa-basi lagi, kakaknya itu langsung menyetujui syarat-syarat agar warisan itu cepat turun ke tangannya. Akhirnya mimpi ini jadi kenyataan. Begitulah kata-kata kakaknya yang ia ingat sampai sekarang ini.
“Kak, apa sebaiknya kita pindah ke rumah salah satu tante kita di luar negeri?”
“Kamu ini ngomong apa sih? Terus wasiat Papi gimana? Kalau kata orang Jawa,
pamali.” Maria menelengkan kepala dan menatap nanar.
“Kakak nggak lagi ngincer duitnya?” Ia tahu ada yang salah. Segera ia ralat kata-
katanya. “Ya, maaf. Aku takut ternyata kakakku ini orangnya materialistis lagi.”
Tersenyum. “Nggak kok. Ini sama sekali bukan urusan uang, Ta. Kakak ikhlas dengan
semuanya, baik itu dengan syarat-syarat itu maupun soal perjodohan yang ternyata sudah lama dirancang sama Papi. Yah walau awalnya sempat kesal juga, kenapa Papi masih aja menggunakan cara-cara ala Siti Nurbaya.”
“Tapi kesalnya itu batal setelah tahu sama siapa dijodohkan, kan?”
Maria terkekeh.
“Tapi Kakak ini hebat deh. Aku nggak nyangka Kakak ini kuat juga berhadapan sama
orang macam Bang Diaz itu. Walau terus dijutekin, Kakak tetap aja bertahan. Kalau terus begini, sebentar lagi nih aku bakal merasakan jadi orang kaya. Nggak perlu lagi ngandelin duit Kakak atau pun duitnya Om Hendrikus sama Tante Tantri.”
Terkekeh lagi. “Sekarang siapa coba yang matre?”
Agatha balas terkekeh. Bukan terkekeh, tapi kini keduanya sama-sama terpingkal.
“Jadi udah hilang nih marahnya sama Bang Diaz?” goda Agatha nyengir.
Perlahan senyum lebar itu mulai memudar dari wajah Maria. Bibirnya ditekuk lagi.
Kembali menatapi langit-langit.
“Emang ada masalah apa lagi sih?”
Cukup lama juga Agatha diapatiskan, hingga memilih untuk kembali mengerjakan
pekerjaan rumahnya. Namun selang dua-tiga menit, Maria duduk dan berkata, “Gini, Ta,
ceritanya,” Agatha berhenti dan mulai menyimak segala cerita kakaknya itu; segala cerita yang menjadi asal-muasal kakaknya cemberut sewaktu masuk kamar. Di akhir cerita, Agatha tergelak.
“Kamu kok malah ketawa sih?”
“Aku nggak nyangka aja, ternyata Kakak bisa jahat gitu. Tega banget sih Kak, udah
PHP-in Bang Teguh?!” Agatha terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Eh bukan deh.
Tepatnya udah kasih harapan setinggi langit, eh malah dibanting.”
“Kan kejujuran itu memang menyakitkan. Daripada terus berada dalam posisi
digantungin, lebih baik ia tahu soal perasaan Kakak yang sesungguhnya.” alibi Maria.
“Dan harusnya Kakak nggak perlu galau-galau lagi. Kalau aku jadi Kakak sih, aku
bakal percaya sepenuhnya kalau Bang Diaz beneran punya perasaan ke Kakak. Apalagi dari cerita Kakak tadi, aku rasa Bang Teguh sakit banget pas bilangnya tuh. ”
“Tapi – “
“Yah kalau Kakak masih ragu, udah pernah belum nanya ke Bang Martin soal
perasaan Bang Diaz yang sebetulnya?”
Ah iya, Maria baru ingat. Martin kan abangnya Diaz. Diaz dan Martin sama-sama laki-laki. Pasti tak jarang juga saling mengobrol dan mencurahkan isi hati. Meskipun kecil juga kemungkinan hal tersebut terjadi. Selama tinggal sekian lama di kediaman Rohie, ia
__ADS_1
cukup sering menyaksikan pertengkaran mulut antara abang dan adik. Tapi tak ada salahnya dicoba. Martin juga orangnya cukup peka terhadap sekitar. Mungkin seharusnya ia dari dulu menanyakan soal Diaz ke Martin.