Destiny 41

Destiny 41
EPILOG 2


__ADS_3

Diaz: “After going through the maze, i eventually find you. My eyes can’t stop getting away from you.” 


Maria: “Really? But why did you so rude to me?” 


Diaz: “Could you tell me one thing? Why did i was so gloomy in the way you're around me?” 


Maria: “So… It tells me why you had always been jealous of my admirers? Right?” 


Diaz: “…”


Oke, Diaz ini memang seorang jomblo. Single. Tapi apa harus yah dijodoh-jodohkan


seperti ini? Ya Tuhan, ini persoalan hati. Soal kecocokan. Papa mana tahu kan bagaimana


perasaannya kepada perempuan tersebut.


Siapa nama perempuan itu? Ah iya, Maria.


Diaz berkali-kali mendengus sebal di depan layar. Segala pembaharuan social media

__ADS_1


dari kawan-kawannya sama sekali tak bisa menghibur hatinya. Ia masih kesal dengan


perjodohan tersebut. Ia benci sekali dengan pertunangan itu.


Apalagi dirinya juga masih seorang mahasiswa semester pertama. Berusia dua puluh satu tahun. Tak perlulah segala ***** bengek perjodohan tersebut. Lagipula macam tak laku saja dirinya.


Begini-begini kan, dirinya cukup laku di lingkungan kampus. Selain Maria itu sendiri,


ada Tiara yang dulu pernah menembaknya walau harus ia tolak karena alasan friendzone. Belum lagi masih ada Velita. Gosip yang santer terdengar, perempuan yang suka menjadi rekannya dalam bermain basket itu memiliki perasaan spesial. Masih ada pula Adel dan Fidel yang berlainan fakultas. Pun masih ada Ester, juniornya.


Ia akui, sekali lagi ia akui, ia memang masih melajang. Sampai sekarang belum


tetap itu bukan sebuah alasan yang bisa mendorong Papa untuk menjodohkannya dengan perempuan itu.


“Kalau tinggal doang sih nggak apa-apa, Pa. Tapi aku menentang keras perjodohan


ini. Aku masih muda–juga bisa cari jodoh sendiri. Ngapain sih? Kurang kerjaan banget sih Papa sama Papi-nya itu.” Begitulah segala tutur yang ia kemukakan dengan begitu


meradangnya pas masih di ruang tamu tadi.

__ADS_1


Grrr…


Ia menggeram, masih sebal mengapa perjodohan itu harus terjadi. Mengapa harus


dia? Mengapa tidak abangnya saja? Abangnya juga sendirian kan. Semenjak ditinggal mati mendiang istrinya, abangnya masih setia menduda tanpa dikarunia anak. Nah, kenapa tidak abangnya saja yang terpilih sebagai pasangan dari perempuan yang begitu centil dan aneh tersebut?


Kenapa?


Sembari mengertakan gigi, beberapa kali entakan dan gebrakan di meja, tergopoh-


gopoh ia segera mematikan komputer. Kekesalannya sungguh tak dapat diredam oleh apapun fitur yang ada di komputer. Browser, video, musik, game,… tak ada sama sekali.


Kesaaaaaaal….


Haruskah perjodohan ini terjadi? Ia berharap jangan sampai soal pertunangan ini menguak keluar hingga kampus. Menurut isi kepalanya, status bertunangan itu sudah bisa dikatakan sebagai pernikahan. Ogah ia sudah menyandang status sebagai seorang suami di sebuah kelas S1. Ia juga masih ingin


menikmati bagaimana repotnya menembak seseorang yang ia cintai. Pengalaman pedekate, nembak, hingga first date merupakan sederet pengalaman yang ia harap akan bisa didapatkan. Tentu saja tanpa bantuan dari orangtua. Malu kan, untuk persoalan asmara saja, dirinya harus


bertopang pada kedua orangtuanya. Mau ditaruh kemana muka ini?

__ADS_1


Sementara, di tempat lain, walau sebetulnya tak jauh juga, itu hanya beberapa langkah dari kamar Diaz, Maria terbahak-bahak membaca novel bergenre komedi. Perempuan itu tertawa, namun tak benar-benar tertawa. Ada sebuah kegelisahan yang ia pendam. Kadang dirinya menyesali mengapa dulu mau saja menerima keputusan tersebut. Andai dia dan adiknya tak pernah pindah ke rumah ini.


__ADS_2