
Apa Diaz dan yang lainnya bisa mendapatkan obat penawarnya? Apa Diaz baik-baik
saja di sana? Mata Maria berkaca-kaca, seraya berusaha menghabiskan semangkok bubur.
Tiba-tiba saja ia terbayangkan momen itu. Pandangannya tak fokus lagi, karena
pikirannya sudah terbawa ke masa-masa saat ia dan Diaz menjadi mahasiswa fakultas hukum Atmajaya. Saat itu mereka berdua masih berusia 19 tahun. Dan Maria duduk sendirian di dalam ruang YB 102, dimana mata kuliah Pengantar Hukum Indonesia akan dilangsungkan.
Kelas mulai jam sembilan, tapi Maria sudah berada di sana tiga puluh menit sebelumnya.
Jarak rumah – kampus yang jauh menjadi penyebabnya. Lima belas menit ia duduk sambil mengutak-atik ponselnya, dua orang mahasiswa masuk. Yang satu berambut ala pemuda di 70-an atau 80-an dan mengenakan kaos merah dan celana jins belel (inilah Diaz). Satunya
lagi berambut panjang sebahu dan diikat – serta mengenakan kaos hitam bergambar Bob Marley dengan dilapisi jaket jins biru yang sepadan dengan bawahannya (Virgoz, teman
sefakultas pertamanya Diaz). Kedua mahasiswa mengambil posisi duduk persis di belakangnya. Namun sebelum duduk, Diaz mendelik ke Maria.
Maria sadar dan berkata dengan ketusnya, “Apa sih lihat-lihat? Naksir?”
Diaz terkekeh-kekeh sendirian. “Naksir? Nggak juga. Cuma heran aja lihat make-up
kamu itu. Menor. Kamu jadi mirip tante-tante. Apa jangan-jangan kamu tuh sebetulnya
memang tante-tante yang udah punya dua orang anak?” Diaz terbiasa berbicara dengan ber-aku-kamu ke orang yang belum begitu akrab dengannya.
Anehnya, Maria tak tersinggung. Ia justru senang, karena ada seorang laki-laki yang
begitu memperhatikan riasan mukanya. Dengan bersemu merah pipinya, ia merespon balik, “Masa sih?”
“Iya – berani sumpah, deh,” sahut Diaz. Ia mendelik ke temannya, Virgoz yang sudah
duduk lebih dulu di bangku yang sudah diincar mereka. “Goz, benar kan kata gue,
dandanannya dia memang menor?”
Sambil mengelus-elus dagunya, Virgoz menjawab, “Gue nggak tahu yah. Lagian
ngapain sih lu ngurusin riasan wajah cewek? Kurang kerjaan banget. Atau jangan-jangan
lu…” Virgoz berhenti sejenak. “…lu naksir sama dia yah?”
“Sembarangan aja lu kalau ngomong!” semprot Diaz. “Gimana caranya gue bisa suka sama dia? Gue juga baru ketemu dia hari ini.”
Diaz memang baru bersitatap dengan Maria hari selasa itu, namun Maria sudah
mengamatinya sejak ospek fakultas. Hanya saja Diaz tak terlalu memperhatikannya, seperti kebiasaannya. Saat itu, Maria begitu terkesan dengan sikap cool Diaz yang benar-benar tak mengacuhkan segala perlakuan tak enak para senior ke para mahasiswa baru. Saat para mahasiswa baru mulai jengah dengan sikap para senior yang sangat menyebalkan, Diaz malah menikmati tiap inchi acara ospek fakultas. Baginya, ospek fakultas benar-benar sebuah petualangan yang harus diselesaikan secara ciamik dan epik. Diaz jugalah yang berani
melawan ‘perintah’ para senior untuk memeluk pohon demi mendapatkan tanda tangannya. Bahkan ia sampai menantang berkelahi beberapa senior gara-gara aksi perlawanannya tersebut.
Setelah puas mendamprat Virgoz yang cengengesan melihat dirinya yang jadi sewot,
Diaz menatap lagi Maria. “Eh, tahu nggak, kalau nggak terlalu menor, kamu itu
sebetulnya…” Diaz menggaruk-garuk rambutnya. Ia malu mengucapkannya, tapi entah kenapa hati nuraninya terus mendesaknya. Dengan pipi bersemu merah, ia harus menyelesaikan ucapannya, “… sebetulnya lumayan cute,” Dan terdengar sebuah siulan dari arah belakangnya Maria dan Diaz yang masih betah berdiri. Virgoz menggoda teman sekotanya itu dengan sebuah siulan.
Mendengar kata cute itu, Maria jadi ikutan memerah pula pipinya. Jantungnya
berdetak-detak terus tiada henti. Baru kali ini, selama tinggal di Indonesia, ada seorang laki-
laki yang beringsut padanya, lalu menggodainya dan mengatakan bahwa dirinya itu manis.
Selama ini, sudah cukup banyak laki-laki yang begitu risih dengan sikap centil Maria.
Walaau para lelaki itu juga terpesona dengan kecantikan wajah Maria.
__ADS_1
💜💜💜💜💜
Begitu pintu ruang YB103 dibukakan oleh Pak Siradj dari dalam, Tiara langsung berdiri dan mendekati pintu. Dilihatnyalah
banyak mahasiswa atau mahasiswi yang berhamburan keluar, namun ia tak menemukan Teguh, mahasiswa yang sudah lama dikenal sebagai mahasiswa aneh abad ini. Lama banget si Teguh keluar. Ngapain sih dia di dalam? Tak sabar, ia semakin mendekati pintu berwarna hijau muda dan mengintip ke dalamnya. Dapatlah ia tahu sedang apa Teguh di dalam. Si
paranormal-wannabe itu lagi-lagi melakukan ritual aneh. Ia terus mengetukan tiap sisi dan
sudut meja kuliah, sambil terus merapalkan sesuatu, yang entahlah apa itu. Ia melakukan itu sebanyak lima puluh kali dan diakhiri dengan membaca Rosario sebanyak sepuluh kali. Tiara jadi mendengus kesal. Tak sabar dan ingin segera menyampaikan rencana cerdasnya itu, ia masuk ke dalam dan beringsut menuju Teguh.
“Teguh!” seru Tiara. “Ngapain sih lu? Aneh banget.”
Teguh berhenti dan menatap nyalang pada Tiara. “Wahai Setan, pergilah jauh-jauh!
Jangan halangi semua sumber ilmu ini masuk ke dalam otak daku!”
Tanpa ada air di dalam mulutnya, ia menyembur Tiara; tapi tetap saja Tiara terciprat sedikit dari air liur yang berkubang di rongga mulutnya. Walau aneh, entah mengapa, berkat praktek mistik misterius tersebut, Teguh tak pernah sekalipun dapat nilai D apalagi C. Luar biasa. Ini seperti ilmu
pesugihan dalam ranah pendidikan.
Tiara menampar Teguh, namun Teguh tak marah. Sepertinya ia benar-benar mengira
Tiara itu iblis. “Brengsek lu yah? Padahal gue mau kasih tahu lu sesuatu.”
“Kasih tahu saja,” jawab Teguh kalem.
“Lu tahu nggak? Seminggu lalu, Diaz ke sekretariat fakultas buat ngurus cuti; dan
kata karyawan sekretariat, Diaz ambil cuti buat menghadiri pemakaman sanak saudaranya di Florida.”
“Terus, yang jadi masalah apa? Nggak ada yang aneh, kan, mereka ambil cuti buat
jenguk atau melayat?” tanya Teguh yang tak paham maksud dari segala perkataan Tiara
barusan.
mahasiswa sini sudah tahu apa alasan sesungguhnya, tapi yah memang sengaja nggak dibeberin aja. “ Tiara menggaruk-garuk rambut panjangnya, saking kesalnya. “Mereka ambil cuti buat pergi ke Puerto Rico, tahu. Banyak gosip yang mengatakan, mereka bakal nge-date, mungkin juga buat honeymoon.”
“Nge-date? Honeymoon? Serius dikau ini?”
Tiara mengangguk. “Dan gue punya rencana, nih. Mau dengar, nggak?”
“Rencana apa?”
“Gue tahu lu suka sama Maria, dan gue cinta mati sama Diaz. Makanya, gue mau
nawarin lu kerja sama. Dan kerja samanya itu seperti ini,”
Tiara lalu membisiki si cowok aneh tersebut sebuah strategi brilian yang lalu
disambut dengan anggukan Teguh yang cengar-cengir. Ia nyengir menatapi Tiara yang lalu jengah.
“Kenapa sih lu? Risih tahu gue dilihatin kayak gitu.”
“Ini kali pertamanya daku didekati seorang gadis yang lumayan cantik. Selama ini,
banyak perempuan yang seperti menjaga jarak dengan daku.”
“Itu karena lu aneh.” semprot Tiara yang lalu meninggalkannya. Di dekat pintu kuliah
yang berwarna hijau, ia balik arah. “Udah ah, nanti malam gue jelasin ke lu soal detailnya.”
Teguh tersenyum lebar, berjengit. “Tiara, Tiara, dikau cantik juga kalau dilihat-lihat.
__ADS_1
Ah tapi masih tetap lebih cantik Maria.”
💜💜💜💜💜
Maria tak sadar tengah diperhatikan oleh Ibu Tantri. Ibu Tantri tersenyum melihat
bakal menantunya itu. Dalam hati, ibu dari Diaz dan Martin itu penasaran ingin tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Maria.
Yah memang gadis itu tengah memikirkan sesuatu. Ia tengah terbawa suasana
nostalgia yang muncul begitu saja. Teringat sebuah momen indah semasa ia seorang murid TK yang begitu lucu nan menggemaskan.
Ia ingat, ia suka bermain di teras rumahnya yang cukup mewah untuk ukuran rumah-
rumah di perumahan cluster. Bermain bersama adik satu-satunya beserta teman TK-nya.
Kalau tak salah, namanya Didi, begitu ia biasa memanggilnya. Ia tak pernah tahu nama
lengkap teman lelakinya tersebut.
“Hmm, sepertinya Didi sakit perut biasa,” ucap adiknya sembari menjejak-jejakan
stetoskop ke dada Didi.
“Jadi gimana, Dok?” tanya Didi pura-pura cemas.
“Kamu nggak usah takut. Kamu hanya perlu minum obat yang akan diberikan sama
perawat ini,” jawab sang dokter kecil sambil menunjuk dirinya yang begitu terobsesi jadi
perawat, walau kenyataannya, ia malah kuliah di fakultas Hukum.
Lalu adiknya itu segera menuangkan sirup rasa stroberi ke sendok teh yang ukurannya
kecil ujungnya. “Kamu sekarang bangun dulu yah,” Si pasien itu segera bangun dan langsung membuka lebar mulutnya tanpa diminta terlebih dahulu.
“Iiih, belum diminta buka, kok, kamu sudah buka mulut sih, Di? Nggak seru ah main
dokter-dokterannya. Kamu pernah nggak sih ke rumah sakit? Harusnya kan perawatnya yang nyuruh kamu buka mulut dulu,” protes Agatha ngambek.
‘”Maaf deh, Tata,” ujar Didi. “Habis perawatnya cantik, sih,” Diaz melirik ke arah Maria yang dulu masih membiarkan rambut panjangnya menjuntai lurus menantang ubin. Maria jadi mesem-mesem sendiri.
“Jadi aku nggak cantik, yah?” rengut Agatha melotot.
“Kamu cantik juga, kok, Ta,” ucap Diaz. “Tapi masih lebih cantik Letty,”
“Ah udah ah mainnya, nggak seru main sama kamu, Di. Kamu nggak pernah serius,
sih, mainnya.” Dilemparnya stetoskop itu, lalu melengos pergi.
“Kamu kenapa sih bikin malah Tata mulu? Kasihan tahu dia,” kata Maria kecil.
“Sekalang, gimana nih main doktel-doktelannya? Nggak selu tahu mainnya kalau cuma beldua doang.”
“Ah biarin aja, Let. Kamu aja yang jadi dokternya. Kalau dokternya secantik kamu,
aku yakin pasti banyak pasien laki-laki yang datang ke tempat kerjamu. Apalagi…” Didi
berhenti sejenak. “Kamu tahu, nggak? Kamu tuh lebih cantik lagi, kalau rambutmu dikepang. Lebih manis.”
Maria jadi memerah kedua pipinya. Dan itu terbawa hingga ke masa sekarang. Di
tengah kondisi fisiknya yang terlihat begitu mengerikan, ia terkikik. Kenangan masa kecil
__ADS_1
selalu saja bisa membuat tersenyum atau tertawa.
Oh iya, Didi gimana yah kabarnya sekarang?