
“Yaz, kasih tahu dong, kamu tadi habis mimpi apa pas di studio tadi?” tuntut Maria
dengan wajah polos anak kecilnya lagi.
Diaz menyeringai tajam. “Nggak. Sekali aku bilang nggak, yah nggak. Lagian itu
privasi aku tahu.”
Sejak di studio tadi–yang dinginnya bikin Diaz malah ketiduran itu, Maria terus saja
memberondonginya dengan pernyataan:
“Kasih tahu dong.”. Untuk menghindarinya, terpaksa Diaz keluar di tengah penayanagan, dan ia juga sudah kehilangan seperempat alur film tersebut. Sialnya, Maria juga ikut keluar. Rugi deh, tiket seharga tiga puluh lima ribu itu. Tak lepas di situ saja. Saat di foodcourt, lagi-lagi Diaz terus diberondongi Maria. Padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Maria sungguh penasaran
dengan mimpi Diaz tersebut. Karena mimpi tersebut, menurut gadis bertampang Eropa itu, pasti jawaban dari pertanyaan dan mimpinya: apakah Diaz mencintainya?
“Yaz,”
Hening.
“Yaz,”
Diaz sok bersiul. Menyiulkan lagu Tokecang.
“Yaaaaaz….”
Diaz menjentik-jentikan lidah.
“Yaa-aaz…” Nada suara Maria seperti seorang anak kecil merengek minta dibelikan
mainan.
Radio mobil yang tadinya mati itu dihidupkan Diaz. Sekarang suasana ramai, walau tak
seramai suasana di luar mobil yang hiruk-pikuk. Diaz sukses menggenjot gas hingga depan rumah sakit Tarakan.
“Wah kebetulan, ternyata acaranya si Tina Talisa,” ujar Diaz berbinar-binar. Ia sengaja
seperti itu untuk membuat Maria cemburu, karena pasti gadis itu tak lagi memintanya untuk menceritakan mimpinya itu. Dan Tina Talisa adalah seorang penyiar radio yang terkenal seksi yang cukup sering tampil on-air di televisi.
Maria tersaruk-saruk mematikan radio. Ia sewot, Diaz nyengir tapi juga kesal, sebetulnya.
“Kamu apaan sih? Cemburu yah?” celetuk Diaz.
“Yaz, buruan deh kasih tahu aku apa mimpi kamu itu?” rengek Maria.
“Ini apaan sih? Masih bahas soal mimpi itu aja. Udah ah, nggak usah terlalu dipikirin
__ADS_1
gitu. Mimpi itu cuma kembang tidur aja kok.”
“Yah kalau cuma kembang tidur, ya udah ceritain dong.” Rahang maria sungguh
mengeras.
Diaz menghela napas. Agak lama ia tercenung. Ditatapinya langit-langit Innova.
“Yaaaz…” rengek Maria.
“Oke, aku nyerah. Aku ceritain ke kamu, tapi kamu jangan ada ketawa atau ngambek-
ngambek yang nggak jelas yah,” kata Diaz pasrah.
Mata Maria menunjukan keceriaan penuh kemenangan. Senyumnya lebar sekali.
Lalu Diaz pun mulai menceritakan mimpinya itu. Cukup detail. Nyaris tak ada bagian
yang disensor. Maria begitu antusias memperhatikannya. Dan di akhir cerita, gadis itu tergelak.
“Katanya nggak mau ketawa… gimana sih?” protes Diaz.
“Habis mimpi kamu itu sih…” dalih Maria. “Aku nggak nyangka, kamu segitunya…”
Diaz meneguk air liur. Mukanya merah sekali sampai ia nyaris mau dibenamkan saja ke
jalan beraspal beton di luar. Ia berharap, ada pengemudi truk ugal-ugalan yang mau melindas mukanya sampai tak terbentuk lagi.
Diaz mengertakan gigi. Ia bahkan tak berani menatap Maria.
Maria terus memandangi wajah Diaz yang terbakar malu. Setelah itu, ia memutar bola
mata. Ia terpikirkan satu hal, detil yang cukup penting–menurutnya. “Eh tapi, kok kamu bisa mimpiin Tiara juga sih? Sampai mimpiin kamu lagi direbutin gitu? Kamu ada perasaan juga yah ke Tiara?”
Tanpa memandangi Maria, Diaz mnyembur,
“Tadi kan aku bilang jangan ketawa atau
ngambek. Dan sekarang kamu mau langgar dua hal itu. Kamu udah ketawa, dan sekarang
mau ngambek?” Diaz berdecak-decak.
“Tapi bagian itu nggak penting deh. Aku lebih suka bagian yang soal nikah dan kata
‘sayang’ itu.” ujar Maria tersenyum manis sekali. “Kamu tahu nggak? Ada yang bilang,
mimpi itu hasil dari hasrat terpendam.”
__ADS_1
Diaz tak mendebat. Ya Tuhan, bejek-bejeklah aku.
Kemudian sunyi. Sunyi yang mencekam untuk Diaz. Wajahnya semakin masam saja.
Maria terus menerus memandanginya sembari senyum-senyum genit. Di pikiran gadis itu, terbayangkan ia dan Diaz sedang berada di atas altar untuk menerima pemberkatan dari pendeta. Juga membayangkan mereka berdua saling tukar cincin.
Masih hening.
Hening ini sepertinya cukup lama. Sepertinya Diaz baru buka mulut saat tiba di rumah,
yah paling untuk meminta Mbak Nenti memasakan air panas untuk mandi. Ia butuh air yang hangat kuku untuk meredam rasa mati kutu ini.
Masih hening.
Hanya ada suara radio dari si penyiar seksi, Tina Talisa. Si seksi itu lalu memutarkan
kepada para pendengar radio dimana pun berada, lagu “I Know You Want Me” dari Pitbull.
Entah mengapa, lagu ini terasa cocok untuk sepasang tunangan yang awalnya dijodohkan itu.
Yah Maria akhirnya tahu, Diaz juga mengingininya, sama seperti ia begitu mengingini Diaz.
Masih hening.
Hening.
Hening.
Hening.
Kesunyian itu pecah, saat Innova itu baru saja melewati rest area Tangerang. Diaz
mendadak tergelak.
“Maria, Maria, aku baru kali ini lihat ada orang kayak kamu. Baru kali ini ada yang
polosnya kayak kamu. Kamu itu memang centil, tapi centil polos.” Diaz kira hanya
menggumamkannya dalam hati. Ternyata tanpa sadar malah bersuara lumayan kencang.
“Kamu itu memang kayak anak kecil, itu yang bikin aku suka sama kamu.”
Maria memerah mukanya. Tapi cukup syok mendengar perkataan spontan Diaz
tersebut. Mungkin Diaz terpengaruh oleh topik yang tengah dibawakan oleh si Tina.
Maria berbinar-binar memandangi Diaz. Ucapnya lirih: ”Diaz…”
__ADS_1
Diaz sontak tersadar dan segera meralat ucapannya, “Udah deh, lupain kata-kataku itu,
cuma becanda doang kok. Nggak mungkin aku bisa suka sama cewek centil kayak kamu.”