
Jam tujuh pagi. Cuaca begitu cerah. Malah sebetulnya terlalu cerah. Tak panas, pula
tak dingin. Hari ini sungguh layak digunakan untuk berleha-leha di atas tempat tidur minimal sampai jam sebelas siang. Yah ketimbang harus mendengarkan ceramah Bapak Brito yang sibuk menjelaskan soal pelajaran pertama dari mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum.
Sumpah yah, cara menjelaskan materi dosen berkulit legam dan berkepala plontos di
tengah itu sungguh membosankan. Bikin mengantuk saja. Apalagi suhu ruangannya cukup dingin, plus warna dindingnya yang begitu putih sepolos-polosnya. Namun bukannya kebanyakan dosen berusia sepuh memang seperti itu. Cara menerangkan materinya seperti seorang pendeta berkhotbah di atas mimbar. Terkesan tak berniat untuk membuat suasana
kelas jadi jauh lebih hidup.
Pak Brito begitu asyiknya menjelaskan materi dari buku tebal berwarna hijau gelap
karangan C. S. T. Kansil. Mungkin lebih tepatnya lagi, beliau lebih membaca buku
ketimbang menjelaskan. 70% membaca, 30% barulah menambahkan sedikit dari kata-
katanya sendiri. Itu juga lebih ke arah menyebutkan beberapa kasus hukum yang tengah aktual. Ambil contoh, kasus seorang warga sipil yang harus berhadapan dengan dunia hukum
lakibat sebuah milisnya yang menyerempet nama sebuah rumah sakit skala internasional.
“…yang kedua, soal keadaan hukum kodifikasi di Indonesia. Bagaimanakah keadaan
hukum kodifikasi yang sekarang ada di Indonesia? Ada yang tahu?–“
Pandangannya menjelajah isi kelas. Namun sepertinya ia tak berniat untuk mencari seseorang yang bisa
__ADS_1
menjawab pertanyaannya.
“–Jadi, walaupun konkordan dengan hukum kodifikasi yang terdapat di negeri Belanda, namun tidaklah sama dalam kesatuan berlakunya atau unifikasi bagi seluruh golongan penduduk…”
Sementara sang dosen menjelaskan, Diaz kerepotan berhadapan dengan Tiara.
Bukannya gadis itu kalah duel jumat? Kenapa perempuan ini terus saja mengejar-ejar
dirinya? Harus berapa kali ia katakan, dirinya hanya menganggap Tiara sebagai seorang
teman yang enak diajak diskusi. Tidak lebih.
Semakin gondok dirinya menyaksikan Maria didekati lagi oleh si aneh Teguh. Laki-
laki berambut pitak, namun diberi olesan minyak rambut, lalu di lehernya tergantung kalung aneh yang sering digunakan oleh para dukun.
semua yang kamu bilang.” Perempuan itu berujar seperti itu karena dirinya lebih ingin
memfokuskan diri pada sang saingan terberat, Tiara, yang sibuk menggodai Diaz lagi.
Laki-laki yang mengenakan kemeja hitam dan celana jins belel itu mengernyitkan
dahi. “Dikau serius? Masakan gadis secantik bidadari ini tak tahu siapa itu Pramoedya
Ananta Toer?
__ADS_1
Gadis itu menggeleng.
“Maria, Maria, Maria.” Ia menggeleng penuh kegemasan. “Maria yang aduhai,
keterlaluan sekali dikau ini. Masakan dikau tiada tahu soal Pramoedya Ananta Toer? Beliau itu sastrawan legendaris negeri ini. Karyanya, ‘Bumi Manusia’, sungguh luar biasa. Daku juga sungguh terpukau dengan kemampuan menulis Pram itu.”
Maria terkikik. Namun ia masih menjaga sorot matanya terus mendelik pada Tiara
dan Diaz.
“Aih, manis sekali senyum dikau itu.”
“Kamu juga lucu. Aku jarang-jarang, lho, ketemu orang yang bicaranya kayak lagi
baca puisi. Tiap dengar kamu bicara, selalu pengin bikin aku ketawa mulu.”
“Terimakasih atas pujian dikau, Maria yang teramat jelita. Daku amat tersanjung.
Bagaimana–sebagai balasannya –kalau daku ajak dikau makan di mal sebelah kampus?”
Ada sebuah rasa aneh. Rasa ini sukar dijelaskan. Sungguh menyiksa batin. Benar-
benar aneh. Mengapa dirinya begitu terbakar emosi menyaksikan kedekatan gadis itu dengan lelaki berpakaian aneh yang hobi berpuisi? Cemburu?
Diaz tersentak. Ternyata segenap mahasiswa malah gencar sekali menertawakan Pak
__ADS_1
Brito yang baru saja melakukan kesalahan baca.