Destiny 41

Destiny 41
Masih Saja Ngeles


__ADS_3

Selesai mengunci Innova, Diaz cukup tersaruk-saruk masuk ke dalam rumah. Hanya dibalas dengan sebuah anggukan, kata-kata Mbak Nenti tadi. Hari ini, ia rasa, cukup


spektakuler. Spektakuler lelahnya. Plus kenyang akibat ditraktir. Seumur-umur, ia baru kali ni ditraktir seorang perempuan sampai lima kali. Buat makan siang, makan malam, snack, menonton film, dan beberapa action figure yang sudah lama diincarnya. Tak sia-sia si Maria berada di rumah. Akhirnya dia bisa melihat sisi guna dari seorang gadis manja nan genit.


“Eh, Yaz,” ujar Martin nyengir. “Baru pulang lu?”


Diaz mengangguk. “Iya, Tin. Capek banget nemenin Maria seharian ini. Papa sama


Mama udah pulang? Si Agatha ada di atas kan?”


Martin terkekeh. “Lu kayaknya senang banget hari ini. Habis ngapain aja lu sama


dia?”


“Hadeuh… pertanyaan gue nggak dijawab, lu malah ngeledekin gue. Bagus. Great


idea!” keluh Diaz.


“Sorry deh sorry,” kata Martin yang sepertinya begitu puas sekali meledeki adik


semata wayangnya itu. “Papa sama Mama belum pulang. Kayaknya sih bakal pulang tengah malam nanti. Mereka kan perginya ke Bandung. Nah kalau Agatha, ada tuh di atas. Lu bisa dengar kan, ada suara-suara berisik yang nggak jelas. Heran dah, ntu anak demen banget sama K-Pop. Apa bagusnya sih?”


“Oh gitu,” kata Diaz sayu. “Ya udah, gue ke kamar dulu yah. Mau istirahat. Capek


banget nemenin dia.”


“Tunggu dulu. Jangan main pergi aja lu. Jawab dulu pertanyaan gue yang tadi. Habis


ngapain lu sama dia?” Martin memblokade jalan seorang Diaz yang sudah keletihan sangat.


“Fuuh… Awalnya nemenin dia ziarah ke makam orangtuanya. Terus dia ajakin gue


jalan ke GI. Kita seharian di sana, entah itu makan, nonton sama belanja. Yang bikin gue


tambah senang…” Diaz nyengir lebar. “…gue nggak perlu keluar duit sama sekali. Dibayarin full sama dia. Heran deh gue, orangtuanya sekaya apa sih? Kayaknya tajir banget.”


Martin tergelak. “Tapi kalau gue amati, lu kayaknya benci sama dia yah?!”


Diaz mengayunkan pistol jarinya. “That’s right, Boss! Benar banget. Tebakan lu tepat


bingit.”


“Maksud gue, benar-benar cinta.” ralat Martin nyengir penuh kemenangan. Sekali

__ADS_1


lagi, dan entah sampai kapan, Martin selalu berhasil memperdayai sang adik.


“Brengsek. Ya nggak-lah, nggak mungkin gue bisa jatuh cinta sama cewek genit


kayak si Maria itu.” erang Diaz.


“Nggak usah muna. Kelihatan lagi dari gerak-gerik lu selama ini. Dan yang gue lihat


juga, Maria udah sukses mengubah lu secara nggak langsung. Dimulai dari lu yang makin


betah di rumah, kan lu biasanya lebih sering ke warnet buat main game, sampai lu juga yang akhirnya belajar untuk nggak terlalu royal make duit. Selain itu, lu juga jadi lebih


bersemangat. Selama ini, sebelum kedatangan Maria, lu itu lebih pemurung, pendiam, dan begitu kuper.”


“Masa sih?” selidik Diaz nyengir, tak percaya.


"Jangan suka sotoy ah.”


“Gue nggak sotoy. Mbak Nenti juga bilang hal yang sama ke gue. Jujur juga, harus


gue akui, Maria–dan juga adiknya–udah sukses bikin rumah ini begitu rame. Sumpah, Bro, gue senang banget dengar kehebohan tiap pagi. Dari Maria yang bikin rusuh di dapur, sampai pertengkaran lu sama Maria di depan toilet. Kalau Maria nggak pernah tinggal di rumah ini, rasa-rasanya gue lebih demen di luar ketimbang rumah sendiri.” Martin masih nyengir lebar.


Diaz memutar bola mata. “Whatever. Terserah lu aja dah. Gue males debat. Dah ah,


“Yaz, satu lagi yang mau gue kroscek,” ucap Martin tersenyum.


“Apa lagi?” Diaz balik arah dan memandang kembali sang abang yang suka rese,


dengan mata melotot semelotot-melototnya.


“Lu itu kenapa sih, selalu ber-aku-kamu sama Maria? Yah kalau misalnya lu beneran


nggak suka sama dia, kenapa nggak pake kata sandang lu-gue? Selama ini, gue jarang banget lihat lu pake kata sandang lu-gue. Atau lu sebetulnya emang udah naksir Maria sebelum dia datang ke rumah ini?”


Diaz terkekeh. “Ngaco! Yah nggak-lah. Gue ber-aku-kamu sama Maria karena dia


duluan yang ber-aku-kamu. Gitu aja. Simple. Aneh aja, dia make kata sandang aku-kamu, tapi gue malah pake kata sandang lu-gue.”


“Yang bener?” desis Martin ofensif. “Jangan-jangan lu sebetulnya bukan naksir sama


cewek yang namanya Adel, tapi lebih naksir sama cewek yang bernama Maria? Lu sama dia sefakultas sama seangkatan kan?!”


Adel. Mahasiswa Psikologi. Seangkatan sama Fidel, seseorang yang selama ini

__ADS_1


dituding Maria sebagai biang kerok penyebab meninggalnya kedua orangtuanya. Kalau saja


Maria tak pernah datang ke rumahku-istanaku-nya keluarga Rohie, mungkin saja Diaz sudah jadian sama Adel, gadis berambut panjang nan pipi tembem.


Diaz bersua dengan Adel saat ospek kampus. Sekelompok. Dan lelaki itu sungguh


begitu terpana menyaksikan lenggak-lenggok seorang Adel dalam berjalan, duduk, bertutur, merespon pernyataan, dan kontrol emosinya yang luar biasa. Mungkin kalau Adel itu genit,


sebelas-dua belaslah sama Maria. Namun Adel berbeda. Adel tak genit. Ia justru menjaga betul harga dirinya sebagai seorang perempuan. Pula tak manja. Sebab jauh lebih mandiri ketimbang Maria, Tiara, Ester, dan Fidel.


Dengar-dengar, Adel ini juga punya perasaan khusus ke Diaz. Namun sikapnya yang


terlalu hati-hati sudah menenggelamkan perasaan suka itu. Beberapa mahasiswa Psikologi yang juga kenalan Diaz, pernah memergoki Adel menyimpan beberapa foto diri Diaz dari sudut pandang candid. Adel juga begitu antusias membela Diaz yang mendapat tudingan-tudingan negatif.


Itulah sebabnya, Fidel kurang begitu menyukai seorang Adelia Laurencia. Sama-sama rival, bukan? Tapi Adel juga rekan terbaik yang pernah dimiliki Fidel. Jelas yang terbaik jika Adel tak pernah mengeluh (nyaris) saat Fidel menyuruh-nyuruhnya laksana seorang babu.


Adel juga sabar dalam menanggapi curhatan seorang Fidelia Wicaksana.


“Ah udah ah, nggak usah bahas-bahas soal Adel lagi. Orangnya juga anggap gue


teman kok. Dan gue mau tidur. Bye.” keluh Diaz. “Minggir lu, Tin!”


Martin nyengir saja dalam mempersilakan jalan buat Diaz.


Diaz langsung melipir menuju kamarnya yang super nyaman. Di perjalanan, ia


bertemu Maria yang duduk sembari membaca sebuah novel yang cukup lantam bila dipukul ke kepala Diaz. Mungkin Diaz– dan Martin–juga tak sadar bahwa Maria sudah menguping pembicaraan mereka komplet.


“Eh Mar,” kata Diaz tersenyum letih. “Nggak ke atas? Kamu nggak capek emangnya?”


Maria menggeleng. “Masih pengin di sini dulu. Agatha berisik banget di atas.”


“Oh.” Tanpa merasa bersalah, Diaz melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.


“Mar,” bisik Martin yang sudah beringsut saja ke Maria. “Maaf yah, kalau kamu


dengar hal tadi. Yah, seperti yang kamu dengar tadi, Adel memang cewek yang ditaksir Diaz selama ini. Sayang Adel nolak Diaz dengan alasan friendzone.”


“Nggak apa-apa, Bang.” Kembali Maria menggeleng penuh kelesuan. Ia lalu bangkit


berdiri dan melengos begitu saja menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


“Udah yah, Bang, aku mau tidur dulu. Udah ngantuk. Mungkin Agatha juga udah mulai tenang di atas sana.”

__ADS_1


__ADS_2