
“Apa enaknya sih main game itu?” tanya Tiara.
Diaz tengah bersama Tiara–juniornya–untuk kepentingan tugas mata kuliah Alternative Dispute Resolution. Sang dosen, ibu Tisa Sembiring menugaskan tiap kelompok--yang terdiri dari lima orang--untuk membikin makalah soal kasus internasional yang
ditangani oleh lembaga arbitrase internasional. Untuk itulah, karena sekelompok juga, Diaz mengajak Tiara ke warnet di dekat gerbang kampus untuk mencari data-datanya, khususnya
lagi kasusnya. Diaz tak punya pilihan lain. Di kelas ibu Tisa tersebut, hanya beberapa
mahasiswa-mahasiswi saja yang ia akrabi, bisa dihitung dengan lima jari tangan, dimana salah satunya Tiara yang jadi anggota kelompoknya; sementara untuk tiga anggota lainnya, Diaz merasa asing.
“Eeee…. Yah pokoknya enak deh…” jawab Diaz sekenanya saja, sambil mencopot headset-nya. Diaz langsung segera menutup Point Blank yang sedang asyik dimainkannya,
setelah melihat kedatangan Tiara yang cukup mendadak.
“Eh Tiara,” sapa Diaz sambil bergerak cepat mengklik browser internetnya. Tampilan
di layar–seperti kebanyakan monitor komputer lainnya–ialah Google. “Langsung kita cari aja kali yah kasusnya. Eh tapi kasus apa yah?”
Tiara terkikik. “Santai aja kali, Yaz. Anyway, soal game barusan, tiba-tiba gue jadi
teringat sesuatu,” Mendadak Tiara tersenyum misterius pada Diaz. Itu membuat Diaz jadi
menggaruk-garuk kepalanya dan meneguk air liur.
“Teringat soal apa?” Entah kenapa Diaz malah menyelidiki hal tersebut. Padahal
menyelidiki rahasia kecil Tiara tersebut sama saja dengan membuat masalah baru di
kehidupan percintaannya dengan Maria. Diaz mulai menyemburkan bensin ke api kecil,
sepertinya.
“Kejadiannya itu waktu gue masih kelas 4 SD. Waktu itu pertama kalinya, bokap gue
bikin rental Playstation di teras rumah. Hanya rental kecil doang. PS-nya aja cuma ada lima. Tapi itu udah cukup bikin rumah jadi kedatangan anak-anak yang sebaya sama gue, bahkan ada juga yang lebih tua. Nah suatu saat, gue disuruh bokap untuk jaga rental, dan kebetulan juga gue ketemu anak laki-laki yang begitu fokusnya main PS. Ia sama sekali tak terpengaruh sama ramenya rental dan tetap asyik dengan game favoritnya. Kalau nggak salah, Medal of
Honor deh namanya.” cerita Tiara.
“Wah sama kayak gue dong, yah? Gue juga dulu suka main game itu,” timpal Diaz.
Aduh Diaz malah makin semakin menuangkan bensin ke api tersebut lagi. Tiara tersenyum, yang lagi-lagi senyum misterius. Lalu Tiara meneruskan kembali cerita masa kecilnya yang sebetulnya tak perlu juga diceritakan ke Diaz, kalau ia tak punya agenda tersembunyi.
“Terus, anehnya lagi, anak itu tuh lebih seringnya main sendiri. Yah tapi wajar juga
sih. Kebanyakan anak lainnya lebih memilih main Winning Eleven, Smackdown, Grand
Turismo, atau CTR, yang bisa dimainin berdua.”
Waktu Tiara menyebutkan nama-nama game tersebut, Diaz serasa bernostalgia. Apalagi dulu memang ia sempat mempunyai playstation, sebelum dijual waktu dia SD,
dikarenakan ayahnya yang di-PHK dari kantor lamanya. Untungnya lima bulan setelahnya,
ayah Diaz sudah diterima di kantor lainnya dengan gaji yang lebih baik.
“Karena itulah, gue jadi begitu memperhatikan anak tersebut, apalagi anaknya juga
ganteng, kok. Lalu suatu saat, gue hampiri dia. Gue tanya, ‘Apa enaknya sih main game
itu?’”
“Lalu jawabnya ke gue–sambil nyodorin stik PS, ‘Coba deh,’ Tanpa pikir panjang, langsung gue ambil stik itu. Terus ia bilang juga ke gue, ‘Lagian, papamu kan yang punya usaha rental ini, masa sih kamu nggak suka main PS?’ sambil mengerutkan dahinya. Mungkin dia bingung kali, kenapa anak pemilik rental PS, malah nanya kayak gitu?!” Tiara terkikik-kikik penuh misteri.
Tiba-tiba saja, Diaz merasa ada yang menyiramkan air panas–atau sesuatu lainnya--yang membuat ia mengingat kembali sebuah memori kecil dalam otaknya itu. “Eh sebentar deh, Ra. Cerita lu itu kok mirip seperti cerita masa kecil gue yah? Dulu waktu gue kelas 4 SD, di komplek gue tinggal, memang ada rental PS yang baru dibangun. Oya, lu tinggal dimana sih? Lu juga sama-sama anak Tangerang, kan?”
“Tinggal di Alam Sutera.”
“Ooh… Gue kira di Taman Giri Loka juga…” kata Diaz. “Eh tapi kok ceritanya bisa mirip begitu yah? Oya, kalau boleh tahu, tahu nggak nama anak laki-laki itu?” Diaz bodoh.
Tanpa sadar, dia malah mendesak Tiara untuk bilang bahwa Diaz lah anak laki-laki yang
__ADS_1
anti-sosial tersebut dan merupakan cinta pertama gadis berambut panjang tersebut.
Tiara jadi memerah pipinya. “Eh, mending kita cari kasusnya. Kenapa juga malah
bahas masa kecil gue?” ucap Tiara untuk mengalihkan perhatian yang sebetulnya dia sendiri yang menciptakannya.
“Eh kok lu jadi salah tingkah begitu sih? Biasa aja kali,” ujar Diaz nyengir. Ia geli
melihat kesalah-tingkahan Tiara barusan.
“Kalau masa kecil gue sih, seingat gue juga, gadis itu biasanya dipanggil Aling sama papanya. Anaknya sih lumayan cute.” Tiara serasa tak percaya apa yang didengarnya tadi. Matanya melebar mendadak.
“Biasa aja kali.” Diaz nyengir, sekaligus mengerutkan dahinya. “Tapi apa jangan-
jangan…”
Tiba-tiba jantung Tiara jadi berdegup kencang.
“Ah, tapi nggak mungkin juga. Lu rumahnya di Alam Sutera, gue--dan gadis cute itu--tinggal di Giri Loka,” Diaz menepis anggapan awalnya itu.
“Eh ta-tapi dulunya gue sempat tinggal di sana juga, sebelum akhirnya pindah ke Bali
waktu lulus SD,” ucap Tiara, seolah tak ingin melepaskan kesempatan emas itu lolos
darinya. “Dan baru deh SMA, balik lagi ke Tangerang.”
Diaz jadi semakin mengerutkan keningnya. “Terus maksud lu? Lu mau bilang, gadis
itu…” Diaz agak ragu meneruskan ucapannya. “…lu sendiri?”
“I-iya,” jawab Tiara, dengan keringat dingin mulai bercucuran. “Lu itu yah, kurang
peka orangnya, padahal clue-nya juga udah cukup jelas.”
“Oh itu lu toh. Sorry deh, gue emang nggak terlalu jago buat diajak main teka-tekian.”
kata Diaz nyengir. “Eh tapi dunia beneran sempit yah? Siapa sangka sih, setelah lama nggak ketemu, malah ketemu lagi di kampus, sefakultas pula.” Diaz tergelak tanpa suara.
Kata ‘jodoh’ hampir saja hendak terucapkan oleh Tiara, sayang tercekat di tenggorokan karena alunan melodi “Magic” itu lagi. Blackberry Diaz bergetar hebat di
kantong kemeja kotak-kotaknya. Diaz melirik layarnya, lalu buang napas, apatis. Ia kembali
memandangi Tiara.
"Eh tadi lu mau bilang apa?” tanya Diaz.
“Nggak ada apa-apa kok, cuman joke nggak jelas doang.” jawab Tiara tersenyum.
“Oh iya, tadi yang telepon siapa?”
Diaz berdecak sekali. “Si dia.”
“Dia?” Tiara mengerutkan keningnya, walau sudah tahu siapa yang dimaksud dengan
dia itu. “Dia siapa?“
“Maria.” kata Diaz yang dari sorot matanya itu terpancar aura kekesalan. Ada sesuatu
yang terjadi di antara dirinya dan tunangannya tersebut. “Eh sampai lupa sama tugasnya, lu
udah dapat kasusnya?”
“Lu kayaknya lagi ada masalah yah sama cewek itu?” selidik Tiara.
Diaz nyengir. “Udah deh, nggak usah dibahas. Mending kita bahas soal tugas kuliah
dulu.”
Tiara terkekeh. “Tapi lu sama dia pasangan yang aneh yah? Ribut mulu kayak anjing
__ADS_1
dan kucing, padahal sebetulnya saling cinta.”
Ganti Diaz yang terkekeh. Untung warnetnya sedikit lumayan bising, baik Diaz maupun Tiara tak perlu khawatir obrolan mereka jadi pusat perhatian.
“Sok tahu lu ah.” sembur Diaz nyengir. “Masa iya saling cinta? Dapat kesimpulan
dari mana lagi?”
“Yah kalau soal Maria sih, mahasiswa-mahasiswa angkatan kita udah tahu yah kalau Maria itu suka banget sama lu. Si Inggit pernah bilang ke gue, Maria pernah curhat, dia tuh senang banget bisa tinggal di rumah lu sekarang, Yaz.”
“Masa sih?” tanya Diaz serasa tak percaya mendengar informasi bahwa ia sudah
dikagumi sekian lama oleh seorang perempuan bernama Maria. “Kirain gue, si cewek centil itu cuman senang dijodohin karena cowoknya itu ganteng dan berbadan lumayan kekar.”
Tiara geli. “Mulai deh narsisnya kumat.”
“Nggak kok, ini bukan narsis – tapi ini fakta. Lihat nih badan gue.” Diaz membusungkan dadanya yang memang cukup atletis. Kemudian jari telunjuk dan jempolnya
ditaruh di dagunya. “Gue juga ganteng, kan?"
“Udah ah, perut gue jadi mules dengarnya.” Tiara terkikik. “Eh tapi lu juga cinta kan
sebetulnya sama Maria?”
Tawanya terhenti. Diaz termangu. Lalu cengiran terbit di wajahnya. “Cinta? Sama
cewek centil kayak gitu?” Perutnya serasa mau melilit.
“Udah deh Yaz, nggak usah sok disangkal. Lu sebetulnya cinta kok sama Maria. Gue
masih ingat kejadian waktu kita di rumah Caio itu. Abang lu pernah bilang ke gue, lu
beberapa kali nyebut nama Maria pas tidur.”
Diaz tersipu, tapi kedua alisnya bertautan. “Masa sih?”
“Iya, gue nggak bohong. Abang lu sendiri yang bilang, tanya dia aja lagi.”
“Eeeee….” Diaz mati kutu. “Eh kita bahas tugas ini dulu deh. Minggu depan harus
presentasi, kan?”
💜💜💜💜💜
Tak terasa cukup lama juga, Diaz sibuk mengerjakan tugas ADR bersama Tiara. Ia
baru pulang saat adzan maghrib mengalun merdu. Pengerjaan tugas itu benar-benar membuat letih otak, mata, punggung, dan bahkan nyaris seluruh tubuhnya. Ia berharap setiba di rumah bisa langsung merebahkan diri di kasurnya yang empuk dengan semilir sejuk dari mesin pendingin. Sayang, baru saja membuka pintu gerbang, ia sudah disambut oleh Maria yang berdiri sambil kedua tangannya bertumpu di pinggangnya. Matanya nyalang. Tak ada senyuman di wajahnya. Aura di sekujur tubuhnya terasa panas sekali. Dari lubang hidungnya,
keluar hembusan napas yang mengalir cepat. Sepertinya telinga Diaz harus bersiap-siap
mendengarkan suara yang desibelnya itu mengalahkan desibelnya mobil balap Formula 1.
“Diaz!” seru Maria. “Kamu dari mana aja sih? Kenapa telepon dari aku nggak
diangkat?”
“Oh itu,” ujar Diaz lesu, tapi masih sempat-sempatnya menciptakan sebuah cengiran.
“tadi aku lagi ngerjain tugas sama Tiara.”
Maria menggeram. “Pantas telepon aku nggak diangkat.”
“Lagian suka-suka aku juga dong, hape-hape aku, masalah buat kamu?” serang Diaz.
“Aku juga nggak mempermasalahkan kamu yang pergi nonton bareng si Teguh yang aneh itu.”
“Terus kamu cemburu?” damprat Maria.
Diaz buang napas. Ia putar-putar bola matanya. “Capek, capek, capek… mau tidur
__ADS_1
dulu ah…” Lalu memberikan punggungnya pada Maria begitu saja.
Kenapa sih cowok ini? Selalu saja ketus sama aku? Maria menghela napas.