
Kelas Hukum Waris sudah bubar. Dosen bersangkutan, Pak Esra sudah keluar
sepuluh menit lalu. Namun Maria masih dalam ruang kuliah. Ia berdiri di dekat Diaz yang sibuk berdiskusi dengan beberapa mahasiswa terkait tugas yang diampukan oleh dosen yang hobi memakai topi ala koboi. Omong-omong perempuan itu tak sekelompok dengan Diaz.
“Yaz, masih lama nggak sih?” gerutu Maria.
“Aku laper nih.”
“Ya udah, ke kantin aja sana sendiri. Kamu kan lihat sendiri, aku masih sibuk. Nanti
aku nyusul ke sana, deh.” sahut Diaz enteng.
Beberapa orang cengar-cengir mendengar jawaban Diaz itu. Bahkan salah satu
menyenggol Diaz dan berbisik, “Parah lu. Masa tega sama tunangan sendiri?” Itu Virgoz.
“Masa bodoh.” tukas Diaz cengar-cengir tak karuan. Sekonyong-konyong ia berbalik
menengok Maria. “Ya udah deh, kalau mau ke kantin, ke kantin aja sana.”
“Barengan tapi perginya,” rajuk Maria.
“Apaan sih? Manja banget. Nggak cukup apa, kita harus pergi ke kampus bareng?
Udah sana, pergi duluan aja ke kantin.”
Masih cemberut, Maria keluar kelas. Perempuan itu lalu naik tangga menuju aula
gedung Yustinus yang ramai sekali. Sudah mau jam satu siang, yang memang satu momen di mana aula itu selalu penuh dengan mahasiswa-mahasiswi. Dari aula itu, ia lalu menyusuri lorong gedung G, terus dan terus, hingga pemandangan depan matanya jadi Ruang Pendaftaran, tempat mahasiswa biasanya mengurusi segala administrasi. Itu semacam ruang tata usaha kala SMA. Tapi destinasinya bukan itu. Dari sana, ia belok kanan. Tampak kiri-kanan jalan terdapat banyak stan pendaftaran seminar atau acara lainnya. Namun tetap saja itu bukan destinasinya. Ia terus jalan, belok kiri, lurus, belok kanan, dan…. sampailah ia di
kantin yang selalu ramai di rentang jam sebelas hingga jam satu. Kanopi dan beberapa kipas membuatnya menjadi destinasi favorit para mahasiswa yang kelaparan, pula kepanasan.
Segera Maria hampiri salah satu kedai. Nama kedai itu Cenderawasih, dan
menyediakan prasmanan makanan, layaknya rumah makan Padang. Memang mirip rumah
makan Padang--atau lebih mirip warung tegalan. Sebabnya, makanan yang disajikan
masakan rumahan. Ada bihun, kwetiao, nasi goreng, kerang, telur dadar, telur rebus pedas,
atau pun bacem. Namun rasa dan kualitasnya beda jauh.
Setelah itu, ia langsung duduk di salah satu bangku kosong. Sungguh kosong. Karena
kiri-kanan-depan-belakang-nya tak ada orang. Namun hanya ada di meja besar dimana ia
meletakan sepinggan piring. Kemudian seraya berdoa, ia melihat seseorang yang ia kenal.
Samar-samar. Agak terhalang punggung-punggung, tapi ia tahu merasa familiar. Bukankah itu Tiara?
Salah satu mahasiswi tergelak. “Parah lu, Ra? Tega banget ganggu hubungan orang.
Kalau gue jadi lu sih, gue udah patah arang. Mending gue nyerah dan cari cowok lain.”
“Biarin,” kata Tiara nyengir. “Lagian selama janur kuning melengkung nggak ada di
depan rumah Diaz, seorang Tiara akan terus mengejar.”
“Emang lu tahu rumahnya Diaz? Dan lu kan juga pernah ditolak yang bersangkutan.
Nggak tahu malu banget sih.”
“Yee, resek lu Cha.” sembur Tiara. “Kayak lu nggak aja. Lu lupa yah, bagaimana
ngototnya lu ngejar-ngejar si Felix itu?”
“Itu sih beda sama lu. Felix nggak pernah terang-terangan nolak. Lah, kalau lu kan,
emang udah jelas ditolak mentah-mentah. Satu fakultas juga udah tahu kan.” sengit Julisca.
“Sialan lu!”
Julisca terkekeh. Perempuan berambut keriting itu juga menangkap sebuah objek
yang ia kenal betul. Segera ia laporkan hasil temuannya. “Btw, Ra, lihat deh arah jam
sembilan lu. Orang yang dari tadi kita omongin, nongolin diri tuh.”
Tiara menoleh ke arah yang ditunjuk. Maria salah tingkah, namun keluar asap dari
kepalanya saking begitu bencinya dengan Tiara yang terus menerus mengejar Diaz,
tunangannya.
Tiara berdecak, bergeleng-geleng. “Kalau aja dia nggak tinggal di rumah Diaz, terus
bertunangan, gue pasti udah jadi pacarnya Diaz. Gue curiga, jangan-jangan perjodohan itu hanya akal-akalannya doang.”
Maria memang tak mendengar percakapan mereka. Kebisingan kantin salah satu
penyebab. Namun mengamati ekpresi menyebalkan dari Tiara itu menyebabkannya naik darah. Langsung saja ia berdiri dan bergerak ke arah Tiara dan Julisca. Tiba di sana, ia memasang senyum palsu.
“Eh orangnya datang,” kata Tiara yang tersenyum sinis. “Nggak usah sombong deh,
yang udah main kotor.”
Maria duduk begitu saja, tanpa disuruh. “Main kotor? Aku nggak lagi main tanah
__ADS_1
kok.”
“Bego jangan dipelihara yah. Maksud gue, soal perjodohan lu itu. Udah deh, ngaku
aja, perjodohan itu cuma akal-akalan lu buat jadi tunangannya Diaz kan. Anak-anak
perempuan di kampus juga udah tahu kalau lu itu juga naksir sama Diaz.”
Maria meradang, namun diusahakan tetap tenang. “Tiara yang pintar, aku itu nggak
kayak kamu yah, yang super nggak tahu malu. Udah tahu ditolak, masih dikejar. Aku nggak
kayak gitu juga. Perjodohan itu juga emang rencana Papi aku sama Papa-nya Diaz sewaktu kita masih kecil. Juga bagian dari wasiat Papi aku.”
“Masa? Terus gue harus percaya gitu? Mending gini aja deh, gimana kalau tanding
basket? Yang kalah, harus ninggalin Diaz selamanya. Mau terima tantangan gue?” tantang Tiara yang serasa sudah menang duluan.
“Oke siapa takut, jam berapa duelnya?” respon Maria gemas.
“Dua hari lagi, jam delapan pagi aja tandingnya di Sport Hall.”
Duel sudah benar-benar disepakati. Hari Jumat, jam delapan pagi, di Sport Hall. Itulah
detil mengenai duel memperebutkan seorang lelaki. Lelaki yang diperebutkan malah berdiri
tak jauh dari sana. Benar-benar salah tingkah. Jujur saja, diperebutkan dua perempuan
membuat Diaz jadi melebar daun hidungnya. Namun saepertinya ia harus menolong Maria
agar menang duel. Ia tahu gadis itu lemah dalam men-dribble. Sampai Maria kalah, Pak
Hendrikus bisa berang. Ia bisa dicecar habis-habisan.
Seraya balik arah dan berjalan menuju toilet, Diaz mulai berpikir untuk memikirkan
cara menolong tunangannya menang duel. Bahkan, saking kerasnya berpikir, hilang sudah hasrat ingin pipis. Sekeluar dari toilet, Diaz didekati Virgoz, teman baiknya di fakultas Hukum. Temannya itu cengar-cengir. Sumpah, Diaz jadi bergidik.
“Kenapa lu? Bikin gue takut tahu. Soalnya lu udah persis om-om maho cari mangsa.”
kata Diaz merinding sekaligus nyengir.
“Sial.” Temannya itu memukul pundaknya.
“Terus?”Alis Diaz naik. “Ada apa lu lihatin gue kayak gitu?”
Virgoz terkekeh-kekeh. “Lu itu yah? Enak banget jadi cowok. Udah punya tunangan
yang cakep kayak Maria, eh masih aja terus dikejar sama Tiara. Enak banget hidup lu.”
Diaz tergelak. “Maria cakep? ngelindur kali lu yah?”
Diaz mengangkat bahu. “Nggak tahu yah.”
“Kok gitu?”
“Yah, terus gue harus ngomong apa? Harus ‘wow’ gitu sambil kayang?”
“Dasar alay!” ledek Virgoz. “Maksud gue itu, lu nggak nolongin Maria biar
menang?”
“Caranya?” tanya balik Diaz berkernyit. “Lagian itu kan duel antar perempuan.”
“Yah… dekatin kek, si Tiara. Suruh dia batalin duel itu.”
“Bego!” semprot Diaz. “Tiara kan masih ada rasa ke gue. Kalau gue dekatin dia, ada
juga dia ngira gue punya perasaan ke dia.”
“Anyway, lu sebetulnya cinta nggak sama Maria?” ujar Virgoz mengalihkan topik.
Pertanyaan itu menohok Diaz. Ia mematung agak lama. Bibirnya kelu. Sebetulnya
jujur ia sudah mulai menyukai Maria. Tapi, mungkin karena kata ‘gengsi’, kata ‘suka’ tak
kunjung keluar.
“Suka nggak?” desak Virgoz. “Kalau suka, bilang aja lagi.”
Diaz masih bergeming.
“Suka atau nggak? Lagian Maria juga lumayan cantik. Ah andai belum bertunangan
saama lu, gue udah tembak dia.”
“Kenyataannya, dia itu tunangan gue.” Saat mengucapkan itu, Diaz tampak berbinar-
binar. “Kalau mimpi itu, jangan ketinggian. Cewek secantik Maria itu jauh lebih cocok sama gue.”
“Aih, teman kita beneran jatuh cinta sama Maria.”
Diaz tak marah. Ia malah agak menundukan kepala, nyengir, dan menggaruk-garuk
sisi kepalanya yang jarang ditumbuhi rambut. Tampak juga, Diaz agak menganggukan
beberapa kali kepalanya. Tapi mendadak ia membeku. O-oh! Ada Maria di dekatnya. Ia
__ADS_1
sedang bersama temannya, Niar.
Diaz mengertakan gigi. “Eh, Maria. Mau pulang?”
Maria tersenyum, berjengit.
Baik Virgoz dan Niar berdeham-deham. Semakin berdeham waktu Diaz berujar, “Eh
udah yah, gue mau balik. Yuk, Mar, kita langsung balik aja. Udah jam tiga juga kan.”
Ia mendelik ke arah layar ponsel.
“Diaz,” sahut Maria.
“E-eh, Mar.” kata Diaz gugup.
“Tadi maksud kamu itu apa?”
“Yang mana?” tanya balik Diaz, sewaktu sudah berada di lantai 10 gedung Yustinus,
dimana mobilnya diparkir.
“Virgoz bilang barusan, kamu jatuh cinta sama aku.” ujar Maria merona merah. “Itu
betulan yang dibilangnya itu?”
Sampai di dekat pintu masuk mobilnya, Diaz menatap Maria dengan geli. Maria jadi
senewen.
“Apa? Ada yang lucu?” protes Maria.
“Nggak ada apa-apa,” kata Diaz nyengir. “Oya, nanti Jumat, semoga beruntung yah.
Semoga kamu menang.”
“Diaz…” Maria terpana.
Diaz tergelak. “Jangan ge-er dulu. Kalau kalah, ntar gimana jelasin ke Papa. Gue yang
repot sendiri kalau Papa bisa tahu soal duel konyol ini.”
Maria kembali meraibkan senyum manis itu.
💜💜💜💜💜
Jumatnya, di Sport Hall, sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan, Diaz menonton
duel itu dari kejauhan, tanpa sepengetahuan Maria serta Tiara. Ia duduk di salah satu bangku batu berbentuk tabung yang ada di Sport Hall. Untung saja, Sport Hall cukup ramai. Alhasil, keberadaaannyaa jadi tersamarkan. Sedikit tersamarkan.
Sesekali Diaz terkekeh-kekeh mengamati permainan Maria yang buruk sekali.
Beberapa kali istrinya itu tak bisa merebut bola dari Tiara. Skor 8-0. Bisa kalah telak Maria.
Tampak Diaz mulai was-was. Ia menggigiti bibir bawahnya. Pikirannya mulai tak menentu.
Dirinya membayangkan jikalau Pak Hendrikus tahu soal duel ini. Taruhannya itu… ia kan?
Maria pasti bakal mencurahkan kekesalannya pada Agatha, yang pasti akan sampai juga ke
Pak Hendrikus.
Diaz komat-kamit tak jelas. Sudah puluhan kali, ia berputar-putar di tempat. Pahanya
terus digaruk-garuk. Matanya mengedarkan pandangan seolah-olah sedang mencari sesuatu padahal nyatanya tak ada. Itu hanya pengalihan perhatian dari kekalutannya. Begitu cemasnya, ia sampai terkaget-kaget sewaktu pundaknya ditepuk. Diaz begitu sibuk dengan segala pikiran negatifnya pada hasil duel Maria dan Tiara.
“Eh lu, Goz,” kata Diaz mengelus-elus dada.
“Bikin kaget aja.”
Virgoz tertawa, namun segera berhenti saat diseringai Diaz.
“Cemas banget.” ujar Virgoz yang masih memegangi pundak Diaz. “Lu takut Maria
kalah?” Virgoz terkekeh-kekeh. “Kayaknya lu beneran suka sama Maria yah?”
“Yee…. kata siapa?” bantah Diaz. “Yang gue lebih takutin itu bokap gue. Gimana
kalau dia sampai tahu? Gue bisa diomelin habis-habisan.”
Virgoz memukul pundaknya sembari terkekeh-kekeh. “Santai, Kawan. Berpikir
positif aja. Dan coba lihat, kayaknya Tuhan menjawab kekhawatiran lu.” Ia menunjuk ke arah Tiara dan Maria.
Keajaiban terjadi. Saat Diaz tenggelam dan kekalutannya yang berlebihan, ia tak
sadar sedang dipandangi Maria. Kehadirannya jadi doping bagi gadis itu. Entah bagaimana caranya, permainannya membaik. Mulai meningkat dari level anak SD menjadi level anak SMA. Skor berubah drastis. Kini Maria mulai unggul.
“Hah?” Diaz melongo. “Kenapa Maria jadi hebat gini mainnya?”
“Lu tahu nggak? Dalam permainan olahraga, sering kita temui faktor X, penentu
sebuah kemenangan. Dan lu-lah faktor X bagi keunggulan Maria saat ini. Gue juga sempat
lihat, Maria mandangin lu dengan penuh arti.”
Diaz masih termangu-mangu.
__ADS_1
Virgoz terkekeh, nyaris terbahak lepas. “Diaz, Diaz… enak banget sih jadi lu? Bisa
disukain banyak cewek gitu.”