Destiny 41

Destiny 41
Serena


__ADS_3

Tangerang, Juni 2013,


“Nggak!” tegas Diaz. “Pokoknya aku nggak mau makan masakanmu. Lagian aku juga


udah makan di tempatnya si Velita,” Ups, Diaz keceplosan. Gara-gara keceplosannya itu –


selain membuatnya meneguk air liurnya – Maria jadi merengus.


“Oooh… mau CLBK yah?” sindir Maria.


“Ngapain kamu di sana?”


“Eeeee….” Diaz mulai berkeringat dingin.


“Nggak ada apa-apa, kok. Cuma buat


kepentingan kuliah aja, kok. Apalagi aku kan sekelompok sama dia di kelas Multikulturalisme. Udah deh, nggak usah cemburu-cemburu nggak jelas gitu.”


“Kalau nggak ada apa-apa, coba dulu nasi goreng buatanku ini,” pinta Maria yang


masih sewot karena kata ‘Velita’ tersebut. Maria selalu sewot, tiap kali melihat kedekatan Diaz dengan Velita (sahabat Diaz sejak SD) atau Tiara (rekan seangkatan di kampus yang tergila-gila dengan Diaz). Belum lagi dengan perempuan-perempuan lain seperti Adel, Fidel, dan Ester.


Diaz mati kutu. Dia sepertinya tak bisa menghindar lagi. Apalagi Maria sukses


menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Jarak sendok dengan bibirnya hanya setelunjuk saja. Aroma nasi goreng mulai tercium pula. Hanya saja, hidungnya tak mencium bau yang sama. Sepertinya kemampuan memasak Maria mulai berkembang. Rasa nasi gorengnya sekarang ini sudah tak separah dulu, walau belum seenak masakan buatan koki


lkelas satu. Paling tidak sebanding dengan buatan penjual mi tek-tek. Dengan ragu, Diaz


mulai membuka mulutnya lebar-lebar, dan Maria mulai memasukan sendok tersebut


kedalamnya. Lidah Diaz mulai mengecap rasanya. Tak buruk, tapi juga tak terlalu enak.


Lumayan. Kali ini sesendok nasi goreng itu meluncur mulus masuk ke kerongkongan.


“Enak kan?” tanya Maria tersenyum. Ia tersenyum, karena tak melihat Diaz


mengernyitkan hidungnya lagi atau terbatuk atau bereaksi mau muntah.


“Ini benar buatanmu?” selidik Diaz yang masih tak percaya nasi goreng tersebut


buatan Maria.


“Ya iyalah, Diaz. Memang kamu kira buatan siapa?” jawab Maria kesal.


“Bukan buatan mama aku, kan? Atau Mbak Nenti?


Wajah Maria semakin merengut. “Kamu kenapa sih? Kayaknya antipati banget sama


masakanku. Asal kamu tahu yah, selama ini, aku ambil kelas pagi terus karena biar bisa


belajar masak dari mama kamu atau Mbak Nenti, dan semuanya itu buat kamu, tahu?!”


Maria meninggalkan Diaz untuk meletakan sepiring nasi goreng itu ke atas meja batu yang ada dapur itu. Kemudian dia beranjak naik ke lantai atas. Ia menuju ke kamarnya dengan ekspresi antara kesal dan sedih.


Samar-samar Diaz mendengar Maria berucap dengan lirih, “Aku nggak mau masak lagi,”


Diaz jadi menggaruk-garukan kepalanya. Dia bingung harus berbuat apa, walau


sebetulnya tahu. Yah, ia seharusnya masuk ke kamar Maria dan menghiburnya. Hanya saja,


ia malu. Rasa malu yang membuatnya tak melakukan hal tersebut. Sekarang, hal yang ia lakukan ialah mengambil sepiring nasi goreng itu dan membawanya ke dalam kamarnya.


Dengan perut masih setengah kenyang karena sudah duluan menyantap ayam rica-rica buatan Velita tadi siang, ia paksa menghabiskannya – nasi goreng buatan Maria, tunangannya itu.


Sembari makan, ia membayangkan wajah Maria. Kalau dipikir-pikir, gadis centil itu


cantik juga. Rambut panjangnya yang lembut bagaikan bulu kucing Persia, wajahnya yang


bernuansa Eropa – tepatnya Italia, dan ukuran tubuhnya yang mungil khas wanita Indonesia.


Maria jelas tak terlalu jelek juga dan bisa dibanggakan. Tak hanya fisik dan rupanya, otaknya juga bisa diandalkan.


Ah, mendadak Diaz jadi terpikirkan satu momen. Itu terjadi sewaktu malam tahun


baru kemarin. Keluarganya sepakat merayakan hari jadi pertunangannya dengan Maria di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, 31 Desember 2011. Saat itu juga, untuk kali pertama, ia tahu satu hal: legenda bukan legenda semata. Di sanalah pula, ia berjumpa putri duyung yang menawan hati bernama Serena yang rupanya ia putri dari raja Atlantis.


💜💜💜💜💜


Saat itu, setelah makan malam, Maria mendadak mengajaknya untuk berjalan-jalan


menyusuri garis pantai Pulau Tidung. Diaz ogah-ogahan menyambutnya; itu juga karena

__ADS_1


dipaksa papanya. Dan dii bawah embusan angin darat, keduanya berdiri. Mereka sama-sama menatap purnama. Tak jauh dari tempat mereka berdiri tersebut, ada sebuah perahu nelayan yang cukup bisa ditumpangi oleh empat orang berukuran normal. Perahu tersebut sepertinya milik salah seorang pengelola vila tersebut. Di salah sudut perahu tersebut, Diaz melihat ada sebuah jala yang masih terikat dan jaring-jaringnya itu masih berada di dasar laut. Di jala itu,


ia melihat ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang terus menggeliat-geliat dalam jala. Entah bagaimana caranya pula, sesuatu itu terjebak di sana.


“Diaz,” Maria kembali merajuk dengan tatapan genitnya. “Bulannya bagus yah?”


Namun Diaz tidak memedulikan. Ia hanya merespon dengan anggukan kecil. Tatapan


matanya tak tertuju ke Maria ataupun bulan tersebut. Jangankan mata, kedua tangannya pun tak menyentuh Maria sama sekali, layaknya pasangan normal.


Maria mencubit salah satu lengan Diaz. “Iih kamu ini… Diajak ngomong, malah


lihatin perahu orang… Palingan perahu yang kelola vilanya… Lagian romantis dikit, kek,


kamu ini…”


“Ini romantis, kan? Menemani kamu lihat bulan purnama, sambil jalan di atas pasir


pantai,” sembur Diaz. “Sama kayak di film-film drama atau sinetron-sinetron itu kan?”


“Yeee… Itu mah bukan romantis. Harusnya tuh, kita pegangan tangan, rangkulan,


mandangin bulan, terus ciuman deh. Lagian masak sih sudah satu tahun hubungan, kamu masih belum mau first kiss sih?” rengut Maria.


“Malas deh, mesti nyiumin cewek centil kayak kamu.” semprotnya terkekeh.


Jari jemari Maria mencubit lengannya lagi. Diaz meringis dan berusaha menahan rasa


sakitnya tersebut dengan cara mengalihkan pandangan ke sesuatu itu.


“Kamu lagi lihatin apaan, sih?” tanya Maria yang masih sewot.


“Itu,” Diaz menunjuk ke arah jala tersebut. “Kayaknya jalanya itu berhasil nangkep


ikan, deh. Dari tadi gerak-gerak mulu.” Ia spontan beringsut. Diamatinya lebih dekat, dan…


...kaget sekali waktu samar-samar melihat sesuatu yang terperangkap itu. Ia serasa tak


mempercayai kedua matanya. Sesuatu itu… rupanya bukan sesuatu… tapi seseorang…


seorang duyung yang sepertinya masih tampak muda, malah jauh lebih muda daripada Diaz dan Maria.


“Kamu lihat apa, sih, Yaz?” tanya Maria, yang sudah berdiri di samping kanan Diaz.


Diaz tak menjawab. Ia hanya berjalan lebih dekat dan menyentuh jala itu. Saat jala itu


diangkat untuk membebaskan sesosok makhluk yang terperangkap di dalamnya, makhluk itu menggeliat keluar. Anehnya, ia tak seperti binatang lainnya yang ketakutan saat berjumpa dengan manusia. Makhluk itu– gadis duyung yang cantik–malah mendekatinya. Diaz–dan juga Maria–hanya bisa melongo. Mereka tambah melongo lagi, saat duyung itu meloncat ke dalam perahu dan siripnya langsung menjelma menjadi dua tungkai kaki manusia yang lumayan mulus. Kini di hadapan mereka berdua, telah berdiri seorang gadis berambut


panjang yang berwarna hitam kecoklatan – dan berwajah hispanik. Di sela-sela rambutnya, bila Diaz memperhatikan secara detil, walau cahayanya memang remang-remang, ada sebuah benda yang diikat di rambut panjang si gadis duyung tersebut. Gadis itu lalu menyodorkan tangan kanannya–mungkin untuk mengajak berkenalan dan berterimakasih.


Diaz menerima angsuran tangan gadis duyung tersebut.


“Perkenalkan, namaku Serena. Aku datang dari Kerajaan Atlantis yang terletak tak


jauh dari kepulauan Karibia, Amerika. Kira-kira beberapa ratus kilometer dari garis pantai


kota San Juan.” sahut gadis duyung itu yang bagian atasnya mengenakan gaun terusan


berwarna ungu tua.


San Juan? Itu di negara mana yah? – pikir Diaz. Tapi peduli setan, perempuan ini


cantik juga, jauh melebihi Maria.


Dan Atlantis? Kukira itu hanyalah isapan jempol belaka. Hanyalah sebuah khayalan


seorang filsuf Yunani bernama Plato.


Eh sebentar dulu, mengapa duyung ini begitu fasih berbahasa Indonesia? Sepertinya


Diaz terlalu mengagumi kecantikan si duyung – sementara Maria begitu terbakar api


kecemburuan, makanya tak ada satu pun yang menyadari kejanggalan tersebut.


“I-i-iya, sama-sama,” sahut Diaz.


“Oya, bolehkah saya hidup bersama kalian?” Mata Serena memelas. “Saya hanya


perlu tempat tinggal, setidaknya sampai saya berhasil menemukan keberadaan kakak saya.


Empat tahun lalu, ia pergi dari Atlantis untuk mencari tumbuhan herbal untuk

__ADS_1


menyembuhkan penyakit ayah. Kata tabib kerajaan, tumbuhan itu hanya dapat ditemukan di perairan di sebelah barat Atlantis. Karena tak kunjung pulang, pun kondisi ayah makin kritis, saya khawatir ia dalam bahaya.”


“Kamu yakin, kakakmu ada di Indonesia?” tanya Diaz.


“Indonesia?” Serena menautkan alisnya. “Ini benar Indonesia?”


“Iya, kamu tiba di Pulau Tidung yang bagian dari negara bernama Indonesia.” ujar


Diaz yang matanya terus saja berkeliaran di bagian tubuh Serena yang tak tertutupi helai gaun ungu tersebut.


Maria berdeham.


“Apa sih?” Diaz memelototi perempuan itu. .


“Matanya yah…” kata Maria spesifik menunjukan maksudnya.


“Mataku ada di tempatnya kok.” tukas Diaz. .


“Matamu itu ngapain lihat bagian itunya sih?” sembur Maria galak, seraya


menunjukan bagian ******** Serena yang agak terlihat.


Serena memerah. Ia tergesa-gesa mengayun-ayunkan tangannya laksana seorang


penyihir. Sekejap pandangan Diaz dan Maria sedikit kabur. Setidaknya untuk beberapa detik, dan langsung tercengang karena Serena sudah berpakaian. Kini pakaiannya mirip yang dikenakan Maria: gaun terusan berwarna hijau lumut–dengan kaki gaun itu melebihi lutut sedikit.


“Maaf kalau penampilan saya tidak pantas,” kata Serena mengangguk kecil.


“Perjalanan dari Atlantis ke tempat ini sungguh penuh bahaya. Sebelumnya, saya bertarung dengan seekor hiu dan mungkin karena itulah, gaun saya yang sebelumnya jadi terkoyak-koyak.”


“Nggak apa-apa lagi.” Diaz tersenyum menawan, Maria sewot. “Oya, kamu yakin


kakakmu ada di daerah sini?”


Serena mengangguk lagi. “Dari hasil investigasi para ilmuwan Atlantis, saya yakin


sekali. Mereka bilang, mereka berhasil mendeteksi keberadaan kakak saya di daerah ini–yang banyak sekali cincin apinya.”


💜💜💜💜💜


Ah, Serena yah? Bagaimana yah kabar duyung itu? Seingatnya, Serena berhasil


menemukan kakaknya yang ternyata hidup bersama seorang nenek bernama Maribel sembari mencari keberadaan tumbuhan herbal itu bernama kapulaga. Yah, kapulaga.


Tumbuhan penyembuh penyakit ayahnya ternyata sebuah bumbu dapur yang keberadaan banyak di Indonesia. Walau sudah menemukannya, sang kakak yang bernama Marina, enggan kembali


ke Atlantis. Kakaknya kasihan dengan si nenek yang hidup sendirian setelah ditinggal mati suami dan juga tak beranak. Alhasil hanya Serena yang kembali ke Atlantis.


Tapi tak sendirian. Duyung itu pulang bersama dengan dirinya, Martin – abangnya,


dan Agatha. Ia tergelak mengingatnya, apalagi saat ingat bagian bertemu dadakan dengan kedua temannya yang konyol: Teguh dan Tiara. Teguh dan Tiara ke Puerto Rico (Itu jalan termudah ke Atlantis) karena cemburu; disangkanya ia dan Maria ke sana untuk bulan madu, padahal Diaz pergi untuk sebuah misi: menemukan Passiflora tulae, tumbuhan yang merupakan bahan utama dari Pastic.


Maria, Maria.


Gadis itu sungguh ceroboh. Ia memasukan ramuan atlante--yangang dibawa Serena dari


Atlantik sebagai senjata, alih-alih sebagai bumbu masak–karena ingin membuat dirinya terkesan dengan masakannya. Serena lalu menyarankannya untuk memasukan atlante ke masakannya dengan dosis tak lebih dari sejumput. Namun Maria malah memasukan semuanya dan merasakan akibatnya saat coba merasakannya. Badan Maria harus jadi seperti makhluk Smurf dan harus terbaring kaku, sementara Diaz dan rombongannya sibuk di Puerto Rico untuk mendapatkan penawarnya.


“Atlante itu rumput laut yang hidup di Atlantis sana. Warnanya itu biru muda, yangberbeda dengan rumput laut yang mungkin suku-suku lain lihat di lautan. Dan umumnya


Atlante itu dijadikan suku kami sebagai rempah-rempah. Karena jika sudah diolah, masakan yang dibumbui atlante akan terasa lezat sekali. Tapi kebanyakan warga Atlantis berpendapat, memasak dengan menggunakan atlante itu merupakan suatu kecurangan. Itu mungkin seperti


pemakaian doping di kalangan atlet,”


Ah, Diaz kembali teringat suara merdu Serena. Itulah yang menyebabkan ia jadi jatuh cinta dengan duyung itu, walau ia tahu tak sepantasnya dilakukan. Ia dan Serena tak bisa menikah dengan kelainan genetik yang dimiliki warga Atlantis sejak tragedi banjir bandang yang dahulu menenggelamkan Atlantis.


“Serena, Serena,” Tak sengaja Diaz mengucapkannya.


“Bagus yah,” seru Maria yang sudah berdiri di dekatnya. Entah sejak kapan, gadis itu


masuk. “Nasi gorengku dimakan sih emang, tapi sambil mikirin gadis itu lagi. Apa hebatnya sih gadis itu?”


Diaz nyengir. “Jauh lebih cantik dari kamu yang jelas.” Ia hanya sedang menggoda


perempuan itu saja.


“Sini nasi gorengnya,” Maria merebut paksa piring nasi goreng tersebut. “Aku nggak


sudi masakanku dimakan sama seseorang yang malah mikirin cewek lain, bukannya mikirin pasangannya.”


Maria melengos meninggalkan Diaz yang sepertinya tak mempermasalahkannya.

__ADS_1


Lelaki itu malah berbaring setelahnya. Ia kembali mengingat masa-masa saat masih di Puerto Rico dan Atlantis.


__ADS_2