
Di Sport Hall, aula olahraga yang difungsikan sebagai lapangan basket dan lapangan
futsal dilihat dari corak lantai dan beberapa tiang yang ada, Diaz terlihat one by one dengan sahabatnya sejak SD, Velita. Setelah terpisahkan selama enam tahun, akhirnya lelaki itu bisa berjumpa kembali dengan perempuan yang dulu terkenal hobi memasak, tapi tomboy.
Seperti pagi-pagi biasanya di hari selasa, tiap jarum jam menunjukan angka delapan
tepat, Diaz selalu menyempatkan diri untuk sparring dengan Velita yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket di waktu luang. Mereka berdua selalu berpeluh keringat sebelum masuk kelas yang baru dimulai di jam sembilan semester ini. Sport Hall, di jam seperti ini, belum terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang saja, dan itu tak sampai dua puluh orang.
Diaz melakukan dribble bak seorang pebasket profesional. Begitu pula Velita yang selalu berusaha mengadangnya agar tak ada skor yang tercipta. Sayang gadis itu sering
berhasil dikelabuinya dengan pelbagai liukan yang luar biasa. Harusnya Diaz masuk
Indonesia Basketball League saja. Kemampuannya bermain basket jelas sudah hampir menyaingi Mario Wuysang.
Namun Velita tetap merupakan best sparring untuk Diaz. Gadis itu selalu saja
menyulitkannya dalam mencetak angka. Bahkan beberapa kali juga sempat kecolongan duluan. Velita berhasil mencetak beberapa skor yang hampir menyalip perolehan Diaz.
“Vel, Vel, lu emang luar biasa dah,” ujar Diaz ngos-ngosan yang kesulitan memblokir
olah dribble gadis tersebut. “Lu emang cewek yang luar biasa. Udah jago masak, jago main
basket pula. Jarang-jarang ada cewek kayak lu.”
Nyengir. “Jadi lu lagi pedekatein gue nih? Maria mau dikemanain?”
“Ah kalau dia mah, kalau seandainya nggak ada perjodohan itu, gue lebih milih lu,
Vel. Seriusan.”
__ADS_1
Skor tercipta untuk Velita. Tiga poin lagi akan melewati perolehan Diaz.
“Serius nih lu mau jadi cowok gue? Kok sampai sekarang, bahkan sebelum ada
pertunangan tersebut, lu nggak pernah nembak-nembak gue?”
Diaz mengertakan gigi, terkekeh malu-malu. ”Gimana yah? Yah kan lu tahu, gue dari
kecil udah pemalu gitu, apalagi sama lawan jenis.”
“Making excuse aja lu kerjanya.” sembur Velita. “Ya udah deh, kalau yang lu bilang
benar nih, tembak gue sekarang, di lapangan basket ini.”
Permainan yang sudah berlangsung selama lima belas menit itu pun terhenti. Diaz
terbelalak, Velita nakal mengerlingkan mata. Suara gadis itu sengaja dilembut-lembutkan.
“Ayo, Yaz, tembak gue.”
“Di sini?”
Velita mengangguk.
“Ekstrim lu. Lagi rame nih. Ntar aja kalau lagi sepi. Plus kalau dilihat Maria gimana?” ujar Diaz yang celingak-celinguk. Ia takut ada Maria yang semenjak pertunangan,
sering muncul mendadak.
Velita tergelak. “Kalau lu beneran suka sama gue, kenapa lu takut dilihat sama Maria?
__ADS_1
Oh iya, gue baru ingat, sebelum pertunangan itu terjadi, gue sering lihat lu asyik ngobrol
sama dia. Si Virgoz juga pernah cerita – lu pernah ngegodain Maria.”
Diaz malah nyengir. “Ya elah, Virgoz dipercaya. Ntu anak kan banyak bokisnya.
Lagian gue sering ngobrol sama Maria juga buat kepentingan kuliah atau organisasi.”
“Masa?” Velita menelengkan kepala sembari senyum yang cukup menggoda untuk
ukuran seorang gadis tomboy. “Kalau lebih cintanya sama gue, coba lu cium gue deh.” Ia lalu memonyongkan bibirnya.
“Apa sih lu, Vel? Kok malah jadi genit gini? Nggak cocok ah.”
“Ayo, buruan.” desak Velita. “Atau gue duluan nih yang cium?”
“Eh?”
Tanpa ragu Velita beringsut ke arah Diaz. Diaz mengernyitkan kening, namun tak ada
niat untuk mengelak. Tubuh mereka berdua pun semakin rapat. Kedua tangan gadis itu
menyentuh punggung Diaz. Tak hanya punggung yang terasa hangat, bibir pun sama. Bibir Diaz merasakan aroma nikmat yang dahsyat. Dirinya tak tahan mencium bau pheromone yang menguar masuk ke lubang hidungnya. Untung saja hanya sedikit mahasiswa yang berada di Sport Hall. Mereka yang hadir di sana, sepertinya begitu sibuk dengan akivitas mereka sendiri.
Di luar sepengetahuan Diaz--juga Velita, dari arah yang cukup jauh--serta cukup
dekat, ada seseorang yang matanya menyala-nyala. Menggeram, mendengus, menggeram,
mendengus. Mungkin gadis itu baru saja selesai kelas yang berlangsung di ruang D105, yang tak jauh dari Sport Hall, dan kebetulan lewat di waktu yang salah. Ia yang tadinya hendak menuju gedung Yustinus, mengubah arah perjalanannya. Mendadak jadi berjalan cepat menuju sesuatu yang telah membakar emosinya.
__ADS_1
“DIAZ!!!”