Destiny 41

Destiny 41
EPILOG 1


__ADS_3

Tangerang, 10 Desember 2019,


Gadis itu sudah bukan gadis lagi. Ia sudah menjadi wanita sekarang. Pinggulnya sudah agak membesar. Perutnya membengkak, yang berisi janin yang telah berusia delapan bulan.


Kata orang, itu hamil tua; hamil tua yang akan melahirkan di bulan Desember. Rencananya


kehamilannya diharapkan terjadi pada hari Natal. Jikalau itu terjadi, bayi mungil itu–yang menurut USG akan berkelamin laki-laki–akan diberi nama Santo Noel. Semoga terjadi. Kalau sungguh terjadi, maka itu akan membuat keluarga baru itu--yang menikah pada tahun 2016–menjadi keluarga terunik di dunia. Ayah, ibu, dan anak sulungnya memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama; itu terlepas dari ayah-ibunya yang memiliki kesamaan hingga tahun lahir.


Gadis–eh maksudnya wanita–yang tak lagi berkepang dua itu tengah mengamati


sang suami yang kini memelihara jenggot. Sang suami sedang memasang pohon natal; sebab dua minggu lagi Natal.


“Daddy, hiasan Sinterklas-nya kayaknya lebih cocok di taruh di dahan yang itu deh,” ujar wanita sembari menunjuk salah satu dahan yang berada beberapa jengkal dari lantai


keramik. Sebelah tangan si wanita berada di atas perut buncitnya, sibuk mengelus-elus.


“Jelek dong, Mom, kalau ditaruh di bawah situ. Udah taruh di sini aja.” kata suaminya


bersikukuh pada opininya.


“Udah taruh di bawah aja, Dad.” Ia setengah memaksa. Walau sudah akan menjadi


seorang ibu, manjanya itu tetap tak berubah.


“Jelek, Mom.”


“Udah di situ aja.”


“Tapi jelek.”


“Ah nggak ah, kata Mommy bagus kok. Si baby juga bilang bagus.” Ia mendelik pada


mahluk kecil yag masih bersembunyi dalam rahimnya. “Ya kan, Sayang?”


Sang suami memutar bola mata. “Ya sudah-lah, terserah Mommy saja.” Memang susah untuk mendebat istrinya tersebut. Ia hanya nyengir, tak berdaya.


Ia tersenyum berbinar-binar. Nyengir juga memperhatikan wajah sang suami yang


pasrah. Kedua tangannya lalu mengelus si bayi. Dilanjutkan pikirannya mendadak melayang-layang ke sebuah masa. Masa-masa itu seperti jagung berondong yang terus meletup-letup dalam otaknya. Ia ingat, itu saat kali pertamanya ke Indonesia. Di dalam benaknya, wanita yang bernama lengkap Lucia Maria Goretti Petrajaya Rossi itu teringat dirinya yang tiba di bandara Soekarno-Hatta. Nyaris sepuluh tahun ia lebih banyak tinggal di Miami, kota yang lebih berkultur Hispanik daripada Anglo-Saxon.


Bersekolah di sekolah internasional yang bahasa pengantarnya adalah Inggris itu telah


melemahkan kemampuan bahasa Indonesia-nya. Padahal semasa TK, bahasa Indonesia


begitu mengalir deras.


Tapi ia masih lebih baik. Adiknya, Agatha Elfrida Petrajaya Rossi itu malah buruk


sekali bahasa Indonesia-nya. Sampai menginjakan kaki di bandara itu, Agatha masih terbata-bata. Masih suka membuka kamus Inggris-Indonesia. Itulah sebabnya--atau salah satu sebab, ayahnya lebih memilih kembali ke Indonesia, setelah kontraknya berakhir di perusahaan multinasional tersebut. Pak Sulis takut kedua anaknya semakin kehilangan identitas


Indonesia-nya.


“Hola, Indonesia! Qué pasa? Hache mucho que no lo veía (Halo, Indonesia. Apa kabar? Sudah lama tak ke sini).” seru Agatha yang


celingak-celinguk menyisir pandangan dan mendapati bahwa bahasa yang masuk ke


telinganya bukan bahasa Spanyol atau Inggris. Itu bahasa Indonesia, bahasa ibu ayahnya.


“Por ultimo, vuelvo a Indonesia. Esa es mi sensación, cuando mantengo mis pies a la


tierra."


(Akhirnya bisa kembali ke Indonesia. Rasanya sangat menyenangkan bisa pulang ke tanah air)


Lengan kanannya dicubit kakak perempuan satu-satunya. Ia menoleh dan menyipitkan


matanya, sinis. “Qué es esta? (Ngomong apa?)”


“My sweet little sister, this is Indonesia, so please use Indonesian.” ujar Maria


tersenyum, mengerlingkan sebelah mata.


“But you just already used English.” sembur Agatha nyengir.


“Okay, I’ll use Indonesian.”


Agatha memutar bola mata. “So then?”


“Ha-lo Indonesia, a-pa ka-bar? Lama tak ke sini.”katanya tergagap, mengulangi kata-

__ADS_1


kata adiknya tadi, tapi dalam bahasa Indonesia. “Indonesia me-mang lu-ar bi-a-sa. Itulah yang aku rasakan waktu datang ke sini. Negara ini sepertinya punya daya tarik tersendiri di hati, entah itu apa. Tapi waktu Papi bilang kita akan ke sini, hatiku terus bergerak hebat. Ada sesuatu yang membuatku teringat terus akan negara ini.”


Agatha termangu. Ia takzim. Ternyata sang kakak sudah lancar sekali bahasa Indonesia-nya. Kapan belajarnya? Seingatnya, Maria tak pernah kepergok tengah berbicara selain Inggris, Spanyol, atau Italia. Bahasa Indonesia malah nyaris diucapkan di kediaman


mereka di Miami.


“What’s the meaning of that, Maria?” tanya Agatha yang masih terkesima.


Maria terkekeh. “I just recalled what you already said. And please don’t call me


Maria. Please call me Kak Maria. ‘Kak’ comes from ‘Kakak’, which means ‘elder sister’.”


Agatha terpancing tergelak juga. “Sucks. Sometimes, I hate the humbleness of Asia.


Calling without ‘Kakak’, ‘Adik’, ‘Pak’, ‘Ma’, ‘Bang’, what’s wrong? It makes me exhausted. Very annoying.”


“Just follow the custom–and you’re Indonesian, born in Jakarta, Agatha.” ucap


Maria tersenyum, mengingatkan.


Agatha nyengir. “Well, I guess, your words is little longer than I said,” Ia terlihat


kaku mengucapkannya. Belum terbiasa. “ka-kak. You seem to say some addition of words.”


“No,” Maria menggeleng, tersenyum malu. “I said the way you already said.”


“Mami, haven’t I misheared? She said little more much words, didn’t she?” Agatha


mendelik pada Ibu Francesca yang duduk persis di sampingnya. Keluarga multi-ras itu


sedang duduk-duduk dulu di sebuah area untuk memulihkan jet lag.


Ibu Francesca tersenyum. Ia menatap penuh arti anak sulungnya itu. “Yeah, you’re


right, Agatha. Your elder sister is probably thinking of someone.”


Maria agak memerah pipinya. “Mamiiii!!! What did you say? Who did I think of,


anyway? This is my first visit, right?”


Pak Sulis menyela, “Don’t forget, Maria. You ever stayed in this country backward.


Maria terdiam sebentar. Ia memutar bola matanya, mencoba mengingat sesuatu tapi


sesuatu itu cepat sekali hilangnya. Sekali terbayang, malah mulai mengabur. Begitu terus saat ia mencoba ingat.


Gadis berkepang dua itu menggeleng. “No, Papi. I cannot remember something about


my childhood at Indonesia.”


Pak Sulis tersenyum. “Don’t push yourself so hard. Maybe, someday you are going


to recall him.”


Maria mengerutkan keningnya; sementara sang adik tersenyum jahil, hendak


menggoda. “Him? Who is he, Papi? He’s my childhood friend?”


Pak Sulis hanya mengangguk, karena ia sudah disela oleh istrinya, “His name…” Ibu


Fransesca diam sejenak. Tersenyum penuh arti lagi. “…you used to call him… Didi.”


“Didi?” Rasa-rasanya seperti ada yang memukulkan kepalanya dengan sebuah gada, lalu ia kembali teringat. Bayangan wajah si bocah laki-laki itu utuh kembali. Lengkap sudah potongan puzzle masa kecilnya di Indonesia yang sudah lama tercerai-beraikan karena pergaulannya di Amerika Serikat.


Agatha bersiul-siul. “Hey, who is Didi, Ka-kak?” Ia masih saja kaku mengucapkan kata ‘kakak’ tersebut. “Your first love?”


Maria tersentak. Semprotnya pada sang adik: “That’s not your business!”


“You’re so mean!” semprot balik Agatha.


Dan Pak Sulis dan Bu Fransesca tersenyum geli mengamati kelakuan kedua anak


mereka tersebut. Oh iya, ada alasan lain mengapa Pak Sulis bersikeras harus membawa kembali keluarganya ke Indonesia. Alasan itu berhubungan dengan kenangan masa kecil Maria, dimana Didi itulah kata kuncinya.


Dua tahun setelah kali pertama menapakan kaki di bumi pertiwi, gambaran akan Didi


terus terpatri dalam benaknya. Bahkan tiba-tiba saja ia juga teringat suatu hal yang sudah ia lakukan dan bertanya-tanya dalam hatinya: Didi sudah membaca surat itu belum yah?


Maria tersentak. Ia baru saja tersadar, karena suaminya menggoyang-goyangkan

__ADS_1


tubuhnya lumayan keras. Ia langsung menatap tajam Diaz yang dulu akrab disapa Didi.


“Mommy kenapa sih? Kok jadi melamun? Mikirin apaan sih?” selidik Diaz,


tersenyum.


Ia menggeleng. “Cuma teringat saja saja waktu aku ke Indonesia setelah sekian lama


di Amerika. Aku teringat juga sama Papi-Mami aku, Daddy. Sayang mereka nggak ada waktu pernikahanku.” Matanya mulai berlinang.


Diaz mengelus-elus pundaknya. Suaminya itu tersenyum. “Nggak usah terlalu


melankolis. Yang berlalu, biarkan berlalu. Mungkin mereka di sana juga melihat kok


pernikahan kita waktu itu. Ketawa-ketawa juga melihat kekonyolan Mommy yang nggak ada habis-habisnya itu.”


Maria merengus. Ia tak berpikir lagi untuk memuntir perut sang suami yang langsung


mengaduh. “Daddy kenapa sih selalu nggak berubah? Suka godain Mommy melulu?”


“Habis tampang Mommy lucu sih tiap digodain.” Diaz nyengir memberikan jawaban


yang hanya bikin dirinya semakin jengkel.


Wanita yang masih tetap terlihat manis itu membuang wajahnya ke perutnya yang


buncit. Ia berkata pada calon bayinya, “Baby, Daddy-mu ini nyebelin orangnya. Masih aja


nggak sensitif?”


Diaz juga ikut memandangi perut buncitnya. Suaminya mengelus-elus, sehingga membuat darahnya berdesir. “Mommy kamu saja yang nggak bisa diajak bercanda. Mommy kamu masih kekanak-kanakan, Sayang.”


“Auw…. sakit, Mom.” Kepala Diaz dipukulnya lumayan keras. “Kamu kenapa sih


nggak pernah berubah? Masih aja cepat naik darah dan susah diajak bercanda?”


“Habis kadang bercandaan kamu tuh suka nggak lucu.” rengut Maria.


Telepon berdering. Masih terkekeh, Diaz bergegas mengangkat telepon. Ia menyahuti


seseorang yang menelepon – yang ternyata abangnya, Martin. Martin, hingga Diaz dan Maria akan menjadi ayah dan ibu, tetap saja tidak ada rencana untuk menikah lagi. Ia masih memegang teguh sumpah pernikahannya yang terdahulu dengan Priska. Baginya, tak ada wanita yang lebih baik dari istrinya yang suda lama meninggal, sudah nyaris satu dekade lalu. Siapa sangka, Martin yang cengengesan itu bisa seromantis itu.


“Halo, Tin,” Diaz masih saja memanggil abangnya tanpa kata sapaan ‘abang’.


Memang tak sopan, namun cobalah untuk melihat betapa cairnya hubungan Diaz dengan Martin. Terkadang ada salahnya juga penggunaan kata sapaan yang jadi budaya di Asia itu. Penggunaan kata sapaan terkadang malah membuat kaku sebuah hubungan persaudaraan. Seperti ada jurang yang tak terlihat.


Mendadak mata Diaz terbelalak. Rahangnya menegang. Mulutnya sulit menutup.


Istrinya, Maria yang tengah duduk di sofa yang tak jauh darinya jadi menatap bingung. Ada gerangan apakah?


“Lu serius, Tin?” Tak hanya memanggil tanpa kata sapaan, ia juga masih menggunakan bahasa slang. “Oke gue segera ke sana,” Ia langsung balik lagi ke istrinya.


“Ada apa?” tanya Maria yang raut wajahnya ikut menegang gara-gara ekspresi


suaminya tadi.


Pandangan mata Diaz kosong. “Tadi Martin kasih tahu aku. Katanya Papa aku baru


aja meninggal. Kamu tahu kan, Papa aku udah enam bulan dirawat di rumah sakit karena kanker pankreasnya? Nah Martin yang kebetulan dapat tugas jagain Papa, tiba-tiba kaget waktu lihat kurvanya bergerak lurus. Ia sempat hubungin dokter, tapi sepertinya Papa emang udah nggak bisa tertolong lagi.”


Maria berdiri. Ia memegangi pundak Diaz yang mulai sesenggukan. “Ya sudah,


Daddy tetap semangat dong. Dan lebih baik kita langsung ke sana saja – ke tempatnya Bang Martin.”


Setelah memencet hidungnya untuk menahan ingusnya jangan turun, ia menganggukan kepala. Tanpa tedeng aling-aling, ia bergegas ke kamar untuk bersiap ke rumah sakit. Sebab Martin menelepon dari Rumah Sakit Siloam.


Ah akhirnya dua tokoh yang menciptakan skenario perjodohan itu sudah berpulang.


Mungkin telah kelar sudah tugas Pak Hendrikus: tugas untuk terus mengingatkan Diaz dan Maria bahwa mereka sudah dijodohkan. Bukan hanya dijodohkan karena perjanjian ayah masing-masing, mereka memang sudah ditakdirkan Tuhan sebagai sepasang kekasih. Lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama; ayah-ibu masing-masing juga sama-sama bersahabat. Mereka pernah terpisahkan, namun akhirnya bersua lagi. Selalu cekcok, tapi mudah berdamai


lagi.


Diaz…


Maria…


Sepertinya kisah cinta mereka akan terus abadi. Kisah cinta yang… kalian semua dapat bilang ini tak romantis. Tiada cumbu mesra. Tiada kata-kata manis. Jarang terdengar kata-kata ‘cinta’ dan ‘sayang’. Namun sekali takdir sudah berkata, apa yang terjadi pada mereka tetaplah kisah cinta.


Takdir telah terpenuhi.

__ADS_1


__ADS_2