Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 9. Sebuah Tamparan


__ADS_3

Sepasang mata Rafardhan memelek, kelopak matanya menyipit ke bawah menatap tangan yang melingkar di perutnya. Yang ternyata tangan Raynka. Perlahan-lahan Rafardhan memindahkan tangan Raynka dari perutnya.


Ia bangkit duduk dari rebahannya. Rafardhan menyeka sayang perut rata Raynka, "Assalamu'alaikum, anak-anaknya Papa. Kalian sedang apa di dalam sana? Jagain bunda ya Sayang, jangan susahin bunda, jangan bikin bunda sedih. Papa percaya kok kalian bukan anak nakal. Terima kasih ya Nak sudah membantu Papa. Papa sayang sekali sama kalian," katanya berinteraksi dengan kedua anaknya yang berakhir mengecup perut Raynka.


Sebuah tangan beradu ke pipi menimbulkan bunyi yang cukup keras, mengisi sejenak kekosongan diruangan kamar Rafardhan. Refleks Rafardhan menyentuh pipinya. Ia mendongak menatap Raynka yang menatapnya dengan sepasang mata tak bersahabat.


"Jangan sekali-kali lagi Anda lancang! Jika Anda masih ingin kedua anak Anda baik-baik saja!" Sinis Raynka penuh peringatan. Tanpa berkata lagi Raynka langsung keluar dari kamar Rafardhan. Rafardhan mematung, menatap frustrasi langkah demi langkah Raynka. Saat hubungannya sedikit membaik dengan Raynka, selalu dirinya yang merusak.


'Kalian memang dekat, namun terlalu sulit untuk Papa sentuh. Bila harus mengejar tanpa adanya garis finis yang bunda ciptakan, tak apa Papa rela asal bisa menggapai kalian. Maafkan Papa, Nak'


Ia bukan ia dulu. Meluapkan emosi dengan minuman haram berharap meringankan beban pikiran malah berujung malapetaka. Setelah berpakaian rapi dengan atasan baju koko dan bawahan sarung serta dilengkapi kopia. Rafardhan melaksanakan sholat subuhnya secara berjamaah di masjid yang terletak di dekat rumahnya.


"Maaffin Raynka Ya Allah, Ampuni Raynka. Maafkan atas ketidaksiapanku sebagai seorang istri. Sungguh Ya Allah semuanya terlalu cepat," curahan hati Raynka pada Sang Maha Kuasa seusai sholat.


'Secepat Engkau memutarbalikkan perasaanku' Rafardhan yang tanpa sadar sepertinya menyambung doa Raynka.


"Raynka benar-benar belum siap ya Allah. Dia yang Raynka kira selamanya menjadi papa Raynka ternyata berbalik menjadi ayah dari anak yang ku kandung. Tapi Raynka bisa apa selain pasrah. Harapan semata Raynka tak seindah dengan takdir yang Engkau siapkan untukku."


'InsyaAllah hamba ikhlas Ya Allah, hamba'pun paham. Hamba tak berminta cepat, hanya perlahan.......egokah hamba bila menginginkan sikap Raynka yang dahulu? Jika memang yang terbaik, maka mudahkanlah Ya Allah. Aku ikhlas dan pasrah atas takdirku."


"Aamiin,"


'Aamiin'


Di tempat yang berbeda. Dalam sujud yang tak bersamaan. Mampu mengalahkan doa yang disatukan, membawa kalimat 'Aamiin' paling serius.


...🦐🦐🦐...


Jalan Raynka berbelok, ia mengurungkan langkah untuk ke parkiran kala sepasang matanya tak sengaja tertatap sang murid yang mencogok di pos satpam seorang diri.


"Assalamu'alaikum, Ficka. Ficka sedang apa di sini sendirian, Nak?" Tanya Raynka kepada anak didiknya yang ternyata tak lain tak bukan, Ficka. Ficka menoleh menatap sang guru yang berdiri di depannya hanya saja berbatas dengan tembok.


"Wa'alaikumsalam, Bunda. Ficka lagi menunggu abang Ficka, Bunda," jawab Ficka.

__ADS_1


Raynka melirik arloji di pergelangan tangan kirinya, "jam segini biasanya pak satpam lagi sholat Dhuha. Bunda temenin ya, daripada Ficka sendirian," Raynka masuk ke dalam pos satpam lalu duduk di sebelah Ficka.


"Memangnya tidak merepotkan, Bunda? Ficka tidak apa kalau sendiri," ujar Ficka menolak halus.


Raynka tersenyum, "sama sekali tidak, Sayang," Ficka ikut tersenyum dan menjawab 'Terima kasih Bunda,' yang disahut Raynka 'Sama-sama'


"Bunda, kalau Ficka perhatiin wajah Bunda mirip banget sama kakak perempuannya Ficka. Bunda versi besarnya, kakaknya Ficka versi kecil, tapi Ficka liatnya cuma di foto," ungkap Ficka sembari memandangi wajah Raynka.


"Oh ya? Bisa kebetulan gitu, ya Sayang," sahut Raynka ikut bahagia melihat Ficka yang tersenyum kagum, "loh, kenapa cuma di foto memangnya kakaknya Ficka kemana?" Raynka menatap Ficka yang merunduk dengan raut sedih setelah Raynka mengucap kalimat imbuhnya.


"Ficka dengar dari mama, kakak hilang saat masih bayi dan sampai sekarang masih belum pulang. Kadang mama suka nangis kalau liatin foto kakak. Ficka yakin mama pasti kangen banget sama kakak, tapi Ficka juga nggak tahu kakak di mana Bunda?" Ungkap Ficka terisak pelan. Raynka membawa Ficka ke dalam pelukannya.


"Kamu yang sabar ya, Anak kuat. Ficka harus percaya jika memang sudah takdir, Allah akan mempertemukan kakaknya Ficka dengan Ficka dan keluarga juga, dibelahan bumi manapun kakak berada," motivasi penenang dari Raynka.


'Tapi Papa percaya jika memang sudah takdir, Allah akan mempertemukan kita dengan anak kita, dibelahan bumi manapun beliau berada' diam-diam dari luar pintu kamar melalui celah-celah pintu yang terbuka terdapat telinga kecil dengan pendengaran tajamnya menguping percakapan kedua orang tuanya dari awal hingga akhir. Gadis kecil yang berusaha menahan tangisnya mendengar tangisan sang ibunda. "Aku nggak boleh nangis nanti Mama tambah sedih," monolognya.


'Ucapan Bunda kok bisa samaan ya sama papa? Sepertinya sudah janjian deh' batin Ficka polos.


"Oh iya Bunda, Bunda mau tidak lihat foto kakaknya Ficka? Ficka juga punya loh," Raynka menyambutnya dengan anggukan kepala setuju. Ficka mulai membuka tasnya, hendak mengambil foto.......


"Yuk, Bunda anterin!" Raynka maupun Ficka sama-sama berjalan.


"Bunda, Ficka pulang dulu ya," Ficka mengecup singkat punggung tangan Raynka. Raynka mengusap kepala Ficka sayang, "hati-hati, ya Nak."


"Mari, Bu," pamit sang abang Difka, kepada Raynka sebagai tanda sopan. Raynka menanggapi dengan senyuman tipisnya.


'Cantik banget. Tapi, hijabers kayak gini mana mungkin gue ajak pacaran. Kalau gue lamar gimana ya? Gila aja cinta pandangan pertama dong? Aish Bu, Bu. Pokoknya yang satu ini jangan sampai lepas' batin Difka kelimpungan diiringi gairah tinggi.


...🦐🦐🦐...


Raynka mengutip ponselnya yang berdering di atas meja ruang tamu. Menatap nama yang tertera di atas antara tombol berwarna hijau dan merah seketika merubah moodnya. Walau begitu ia tetap mengklik tombol warna hijau.


"Kenapa?" Sahut Raynka sama sekali tak berkenan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Rayn," salam Rafardhan disebrang sana.


"Emmm......Wa'alaikumsalam, kenapa?" Jawab Raynka malas. Rafardhan terkekeh. Yang tak di hiraukan Raynka.


"Sudah selesai ngajarnya?"


"Pikir saja sendiri!"


"Sudah sholat, belum?"


"Hum."


"Tidak tidur?"


"Hem."


"Sudah makan?"


"To the point atau aku matiin!?" Ancam Raynka. Bukannya takut Rafardhan malah tertawa seakan tak berdosa. "Rafardhannnnnnn!" Teriak Raynka kesal. Biarpun terdapat sisi kagetnya, Rafardhan tetap tertawa nada kesal Raynka yang terdengar sangat manja di telinganya. Berbeda dengan Raynka yang mendongkol setengah mati.


"Tadi di kantor aku sempat masakin kamu sup jagung. Aku belum bisa pulang dulu sekarang jadi sudah aku paketkan, mungkin sebentar lagi akan sampai. Kamu tidak usah masak lagi ya. Istirahat saja. Tadi pagi aku sudah beres-beres rumah jadi kamu tidak perlu lagi mengulangnya. Oh iya Sayang susunya jangan lupa di minum," ujar Rafardhan.


"Hum, Assalamu'alaikum," singkat Raynka


"Wa'alaikumsalam, Bunda," sahut Rafardhan menggoda Raynka. Raynka langsung memutuskan sambungannya. Ia sedang sangat malas meladenkan Rafardhan. Sikap Rafardhan tak senikmat masakannya.


Raynka menunggu sang penghantar makanan dikursi ruang tamu dengan pintu yang ternganga. Tidak lama kemudian terdengarlah suara motor. Senyum Raynka mengembang, ia langsung menghampiri, ya ternyata benar si penghantar makanan.


"Dengan Mbak Raynka? Ini ada paket makanan untuk, Mbak."


"Iya saya, terima kasih Mas," kata Raynka membalas ucapan mas-mas penghantar makanan. Raynka menerima sekatung plastik yang berisi makanan tersebut.


"Sama-sama, Mbak," mas penghantar paket'pun menghidupkan mesin motornya, berlangsung pergi dari sana. Raynka kembali masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Bersambung......


Kalian maunya panggilan Raynka buat Rafardhan, apa? Ayo bilang ya, komen terbanyak yang Karina pilih. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


__ADS_2