Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 31. Sesakit Ini Menanti


__ADS_3

Raynka membuka matanya terperanjat kaget. Ia amati sekelilingnya nyatanya masih di ruang tamu. Terlirik jam dinding yang tertuju pukul 02.30. Lama juga ia tertidur. Ya Allah, indah sekali, namun sayang hanyalah bunga tidur. Bahkan lihatlah sampai detik ini batang hidung Rafardhan belum juga terlihat.


Bukankah mimpi juga bisa menjadi kenyataan? 'Aku ketinggalan pesawat karena ketiduran di kantor. Sebelum berangkat ke bandara aku sempat mampir ke kantor mencari berkas yang tertinggal. Yasudah sebab pertemuan ini penting aku menyusulnya dengan mobil' Tapi kenapa harus melalui mimpi Rafardhan mengabarinya? Kenapa tidak menemuinya langsung? Apa Rafardhan kecewa dengan sikapnya selama ini? Tapi perasaan Rafardhan tidak pernah mengungkapkan kekecewaannya?


Berbagai macam pertanyaan terbesit di benak Raynka. Kiranya menerka-nerka bukanlah jawaban. Berharap? Bagaimana kalau berbeda dengan kebenarannya? Ah sudahlah Raynka hanya bisa menunggu.


Suara keroncongan kembali terdengar dari perutnya. Raynka yakin cacing-cacing di dalam perutnya pada berdemo meminta makan. Lantas bagaimana kabar anaknya yang belum mendapatkan asupan makanan maupun susu? 'Namun, jaga kedua anak kita dengan baik, ya Rayn. Dan juga sayangi anakku, kalau sulit dengan ketulusan setidaknya dengan kepura-puraan, tak masalah sama sekali' Hufffhh, lihatlah betapa jahat dirinya?


'Rayn, aku tahu kamu sangat membenciku. Tapi setidaknya sayangi mereka Rayn, mereka anak 'kita' walaupun kamu tak ikut andil dalam membuatnya' kata-kata itu masih terngiang jelas di angan Raynka. "Maaffin Bunda ya, Nak. Bunda nggak pernah sayang sama kalian ya? Bunda jahat ya Sayang ya? 'Benarkah kamu akan melakukannya, apapun itu? Baiklah ini sangat mudah, Rafardhan. Cukup pergi dari hidupku dan setelah mereka lahir, maka saat itu juga aku yang pergi' bahkan Bunda juga yang membuat ayah pergi, Nak. Bunda harus apa Sayang?" Curhat Raynka seraya mengelus perutnya yang membuncit. Ya benar, ini adalah pertama kalinya Raynka melakukan hal tersebut secara sadar dengan mata terbuka pula. Jelasnya tidak tidur. Ia menyeka air matanya.


"Kita sholat yuk! Habis itu kita makan, ya Nak! Kalian pasti lapar banget ya," Lerainya melangkah ke ruang wudhu untuk berwudhu. Kemudian, menyiapkan peralatan sholat berserta kitab suci Al-Qur'an, dan memasuki ruangan sholat. Raynka mulai melaksanakan sholat tahajudnya.


Ia mengangkat sepasang tangannya dengan kepala yang tertunduk di hadapan sajadah. "Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, hamba tahu hamba salah. Bahkan rasa syukur atas takdirku yang telah Engkau tetapkan begitu sulit untuk kujalankan dengan mudah. Bahkan kadang hati ini sesak mengingat semuanya. Rasa ikhlas sangat tak mudah ku tanamkan di hatiku. Ya Allah, kenapa dengan cara kepergiannya kerinduan ini hadir? Bolehkah hamba egois dengan permintaan hamba. Dan apakah memulai kembali dari awal adalah kebaikan dari segalanya? Maka pertemukan kami kembali ya Allah. Jagalah dia di mana pun dia berada. Lindungi dirinya ya Allah. Semoga kebaikan, kesehatan, dan keselamatan, selalu menyertai langkahnya. Menghapus ingatan dengan keikhlasan. Melarutkan kebencian dengan mencoba membuka hati. Meredahkan kekecewaan dengan mengingat beribu kebaikannya. Hamba tak tahu bisakah? Bismillah. Bantu Raynka ya Allah untuk memperbaiki semuanya. Ku titip rinduku, sampaikan kepadanya melalui desiran angin tanpa suara. Aamiin. Alhamdulillaahirobbil'alamin," Raynka mengakhiri dengan sepasang tangan mengusap wajahnya.


Selepas berdoa ia melanjutkan membaca Al-Qur'an. Baru lima juz yang berhasil ia khatamkan. Setelah itu ia menutup lagi dengan lafaz hamdalah, Alhamdulillah. Melipat sajadahnya. Lalu melangkah mendekati ruang makan. Ia menatap sendu dua buah piring kosong dengan letak yang masih sama saat Raynka meletakkan di awal malam.


Raynka'pun duduk di salah satu kursi yang biasanya ia duduki di meja makan. Ia memindahkan satu-persatu lauk pauk, sayur mayur, dan tidak pula lupa dengan menyauk secantung nasi putih ke piringnya. Kemudian menyuapkan sesendok demi sesendok ke mulutnya. Air mata itu tak dapat lagi dibendung. Hingga menetas beriringan dengan suapan nasi. Sesekali ia juga melirik kursi di sebelahnya. Jangankan orangnya, bayangannya pun memang tak ada. Sesakit ini menanti.


...🦐🦐🦐...


"Mbak, bangun Mbak, Mbak Raynka kenapa tidur di sini?" Panggil bi Mila menepuk pelan bahu Raynka yang tertidur menenggelamkan wajah dengan tangannya yang menekuk ke samping sebagai topangan kepalanya.


"Euffh," erang lesu Raynka mengangkat wajahnya seraya menguap menutup mulutnya. "Kenapa, Bi?" Sambut Raynka bertanya setengah sadar menatap bi Mila berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Semalam Mbak ketiduran di meja makan ya?"


"Looohhhhhhh," setelah mengucak mata kantuknya Raynka menatap sekelilingnya. Ikut terlihat juga sebuah piring kotor bekas makanannya. "Hehehh, iya Bi," imbuhnya cengengesan. "Sekarang jam berapa ya Bi? Dan apakah Rafardhan sudah pulang?"


"Sudah jam setengah enam, Mbak......"


"Apa, setengah enam! Ya Allah Bi, Raynka telat dong. Raynka, Raynka subuhan dulu ya Bi. Astaghfirullah, telat," Raynka berlari berhamburan.


1 jam setelahnya. Sekonyong-konyong Rily datang ke dapur menghampiri bi Mila yang sedang mencuci sayuran di wastafel.


"Dor!," Rily menepuk pundak bi Mila dari belakang.


"Ayam, ayam, ayam, ayam," latah bi Mila. "Mbakkkkkkkkkkkkk, kebiasaan jahilnya," siapa lagi pelakunya kalau bukan Rily, jelas bi Mila kenal betul. Rily ketawa cekekekan melihat bi Mila yang masih memegang dadanya tercengang kaget.


"Sebahagia Mbak sajalah," tanggap bi Mila memahami.


"Heheheh, Bibi mah baik. Oh iya Bi, bundanya aku mana?"


"Sepertinya tadi sehabis sholat belum keluar dari kamar, Mbak," jawab si bibi.


"Yaudah ya Bi, Rily mau samperin ke atas dulu," lerai Rily yang mendapat anggukan kepala dari bi Mila.


"Tunggu dulu, Mbak. Bukan di kamar Mbak, tapi di kamar bapak," ujar bi Mila membenarkan.

__ADS_1


"Oh, di kamar papa. Terima kasih, ya Bi," Rily mengangguk mengerti.


Rily'pun benar-benar menghampiri Raynka ke kamar Rafardhan. Dilihatnya bundanya itu sedang duduk dilantai sambil.....lebih tepatnya di sibukkan dengan lembaran-lembaran kertas di atas meja.


"Bunda, kok sepertinya sibuk sekali? Sampai-sampai tidak mendengar suara ketukan pintu. Bunda tidak ke sekolah?" Rily juga ikut duduk dilantai di depan Raynka.


"Tidak, Kak. Bunda juga nggak'tahu kenapa tiba-tiba kepalanya pusing," walau menggubris, namun hal itu sama sekali tak mengalihkan pokus Raynka akan design busananya.


"Ihhhhh Bunda, terus kenapa tidak istirahat? Malah," Rily melirik selembar kertas yang dibentuk Raynka menggunakan pensil. Bola matanya membulat sempurna. Tak puas dengan itu ia memandangi satu-persatu uraian kertas itu. "MasyaAllah, tabarakallah. Ini beneran semuanya Bunda yang buat? Waw semuanya benar-benar waw. Ya Allah ternyata Bunda pinter design ya?" Hebohnya tertegun menganga.


"Heboh bener, Kak. Iya, itu semuanya Bunda yang design. Lihat tuh ada yang bagus dan ada juga yang biasa aja. Sengaja sih Bunda nggak buang, karena Bunda mau lihat perkembangannya. Dan ya, Alhamdulillah perkembangannya terlihat meski tidak banyak-banyak amat. Bunda designnya mulai dari kelas 1 SMP."


"Terus Bunda tidak ada begitu yang sudah menjadi baju?" Tanya Rily heran.


"Orang Bunda tidak bisa menjahit. Bagaimana bisa menjadi baju?"


"Bundaaaaa! Kenapa tidak bilang! Anakmu ini penjahit loh, Astaghfirullahaladzim. Bahkan jurusanku yang kuambil sekarang tata busana. Yah, hanya saja aku tak pandai design," hebot Rily menjadi. Kesal sendiri ia dengan bundanya, Raynka. Dan juga dirinya. Kalau sudah saling terbuka dari dulu. Mungkin butiknya sudah bercabang di mana-mana nih. Sombong sekali.


"Ya Bunda mana tahu, Sayang. Kamu tidak bilang dan Bunda juga tidak bertanya. Kita sama-sama diam. Dan tapi sekarang, sepertinya perfect kalau kita kerja sama. Mau tidak?"


"Mau banget Bunda, MasyaAllah," sambut Rily berseru.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2