
Sekejap bak'nya suara burung yaitu pesan dari WhatsApp-nya.
Tangan Raynka meraba ke sebelahnya ia mengutip ponselnya yang tergeletak di tempat tidur. Dahinya mengernyit heran seusai melihat ponsel tersebut ia nyalakan, "tumben Chika share foto, apayah?" Raynka langsung membuka WhatsApp-nya. Tak perlu berlama-lama selama tak ada halangan. Ia mengklik notif paling atas. Dan........ekspresi tercengang itu terpampang di wajahnya, spontan Raynka membekap mulutnya.
Ya, itulah yang Raynka lihat dengan matanya sekarang. Sebuah foto dengan pose, tangan si perempuan yang merangkul mesra pinggang Rafardhan, dan lihatlah masih sempat-sempatnya bibir Rafardhan menyungging senyuman, padahal kelihatannya mata itu sangat fokus ke layar laptop dan tangannya tak berhenti mengutik keyboard. Benar-benar menguji kesabarannya. Mata Raynka kian membesar menatap tanggal update yang diunggah 1 jam lalu serta caption yang tertulis, 'Tidak masalah menjadi yang ke-dua asal pemiliknya dirimu'. Disertakan tag #poligami #yang kedua. Sungguh keterlaluan.
Tergesa-gesa Chika menyeka air matanya sebelum mengangkat panggilan telepon dari Raynka.
"Chik, ke rumah gue sekarang! Assalamu'alaikum."
"Siap, Bu Boss. Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," Raynka langsung menutup teleponnya selepas mendengar sambutan Chika.
"Hadeuh kenapa lagi nih orang," monolog Chika geleng-geleng kepala. Tetapi Chika tetap mengindahkan titahan Raynka, buktinya bergegas ia segera bersiap-siap untuk on the way.
Raynka beralih dari message Chika ke message Rafardhan. Dengan status Rafardhan online lebih mengejutkan dirinya lagi. "Yah, kenapa tidak dari kemarin-kemarin sih?" Monolog kesal Raynka tertuju pada dirinya. Memang Raynka jarang sekali mengujungi WhatsApp. Selama tak ada notifikasi, maka selama itu juga ia tidak mengecek WhatsApp-nya.
...Rfrdhn π...
^^^Sayang.........ββ^^^
^^^Maafββ^^^
^^^Kamu apa kabar?ββ^^^
Tak hanya message, Raynka juga meng-call Rafardhan namun hanya kata yang berubah menjadi 'berdering' panggilannya terhubung tapi kenapa tidak disambut? Ia hanya duduk bergeming. Apa iya saat ini Rafardhan masih bersama kekasihnya itu? Sampai-sampai mengabaikannya?
Kemarin terdengar jelas siaran kecelakaan pesawat, sampai ia kira Rafardhan termasuk salah satunya, namun melalui mimpi kala malam itu perasaan Raynka sedikit legah karena menurutnya mungkin saja Allah memberinya petunjuk lewat situ, dan sekarang ia benar-benar yakin Rafardhan memang baik-baik saja setelah melihat foto yang sangat romantis itu. Apa iya dibelakang Raynka Rafardhan menikahi perempuan itu? Lantas apa arti dari perhatian Rafardhan selama ini pada dirinya?
Raynka meraih sebuah pigura foto Rafardhan. Ia ratapi tubuh tegap nan berahang tegas itu. "Sempat aku bingung. Saat hadirmu adalah muak'ku dan saat pergimu adalah rinduku. Tapi aku percaya sakitku bukan bahagiamu. Please kembali dan jelaskan bahwa semuanya tak sungguhan. Aku menyayangimu, percayalah," ia mengecup pigura foto tersebut tepatnya dibagian wajah Rafardhan. Setitik air mata Raynka berhasil terjatuh.
...π¦π¦π¦...
"Assalamu'alaikum Bibi, apakah Raynka-nya ada?" Bi Mila yang sedang menyiram tanaman menoleh ke belakang sembari menjinjing ceret air penyiram tanaman.
"Wa'alaikumsalam, eh Mbak Chika. Ada Mbak, silahkan Mbak masuk saja ya ke dalam," jawab si bibi.
__ADS_1
"Makasih ya Bi, aku pamit masuk ke dalam dulu," bi Mila tersenyum mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya lagi, sementara Chika melangkah masuk ke dalam rumah rumah.
"Sudah sampai?" Sapa Raynka yang sedang duduk santai dikursi ruang tamu.
"Ih lo ngagetin aja deh," cemberut Chika. "Ngapain sih nyuruh gue datang? Mau curhat, iya?" Imbuh Chika mengomel.
"Mending lo makan dulu. Lo pasti belum makan'kan?"
"Yuk lah mau banget gue kalau yang ini," Chika mengandeng tangan Raynka yang masih duduk, spontan Raynka bangkit dari duduknya.
"Dasar," cibir Raynka bergurau. Kemudian mereka sama-sama berjalan ke arah ruang makan.
Tak butuh banyak waktu untuk Chika menghabiskan makanannya. Cukup dengan waktu 15 menit. Jika tadi perutnya begitu lapar kini sudah benar-benar kenyang. Berlanjut melangkah kaki lagi hingga sampai di kamar Raynka.
"Sudah kenyang'kan? Nah sekarang gue mau tanya. Foto yang lo share tadi beneran atau KW? Secara lo kan pinter ngedit," ujar Raynka curiga menatap wajah Chika seperti meragukan. Namun sebenarnya Raynka percaya kok.
"Kayaknya sih asli Rayn. Gue srenschot dari instagram tuh si tante gatel. Lo kira gue apaan? Ya kali gue edit. Gue juga nggak gitu-gitu amat kali," protes Chika. "Rayn, tapi parah sih tuh tante. Bukan foto itu aja yang dia update, ada juga......"
"Apaa!! Terus kenapa nggak lo share ke gue? Mana-mana mana handphone lo? Gue mau liat, cepetan!" Otomatis Chika justru cengo terpanah dengan tingkah Raynka yang belingsatan seraya juga mengajurkan tangan kepadanya.
"Lo jealous?" Goda Chika.
"Iya-iya," Chika mengambil ponselnya di dalam tas selempang kecilnya, "nih," lalu menyerahkan ponselnya pada Raynka. Yang dengan tak sabar disambut Raynka.
Sedari tadi Raynka paham kok, namun suasana saja yang kurang tepat. Tanpa sepengetahuan Chika, Raynka mencuri pandang ke arahnya yang duduk merenung dengan tatapan kosongnya. Saat yang tepat, pikir Raynka. Jemari itu bergerak cepat mengklik aplikasi catatan kip. Setahu Raynka, Chika biasanya mencurahkan isi hatinya di aplikasi itu selain pada dirinya. Banyak sekali tanggal-tanggal di bagian judul. Namun yang Raynka buka hanya tanggal pada hari ini.
Hay, sebenarnya diri sungguh lelah, Ya Allah.
Kenapa harus aku?
Belum cukupkah dengan permasalahan menjadikanku broken home sejak kecil?
Belum cukupkah karena angka uang aku kehilangan kasih sayang seorang ayah?
Kini........apakah aku harus mengorbankan diriku lagi? Demi dia yang bertaruh nyawa melahirkanku, sementara dia tak pernah menimangku disaat aku belum mengerti apa-apa.
__ADS_1
Sungguh, diri ini benar-benar bimbang.
Kadang aku benci hatiku yang tak pernah sedikitpun terbesit untuk membenci mereka.
Aku bingung...... bagaimanakah cara Engkau menata hatiku hingga bisa selembek ini?
Hanya Engkau yang tahu bagaimana terbaiknya untuk diriku.
Bantu aku ya Allah. Ku serahkan semua pada-Mu.
Halika Chikasia Luonzastra Zea
"Mau serapih apapun lo sembunyikan masalah dari gue, lo nggak akan pernah berhasil Chik," meskipun intonasi suara Raynka terdengar pelan, namun suara itu begitu sangat datar tak tersentuh. Bahu Chika terguncang pelan lantaran tersadar dari lamunannya. Gelagapan Chika menerima ponselnya yang dikembalikan Raynka.
"Rayn......." Lirihnya.
"Jujur sama gue, lo kenapa?" Sambung Raynka masih dengan suara datarnya. Chika meneguk salivanya sulit.
Chika menghela nafasnya, mencari ketenangan. "Nyokap gue, Rayn. Kemarin suami barunya itu vidcall gue. Dia ancam gue. Dan gue lihat sendiri nyokap gue diikat dan terus jerit-jerit kesakitan. Si brengsek bilang dia akan bebasin nyokap gue dengan syarat, gue kasih uang tebusan sebesar 500 juta, atau kalau tidak bisa dia mau.........mahkota gue," air mata Chika jatuh berlomba-lombaan menyebut perkataan terakhirnya. Tubuh bergetar tersebut berhamburan dipelukan Raynka.
"Lo yang tenang ya. Percaya sama gue semua akan baik-baik saja," Raynka mengusap punggung Chika. "Sebentar," Chika yang paham'pun memisahkan tangannya dari tubuh Raynka.
Raynka beranjak mengambil sebuah dompet yang ia letakkan di dalam laci nakas. Ia mengeluarkan kartu ATM miliknya. "Meskipun nggak banyak dan bahkan kurang, tapi semoga membantu ya Chik. Di dalam ATM ini ada uang 200 juta. Lo nggak usah khawatir ini bukan uang Rafardhan kok, ini murni uang gue. Dan lo bisa pakai. Untuk sisahnya......"
Rily menerobos masuk ke dalam kamar Raynka. Dan duduk si sisi kiri Chika. "Kakak juga mau bantu. Nih Dek, aku juga punya, uang simpananku juga 200 juta. Dan untuk kurangnya kita bisa pakai uang papa," ya kalian betul. Sedari tadi Rily menguping pembicaraan Chika dan Raynka. Sebetulnya Rily ingin menemui Raynka hanya saja bertepatan dengan penjelasan Chika.
Chika hendak angkat mulut, cepat Raynka lebih dulu bicara, "apa lo, mau nolak? Berani nolak pertemanan kita sampai sini!"
Chika hendak bicara lagi, malah dipotong Rily. Sudahlah sebaiknya memang ia diam. "Bunda, ihhh kok seram amat sih?" Rengek Rily. Chika yang tadinya terdiam lemas seketika tertawa ladas.
"Anak lo udah segedeh ini, Rayn?" Guraunya masih tertawa. Rily ikut tertawa melihat Raynka yang berpura-pura memasang tampang acuh tak acuhnya.
"Nggak tuh, bukan anak gue."
"Makasih ya Kak Rily, Bunda," ledek Chika tertawa riang seraya merangkul bahu Rily dan Raynka.
__ADS_1
"Panggilan bundanya cuma buat Rily dong," ralat Raynka. Ketiganya'pun sama-sama tertawa gembira. Seakan perkara tadi seketika pupus begitu saja
Bersambung......