Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 22. Difka Yang Tersakiti


__ADS_3

"Pak Rafardhan suami kamu?"


"Kakak tahu?" Anggukan kepala dari Difka membuat Raynka tergeming pasrah.


"Iya Dek. Maaf ya tadi Kakak denger semua percakapan kamu sama pak Rafardhan. Oh iya Kakak kerja sampingan sebagai asistennya papa dan tadi papa nyuruh Kakak susulin pak Rafardhan buat meeting karena handphonenya juga nggak aktif. Pas Kakak ketuk nggak ada jawaban terus Kakak masuk ke dalam ruangan tanpa izin. Kakak denger suara teriak-teriak dan langsung Kakak dekatin Kakak yakin banget kalau itu kamu makanya Kakak dengerin sampai selesai. Dan, dan susu itu, itu susu yang tadi sempat kamu buang," sebelum keluar dari ruangan Rafardhan, Difka menenteng salah satu kotak susu yang ia seduh lalu menghantarkannya pada Raynka yang merenung di taman dekat kantor.


Mata Raynka membulat tak percaya. Benarkah? Kenapa bisa sesempurna ini rasanya? Betul juga kenapa ia selalu menolak padahal belum mencoba. Lihatlah tadi walaupun senyum itu tertatap sempurna bak bulan purnama namun Raynka juga dapat melihat mata lelah Rafardhan. Ck ayolah Raynka hapus rasa bersalahmu!


"Kejar pak Rafardhan Dek. Kakak nggak mau kalau dia salah paham," lerai Difka merasakan kegelisahan yang dialami dalam heningannya.


"A-aku permisi dulu, Assalamu'alaikum," entah ada angin apa Raynka sama sekali tak protes atas titahan Difka.


"Wa'alaikumsalam, Dek," Raynka berjalan ke arah kantor.


Difka memegangi dadanya yang berdegup cepat. "Dek, sesakit ini. Tapi Kakak janji bagaimanapun sulitnya, Kakak akan menghapus perasaan Kakak. Kakak akan buktikan kalau cinta Kakak ke kamu hanya sebatas cinta seorang kakak ke adeknya. Semua Kakak lakuin demi kamu, Dek. Semoga kamu bahagia. Semoga dia pilihan yang tepat. Lillahita'ala, Insyaallah, Kakak ikhlas," monolognya tersenyum hampa.


...🦐🦐🦐...


Semuanya Rafardhan dengar. Tanpa sepengetahuan Raynka Rafardhan mengikutinya diam-diam. Setidaknya Rafardhan bersyukur akhirnya segelas susu yang selama ini dinantikannya masuk juga ke dalam mulut Raynka, ya meskipun bukan karena dirinya. Tapi tak apa. Ia sangat mencintai Raynka, karena itu Rafardhan begitu mempercayai Raynka. Ternyata sama, anak temannya yang kala itu di mall bersama Raynka. Sedekat-dekatnya Raynka dengan anak temannya itu Rafardhan yakin Raynka takkan membangkang hal yang dilarang dalam Islam. Sakit memang tapi yasudahlah.


Rafardhan memarkirkan mobilnya di halaman depan panti asuhan 'Setulus Cinta Bunda', ya tempat yang ia tuju.


"Assalamu'alaikum Bu. Bagaimana Bu kabarnya?"


"Om Rafardhan!" Sorak anak-anak kecil tersebut berhamburan memeluk Rafardhan. Bu panti memandang haru. "Om, ke mana aja? Kenapa mainnya baru sekalang? Kita kangen tau," ujar salah satu gadis kecil itu.


"Iya, maaf ya Sayang kemarin-kemarin Om kerja. Tapi tenang saja kali ini kita mainnya bakalan lama," hanya dengan kalimat ini saja mampu membangkitkan gairah antusias mereka.


"Yey. Makasih Om," anak-anak kecil itupun kembali memeluk Rafardhan. "Ayo Om ikut kita ke sana! Kita semua ada kejutan loh buat Om tadi kita siapi saat nggak sengaja denger ibu bilang Om mau main ke sini," Seru anak-anak tersebut menuding ke taman bermain di samping bangunan panti. Ramai-ramai mereka menarik tangan Rafardhan.

__ADS_1


"Sebentar, Om juga punya hadiah buat kalian, mau?"


"Mau!"


Rafardhan membuka bagasi mobilnya. "Ambilnya satu-satu ya, semuanya pasti kebagian," adik-adik kecil tersebut berhamburan mengambil buku gambar, pensil warna, crayon, spidol, dan mainan khusus anak laki-laki dan perempuan yang Rafardhan bawa.


"Sudah dapat semua'kan? Hayo bilang apa sama om Rafardhannya?" Tegur bu panti.


"Makasih, Om," sahut ramai 10 anak yang berumur 5 tahun itu, 7 anak berusia 8 tahun dan, 3 anak berusia 11 tahun. "Sekarang Om yang harus ikut kita," 2 anak berusia 11 tahun tersebut menyeret Rafardhan dengan menarik tangan kanan-kiri Rafardhan.


"Lepas dulu dong," Rafardhan maju 2 langkah mendekati bu panti, "adik cantik mau ikut Om?" Rafardhan mengendong balita yang berusia 6 bulan itu dari gendongan bu panti. Sang bayi terkekeh kecil. "Tidak apa-apakan Bu?" Basa-basi Rafardhan mengarah ke bu panti. Bu panti tersenyum mengangguk.


Rafardhan terus berjalan dengan tangannya yang di tuntun kedua gadis kecil tadi hal yang bersifat kejutan, jadi mereka sepakat untuk menutup sepasang mata Rafardhan. Tak masalah juga bagi Rafardhan.


Rafardhan merundukkan badannya atas titahan mereka. Salah satu dari mereka membuka bandana sebagai penutup mata Rafardhan.


"Subhanallah," satu kata yang terucap mengungkapkan kekaguman dimata Rafardhan. Bibirnya menyunggingkan senyuman. "Ini semuanya kalian semua yang rias?" Mereka sama-sama menganggukkan kepala.


"Ini sangat indah. Kalian memang anak-anak hebat. Terima kasih ya," sambut Rafardhan memperlihatkan jelas kekagumannya. Taman bermain yang mereka hias dengan begitu rupawan, seperti seketika disulap menjadi ruang belajar. Ketika masuknya ia diperlihatkan pintu besar yang mereka sambung-sambung dari kayu, ditambah hiasan penuh bunga-bunga yang mengitari pintu tersebut.


"Bagaimana kalau kita belajar di sini, mau?"


"Mau!" Jawab mereka serentak.


"Ini buat Om," kata salah satu anak berusia 5 tahun itu memberi Rafardhan kotak yang berbaris bunga membentuk πŸ’Ÿ.


"Hayo, ini apa?" Tanyanya menggoda sembari menerima kotak tersebut dari anak itu.


"Buka dong Om! Ayo buka! Buka!" Dukung seluruhnya. Perlahan Rafardhan menarik membuka kotak itu. Isi di dalamnya pun telah terlihat di matanya. Ia mengambil salah satu mahkota khusus layaknya raja.

__ADS_1


"Om itu kita sendiri loh yang buat."


"Iya Om, kita buatnya dari bunga bulat yang tak mudah layu, dililiti dengan batang bunga dan dedaunannya sebagai pelengkap. Bagus nggak Om?"


"Aku pakaiin ya Om."


Begitulah suara-suara ceria dari mereka. Rafardhan menundukkan tubuhnya membiarkan salah satu dari mereka memakaikan mahkota yang terbuat dari bahan alam itu dikepalanya.


"Terima kasih ya Adik-adik. Kalian memang cerdas. Om doakan semoga kalian semua menjadi anak yang sukses dan membanggakan," sorakan 'Aamiin' dari mulut mereka terdengar ramai ditelinga Rafardhan.


"Yey, Om memang tamvan."


"Tapi siapa yang akan menjadi ratunya?"


"Iyaya. Tidak seru dong kalau hanya raja."


Begitulah rundingan mereka. Tak seru jika hanya raja, sedangkan mahkotanya sepasang terlanjur mereka rancang yaitu, raja dan ratu. Rafardhan tersenyum geleng-geleng. Melihat keantusiasan mereka sedikit menghapus rasa perih hatinya.


...🦐🦐🦐...


"Dia ke mana sih?" Monolog Raynka mengitari ruangan Rafardhan yang kosong. Raynka berjalan mendekati kotak sampah untuk membuang secangkir Aqua yang habis ia minum. Matanya membulat sempurna menatap kotak sampah yang penuh dengan bungkusan susu.


"Jadi susu tadi Rafardhan buang. Dia nggak mikir kali ya mudah banget buang-buang duit. Dasar bodoh," omelnya kesal. Raynka memungut keluar satu-persatu bungkus susu tersebut dari kotak sampah, ia mendudukkannya disofa.


Raynka'pun keluar dari ruangan Rafardhan menghampiri meja sang sekertaris. "Pak Rafardhan mana?" Tanya Raynka datar.


Sekertaris baru Rafardhan jelas merasa kesal dengan perempuan di depannya. Kenal juga tidak, keluar-masuk ruangan boss-nya. Sekalinya bicara sinis. "Tadi pak boss keluar dan sampai saat ini belum kembali. Saya tidak tahu keluarnya ke mana," sahut Giesha sopan. Bukannya berterima kasih, malah perempuan di depannya ini langsung pergi begitu saja. Ck menyebalkan sekali.


"Raynka, Raynka, ngapain sih nyariin dia. Udahlah bukan urusan kamu juga," monolognya sembari berjalan. Kata hati memang beda dengan lafaz mulut. Sejanak ia menjeda langkahnya merogoh ponsel yang tersimpan dibalik saku rok-nya. Munculah panggilan tak terjawab dari bu Gisna (bu panti). "Bu Gisna nelfon? Oh iya kan suaranya aku matiin pantas tidak bunyi. Huh kangen juga sama panti, ke sana aja deh," Raynka kembali menaruh ponselnya. Barulah selangkah berjalan ke arah pangkalan ojek, langkanya terhenti oleh genggaman tangan seseorang dipergelangan tangannya. Raynka menoleh, "Chika," ujarnya sedikit terkejut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2