Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 29. Siaran Televisi


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," salam Raynka masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam, Mbak."


"Wa'alaikumsalam, Bunda," jawaban salam bi Mila dan Rily tanpa menoleh ke arah pintu, melainkan sama-sama menyaksikan dengan teliti siaran Televisi saat ini.


"Itu, ada pesawat jatuh lagi yah?" Raynka menghampiri dan ikut duduk bergabung.


"Iya Mbak. Jatuhnya kemarin pagi," tangkap bi Mila.


"Ngeri juga ya Bund, Bi. Sekarang itu bencana nggak berhenti-hentinya muncul di mana-mana, ih serem," Rily turut menimpali seraya memeluk tubuhnya sendiri. "Sebentar, perasaan aku kok tidak enak. Perasaan dari kemarin aku tidak melihat papa di rumah? Bunda, papa pulangnya kemalaman dan terus pas tadi berangkatnya kepagian? Ya Allah, kemarin aku terlalu sibuk ngerjain tugas sampai-sampai aku tidak tahu ketidakhadiran papa, ya Allah," Imbuh Rily panik mengarah ke Raynka. Raynka mencoba tenang dari pikiran-pikiran kalutnya. Apalagi setelah melihat keberangkatan-tujuan penerbangan di televisi tadi.


"Pa-papa, papa tidak pulang semalaman, Kak," sambut Raynka lirih. Rily melongo mendengar tak percaya. Pantas saja waktu subuh kemarin ia tak melihat papanya. Tutup mulut, ia kira papanya memang berangkat kerja kepagian, ternyata ia salah.


"Bunda udah telfon papa? Terus apa kata papa? Papa di mana? Kenapa tidak pulang?" Tanya Rily dengan berbagai pertanyaan. Raynka terdiam bungkam. Pun bi Mila ikut-ikutan bungkam tak berani angkat mulut melihat kepanikan Rily yang begitu mengkhawatirkan Rafardhan.


Tak kunjung mendengar respon dari bundanya. Rily langsung berlarian ke kamarnya mengambil ponselnya yang sengaja ia tinggalkan di atas nakas. Dengan tangan bergetarnya ia berusaha tangkas menghubungi papanya.


Puluhan panggilan satupun tak terjawab oleh papanya. Membuat rasa penasaran itu semakin menggebu, air mata membanjiri pipinya, ponselnya jatuh seketika diiringi dengan kelemasan tangannya dan tubuhnya tak berdaya beringsut ke bawah.


"Nggak mungkin! Ya Allah, aku mohon. Papa tidak mungkin tinggali aku. Papa'kan sayang banget sama aku. Ya Allah, hanya papa satu-satunya pahlawan yang aku punya, dan bunda satu-satunya bidadari yang aku miliki. Ya Allah, aku mohon. Aku nggak bisa tanpa papa. Tapi, tapi, tapi itu pesawat yang sering papa booking. Ya Allah gimana? Astaghfirullahaladzim," Rily melengkupkan wajah dilututnya. Apakah ini jawaban atas maksud pertanyaannya beberapa hari lalu?


Flashback on


"Rily, jika nantinya twins lahir kamu sayang tidak Nak sama mereka?" Rily mengernyitkan dahinya mendengar papanya tiba-tiba bicara seperti ini. Tanpa perlu Rily jawabpun, Rafardhan tentu tahu bukan?

__ADS_1


"Papa, kok Papa tiba-tiba bilang begitu sih? Jelas aku sayang banget sama kedua adikku."


"Berarti kamu maukan Nak menjaga mereka, menyayangi mereka seperti kamu menyayangi Papa? Rily, Papa tak tahu bagaimana nasib adik-adikmu nanti jika Papa tidak ada. Bahkan Raynka tak sudi melihat mereka. Jaga adik-adikmu ya Nak, rawat mereka sebaik mungkin, didik mereka untuk menjadi orang yang hebat......" Rily berhamburan dipelukan Rafardhan. Air matanya tak dapat dibendung mendengar kata demi kata menusuk ulu hatinya. Ia hanya diam membisu. Mencerna maksud yang dikatakan papanya ini. Karena sungguh ia juga tak mengerti.


Flashback off


Tidak ada yang dimaksud papanya itu......pergi selamanya. Begitukah? Bak air hujan begitulah air matanya yang menitik semakin deras. Tanpa suara maupun jeritan, hanya isakan pelanlah yang terdengar begitu memilukan.


"Kakak kenapa?" Tanya Raynka yang sekonyong-konyong masuk ke dalam kamar Rily, duduk berjongkok menyamakan tinggi Rily, lalu ia menyeka kepala Rily yang melengkupkan wajah dilututnya.


Rily memberanikan diri mendongakan kepalanya menatap Raynka. "Bunda. Papa, itu pesawat yang selalu papa pakai take off papa tidak ada di dalam pesawat itukan? Bunda jawab!"


"Kok Rily bisa menyimpulkan begitu? Sini dengerin Bunda. Saat ini Kakak sedang emosi, maka dari itu Kakak harus tenang dulu ya, Kakak harus bisa mengendalikan diri Kakak, Kakak tidak boleh berpikiran negatif begini sedangkan buktinya saja Kakak sama sekali tidak melihat. Ya, tidak boleh seperti ini. Kakak istirahat dulu, tenangi diri Kakak," Raynka mengusap lembut bahu Rily, kemudian hendak berdiri. "Bunda keluar dulu ya."


Cekatan Rily menahan pergelangan tangan Raynka. Lalu bangkit dari duduknya. "Bunda di sini aja. Temani aku," Raynka tersenyum mengangguk. Rily mengajak Raynka menaiki tempat tidurnya. Dan keduanya pun membaringkan diri di atas ranjang, dengan Rily yang kini berada dalam dekapan Raynka layaknya seperti seorang ibu dan anak.


Flashback on


Raynka pura-pura batuk kecil. "Apa, ikut?" Ia pun menyambungnya dengan kekehan remeh. "memang pentingnya di mana? Lagian ya pasti semua istri klien-klienmu itu setengah baya dan tidak ada yang sebaya denganku. Aku nggak mau........nggak mau nahan malu," sambutnya acuh tak acuh.


Begitu nge-jleb. Raynka yang dahulu selalu bicara lirih dengan ekspresi takutnya, berbanding terbalik kini ucapannya selalu menyayat dengan suara lantangnya. Sekejam itukah Rafardhan, merubah Raynka dalam waktu singkat? "Beneran Sayang? Ntar kamu nyesal loh," guraunya.


"Hah, menyesal?! Lagian bagus kali kamu pergi, kalau bisa perginya yang lama saja. Biar hidupku bisa bebas tanpa aturan-aturan tak berfaedah darimu. Secepatnya ya Rafardhan, aku sangat menanti hari itu, dan yakinlah bahwa aku akan menjadi wanita paling bahagia. Sejenak tak melihat wajah brengsekmu, ku pikir akan membuat mataku kembali berpancar indah," tanpa perencanaan ataupun rangkaian, hingga kalimat menyayat itu meluncur dari mulut Raynka secara spontan.


"Namun, jaga kedua anak kita dengan baik, ya Rayn. Dan juga sayangi anakku, kalau sulit dengan ketulusan setidaknya dengan kepura-puraan, tak masalah sama sekali," Rafardhan bangkit dari rebahannya di lantai. Sekilas ia menoleh menatap wajah acuh tak acuh Raynka. "Aku keluar dulu ya, ada kerjaan yang belum aku selesaikan. Kamu bobonya jangan terlalu larut malam," Rafardhan langsung enyah dari sana.

__ADS_1


Hampir 3 jam Raynka menunggu kehadiran Rafardhan yang tak kunjung datang. Dengan langkah beratnya ia berjalan mengarah ke ruang kerja Rafardhan. Yang membuat Raynka geram setengah mati saat melihat Rafardhan tertidur pulas dalam posisi duduk di atas kursi. Ia menilik 2 lembar kertas kecil yang terduduk rapih di tempat alat tulis. Raynka yakin bahwa itu adalah tiket pesawat.


Ia pun meraih kedua tiket itu. Lalu merobek salah satunya. Tenang saja ada tujuannya kok, agar Rafardhan tak bisa lagi keukeuh memaksanya. Lalu Raynka kembali terlelap di kamar Rafardhan.


Flashback Off


Buktinya sudah cukup kuat. Ya Allah, bahkan Raynka baru mengingatnya sekarang. Berdasarkan tiket Rafardhan yang sempat Raynka baca, semuanya begitu tepat dengan siaran televisi tadi. Astaghfirullahaladzim, benarkah suaminya.......?


Tidak-tidak. Raynka tak boleh percaya begini saja. Walaupun matanya tanpa air, namun rasakanlah sesak di dadanya. Ya, dadanya sangat sesak.


Bersambung.......


Yeyyy, upppp🎊🎊🎊


Maaf All updatenya lamaaaa🙏


2 Minggu lalu Aku lagii sibuk sama ujian dan jugaa setorann surah😢


Dan Alhamdulillah semuanya udah selesaiiiii. Yeyyyyyyy❤️🎊🎊🎊🎊


Maaf banyak-banyak ya yang setia menunggu😍


insyaallah jadwal up bakal kembali lancar lagiiii. Dan, terima kasih buat semuanya.


I love you, All❤️💝

__ADS_1


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


__ADS_2