Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 18. Merasa Bersalah


__ADS_3

Mendengar adzan dhuhur berkumandang Raynka'pun menepikan motornya. Tidak mungkin jika ia meneruskan perjalanan menuju rumah bisa-bisa dhuhurnya terlewatkan. Melihat jalanan yang bisa dikatakan cukup padat.


Gadis itu menolehkan kepalanya mencontoh tata cara berwudhu Raynka. Hampir semuanya ia ikutin mulai dari membasuh telapak tangan, berkumur, membersihkan lubang hidung, membasuh wajah hingga membasuh kedua kaki.


"Terima kasih."


Kepala Raynka tertoleh kala ia rasa suara itu tertuju ke dirinya, "iya, terima kasih dalam rangka apa ya Mbak?" Sambut Raynka tersenyum heran.


"Karena aku mengikuti caramu berwudhu," balas gadis itu tertunduk malu.


"Allahumma tidak apa-apa Mbak, semoga Mbak lekas menghafalnya," intonasi suara wanita ini terdengar begitu lirih diiringi senyuman yang mengembang di wajah teduhnya berbalut hijab lebar. Bilsha benar-benar tertegun.


"Mari Mbak kita segera masuk ke dalam," titah Raynka. Bilsha mengangguk pelan. Keduanya pun masuk ke dalam masjid dengan langkah yang bersampingan. Bilsha mulai memakai mukenahnya. Bilsha menoleh menatap Raynka yang duduk di sampingnya. Merasa tertatap Raynka pun menolehkan kepalanya.


Raynka tertuju pada rambut Bilsha yang tak semuanya sembunyi. Lututnya menjadi penahan untuk Raynka bisa meninggikan tubuhnya lebih dari Bilsha, "maaf ya Mbak," awalnya Raynka melepaskan tali karet yang melingkar dikepala Bilsha, seperti awal memakaikan hijab begitulah yang Raynka praktekkan pada Bilsha hingga semuanya pun benar-benar rapih.


"Te-terima kasih," ucap Bilsha terbata sebabnya canggung. Raynka mengangguk tersenyum lebar. Lafal iqomah yang sudah terdengar selesai. Raynka dan Bilsha bangkit untuk menunaikan sholat. Sesudahnya mereka sama-sama keluar dari masjid.


"Tunggu," Raynka menjeda langkahnya. "Apakah kita bisa menjadi teman?" Raynka memutar kepalanya ke belakang lalu menghampiri Bilsha dengan raut pengharapannya.


"MasyaAllah, boleh sekali Mbak," Raynka mengambil sebuah hijab phasmina dari tas ransel mungilnya. Hijab yang beberapa jam lalu ia beli untuk besok ia pakai menghadiri partisipan, namun beberapa detik lalu Raynka berubah pikiran. Raynka memasang hijab tersebut dikepala Bilsha dengan model menyilang. Bilsha diam tak berkutik. "Mbak akan lebih cantik bila mengenakan ini," ujar Raynka tersenyum manis.

__ADS_1


Bilsha menarik hijab tersebut dari kepalanya, beruntungnya sebelum hal itu terjadi Raynka menghalangi sembari bergeleng kepala.


"Ketika aku sedih aku mendekati Allah tapi di kala aku bahagia seakan aku melupakan Sang Pencipta. Beberapa hari lalu aku sempat diputusi kekasihku karena dia akan menikah, aku seperti dijadikan sebagai selingkuhan karena selama kami menjalin hubungan dia tak pernah bercerita sama sekali terkait pernikahannya. Aku sangat mencintainya. Awalnya aku tak rela, tapi setelah melihat perempuan pilihan mantan pacarku lebih baik dari pada aku emmm........lebih tepatnya seperti kamu, aku ikhlasin mereka bersama. Kamu tahu hatiku rasanya hancur sekali. Entah kenapa aku ingin mendekat lagi pada Allah. Tapi sungguh untuk kali ini aku tak lagi bermain-main. Apakah masih bisa dan masih ada kesempatan? Bolehkah berhijab di saat keimananku saja masih cetek?" Bilsha mencurahkan seluruh isi hatinya pada Raynka, seseorang yang baru saja ia kenal. Perempuan ini, seorang perempuan yang lebih muda darinya namun ketaatan yang melebihi dirinya menciptakan tersendiri kenyamanan dihati Bilsha.


"Ini hidayah dari Allah. Jangan pernah lagi di sia-siakan ya Mbak karena kesempatan tak datang dua kali. Menutupi aurat bukanlah diukur dengan keimanan melainkan kewajiban. Tidak ada manusia yang sempurna bahkan nabi pun masih melakukan kesalahan apalagi kita yang hanya manusia biasa, kesempurnaan hanya milik Allah Mbak. Berhijab adalah sebagai penyempurnaan keimanan kita kepada Allah. Tidak ada kata terlambat untuk berubah, jangan pernah malu untuk berusaha, hal yang namanya menggapai memang sulit sangat sulit prosesnya Mbak, tetapi dibalik semua itu jaminannya pun surga, MasyaAllah. Tetap Istiqomah ya Mbak," jelas Raynka tulus. Dengan air matanya yang menitik Bilsha memeluk Raynka, menumpahkan segala penyesalan atas kemaksiatannya yang senantiasa menjadikan Allah sebagai pelampiasan.


"Makasih ya sudah mau jadi teman aku. Makasih buat semua penjelasan kamu, aku jadikan sebagai motivasiku ya."


"Terima kasih kembali Mbak," Bilsha melepas dekapannya.


"Oh iya kita belum berkenalan. Aku Bilsha. Kalau kamu?"


"Makasih ya Raynka. Untuk saat ini sepertinya kita tak bisa berbincang lama-lama karena aku ada janji sama papaku untuk pulang cepat," kata Bilsha cemberut.


"Iya ngga'papa. Insyaallah lain waktu kita cerita lagi. Hati-hati dijalan ya Mbak. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mbak," balas Raynka.


"Aamiin. Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Raynka. Dadaah," Bilsha tersenyum sambil melangkah ia melambaikan tangan ke Raynka, Raynka'pun menyambutnya seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya.


...🦐🦐🦐...


Raynka melajukan motornya dengan kecepatan standar. Dibawah teriknya matahari pada siang hari ini. 'Satu hal yang harus Anda garis bawahi, mereka bukan anak saya' kalimat ini masih terngiang jelas ditelinganya.

__ADS_1


Mengapa? Jika boleh memilih maka Raynka pilih untuk mencintai Rafardhan sebagai papanya bukan membenci Rafardhan sebagai ayah anak yang dikandungnya. Dengan ucapan-ucapan lantang dirinya sama sekali bukanlah balasan yang setimpal sama apa yang dideritanya. Pun Rafardhan selalu menang dan lagi-lagi lolos.


Bagaimana caranya membuat Rafardhan terjatuh layak dirinya yang selalu berada dibawah, nyatanya pun rasa bersalah sering ia rasakan walaupun rasa benci itu bersemayam diulu hatinya. Dirinya bimbang, harus sampai kapan kesiapan itu tercipta? Terus melakukan dosa yang Raynka'pun bingung seperti apa cara mengakhirinya. Sedang kejadian nahas satu malam itu tak pernah menjauh dari benaknya.


Lantaran melamun disituasi yang salah. Raynka menekan rem motornya yang sama sekali tak membuat motornya terhenti. Mengapa rem motornya bisa blong? Tak ada pilihan lain demi menghindari terjadinya tabrakan dengan gerobak buah di depannya. Melihat pohon yang bertumbuh tinggi di sebelah kirinya, Raynka membelokkan arah motornya ke sana dengan kecepatan tinggi ia menabrakkan motornya ke pohon tersebut. "Akkkhhhhhhhh," motor'pun terjatuh ke bawah dengan dirinya mujurnya Raynka mundur ke belakang untuk tubuhnya menghindari timpaan motor.


...🦐🦐🦐...


"Terima kasih banyak ya Pak, Bu, sudah membantu saya untuk pulang," kata Raynka kepada sepasang suami-istri tersebut yang setadi menolongnya dan berniat menghantar dirinya ke rumah sakit, namun dengan cepat ditolak Raynka melainkan agar diantar ke rumahnya saja. Sepasang suami-istri itupun sama sekali tak keberatan mengabulkan permintaan Raynka.


"Sama-sama Neng. Cepat sembuh ya kakinya, semoga tidak ada luka yang serius," balas ibu tersebut.


"Aamiin. Oh iya Bapak sama Ibu mampir dulu yuk ke rumah saya!" Tawar Raynka kepada keduanya.


"Tidak bisa Neng karena setelah ini Bapak dan Ibu ingin melanjutkan pekerjaan kantor," tolak halus sang bapak.


"Betul Neng," timpal si ibu.


"Yasudah tidak apa-apa Bu, Pak. Semoga usaha Bapak dan Ibu selalu lancar ya dan senantiasa dimudahkan oleh Allah SWT. Sekali saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bapak dan Ibu. Saya turun ya Pak, Bu Assalamu'alaikum," ujar Raynka yang langsung dibalas oleh sepasang suami-istri tersebut. Raynka tersenyum singkat.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2