Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 33. Masa Lalu Kelam Mama Risa


__ADS_3

Saat Raynka berpaling lagi ke lantai disitu ia melihat kertas putih yang tergeletak. Benarkah itu......? Cepat-cepat Raynka mengambilnya. Sebentar lagi semua yang mamanya sembunyikan selama ini akan terbongkar. Raynka benar-benar harus menyiapkan hatinya. Dengan jantung yang berdegup cepat ia membacanya.


"Assalamu'alaikum Wr Wb Raynka, anak kesayangan Mama. Mama harap kamu orang pertama yang membaca tulisan Mama ini, Nak. Bujuk dan bicaralah pelan-pelan kepada papa yang nantinya akan menjadi suamimu, dan Rily anak Mama yang nantinya akan menjadi anakmu, gantikanlah tugas Mama, Nak. Mama percaya anak dewasanya Mama ini mampu, jangan kecewakan Mama yah. Maafkan semua sikap buruk papa kepadamu, sungguh Sayang dia adalah lelaki yang sangat baik dan sangat sempurna, cinta dia sangat tulus, Nak. Cintai suamiku Nak, bahagiakan dia, Mama ingin kali membalas jasanya namun Allah telah meminta Mama untuk pulang, Mama serahkan sama kamu ya Nak, Mama percaya Raynka kelak kamu akan bahagia sama suamiku, tolong jangan kecewakan Mama, Raynka.


Raynka tahu? Bahkan Mama bisa menjadi lebih baik seperti sekarang karena didikkan papa, Nak. Dulu diriku sangat hina. Bolak-balik klub malam, balapan liar sana-sini, berpakaian kurang bahan, seakan diri ini tak mengingat adanya Allah dan kematian. Namun, saat di mana tiba Mama ingin menolong seorang teman di klub, malah Mamalah yang terjerumus dalam jebakannya yang ingin melihat Mama hancur. Hingga dalam kondisi mabuk berat. Setelah paginya Mama kembali sadar ternyata semalaman Mama tidak sendirian, diri ini kembali hancur Nak dengan mataku sendiri melihat tubuh ini tanpa sehelai benangpun. Dan kamu tahu siapa yang melakukannya? Dia adalah Alfiasa Gieenza Syadiarganta Altafah nama itu Mama ketahui setelah dengan lancang membuka dompetnya terlihat juga sebuah foto yang ternyata itu adalah istrinya.


Mama hanya terdiam tak bisa lagi berbuat apa-apa. Tak mungkin mendesak pertanggungjawaban sebab statusnya adalah suami orang. Akhirnya dengan tegahnya keluarga menjodohkan Mama dengan anak sahabat karibnya yang ternyata adalah papamu. Setelah menikah satu sama lain kami saling terbuka. Termasuk papa juga jujur menerima perjodohan ini karena kepatuhan terhadap kedua orangtuanya, meski saat itu papa sedang merintis karirnya. Dan dengan berat hati Mama'pun jujur mengenai kehamilan Mama. Dan kamu tahu ini sama sekali tak dijadikan permasalahan untuknya. Papa memperlakukan Mama dengan baik, Nak. Tak pernah sekalipun kasar ataupun main tangan. Dia mengajarkanku hal yang tak Mama ketahui. Senantiasa membimbing Mama untuk ke jalan yang lurus. Hingga berhasilah sehelai hijab ini menutupi rambut Mama.


Dan sampai saat Mama melahirkan Rily. Fakta menyakitkan lagi yang Mama terima, Raynka. Karena pendarahan hebat terpaksa rahim Mama harus diangkat. Namun, papa masih saja setia menemani masa-masa tersulit Mama, Nak. Sudah berkali-kali Mama minta talak juga poligami. Tetapi berkali-kali juga papa menolaknya dan berusaha terus meyakinkan Mama. Bahkan papa pun sangat-sangat menyayangi Rily yang sudah jelas bukan darah dagingnya, air mata itu menetes saat melantunkan Adzan. Lihatlah Nak betapa tulus cintanya. Demi Allah sekalipun papa tak pernah menyentuh Mama. Hari-hari Mama lalui dengan sangat bahagia. Nak, namun ada satu lagi rahasia yang tak berani Mama bongkar yaitu nama ayah kandung dari anak kandung Mama.


Jika dulu Mama belum siap dicap sebagai pelakor, kini Mama tak bisa melihat murkanya papa karena seseorang itu adalah sahabat dekatnya, yang kerap di sapanya 'Kakak'. Kelak bongkarlah semuanya, Raynka. Maafkan kepengecutan Mama. Walaupun Rily anak kandung Mama namun Mama juga sangat menyayangimu Raynka, sedikitpun dihati ini tak ada pilih kasih, tahtamu dan Rily sama dihati Mama, Nak. Raynka, jagalah harta berharga Mama. Sayangilah suamiku, anakku, dan cucu-cucuku kelak, sebagaimana Mama mengasihimu, Nak. Bangunlah keluarga kecilmu dengan 'papa' yang nantinya akan kamu panggil 'Mas'. Mama tahu permintaan ini sangatlah sulit untuk kamu penuhi. Tapi Mama yakin kamu akan bahagia, Raynka. Mama terlalu menyayangimu Nak, Mama nggak mau kamu hancur karena dunia luar, dan Mama tahu mereka semua menyayangimu, Nak. Suatu saat nanti jika sudah menjadi takdirmu tulisan ini akan menjadi kenyataan. Mama akhiri yah Raynka tangan Mama pegal. Wassalamu'alaikum Wr Wb. Inilah masa laluku"


Raynka tercengang bukan main. Dari sekian lamanya hari-hari yang telah ia lalui kenapa baru sekarang Raynka dapat membaca surat peninggalan mamanya? Mungkin kalau dari dulu ia tahu kenyataannya tidaklah seperti sekarang. Semua pertanyaan yang tertutup kini berhasil terjawab dengan seiring berjalannya waktu.


"Maaffin Raynka ya Mah, Raynka nggak tahu tentang semua ini, Raynka kira amanat terakhir sebelum Mama menutup mata hanyalah bercadaan. Semua yang Mama tulis bahkan sekarang sudah menjadi kenyataan, Mah. Mama baik-baik di sana yah. Semoga Mama bisa bertemu sama abi dan umi. Raynka sayang sama kalian," air mata tersebut mengalir deras dari mata Raynka.


Raynka mengambil pisau cutter dilaci nakas. Pelan tapi pasti ia memisahkan tulisan 'Alfiasa Gieenza Syadiarganta Altafah' dari kertas itu. Kemudian menyimpannya ditempat yang menurutnya aman.

__ADS_1


"Rily, kasian sekali kamu Kak. Bagaimana jika kamu mengetahui fakta ini? Apakah kamu bisa menerima semuanya? Sementara Bunda bisa merasakan kasih sayangmu sangatlah besar untuk papa. Bunda nggak bisa bayanginnya. Bunda nggak sanggup melihat kehancuranmu. Tapi Bunda juga tak bisa menentang ucapan mama. Cepat atau lambat kalian harus tahu," Raynka diam mematung memikirkan saat itu tiba. Rasa sayangnya kepada Rily sudah mulai tumbuh, pun ia juga tak kaku lagi dengan panggilan 'bunda'nya. Apa nantinya Rily akan kecewa kepadanya? Ah tapi bila jujur dari sekarang? Tolonglah, Raynka sungguh bimbang.


Raynka beranjak dari kamar Rafardhan ralat kamarnya juga, menuju kamar Rily. Ia menatap pilu tubuh yang berbalut selimut itu. Raynka duduk di atas kasur sembari menyeka bahu belakang Rily, "maaffin Bunda ya." Rily meluruskan tubuhnya. Raynka bisa menatap mata dan hidung yang merah itu. "Bunda nggak bermaksud untuk membentak kamu. Kakak marah ya sama Bunda?" Ujar Raynka lagi.


Rily bangkit duduk. "Aku ngerti kok. Lagian juga aku yang salah. Nggak'papa, Bunda," sahutnya mengusap tangan hangat Raynka.


Raynka tersenyum lebar. "Kata mbak Arin tadi papa pulang hari ini. Gimana, Kakak senang'kan dengarnya?"


"Bahagia dong, Bund. Maaffin aku ya Bund sudah panik dari awal padahal tidak tahu apa-apa." Sorot mata Rily berpaling ke perut Raynka, "kabar adik-adiknya Kakak gimana nih?" Wajah Raynka merah padam tiba-tiba Rily mengalihkan perbincangan ke sana.


"Ba-baik kok," jawab Raynka gugup. Rily tersenyum manis.


"Mah, ini panasnya nggak turun-turun loh Mah. Periksa ke dokter aja yuk Mah. Kalau papa pulang yang ada Abang yang habis Mah, nanti Abang dibilangin nggak becus jaga Mama," rengek Difka memelas seraya tangannya bergerak mengganti kompresan sang ibu yang terbaring pucat di atas ranjang.


"Kan Mama sudah bilang berkali-kali Mama tidak mau bertemu dengan jarum suntik," bantah Dianka.


Difka meraih kedua tangan Dianka, "Mamaku sayang, sekarang sudah tidak zamannya lagi suntik-suntikan, paling cuma diperiksa aja, udah. Masa Mama nggak mau sih Mah?" Bujuk Difka lagi, lagi, dan lagi, sering kali malahan. Ratusan tolakan juga yang didapatnya dengan alasan yang sama.

__ADS_1


"Mendingan kamu keluar deh, Bang. Mama bosan dengar terus-terusan omongan kamu yang itu-itu aja," Difka bengong sendiri, masa mamanya yang sudah setua ini masih takut jarum suntik? Setiap mau disuntik, selalu dalam keadaan hilang kesadaran.


"Iya-iya Mah, enggak lagi," Difka menghela nafas panjang.


Bersambung.......


Hay, Assalamu'alaikum All


Gimana kabarnya? Semoga semuanya menyenangkan yah.


Maafkan aku Updatenya lamaa.....


Karna aku juga gak bisa fokus ke peranku sebagai author aja. Semoga kalian mengerti.


Terima kasih banyak buat kalian yang selalu menanti kelanjutan. Jangan pernah bosan yah.


Dan, jadikan Al-Qur'an bacaan utama, mumpung hari Jum'at al-kahfinya jangan lupa dibaca, okeh Mom-Mom dan kakak-kakak.

__ADS_1


I love you banyak banyak, All


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


__ADS_2