Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 15. Rasa Sesak Yang Menyayat


__ADS_3

Flashback On


Difka memandangi Raynka yang telaten menyuapkan sesendok demi sesendok ke mulut mamanya. Ia turut bahagia melihat senyum yang menghiasi wajah teduh mamanya. Padahal Raynka hanyalah orang asing, beberapa kali bertemu dengan pertemuan-pertemuan tak disengaja. Tak biasanya mamanya seperti ini.


"Terima kasih ya Mbak, sudah banyak membantu saya," ujar Dianka setelah berhasil menghabiskan isi dari semangkuk bubur tersebut dengan bantuan suapan Raynka.


"Sama-sama, Bu."


"Saya boleh tahu siapa nama Mbak? Sedari tadi juga kita belum sempat berkenalan. Jangan panggil 'ibu' lagi ya, panggil Tante saja biar kita lebih akrab," ucap Dianka.


"Boleh kok Bu eh Tante, nama saya Ra......."


Cekatan Difka masuk ke dalam kamar mamanya. Bukan maksud ia jahat, ia hanya tak ingin mamanya menyamakan ibu bidadarinya dengan sang adik hanya karena kesamaan nama."Mama, Mbak inikan udah suapin Mama makan. Dan sekarang makanannya udah habis. Dia juga banyak urusan Mah, jadi tidak bisa terus-terusan di sini. Iyakan Mbak?" Pada kalimat akhirnya Difka beralih menatap Raynka.


"E-emm.......i-iya Bu emm m-maksudnya Tante," jawab gagap Raynka. Sedikit tak rela hatinya mendengar perkataan kakak dari muridnya, anak sulung dari ibu ini. Tapi tak apalah ia juga tak dapat menolak selain mengiyakan.


"Yasudah tidak apa-apa. Sering-sering main ke sini ya, Mbak. Tante pasti kangen sekali sama kamu," ucap Dianka menatap lengkat wajah Raynka terutama bagian sepasang mata Raynka.


"Insyaallah, Tante. Saya pamit pulang dulu ya Tan, Assalamu'alaikum," Raynka meraih tangan Dianka yang terkapar lalu mengecup punggung tangan Dianka. Dianka langsung mendekap tubuh Raynka. Menyeka punggung Raynka. Air mata mamanya menitik, itulah yang Difka lihat.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati," Raynka mengangguk dan berlalu keluar dari kamar Dianka.


"Abang keluar dulu ya, Mah," Dianka menjawab dengan anggukan kepala. Bergegas Difka menyusul Raynka.


"Tunggu dulu, Bu Raynka!" Difka berlari memotong langkah Raynka hingga kini ia berdiri di depan Raynka. Spontan Raynka menghentikan langkahnya sembari memegang dada menghembuskan nafas pelan.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Ada yang mau aku bicarain sama Ibu. Tapi tidak di sini, ayo ikut aku!" Difka berjalan menunjukkan arahnya. Raynka membututi dari belakang. Taman belakang rumah, disitulah tempat yang dituju Difka. Difka menduduki salah satu bangku di sana. Pun sama yang dilakukan oleh Raynka hanya saja Raynka memberi 7 jengkal jarak. Bicara jauh-jauhan begini mana ada enaknya, sebenarnya Difka hendak protes namun ia urungkan.


"Raynka, jujur dari awal melihatmu aku sudah jatuh hati padamu. Melihat akan ketaatanmu pada Allah aku mengurungkan niat untuk mengungkapkan perasaanku kala itu. Aku tahu kamu tidak akan mau untuk berpacaran, lantas apakah kalau aku lamar kamu, kamu terima?" Ungkap Difka sebagai lelaki sejati. Secepatnya Raynka harus tahu isi hatinya. Jangan sampai ia keduluan orang.


"Difka, nama kamu Difka'kan? Saya mohon maaf sebelumnya. Ada banyak alasan untuk saya menolak kamu. Salah satunya, coba kamu tanyakan kembali hatimu? Benarkah itu cinta atau hanya sekedar nafsu belaka, bukan perihal jodoh saya rasa itu kekaguman yang berasal dari godaan syaitan. Kedua, karena saya sudah menikah dan saya sedang mengandung anak suami saya," sahut Raynka tegas.


Difka menganga tak percaya. Betulkah ini karmanya? Karena selalu mempermainkan perasaan perempuan. Menembak cewek sana-sini, memacari sesuka hatinya, jikalau bosan langsung memutuskan tanpa sebab. Saatnya ia benar-benar jatuh cinta malah salah sasaran. Sakit juga rasakan ditolak.


"Permisi," Raynka bangkit dari duduknya.


"Makasih atas kejujurannya. Tapi apakah kita bisa menjadi teman? Dek, lusa hari kelahiran mama. Kalau kamu tidak keberatan Kakak mau ajak kamu menyiapkan suprise kecil-kecilan buat mama sekalian cari hadiah buat mama, kalau tidak mau juga tak apa. 'Kakak-Adek' aku rasa itu panggilan yang sopan untuk kita. Aku janji nggak akan bahas mengenai perasaan lagi, tolong izini aku buat jadi teman sekaligus kakak kamu," dengan hati yang tulus Difka mengucapkannya. Sedari pertama mendengar suara Difka, sontak Raynka mengurungkan niat perginya.


Raynka berbalik badan menghampiri Difka. "Aku juga setuju. Aku mau jadi adik kamu. Janji ya Kakak akan mengubur perasaan Kakak buat aku? Hanya sayang sebatas kakak-adik, janji?" Raynka mengacungkan jemari kelingkingnya. Ya Allah, lagi-lagi.........kenapa secepat ini ia percaya kepada anggota keluarga yang baru saja ia kenal. Mengkhianati suara hati sama-sama akan membuat hati keduanya tercubit. Mangkanya Raynka jujur.


"Tidak boleh. Bukan mahram, Kakakku," Raynka tertawa terbahak-bahak.


"Ngerjain Kakak, hem?"


"Ya begitulah," menatap Raynka yang tertawa ngigis membuat Difka mengikutinya ada saja titik gelinya.


Flashback Off


"Assalamu'alaikum Dek," salam Difka kepada Raynka. "Dek, kok ada dia?" Imbuh Difka mencibir melirik Chika yang berdiri di samping Raynka.

__ADS_1


"Rayn, jadi yang lo maksud 'kakak' itu cowok stres ini? Rayn, Rayn, mata loh ke mana sih? Coba lihat sekali lagi orang gini mana ada tampang kekakak-kakak'annya," olok Chika terang-terangan. Refleks Difka melototkan matanya. "Apa loh apa?" Sambung Chika memajukan dagunya menantang.


"Hey, menjawab salam itu wajib kalau lo lupa," peringatan dari Raynka mengarah ke Chika. "Waalaikumsalam, Kak," Raynka menjawab salam Difka yang sempat terjeda karena Chika.


"Hum, Wa'alaikumsalam," sahut Chika enggan.


"Kalian berdua dengarkan aku ya. Kakak, nggak mungkin kalau kita pergi berdua nanti kalau ada lihat bisa salah paham dan berujung fitnah lagi. Lagian tidak baik laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan, syaitan akan menjadi penengahnya, makanya aku ajak Chika. Eh by the way udah pada saling kenal belum?" Ujar Raynka melirik-lirik ke arah Chika dan Difka.


"Udah Dek, udah," jawab Difka cepat.


"Dan lo tahu nggak nih Rayn, dia itu playboy banget Rayn bahkan ya dengan mudahnya dia mut......Eummm......eummm.......lepas!" Belum sampai Chika berceletuk menceritakan kejadian kemarin, malah Difka membekap mulutnya. Malu sih tak apa nyatanya Difka memang malu-maluin, ini soal kodratnya sebagai lelaki sejati, bisa terjun kalau Raynka tahu akan sikapnya beberapa hari lalu yang menjadi playboy. Jangan tak paham sekarang ia sudah menjadi mantan.


Mata Raynka membulat terperanjat. Gelagapan Difka memindahkan tangannya dari mulut Chika, "Dek, Dek anu itu, suer Dek, Kakak refleks," Ia mengacungkan jemari telunjuk dan tengahnya.


"Enak aja lo!" Sentak Chika tak terima.


"Udah nggak usah berantem. Jadi tidak nih perginya?" Lerai Raynka. Difka mengiyakan. Dan ketiganya mulai memasuki mobil. Difka menjalankan mobil tersebut keluar dari kossan Chika untuk menuju ke mall. Kembali dijadikan sopir, kali ini Difka tak protes.


"Rayn, gue ke toilet bentar ya," izin Chika kepada Raynka yang sibuk menyibakkan satu-persatu mukenah-mukenah yang tergantung.


"Lama juga nggak masalah," jelas bukan sahutan Raynka melainkan celetukan Difka. Setelah tertampil raut muka dongkolnya yang tertahan, Chika berjalan keluar dari sana.


"Raynka," gumam Rafardhan. Sambil berjalan tak sengaja matanya menatap kanan-kirinya yang di mana diantara banyaknya orang, sinar matanya tertuju penuh pada istri kecilnya yang sedang bercakap riang dengan seorang lelaki, siapa? Setahu Rafardhan Raynka tak pernah bergaul dengan teman laki-lakinya. Jangankah sekedar berteman, dekat dengan lelaki saja Raynka risih, ah lebih tepatnya selalu menghindar.


Tak mungkin jika orang tak dikenal. Rafardhan memandangi Raynka dan lelaki itu saling bertukar pendapat sembari memandangi mukenah yang Raynka pegang.

__ADS_1


Ah sudahlah, ia kenal siapa Raynka. Walaupun Raynka sangat membencinya namun Raynka tak mungkin melakukan perbuatan terlarang, seperti selingkuh mungkin. Biarpun Rafardhan berusaha menyakinkan hatinya, tetapi rasa sesak di dadanya masih sangat menyayat, kenapa bisa?


Bersambung........


__ADS_2