Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 12. Masa Lalu Raynka


__ADS_3

"Kok diam, Nak? Jadi bagaimana ceritanya?"


"Raynka ceritakan dari awal ya, Bu. Setelah Raynka keluar dari panti dan tinggal bersama keluarga yang mengadopsi Raynka, Raynka benar-benar bahagia Bu, mereka memperlakukan Raynka layaknya anak kandung, apalagi abi dan umi tidak pernah melarang Raynka untuk mengunjungi Ibu. Tapi, dua tahun kemudiannya abi mengidap penyakit divonis kanker otak stadium 4. Umi tak ada pilihan lain selain menjual aset-aset berharga termasuk rumah, tanah, dan perusahaan untuk biaya rawat abi, sampai-sampai semua harta ludes, namun keadaan abi sama sekali tak membaik. Biaya rumah sakit yang samakin hari semakin meningkat, kata dokter perawatan abi tak dapat diteruskan sebelum semuanya lunas sedangkan umi hanya menyimpan uang sisa yang hanya pas untuk membayar administrasi. Tak ada pilihan lain umi memutuskan untuk memindahkan abi ke rumah sakit yang lebih sederhana. Tak sesuai dengan harapan umi dan Raynka semuanya hanya titipan, Allah mengambil abi. Umi yang mengalami serangan jantung mendadak, Allah juga mengambil umi dari Raynka. Ranyka stres Bu, Raynka tak tahu ingin tinggal di mana dan bersama siapa, sementara alamat panti Raynka juga nggak tahu. Dengan bodohnya Raynka juga ingin menyusul abi dan umi dengan menabrakkan diri pada mobil yang melaju, ternyata Allah masih lindungi Raynka, Allah masih izinin Raynka buat hidup, Raynka nggak menyangka ternyata anggota keluarga yang nyaris menabrak Raynka mengajak Raynka tinggal bersama, keluarganya kak Rily Bu bahkan sampai saat ini Raynka juga masih tinggal di sana. Beberapa hari lalu Raynka mendatangi rumah kontrakan umi, beralaskan bersilahturahmi dengan ibu pemilik kontrakan yang kebetulan juga dekat dengan Raynka, beruntungnya ibu itu menyerahkan surat adopsi kepada Raynka yang di mana tertulis alamat panti ini. Mangkanya Raynka langsung ke sini, Bu," jelas Raynka panjang lebar. Bu panti langsung memeluk Raynka. Rily'pun ikut memeluk. Terbesit rasa bersalah dihati Rily sungguh, selama ini ia sama sekali tidak tahu mengenai masa lalu Raynka. Menjahati dan mengerjai Raynka sesuka hatinya, hanya karena ia tak siap bila kasih sayang kedua orangnya terbagi sejak datangnya Raynka yang bukan siapa-siapa.


"Kok pada mewek sih? Kan Raynka cuma cerita, Raynka saja tidak nangis. Oh iya Bu, Raynka bikinin nasi kotak buat Ibu dan adik-adik, Raynka sendiri loh Bu yang masak eh tapi dibantu sama si bibi sih. Raynka ambilin dulu ya dimobil," ujar Raynka cengengesan sambil hendak berdiri.


"Kamu duduk di sini saja, biar Ibu yang mengambilnya!" Sambut bu panti langsung berjalan keluar dari ruangannya, menyisakan Raynka dan Rily.


"Bu-bunda ma-maaffin aku, a-aku........."


"Tidak apa-apa," sahut Raynka memotong ucapan Rily.


...🦐🦐🦐...


"Assalamu'alaikum cantik, Sayangnya Babang Difka," romansa Difka dengan nada manjanya kepada sang kekasih melalui telepon.


"Wa'alaikumsalam, ih bisa manja juga ternyata sayangnya aku, oh iya Sayang kenapa telfon, kangen ya?" Sambut manja sang kekasih, Bilsha.


"Sayang, kita putus yuk! Pacaran itu dosa loh, perlu nggak aku bacain dalil-dalilnya kali aja kamu langsung insaf," suka bergurau memang. Yang nembak siapa? Yang diperingati siapa? Manusia tak sadar diri, dasar Difka.


Kalimat pertama Difka ngenjleb bukan main. Dulu Difka yang mengejar-ngejar dirinya sampai bela-belain tidur di luar rumahnya 5 malam demi mendapat restu dari sang ayah untuk memacari putri kesayangan. Perjuangan yang membuat Bilsha akhirnya jatuh cinta.


"Dif, kamu bercanda'kan? Kata kamu, kamu cinta sama aku? Apa kamu lupa sama semua perjuangan cinta kamu buat aku?" Ujar Bilsha.


Ayolah. Jangan panggil ia Difka jika ia berjuang demi mendapatkan hati seorang perempuan. Sepertinya mantannya ini salahpaham. "Yaudah kalau kamu nggak percaya besok kita ketemuan ditempat biasa, aku akan kenalin kamu sama calon istri aku. Yaudah ya mantan aku matiin dulu, aku lagi sibuk nih," katanya santai. Persetan suara Bilsha yang terus memanggil-manggil namanya tidaklah ia hiraukan. Difka langsung memutuskan sambungannya.


Semua ia lakukan untuk bidadarinya seorang. Berjuang pertamakalinya karena hatinya sudah merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Mudah bagi Difka mencari perempuan untuk ia jadikan pacar sementara, akan ia siapkan besok untuk bertemu sang mantan.


"Jadi nama asli bidadari 'Raynka?' Pantesan cantik," monolognya tersenyum tawar. Difka menatap lengkat ponselnya yang tertera nama Raynka di WhatsApp dari no handphone hasil dustanya.


...🦐🦐🦐...


Mendengar suara alarm ponsel yang sengaja ia pasang, Raynka membuka matanya, merabah ponselnya untuk segera mematikan. Melihat aplikasi WhatsApp-nya berangka ia'pun membuka aplikasi tersebut. Nomor tak dikenal, siapa?

__ADS_1


08211**********


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ¹¹'³³


^^^Rayn_ka^^^


^^^Wa'alaikumsalam, siapa ya? °¹'³²^^^


08211*********


Hay Bu, saya Difka. Kakaknya Ficka. °¹'³³


^^^Rayn_ka^^^


^^^Astaghfirullahaladzim. Tolong dihapus nomor saya ya, saya juga akan menghapus nomor kamu. Maaf telah membalas🙏 saya tidak tahu kalau kita berlawan jenis. Kita akhiri sampai sini ya, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. °¹'³⁴^^^


Astaghfirullahaladzim. Berkali-kali Raynka mengucapkannya. Ia benar-benar sudah melakukan dosa lagi. Membalas pesan dari lelaki yang bukan mahram saja sudah termasuk zina. Nauzubillah Min Dzalik.


Segera ia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajudnya. Kali ini tak seperti biasa, biasanya sehabis tahajud ia berlangsung membaca Al-Qur'an namun sekarang ia malah berjalan menuju dapur untuk mencari makanan berkuah. Tak tahu saja perutnya sangat ingin asupan tersebut.


Ia'pun mengambilnya lalu menyiapkan air untuk merebus mie instan. Sembari menunggu air tersebut mendidih, Raynka duduk dikursi meja makan seraya bermain ponsel. Terdengar suara kompor Raynka menoleh, masuklah Rafardhan dalam pandangan matanya, ia melangkahkan kaki kesal.


"Kenapa dimatiin?" Raynka mencoba mengalihkan tangan Rafardhan dari tombol kompor tersebut, namun tetap tak tergeser sedikitpun, hal itu membuatnya semakin kesal, "minggir!" Sentaknya.


"Tidak akan! Sebelum kamu bilang, tidak lagi memakan makanan itu," balas Rafardhan pelan.


"Tidak mau juga! Saya lapar, ngerti nggak sih!? Ingin menyingkir sendiri apa saya yang singkirkan?" Katanya penuh peringatan.


"Coba saja kalau bisa," tantang Rafardhan santai. Tubuh Raynka mencangkuk. Dengan kekuatan giginya yang begitu keras Raynka menggigit punggung tangan Rafardhan. Tak ada perubahan letak tangan itu masih tetap sama, pasalnya Rafardhan tahu akan reaksi Raynka. Raynka semakin kesal dibuatnya.


Sekilas Raynka menoleh ke belakang, "puas!" Ucapnya memanyunkan bibir jengkel. Raynka berjalan keluar dari dapur. Ia sungguh lelah berdebat dengan Rafardhan yang selalu memiliki celah untuk menjatuhkan dirinya.


Rupanya istri kecilnya ini sedang merajuk. Rafardhan menyusul Raynka lalu menggendongnya ala bridal style. Raynka terpaku menatap Rafardhan yang membuat tubuhnya seperti melayang. Rafardhan kembali mendaratkan Raynka dikursi tadi.

__ADS_1


"Mie rebus tidak baik untuk kesehatan kalian. Makan yang lain saja ya, mau makan apa? Biar aku masakan," bujuk Rafardhan.


"Sudahlah, saya sudah tidak nafsu," Raynka memalingkan wajahnya.


"Kamu mau mie'kan? Oke aku buatkan, tunggu di sini!" bergegas Rafardhan menyiapkan bahan-bahan yang tersisa di dapur untuk membuat adonan mie secara alami. Dan kuahnya dari bumbu-bumbu yang telah ia padukan.


Setelah selesai Rafardhan menuang kuah yang telah mendidih tersebut ke dalam mangkuk yang berisi mie, ditambah sedikit bawang goreng, tirisan daun bawang dan sedikit tirisan sayuran hijau serta satu telur rebus sebagai pelengkap. Sedetikpun kegiatan Rafardhan tak lepas dari pandangan mata Raynka. Rafardhan memutar bola matanya menatap Raynka yang tak berkedip memperhatikan dirinya, "kenapa Rayn? Apakah aku tampan?"


"Cih, Anda terlalu percaya diri!"


"Selamat makan, istriku. Semoga saja rasanya sama dengan mie instan," Rafardhan menyodorkan semangkuk mie tersebut di depan Raynka sembari duduk dikursi sebrangan Raynka.


Raynka mencicip setengah sendok kuah dari mie tersebut. Rasanya pas, bahkan lebih enak dari mie instan biasanya. Dengan cepat Raynka langsung menyantapnya. Karena tenggorokannya tersedak ia terbatuk, hal itu membuat waktu makannya terjeda. Raynka meraih segelas air putih yang terletak didekat sana. Rafardhan mengambil tisu, membersihkan sekujur bibir Raynka yang belepotan. Raynka terdiam.


"Makannya pelan-pelan, Sayang. Dipanci masih banyak kalau kamu kurang," goda Rafardhan terkekeh.


"A-apaan sih," gagap Raynka melanjutkan makannya lagi namun tidak secepat tadi melainkan lebih santai.


"Rayn, kata dokter Willa setiap dua minggu sekali kamu harus periksa kandungan. Berarti besok jadwal kamu kembali periksa, aku temani ya, habis kamu ngajar juga tak apa," ujar Rafardhan memulai pembicaraannya pada Raynka dengan hati-hati.


"Insyaallah, jika ada waktu luang. Besok saya sibuk anak-anak ada les jadi saya pulang kemungkinan siang," sahut Raynka sambil makan.


"Yasudah terserah kamu saja jamnya. Kalau sudah selesai kamu bisa hubungi aku, nanti aku jemput di sekolah," ucap Rafardhan.


"Jadi maksud Anda saya tidak membawa motor, begitu?" Sambut Raynka kurang menyetujui keputusan Rafardhan.


"Iy........." Suara Rafardhan yang terdengar layaknya gumaman lantaran dipotong Raynka.


"Enggak saya tidak setuju. Anda bisa menunggu di rumah jika ingin menghan........"


"Untuk hari ini, Rayn. Aku tidak mau kamu terlalu lelah," keukeuh Rafardhan pada pendiriannya. Dengan sangat terpaksa Raynka mengiyakan. Sudahlah anggap saja setitik rasa terima kasih-nya kepada Rafardhan karena telah membela-belakan memasak untuk dirinya di tengah malam begini.


Sunggingan bibir lebar terwujud dibibir Rafardhan. Akhirnya ia berhasil membujuk Raynka tanpa di dasari emosi ataupun amarah Raynka, ya walaupun dengan raut terpaksa terlihat dari tampang Raynka. Tapi tak apa. Setidaknya ada sedikit kemajuan. Ia sudah sangat bersyukur. Alhamdulillahirabbilallamin.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2