
"Bibi! Bibi sudah pulang?" Sedang meniti anak tangga, wajah Raynka berbinar kala melihat bi Mila yang sedang meniriskan sayur-sayuran di dapur. Memang jaraknya agak jauh dari tangga kamar Raynka namun masih transparan.
Setelah berhasil melewati tangga dengan langkah tergesanya. Dari ujung sana Raynka berlari....
Mengenal akan suara jeritan tersebut, bi Mila menolehkan kepalanya, "Mbak Raynka," desis bi Mila tersenyum, "hati-hati Mbak," imbuh bi Mila khawatir.
Selang beberapa detik dari ucapan bi Mila. Tubuh Raynka hendak mendarat ke lantai lantaran tak melihat adanya lantai yang sedikit menanjak, mujurnya Rafardhan lebih cepat menyangga tubuh Raynka membawanya ke dalam pelukannya. Bi Mila menghembuskan nafas lega. Raynka mengejapkan matanya, istighfar. Astaghfirullahaladzim.
"Lain kali hati-hati ya, jangan terburu-buru, kasian babynya," desis Rafardhan. Raynka mendahului menghela tubuhnya melanjutkan dengan berjalan ke arah bi Mila. Tak terdengar sepatah'pun kata dari Raynka atas peringatan Rafardhan. Sudah biasa, tak apa bagi Rafardhan.
"Bibi, Raynka kangen banget sama Bibi," Raynka memeluk bi Mila menumpahkan segala kerinduannya. Bi Mila mengusap punggung Raynka haru sekaligus bahagia. Raynka yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Bibi juga kangen sekali sama Mbak."
Raynka melihat secumpuk tirisan-tirisan yang telah disisihkan di mangkuk yang berbeda-beda. "Bibi sedang masak? Raynka bantuin yuk Bi! Kan sudah lama tidak masak bareng," ujar Raynka antusias.
"Tidak Mbak, kali ini biar Bibi saja," tolakkan halus bi Mila yang membuat bibir Raynka terkelepai ke bawah. Sejak kapan Raynka merajuk? Ah mungkin efek hamil, pikir bi Mila. Lucu juga.
"Yah, kok gitu.........?"
"Aku yang larang bi Mila. Sebentar lagi kamu ngajar Rayn, aku tidak mau kamu kecapaian," kata Rafardhan yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Raynka pergi begitu saja. "Saya saja Bi yang melanjutkan masaknya, Bibi susul Raynka ya," sambung Rafardhan kepada bi Mila.
"Ta-tap...." suara bi Mila yang hendak menolak, namun Rafardhan menampilkan tampang muka memohonnya, dengan begitu tak enak hati bi Mila terpaksa mengangguk dan menyusul Raynka yang tadinya berjalan kearah ruang keluarga. Rafardhan tersenyum singkat.
"Mbak kenapa? Ah maksud Bibi Ibu, maaf ya Bu, Bibi lupa," bi Mila cengar-cengir menggoda Raynka seraya duduk disofa sebelah Raynka.
Raynka menoleh menatap bi Mila.
"Bibi apaan sih? Ini masih Raynka loh Bi. Maaffin Raynka padahal Bibi sering bilang ke Raynka buat jaga diri, maaffin Raynka Bi.....Raynka gagal menjaga kehormatan Raynka," Bi Mila tak sanggup menahan tangisnya mendengar kalimat Raynka yang membangkitkan degupan jantungnya. Bi Mila membawa Raynka ke pelukannya. Raynka menumpahkan air matanya dipunggung bi Mila.
"Sudah Mbak, jangan seperti ini, Bibi sudah mengetahui semuanya. Mungkin inilah takdir Allah untuk menyatukan Mbak dan bapak. Mbak harus ikhlas ya. Raynka yang Bibi adalah seorang gadis yang ceria dan pemaaf. Mbak tidak boleh terus-menerus membenci bapak," bi Mila membersihkan genangan air mata di sekujur pipi dan mata Raynka. Raynka tersenyum hampa. Bi Mila begitu baik, tak sedikitpun kecewa terhadapnya.
__ADS_1
Tatapan mata bi Mila tertuju pada perut Raynka yang masih merata, "berapa bulan, Mbak?" Tanya bi Mila.
Raynka menggeleng, "Raynka tidak tahu, Bi," kepalanya merunduk, lebih tepatnya terkesan bodo amat, tak acuh. Ia sama sekali tak ingin membahas perkara ini yang selalu berhasil mengubah moodnya.
Mendengar jawaban tak menarik dari Raynka bi Mila seakan paham permasalahannya. Bi Mila menggenggam salah satu tangan Raynka, "Mbak tidak boleh seperti ini, dedeknya tidak salah, Mbak."
"Emmm Bi.....Raynka mau ke kamar dulu, ingin siap-siap," inilah cara ampuh satu-satunya untuk mengalihkan pembicaraan tadi. Bi Mila hanya mengangguk.
...π¦π¦π¦...
Rafardhan membuka lebar pintu kamar Raynka yang tak terlalu tertutup rapat agar ia bisa masuk ke dalamnya. Mendengar suara pintu Raynka menoleh, melihat orang yang akan masuk Raynka memutar kepala malas. "Mau pergi ngajar?" Tanya Rafardhan diambang pintu kamar. Ia menghantarkan segelas susu beserta semangkuk sup jagung.
"Tidak usah bertanya kalau hanya sekedar cari perhatian. Cih, pura-pura tidak tahu," sambutnya kesal. Mencari hijab yang ia inginkan tak kunjung temu.
"Kamu cantik," kagum Rafardhan untuk pertama kalinya melihat rambut panjang Raynka yang terurai indah. Raynka berpura-pura tuli seakan tak mendengar, ia masih mencari hijab tersebut yang ia'pun tak tahu terakhir meletakkannya di mana. Justru Raynka tak terperanjat seperti kebanyakan orang, bukankah Rafardhan suami sahnya? Tidak berdosa bukan bila melihat auratnya?
"Biar aku yang mencari hijabnya! Sekarang waktunya kamu sarapan," dahulu inilah yang dilakukan Raynka setiap pagi kepada Rafardhan, kini malah berganti. Rafardhan mendekati Raynka yang masih mengutik isi lemari khusus hijabnya.
"Ini perintah bukan tawaran, oke Sayang!" Rafardhan menutup lemari tersebut. Menggandeng pergelangan tangan Raynka mendudukkannya disofa yang ada dikamar. Anehnya Raynka menurut dan duduk. Kemudian Rafardhan mengambil semangkuk sup dan memberinya kepada Raynka.
"Tunggu sebentar."
Rafardhan berjalan ke lemari tadi. Sedikit berjongkok, tangannya merogoh ke bawah bagian dalam yang tertutup pakaian-pakaian gamis Raynka. Terasa seperti bahan hijab Raynka, Rafardhan menghelanya, lalu menghampiri Raynka.
"Nih," Rafardhan menyodorkannya kepada Raynka.
Mata Raynka membulat sempurna, "loh kok ada? Jangan-jangan Anda yang umpetin?" Tuduh Raynka sebal. Sedari tadi ia mencari sama sekali tak ada jejak, giliran Rafardhan yang hanya beberap menit langsung nimbrung.
Rafardhan terkekeh geli, "suudzon sama suami dosa loh, Sayang," Raynka melengos.
"Bisakan tidak pakai sayang, menjijikkan!"
__ADS_1
Sekilas Rafardhan menoleh menatap kedua cangkir tersebut yang terisi penuh. Rafardhan mendekati Raynka yang sibuk memakai hijab di depan cermin. "Rayn, kamu belum minum? Aku suapin ya? Nih, Aaa," tangan Rafardhan meraba salah satu gelas tersebut, lalu mengarahkannya ke mulut Raynka. Raynka membuka mulutnya. Karena gelas tersebut bermug insulated stainless maka tak terawang isi dalamnya.
Layaknya rasa vanilla, sedikit kental. Sejak kapan rasa air putih begini? Raynka memuntahkannya tepat dibaju kemeja putih polos yang dikenakan Rafardhan. Tak hanya susu, Raynka memuntahkan semua isi perutnya. Rafardhan terperanjat kaget melihat warna air yang tersembur dari mulut Raynka.
"Anda ingin membunuh saya! Sudah saya katakan berkali-kali Rafardhan, 'Saya tidak suka susu!' kurang jelas dibagian mananya lagi? Apakah Anda ingin menguji saya, hah?! Anda pikir saya berpura-pura?! Ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya. Jangan salahkan tindakan saya jika Anda masih keukeuh berlanjut," sentak Raynka emosi, "keluar dari kamar saya! Pergi!" Imbuhnya.
Rafardhan melirik gelas kaca yang masih di genggaman tangannya, mengapa susu? Aish ia pasti salah gelas. Lihatlah betapa ceroboh dirinya.
"Sungguh Rayn, aku tidak sengaja......maaf."
...π¦π¦π¦...
"Tumben lo ke sini," sindir Gieenza masuk ke dalam ruangannya yang langsung terlihat Rafardhan duduk dikursi berhadapan yang biasa ia duduk.
Setelah Gieenza duduk, baru Rafardhan mulai berbicara. "Ada hal yang ingin gue tanyain dan gue tidak menerima respon 'Tidak tahu'. Lo habis dari mana, meeting?"
Gieenza menggangguk, "hum. Sepertinya serius sekali sampai lo bela-belain untuk kesini. Memangnya ada apa?" Tanya Gieenze penasaran. Tak biasanya sahabatnya ini begini.
"Kak, gue yakin lo sudah pengalaman. Wanita yang sedang hamil kalau tidak minum susu hamil bagaimana? Maksud gue tidak apa-apa atau memang diharuskan untuk minum?" Sahut Rafardhan mengajukan pertanyaan yang membuat Gieenza terkakak.
"Aish Kak, gue serius," tegur Rafardhan.
"Dek, Dek, lo sudah seperti mau jadi bapak saja," kata Gieenza tertawa geli. "Dulu sih istri gue juga begitu. Tapi kata dokter tidak masalah asalkan makanannya dijaga. Susu itu hanya sebagai tambahan. Selama makanan yang dimakan mengandung gizi yang lengkap seperti (Karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin dan mineral) maka tak apa. Kan kasian kalau ada bumil yang alergi susu diharuskan, ya tidak?"
"The best," Rafardhan mengacungkan jempolnya sembari berdiri. Gieenza menghembuskan nafas kaget. "Dari dulu juga gue memang sudah jadi bapak kali. Kemarin yang lo tegur istri gue, dia lagi hamil mangkanya gue nanya sama lo. Thankyou Brother. Gue balik ya Kak."
Gieenza tertawa terbahak-bahak, "pedofil lo, Dek."
Sekilas Rafardhan menoleh ke belakang, "sebahagia lo, Kak," hatinya begitu lega. Perkara susu hampir aman. Tinggal mengejar maaf Raynka, meski ia tahu tidaklah mudah.
Bersambung.......
__ADS_1