
"Kenapa tidak belanja di supermarket saja sih, Rayn? Habis hujan beginikan pasar becek tauk," rutuk Chika. Mana bisa ia menang dari Raynka.
"Lebay banget sih. Lagian ya Chik belanja di pasar tuh banyak untungnya, ya salah satunya harganya murah. Anggap saja buat lo belajar jadi ibu rumah tangga yang baik karena hemat nggak ngabisin duit suami," sahutnya tak mau kalah. Raynka menggandeng telapak tangan Chika, "yaudah yuk masuk! Tidak usah cemberut lo udah jelek tambah jelek, tidak cocok," seperti inikah caranya membujuk?
"Semuanya lo kaitkan sama duit. Coba saja kalau lagi makan sup jagung mana ada lo mikirin harga. Berapapun harganya, lanjakan!" Cibir Chika.
"Hey, kenapa jadi bahas sup jagung?" Balas tak terima Raynka. Sambil berjalan sepasang matanya celingukan, "Chik lo lihat deh itu jagungnya muda banget, beli yuk!" Chika menoleh kearah tempat yang dituding Raynka dengan jemari telunjuknya.
Chika menatap Raynka, bibirnya tersenyum, Chika mengangguk girang. Menoleh ke sana lagi sekonyong-konyong tempat penjual jagung itu dikerubungi banyaknya ibu-ibu yang seketika memudarkan senyumnya, "yah Rayn ramai, kita tunggu di sini ajalah. Gue malas ngantri," Chika menjatuhkan bokongnya, duduk dibangku belakangnya. Yang diikuti oleh Raynka.
"Mah masih lama nggak sih Mah? Abang pengap Mah di sini. Abang tunggu di luar aja ya?" Keluh Difka kepada mamanya yang sibuk memilih cabai dan bawang ditengahi dua ibu-ibu paruh baya.
"Yaudah, tapi setengah jam lagi Abang balik lagi kesini, bawain belanjaan Mama. Soalnya Mama akan belanja banyak," sahut Dianka tak sedetikpun mengalihkan fokusnya dari cabai dan bawang.
"Iya deh, Mah," kata Difka lesu lalu berjalan keluar dari tempat keramaian tersebut. 'Ibu bidadari' batinnya. Dengan percaya diri akan idenya yang ia anggap seratus persen berhasil, Difka melangkah menghampiri yang katanya 'Ibu Bidadari'.
Diiringi tampang paniknya Difka mengangkat satu-persatu bakul-bakul kosong di sekitar sana, "handphone gue mana ya? Perasaan tadi jatuhnya di sini," monolognya pelan.
"Rayn, tuh orang kenapa?" Tanya Chika heran melihat orang di depannya yang seperti sedang kehilangan.
Raynka mengangkat sepasang bahunya tak acuh, "mana gue tahu."
Difka memutar tubuhnya ke belakang, "mohon maaf Mbak, apakah Mbak melihat ada handphone yang jatuh?" Kata Difka panik menatap ke bawah.
"Kita juga tidak tahu, Mas. Soalnya kita juga barusan duduk di sini ya, Chik?"
"Iya," timpal Chika.
"Memangnya situ yakin jatuhnya di sini? Apa cuman mau modusin kita doang?" Galak Chika menatap Difka remeh. Hati Difka kesal bukan main. Selangkah lagi ia berhasil. Tolonglah.
"Benar begitu, Mas?" Tanya Raynka ikut menimpali.
__ADS_1
"Ti........" Difka mengangkat kepalanya, "sebentar, Ibu.......gurunya adik saya'kan?" Dramanya sok mikir. Raynka mengangguk sembari tersenyum.
"Boleh tidak Bu saya minta tolong untuk menghubungi handphone saya? Saya baru pertama kali ke sini, jadi saya kurang hafal tempat-tempatnya. Mama saya sedang belanja takutnya nanti beliau mencari saya," kata Difta dengan tampang iba diikuti nada suara memohonnya.
"Udah Rayn jangan percaya dianya modus pasti, lihat noh kumisnya gerak-gerak," Raynka dan Difka sama-sama menatap Chika bingung, hubungannya apa dengan kumis? Kata orang, wanita yang paling dalam patah hati adalah wanita yang sulit percaya sama omongan laki-laki. Lantas Chika ini apa? Dianya saja masih murni sebagai jomblo ting-ting.
"Tidak boleh begitu Chik, kasian ibunya," bela Raynka. Bohong atau tidaknya kalau sudah berkaitan dengan seorang ibu mana mungkin Raynka tega.
'Sukurin lo emang enak' batin Difka mengumpati Chika. Bukannya ia pengecut namun kalau secara terang-terangan bisa-bisa kodratnya jatuh di depan ibu bidadarinya.
"Hafal nomornya'kan? Sebutkan ya, biar saya hubungi," ujar Raynka merabah ponselnya dibalik tas selempang yang ia gunakan. Difka menyebutkan satu-persatu angkanya. Raynka mencatat kemudian menghubunginya.
'Huh berhasil juga' batinnya. Tak apalah sedikit berdusta, cinta butuh perjuangan. Difka mengolok Chika dengan mengajurkan
lidahnya. Chika mengucap kalimat kesal yang tertahan di bibirnya, yang Difka lihat 'Apa lo, apa'
...π¦π¦π¦...
"Bunda, itu nasi kotak buat siapa? Kok banyak banget," tanya Rily kepada Raynka yang keluar dari kamar mandi.
"Salam dulu dong. Salamnya mana?" Tegur Raynka mendekati Rily.
"Assalamu'alaikum, Bunda," kata Rily cengengesan mencium punggung tangan Raynka.
"Wa'alaikumsalam. Oh iya nasi kotak ini akan Bu-bunda antar ke panti, Kakak mau ikut? Eh tapi tak usah Kakak baru pulang kuliah," untuk kali ini dan seterusnya Rily bolehkan bundanya ini memanggilnya dengan sebutan 'Kakak' toh bukan sebagai seorang adik, melainkan seorang ibu yang mengajarkan anak-anaknya.
Cepat-cepat langsung disambut Rily, "tidak-tidak Bunda tidak boleh pergi kalau bukan Kakak yang antar. Kakak nggak mau Bunda capek. Kakak yang antar ya? Kakak tidak capek kok, Kakak tuh say........" Rily bungkam kala jemari telunjuk Raynka tertempel di bibirnya.
"Panjang banget. Yaudah deh kamu boleh antarin Bunda, tapi sebelumnya Kakak harus mandi dulu! Hum udah asem," gurau Raynka menjauh dari Rily, mengibaskan tangannya lalu menutup lubang hidungnya.
"Bunda, ihhhhh," rengek Rily mendekati Raynka dan memeluknya. Raynka terkekeh geli.
__ADS_1
Sesuai titahan Raynka. Rily menghantar bundanya ke panti asuhan, pun Rily juga tak tahu sebenarnya ada urusan apa bundanya ini. Disepanjang jalan Rily mengikuti jalan yang diarahkan bundanya. Cukup jauh, kira-kira memakan waktu satu jam, barulah mobil tersebut berhenti.
"Bunda, benar ini panti asuhannya?" Tanya Rily terbaca nama panti asuhan tersebut yakni, 'Setulus Cinta Bunda'.
"Iya kok benar, ayo turun!" Rily menganggukkan kepalanya lalu keduanya bersamaan turun dari mobil.
"Assalamu'alaikum, Bu," Raynka memulai percakapannya dengan mengucap salam kepada ibu panti yang sedang menyapu halaman.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Neng?" Sahut ibu panti yang sekilas sepertinya tak mengenali wajah Raynka.
"Benarkah Ibu tidak mengenal saya?" Tanya Raynka lagi. Bu panti menatap sungguh-sungguh wajah Raynka, ia setengah mengenal gadis ini. Dari mata, alis dan bentuk wajah yang benar-benar mirip seperti.......
Bu panti menjatuhkan sapu lidi yang digenggamnya. "Raynka. MasyaAllah, apa kabar Nak?" Tangis bahagia berlinang dimata bu panti. Beliau memeluk Raynka erat, menumpahkan kerinduan yang teramat, menyeka-nyeka punggung Raynka dengan kasih sayang.
"Iya, Bu. Ini Raynka," jawab Raynka terisak. Rily hanya berdiri diam. Membiarkan bundanya melepas rindu kepada bu panti yang ia sendiri tak tahu hubungannya apa? Benarkah dahulu bundanya pernah berteduh di tempat ini?
Bu panti melepaskan pelukannya.
"Kenapa tidak pernah main kesini lagi, Nak. Ibu kangen sekali sama kamu."
"Ceritanya panjang, Bu. Raynka ceritain di dalam saja ya Bu, sekalian Raynka juga mau ketemu sama adik-adik," ujar Raynka. Bu panti mengangguk setuju.
Bu panti menoleh menatap Rily yang sedari tadi berdiam diri di sebelah Raynka. Rily tersenyum kikuk. Ia menjulurkan tangannya kepada bu panti, "aku Rily Bu, an..........." Rily yang hendak memperkenalkan diri sebagai anak Raynka.
Namun dengan cepatnya Raynka menyambar, "oh iya Bu, ini kakaknya Raynka namanya kak Rily," potong Raynka kepada bu panti.
"Salam kenal ya, Neng," Bu panti menyambut uluran tangan Rily diikuti senyuman.
"Salam kenal kembali, Bu," Rily berusaha menyungging senyuman dibibirnya. Sesesak ini dadanya. Namun tak apa Rily hargai keputusan bundanya. Mungkin belum siap. Tak apa ia mengerti. 'Percayalah, aku mencintai Bunda seperti ibuku, bukan adikku'
Bersambung.......
__ADS_1