
Setelah ia sibuk dengan tubuhnya sedari tadi di kamar mandi. Kini Raynka sudah kembali duduk di kursi meja belajar, sekaligus ditemani oleh sebuah buku catatannya dan bolpoin yang tertata rapi di atas buku.
"Dear dairy, aku kembali lagi dengan jiwa yang lelah. Aku yang sekarang sedang berantakan tak tahu bagaimana kembali baik-baik saja? Aku, seperti bukan aku yang lemah. Tapi bagaimana? Bukankah aku juga bisa kalah? Aku tak pernah bilang aku kuat, tapi hatiku selalu memberi semangat untuk selalu bisa. Tapi kini, dengan cara apalagi aku bertahan? Sedang kepingan hatiku mustahil tertata seperti sedia kala. Aku tak pernah egois dengan hidupku. Aku juga bukan orang-orang yang setelah menyesal mengatakan kata 'andai'. Aku tak bodoh. Semua yang sudah terjadi tak bisa kembali. Tak tahu lagi apa yang harus aku tulis? Haruskah aku lebih lama lagi untuk sanggup tahan banting? Menjadi sebatang kara sepertiku sangat mendewasakan."
Raynka menutup buku catatannya. Hatinya sudah sedikit tenang setelah berkeluh kesah ditiap-tiap tinta bolpoin yang terbentuk kata. Ia letakkan diary itu ke tempat semula.
Raynka menatap nanar bed cover yang tergeletak di lantai. Ia membawanya ke dalam kamar mandi yang ada di rooftop agar ketika ia menjemur nanti tak perlu rumit.
"Maaffin aku yah, gagal untuk melindungi diriku sendiri," cukup lama ia memandangi darah itu. Kadang harus dengan cara sekeji itu semuanya lenyap hanya dengan satu malam.
Raynka menghela nafas panjang. Ia menangis sambil sejenak memejamkan matanya. "Udahlah aku nggak boleh egois. Udah ngga'papa cukup aku yang tau. Aku akan menghilangkan jejak ini. Aku terlalu sayang sama kalian, melebihi aku sayang aku."
Setelah Raynka berhasil menghilangkan darahnya, ia membawa bed cover tersebut melanjutkannya di mesin cuci. Mesin cuci itu cukup besar untuk dapat menampung bed
cover tebal. Hanya saja Raynka ingin menghilangkan jejak darahnya menggunakan tangannya sendiri.
Raynka kembali ke kamarnya sesudah menjemur bed cover di rooftop khusus jemur pakaian. Lantaran Raynka yang selalu aktif, membuatnya jemu bermalas-malasan di tempat tidur, sudah hampir 1 jam ia terbaring di sana. Namun, ia juga tak bisa berbohong sampai saat ini selangkangannya masih seperti tadi, yang menjadi penyebabnya sulit berjalan kalau tidak dengan kaki terbuka agak lebar.
Perlahan Raynka bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu kamar. Hendak memutar knop pintu, malah Raynka di perlihatkan oleh kehadiran Rafardhan yang hendak mengetuk pintu. "Ada apa?" Tegurnya dingin.
"Ngapain aja kamu dari tadi? Udah siang gini bukannya masak, malah malas-malasan di kamar. Sana masak, saya lapar," tak perlu lagi di pertanyaan bukan? Sebenarnya Rafardhan juga bisa masak sendiri. Ya tapi begitulah, menurutnya hanya masakan Raynka yang pas di lidahnya. Lagian selama ini Rafardhan juga tak pernah lagi menyibukkan diri di dapur.
"Iya, ini juga Raynka mau ke dapur," sahut Raynka sebelum meninggalkan Rafardhan.
Raynka sudah selesai menyiapkan sayur-sayuran yang hendak di masak. Sudah juga menyiapkan bumbu-bumbu sebagai pelengkap rasa. Sama seperti Rafardhan yang masih setia mengikutinya diam-diam. Dalam penglihatan Rafardhan, Raynka begitu aneh hari ini. Tak seperti biasanya.
Seperti sekarang Raynka memasak sembari melamun tak menentu. Raynka mengambil centong panjang yang ada di dalam panci. Awalnya ia gunakan untuk pengaduk sayur sup, namun secara tak sadar Raynka gunakan juga untuk membolak-balik ikan, baru saja centong panjang itu masuk ke dalam kuali penggoreng ikan, percikan-percikan minyak panas menyerang Raynka.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim," refleks Raynka mengangkat centong itu. Ternyata ia salah. Pantas saja.
Rafardhan yang berjalan dengan langkah panjangnya langsung mematikan kompor. Ia mengalihkan tatapannya pada Raynka, "kamu nggak'papa? Mendingan kamu duduk, biar saya lanjutin masaknya," anggukan kepala yang Raynka jadikan tanggapan sebelum ia berjalan ke arah ruang makan.
Raynka belum siap untuk berdekatan dengan Rafardhan, macam misalnya makan semeja makan. Tanpa berpikir panjang Raynka meninggalkan kursi yang sempat ia duduki tadi. "Mau kemana?"
"Kamar," sekilas Raynka menoleh ke belakang.
"Kamu nggak makan?"
"Masih kenyang."
Rafardhan melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. "Ini sudah jam 10. Duduk, dan makan sama saya!" Titahnya.
"Nggak lapar. Dan juga masih ada yang harus Raynka kerjain," dustanya mencari alasan.
"Kan Raynka udah bilang, nggak lapar," bantah Raynka kekeuh pada pendiriannya.
"Dan, saya nggak suka dibantah!" Rafardhan semakin heran. Sejak kapan Raynka membantahnya? Bahkan untuk hal sepele. Ini seperti bukan Raynka.
Raynka berjalan enggan ke arah meja makan. Dilihatnya Rafardhan yang sudah duduk manis di sana, makanan yang tertata rapih di atas meja, sekaligus 2 piring yang sudah berisi nasi.
Rafardhan maupun Raynka sama-sama menyantap makanannya. Posisi duduk mereka berhadapan. Hanyalah suara dentingan-dentingan sendok yang beradu pada piring mengisi keheningan di meja makan sebelum Rafardhan memulai perbincangan. Raynka menghambiskan makanannya dengan cepat, meski ia tidak nafsu sekalipun. Saking cepatnya ia sampai tersedak. Rafardhan memberinya segelas air putih. Raynka menghabiskannya.
"Kamu kenapa sih?"
"Cuman tersedak," katanya singkat di tengah-tengah menelan makanan.
__ADS_1
"Nggak, bukan yang itu. Menurut saya.....hm kamu sedikit aneh hari ini. Kamu sakit?" Tanpa persetujuan Raynka, Rafardhan menempelkan telapak tangannya didahi Raynka. "Tapi dahi kamu tidak....."
Raynka menjatuhkan tangan Rafardhan dari dahinya, "jangan pernah sentuh!" Rafardhan tercengang mendenger tanggapan Raynka. Raynka beranjak dari duduknya. Rafardhan masih tergeming menatap langkah Raynka.
...🧠🧠🧠...
Lambat-laun hari-hari berganti. Tiap-tiap hari yang Rafardhan lewati rasanya tak seperti dulu lagi. Masih jelas ingatnya, masih sama pertanyaannya, ada apa dengan Raynka? Perubahan yang begitu drastis.
Jika dulu saja sikapnya selalu acuh tak acuh pada Raynka, tetapi Raynka tetap sabar menghadapinya. Apa itu juga bisa dijadikan sebagai alasan atas dinginnya Raynka? Tetapi, Rafardhan tak yakin sepenuhnya.
Kalau harus dibandingkan? Maka harusnya Raynka lah yang lebih sakit. Namun, kenapa hatinya kerap sesak? Rafardhan juga tak lagi mendengar panggilan embel-embel 'Papa' keluar dari mulut Raynka. Layaknya Raynka menganggap dirinya orang asing.
Rafardhan menghirup dalam-dalam asap rokoknya. Sedari tadi asap rokok yang menggebu-gebu keluar dari mulutnya. Kini kamarnya dipenuhi oleh bau menyengatkan. Rafardhan memang tidak setiap hari mendekati barang-barang seperti ini. Hanya bila sedang strees, maka ia tak bisa menjauh dari rokok.
CCTV. Di setiap sudut rumahnya memang sengaja Rafardhan beri CCTV, kecuali di kamar mandi dan kamar tidur.
Rafardhan menaruh rokoknya ke asbak, otomatis apinya punah karena terkena abu. Ia beranjak dari duduknya ke ruang kerja. Rafardhan sengaja meletakkan semua peralatan kantornya di sana, termasuk monitor
Cekatan jarinya mengotak-atik keyboard dan mouse mencari rekaman CCTV beberapa hari lalu. Ia menonton hasil rekaman CCTV hingga selesai. Di sana terlihat jelas wajah pilu Raynka, bagai tak punya hati ia tetap menyeret Raynka. Cukup sampai batas pintu kamar Rafardhan yang masuk rekaman.
Rafardhan sudah mendapatkan jawaban lewat rekaman singkat. Ia benar-benar tak ingat atas kejadian itu. Bukan sengaja melupakan, namun memori ingatannya tidak sampai sana.
Pantas saja ketika ia terbangun dari tidurnya kala itu pakaian sudah tak karuan. Terlihat juga di sprainya noda darah, belum lagi jalan Raynka yang sedikit terbuka. Betapa bodoh dirinya, kenapa tidak langsung menggali jawaban atas semua keanehan. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Hari ke-5 dalam 1 minggu, maka Raynka tersisa waktu 2 hari untuk masih di sini. Apakah Rafardhan bisa memperbaiki semuanya dalam waktu 2 hari?
Rafardhan menjambak rambutnya frustrasi, "aggghhhh, saya nggak'mau kehilangan kamu, Rayn!"
Bersambung.....
__ADS_1