Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 36. Resign


__ADS_3

Sorot mata panda Raynka selalu setia mengarah ke pintu rumah. Sedari tadi ia sangat berharap agar pintu tersebut dibuka oleh seseorang yang ia nantikan hingga kini. Namun sampai saat ini setidakpun belum ada tanda-tanda, sementara jarum jam selalu berjalan.


Raynka teringat dengan message tadi siang. Ia coba membuka WhatsApp-nya melihat message yang sejak siang ia kirim kepada Rafardhan. Masih sama. Tetaplah centang 2 biru tanpa terlihatnya balasan. Raynka kembali mengalihkan tatapannya kearah jam dinding. Jam sudah tertuju pada pukul 24.00 tepat. Ia langsung berlarian masuk kamar mereka. Raynka menutup pintu kamar dengan menghempasnya keras. Kakinya begitu lemas untuk bertumpu, tubuh itu beringsut ke bawah, kondisi wajahnya yang sudah tak terbentuk karena bercucuran air mata.


Hancur. Satu kalimat yang begitu cocok mendeskripsikan dirinya. Hatinya yang sudah bercampur aduk dengan rasa-rasa. Mengapa Rafardhan begitu tega lebih memilih bersama wanita itu daripada pulang menemui dirinya?


"Tuhan, nyatanya kekecewaanku salah. Harusnya dari awal aku memang menerima dengan ikhlas dan pasrah. Tapi apa yang aku lakukan? Kembalikan diriku yang dulu. Ini bukan Raynka. Raynka tidak seperti ini. Aku tahu waktu tak bisa kembali. Tapi, aku ingin dia, ya Allah. Aku terima semua frekuensinya, asal tidak dengan perpisahan. Raynka mohon, kasih Raynka satu kesempatan lagi. Raynka sadar, ternyata Raynka memang tidak bisa tanpa dia."


...🦐🦐🦐...


Keadaannya kini tak beda jauh dari kemarin. Terjadi perubahan hanya pada pusing di kepalanya yang kini sudah agak mendingan, dibawa berjalan juga tidak terlalu berat rasanya. Maka dari itu Raynka takkan lagi menundanya,


setelah semalaman ia berpikir matang-matang pagi ini juga akan segara Raynka laksanakan. Ya, mungkin dengan resign ia akan bisa lebih pokus pada kehidupan rumah tangganya. Ia harus ikhlas merelakan pekerjaannya sebagai pendidik, dan mungkin ia juga harus mengikhlaskan cita-citanya. Dahulu, Raynka mempunyai impian untuk kuliah dari uang hasil jerih payah kerja kerasnya sendiri, maka kala itu setelah lulus sekolah Raynka memutuskan untuk mencari pekerjaan.


Dirinya lulus dari pendidikan SMA diusia 16 tahun. Setengah tahun ia memilih untuk beristirahat sejenak. Diusianya yang menginjak 17 tahun barulah Raynka bekerja, hingga sekarang usianya sudah memasuki usia 19 tahun.


Raynka memoleskan spons bedak ke sekujur mukanya. Sedikit lip blam dibibir tipisnya. Dan hijab yang menutupi dadanya. Cantik itu begitu natural dengan dandanan sederhananya.


Setelah semuanya selesai ia siapkan barulah Raynka pergi ke sekolah dengan diantarkan oleh Rily tentunya. Ia hanya menyuruh Rily untuk menunggu dalam mobil di depan parkiran. Jadi hanya dirinya yang masuk ke dalam.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Bu Zerra," Raynka mengucapkan salam kala langkahnya telah di ambang pintu untuk melangkah ke dalam menghampiri bu Zerra.


Bu Zerra mendongakkan kepalanya menatap kehadiran Raynka dengan wajah bingungnya, "Wa'alaikumsalam. Ada perlu apa Raynka? Bukankah jadwalmu hari ini kosong?"


Raynka menyodorkan amplop surat berwarna cokelatnya dimeja depan muka bu Zerra. "Ini surat resign saya, Bu," ucapnya jelas dengan kepala yang tertunduk sopan.


"Kenapa kamu memutuskan mengundurkan diri? Setahu saya kamu tidak sedikit'pun bermasalah dengan pengajaran? Dan kamu juga tidak pernah bermasalah dengan sekolah? Apa ada alasan lain yang lebih jelas, Raynka?" Ujar bu Zerra yang menginginkan kejelasan.


"Tidak ada kaitannya dengan sekolah, Bu. Ini hanyalah pribadi saya. Saya hanya ingin waktu saya sepenuhnya di rumah, untuk mengurus suami dan anak-anak saya. Saya sangat berterima kasih kepada Ibu karena sudah berkenan untuk menerima saya mengajar di sekolah ini, padahal saat itu umur saya juga belum cukup. Saya sangat berterima kasih kepada Ibu."


"Saya hargai keputusan kamu, Raynka. Jika suatu saat nanti kamu berkenan untuk kembali lagi mengajar, kamu boleh bilang kepada saya, dengan senang hati saya akan menerima kamu. Karena saya melihat bakat kamu dibidang ini. Makanya dari awal saya langsung menerima kamu tanpa memperbincangkan pendidikan terakhirmu sama seperti Chika temanmu," bu Zerra mengeluarkan selembar amplop cokelat yang berisi segepok uang dari laci mejanya. "Ini uang pesangon kamu. Saya kasih 3 kali lipat bonus atas kinerja kamu yang baik," kata bu Zerra menyerahkan pada Raynka seraya tersenyum.


"Tidak perlu berlebihan Raynka. Kamu tidak berbuat salah apapun terhadap saya. Kalau kamu mau, kamu bisa berpamitan dengan anak-anak didik di kelasmu," usul bu Zerra. "Mari saya antarkan!" Raynka menyetujui usulan bu Zerra. Mereka'pun berjalan menuju ruang kelas.


Seorang guru keluar dari kelas karena pelajaran tersebut yang telah usai. Hanya menyunggingkan senyum dan menundukkan kepala saat berpapasan dengan bu Zerra di depan kelas. Bu Zerra dan Raynka memasuki kelas.


"Bunda!" Seru bahagia seisi kelas menatap kehadiran sang wali kelas. Raynka tersenyum melambaikan tangan.


Kemudian ia beralih menatap bu Zerra untuk memulai, "Bu," Bu Zerra yang mengerti'pun mempersilahkan Raynka menyampaikan. Raynka mengangguk setuju.

__ADS_1


Bu Zerra diam di delan. Raynka maju mendekat. "Assalamu'alaikum, Anak-anak."


"Wa'alaikumsalam, Bunda."


"Bunda kangen yah sama kita semua? Makanya Bunda ke sini."


"Iya Bunda, kan hagi ini tidak ada pelajagannya, Bunda," timpal oleh anak yang kurang bisa menyebut huruf 'R'


"Tapi kita semua senang banget kok Bunda datang. Karena belajar sama Bunda seru, tidak seperti bunda-bunda lain yang galak. Iyakan teman-teman?" Celetuk salah satu cowok mungil itu. Kompak semua teman-temannya menjerit mengiyakan.


"Iya dong pastinya Bunda kangen banget sama kalian. Tapi, Bunda minta maaf yah bilah kabar yang Bunda sampaikan membuat kalian semua sedih. Untuk besok dan seterusnya Bunda sudah tidak bisa lagi mengajar kalian semua di sini. Dan permintaan Bunda pada kalian yaitu, kalian tidak boleh nakal, jahil, ataupun bandel sama siapapun guru-guru, pokoknya harus selalu nurut ya Nak, seperti sikap kalian pada Bunda. Bunda maupun guru-guru lainnya itu sama saja Nak, maka dari itu kalian tidak boleh membeda-bedakannya sedikitpun. Oke, anak-anaknya Bunda?"


"Bunda, maksudnya Bunda, Bunda sudah tidak mau lagi yah bermain dan belajar sama kita semua? Tapi kenapa Bunda? Kita'kan tidak pernah tidak nurut kalau sama, Bunda," tangkap cepat si Zyam dengan suara lirihnya.


"Wajahnya jangan pada cemberut gitu dong. Kita masih bisa bertemu sayang. Walaupun Bunda sudah tidak lagi mengajar kalian, tapi Bunda akan selalu sayang sama kalian. Jangan sedih yah. Dan selalu ingat pesan Bunda, oke anak-anaknya Bunda?" Semua murid-murid tergeming. Sontak semuanya serempak membuang muka kecewa.


Bu Zerra mulai angkat mulut, melihat reaksi cemberut anak-anak kecil lucu nan menggemaskan ini. "Loh kok Bunda Raynka-nya dicueki? Yakin tidak ada yang mau salim atau peluk? Ini Bunda-nya sudah mau pergi lo," protes bu Zerra blak-blakan.


"Bunda!" Semenit kemudian anak-anak kecil tersebut bangkit dari tempat duduk. Berkerumunan untuk memeluk Raynka seperti yang disarankan oleh bu Zerra. Sebisa mungkin Raynka juga mengusap satu-persatu punggung anak-anak didiknya. Mungkin inilah terakhir kalinya. Ia tersenyum hampa.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2