
Rafardhan menyiapkan p3k dan tak lupa juga dengan minyak urut untuk Raynka. Sekecewa-kecewanya ia dengan Raynka namun kemarahan maupun bentakan sama sekali tak akan Rafardhan lontarkan. Sungguh, ia tak bisa.
Pertama-tamanya Rafardhan meletakkan yang sudah ia siapkan di dalam kamar dinakas sebelah tempat tidurnya, kemudian ia kembali lagi ke ruang perpustakaan dengan mulut bungkamnya. Rafardhan menggendong Raynka ala bridal style, spontan Raynka terperanjat ia membuka matanya yang sejanak tadi ia pejamkan. "Rafardhan," gumamnya.
Rafardhan mendaratkan tubuh Raynka di atas tempat tidur dengan posisi duduk menjadikan muka ranjang sebagai topangan punggungnya. Menggunakan jemari tangannya Rafardhan membersihkan muka Raynka yang basa bekas air mata. "Maaffin aku ya. Jangan nangis lagi," satu kecupan mendarat manis didahi Raynka. Raynka mengangguk, sedikitpun ia tak berani mengeluarkan suara, toh percuma jika Rafardhan lagi-lagi meninggalkannya.
Rafardhan duduk ditempat tidur. Ia mengangkat kaki Raynka dan meletakkan dipahanya. Perlahan sedikit demi sedikit ia menumpahkan minyak urut tersebut ke kaki Raynka, ia'pun mulai memijatnya. "Sakit?" Raynka menggelengkan kepala.
"Coba tapak kakinya dilantai masih sakit tidak?" Raynka pun melakukannya sesuai dengan titahan Rafardhan. Entah mengapa rasa sakit yang mencengkeram kakinya seperti tadi tidaklah lagi ia rasakan. Saat ini memang sakit namun hanyalah bekas urutan tangan Rafardhan.
"Ma-maaf," lirih Raynka menundukkan kepalanya.
Rafardhan menyetuh kedua rahang Raynka untuk mendongakkan kepalanya. Walaupun kepala Raynka kembali normal namun Raynka tetap menundukan pandangannya. Ia sama sekali tak berani menatap Rafardhan. "Hey Sayang kamu tidak bersalah sama sekali, malah akulah penyebabnya. Kaki kamu masih sakit?"
"Ti-tidak," gugupnya.
"Besok kita ke dokter ya buat periksa keadaan kamu, maukan?"
"Kalau aku bilang nggak mau kamu marah tidak? Kamu percayakan sama aku, kaki aku udah nggak sakit. Dan pada saat aku terjatuh perutku tak tersentuh sama sekali, kalau mereka yang kamu khawatirkan. Hanya kakiku yang terbentur dan meluka. Ak-aku aku takut jarum suntik hiks hiks hiks, a-aku belum siap untuk meninggal. Ma-maaf," lirih Raynka sesenggukan sambil meraih satu tangan Rafardhan lalu mengecupnya lama. Rafardhan mengusap pipi Raynka. Raynka langsung memeluk tubuh Rafardhan erat, menumpahkan air matanya dibahu kokoh Rafardhan.
Jadi ini alasan Raynka selalu membekap matanya kala ia mendesak Raynka untuk melakukan transfusi darah, ini juga alasan Raynka menggigit selembar kain yang bergulung untuk menahan tangisnya? Ya Allah. Sebagai seorang ayah ia sangat berdosa hanya mendengar rintihan dari mulut sepihak, namun pada pihak lain telinganya seakan tuli. "Maaffin aku Rayn, sungguh," katanya tulus. "Tak masalah kalau kamu tak mau."
"Ma-makasih," gagap Raynka. Gelagapan ia melepas pelukannya. Astaghfirullahaladzim, apa yang barusan ia lakukan.
"Kamu tidur ya," ujar Rafardhan mengecup singkat dahi Raynka. Sebelum berakhir tidur terlentang dilantai dengan bantal guling sebagai bantalan kepalanya.
__ADS_1
"Rafardhan," panggil Raynka membenarkan posisi gulingnya diatas tempat tidur menghadap ke samping.
"Iya, Rayn?"
"Apa alasan kamu mencintaiku?" Pertanyaan dari Raynka.
Tangkas langsung ditangkap Rafardhan, "cinta adalah perasaan yang timbul secara tiba-tiba. 1000 bukti yang kucari atas permintaanmu ini pun mustahil kutemukan, karena sejatinya cinta memang tanpa alasan," sahutnya.
"Sampai kapan'pun aku takkan pernah membalasnya Rafardhan, jadi hapuslah perasaanmu untukku. Jangan pernah baper atas semua yang kulakukan dan tetap ingat semuanya karena kedua anak Anda, sepenuhnya bukan kemauanku," kata Raynka datar.
Rafardhan menghela nafas beratnya. "Selamanya aku tetap menunggu. Kalau memang tak bisa, aku ikhlas Rayn. Aku mencintaimu karena Allah. Kebahagiaanmu lebih penting dari segala-galanya."
"Tapi nyatanya kehancuran itu bermula darimu Rafardhan. Jangan pernah lupakan itu," nada suara Raynka memang merendah dari sebelumnya namun entah mengapa begitu menusuk ulu hati Rafardhan.
"Iya aku paham Rayn. Kamu tidur ya, nanti ketika sholat malam ngantuk loh," lerai Rafardhan mengalihkan yang hanya dibalas dehaman oleh Raynka.
"Memangnya aku pernah mengabaikanmu? Terbalik tidak sih?" Rafardhan memang menyebalkan! Lihatlah kini dengan rasa tak bersalah malah menggodanya.
Raynka menguap lebar, "hem ngantuk," katanya.
"Bercanda Rayn bercanda Sayang. Ululu sesedih itu ya Neng dicuekin suaminya, bercanda Rayn hihi. Ingin tahu? Setelah aku angkat telepon aku melihatmu menangis dikamar. Sehabis dokumen itu ditanganku aku juga melihatmu menangis kebetulan ada bibi mangkanya aku suruh bibi yang masuk. Ada aku yang menatap secara tersembunyi disetiap tangisanmu. Awalnya hanya ngetes loh Rayn, maaf ya Sayang."
"Serah!" Umpat Raynka. Bagaimana tak kesal? Ternyata Rafardhan hanya mempermainkannya. Rafardhan menahan kekehan gelinya.
Setelah dirasanya Raynka sudah benar-benar tertidur pulas. Perlahan agar tak tertimbulnya suara Rafardhan keluar dari kamar menuju kamar Rily. "Selamat tidur, Sayang. Selamanya kamu akan tetap menjadi anak Papa Rily," Rafardhan mengecup kening putrinya yang tertidur pulas. Sejenak mengusap kepala Rily sayang lalu kembali lagi ke kamarnya
__ADS_1
...🦐🦐🦐...
Sebelum Adzan subuh berkumandang, ia telah selesai membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat. "Tumben Raynka belum bangun," monolog Rafardhan menatap Raynka yang masih terlelap di atas tempat tidurnya.
"Raynka, bangun yuk sholat dulu setelah itu tidurnya dilanjut lagi," ucapnya berdiri di sebelah tempat tidur. Raynka hanya merespon dengan suara malasnya khas orang bangun tidur dengan memejamkan matanya.
"Hey, nanti waktu subuhnya habis loh. Bangun ya Sayang," Rafardhan menyeka rambut kecil-kecil Raynka berdekatan dahi. Rafardhan terperangah, "Ya Allah Raynka suhu tubuh kamu panas sekali. Kamu sakit, Rayn?" Imbuhnya khawatir.
Raynka menghirup udara melalui hidungnya yang tersumbat. Ia membuka matanya menatap Rafardhan dengan kepalanya yang memutar-mutar. Mengapa tidurnya bisa senyenyak ini sampai-sampai hendak memasuki waktu subuh ia belum apa-apa, pandanglah bahkan penampilan Rafardhan sudah sangat rapih.
"Nggak....... Awwww," hampir berdiri Raynka kembali terduduk sambil memegang kepalanya yang terasa menusuk.
Raynka mencoba bangkit dari duduknya, tapi kali ini malah Rafardhan menahan. "Kepalanya pusing ya? Setelah sholat kamu harus lanjut tidur ya. Sanggup tidak melakukan sholat berdiri? Duduk juga tidak apa-apa. Aku imamin ya. Ayo Rayn aku bantu ambil wudhu," Rafardhan menggendong Raynka ala bridal style. Raynka hanya menurut tanpa menentang. Setelah di depan pintu kamar mandi Rafardhan menurunkan Raynka.
Perlahan Raynka masuk ke dalamnya. Setelah mandi dengan air hangat yang disiapkan oleh Rafardhan dan juga berwudhu. Ia keluar, ternyata Rafardhan masih menunggunya di depan pintu kamar mandi. Raynka memundurkan langkahnya kala Rafardhan mendekati, "a-aku bisa jalan sendiri. Aku sudah wudhu, nanti wudhunya batal kalau kamu menyentuhku," tolaknya.
"Yasudah, pelan-pelan jalannya. Tunggu aku wudhu sebentar," Raynka mengangguk. Kini jalannya melambat, lantaran rasa melayang memenuhi kepalanya. Malahan kini keadaan kakinya terbilang semakin membaik. Sesudah sholat Raynka melanjutkan tidurnya lagi sesuai titahan Rafardhan berfungsi sebagai penghilang rasa pusingnya.
...🦐🦐🦐...
"Untuk hari ini aku tidak izinin kamu ngajar. Kamu harus perbanyak istirahat dan selama di rumah jangan pernah keluar kamar, oke?" Titah Rafardhan menghampiri Raynka yang baru saja membuka matanya sambil memasang dasi.
Mendengar suara Rafardhan sontak Raynka duduk dari rebahannya. "Aku mau ikut kamu ke kantor! Kamu kira tidak bosan seharian di kamar?" Alih-alih mengiyakan gelagatnya Raynka justru kurang setuju dan berakhir membalik. Tak sampai Rafardhan berhasil membuka suaranya, pun Raynka mengimbuh, "tidak ada tapi-tapian, pokoknya aku mau ikut kamu kerja! Istirahat di kantor kan juga bisa, bukankah di ruanganmu juga ada ranjang. Jangan memperbanyak alasan!"
Kalau Raynka sudah begini, ia bisa apa? Semakin Rafardhan larang yakinlah pada akhirnya Raynka menangis. "Iya sudah, boleh. Tapi kamu harus sarapan dulu. Itu, sudah aku siapkan," ucap Rafardhan menuding dengan wajah ke arah meja sofa. Raynka melangkah pasrah.
__ADS_1
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh semuanya, gaes-gaes. Taqabbalallahu Minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum. Minal Aidzin wal Faizin🙏 mohon maaf lahir dan batin. Semoga amalan puasa kita, aku ataupun kalian diterima oleh Allah SWT. Congrat, Yeyy selamat Hari Raya idul Fitri untuk kita yang merayakan.
I Love You All❤️❤️❤️❤️