Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 35. Tak Terduga


__ADS_3

"Masuk, Bi," sahut Raynka dari dalam kamar.


"Mbak, Bibi hanya ingin memastikan apakah Mbak baik-baik saja? Pasalnya sedari tadi Mbak tidak keluar kamar. Wajah Mbak juga pucat sekali," tanpa bicara lagi bi Mila mendaratkan telapak tangannya didahi Raynka untuk memastikan suhu tubuhnya.


"Raynka tidak apa-apa kok, Bi. Hanya sedikit pusing saja," balas Raynka tenang. Bibir pucat itu tersenyum.


"Dahi Mbak sangat panas. Sebentar, Mbak," bergegas si bibi keluar dari kamar Rafardhan menuju dapur untuk menyiapkan peralatan kompres, sup jagung hangat kesukaan Raynka, sekeping obat, berserta segelas air putih. Setelah semuanya sudah selesai, bi Mila kembali lagi ke kamar Rafardhan.


Ternyata Raynka sudah mengubah posisinya menjadi bersandar. Bi Mila menempatkan baki yang ia bawa di atas meja. Ia hanya memegang semangkuk sup untuk Raynka makan lebih dulu. "Ini Mbak, Bibi bawakan sup jagung. Mbak makan dulu saja ya. Bibi suapi ya, Mbak," bi Mila mengarahkan sendok yang menyauk sup ke mulut Raynka.


Raynka memundurkan kepalanya.


"Makasih ya Bi, tapi Raynka bisa makan sendiri nggak'papa," Raynka mengambil mangkuk sup tersebut dari tangan bi Mila. Sepertinya bi Mila pun tak keberatan. "Ini baru jam 3 loh Bi, sebenarnya Raynka tidak lapar. Tapi karena Bibi sudah menyiapkan makanannya ya udah nggak'papa Raynka makan, terima kasih ya Bibi," ungkap Raynka.


"Terima kasih kembali, Mbak. Dihabiskan ya Mbak makanannya. Bibi mau lanjut beres-beres dapur dulu ya Mbak. Kalau sup-nya sudah habis, Mbak bisa menghubungi Bibi," seperti biasa Raynka menanggapi dengan anggukan dan senyuman tipisnya.


Raynka juga tidak tahu, kenapa kepalanya tiba-tiba begitu pusing? Berjalan sebentar saja rasanya seperti melayang-layang. Tapi ia tetap keukeuh, menurutnya ini penting dan sangat-sangat penting. Raynka sedang mengobrak-abrik isi kontak sampah sampai ia berhasil menemukan sebuah kertas yang ia cari, barulah Raynka kembali ke tempat tidur.


"Maaffin aku ya karna selama ini aku nggak pernah hargai kamu. Aku kangen sup jagung buatanmu, aku ingin susu hangat itu, dan aku benar-benar rindu semua tentangmu. Percayalah aku tak akan baik-baik saja tanpamu. Pulang ya, aku janji akan memperbaiki semuanya," tanpa rasa bosan sama sekali berkali-kali Raynka membaca surat yang Rafardhan tulis kala subuh itu, sebelum Rafardhan pergi tak kembali hingga menit ini.


Enak saja. Tidak-tidak ini tidak bisa dibiarkan. Tergesa-gesa Raynka menghabiskan sup jagung buatan bi Mila sampai-sampai ia tersedak. Meski kondisi tubuhnya sudah tak karuan namun ia harus tetap bertenaga. Tak hanya tentang kesiapan hati. Ia harus merubah wajah pucat itu. Ia harus merubah penampilan kumuh dan kusamnya. Ia tak boleh kalah dari wanita itu. Agar Rafardhan bisa kembali kepincut kepadanya.


"Mbak, apakah makanannya sudah habis?" Tegur bibi yang tiba-tiba muncul menatap aneh Raynka yang kular-kilir. Raynka kikuk merasa tercyduk.


Ia'pun duduk di atas ranjang. "Bi, ada nggak yah ngesalon tapi di rumah aja?" Malahan Raynka mengalihkan pertanyaan. Sontak bi Mila melongo Pastinya bukan hanya bi Mila saja. Rily dan Rafardhan pun berekspresi sama. Tidak percaya? Lihat saja nanti.


"Bi," Raynka menggerakkan tangannya di depan wajah bi Mila. Guna menyadarkan bi Mila yang melamun.


Refleks bi Mila bergeleng kepala pelan. "A-anu....maaf Mbak. Iya Mbak ada kok. Itu dulu yang setiap bulannya dipakai sama almarhumah ibu. Dan sepertinya juga Bibi masih menyimpan nomor kantornya. Mbak, mau?" Jelas bi Mila agak keliru.


Wajah Raynka berbinar. "Boleh, Bi. Ba'da ashar ya, Bi," sahutnya antusias.

__ADS_1


"Baik Mbak, nanti Bibi hubungi."


"Makasih, Bibi."


...🦐🦐🦐...


"Assalamu'al," salam Rily dengan matanya yang membulat sempurna dan mulutnya yang menganga lebar setelah membuka pintu rumah. Ia menatap Raynka dari ujung kepala hingga ujung kaki, "laikum," sambung salamnya. "Bundaaaa," serunya berlari menuju Raynka yang telah berdiri dari duduknya. "Ma sya Allah, cantiknya," takjub Rily mengitari tubuh Raynka.


Terlihat begitu anggun. Dengan dress muslimah yang berbahan brokat berwarna lavender dilapisi oleh furing batas betis berpaduan warna light violet. Hijab yang ia lilitkan dileher agar dress-nya dapat terlihat sempurna. Make up tipisnya yang begitu menawan. Begitulah penampilannya.


Raynka tersenyum tersipu. "Chika-nya gimana, Kak? Makasih yah seharian ini sudah menghibur Chika dan anter Chika pulang sampai pulangnya malem-malem gini," ujar Raynka tertawa sedikit menyindir. Sebab kondisi tubuhnya menurun, maka Raynka yang menyuruh Rily menggantikan posisinya untuk Chika.


"Hehehe, aman Bunda," Rily mengacungkan jempolnya. "Oh iya pasti papa belum pulang ya, Bund?" Tanyanya terdengar lirih.


"Ya, begitulah. Udah sana kamu istirahat, ini sudah hampir jam 9," usul Raynka.


"Harusnya aku dong yang bilang seperti itu. Bunda yang istirahat, kan Bunda juga lagi sakit, kan kasian de....."


"Tidak ada bantahan, Rily!" Tangkas Raynka tegas.


"Iya-iya, udah sana!" Respon Raynka terpaksa.


"Dadah Bunda, Assalamu'alaikum, love you," kecupan singkat yang mendarat dipipi Raynka sebelum Rily benar-benar enyah dari ruang tamu. Raynka gelang-gelang kepala.


...🦐🦐🦐...


Bi Mila menjeda langkah kakinya, kala ponselnya berdering, bi Mila pun mengambilnya dari saku baju yang ia pakai. Tumben sekali nomor tak dikenal menghubungi malam-malam begini, pikir bi Mila heran. Namun siapa sangka bi Mila malah menyambutnya.


"Assalamu'alaikum, Bi."


Seketika jantung bi Mila berdegup cepat. Sontak bi Mila menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara itu......"Bapak?" Sebut bi Mila sedikit keras.

__ADS_1


"Iya Bi, ini saya."


"Bagaimana keadaan Bapak sekarang? Bapak sedang berada di mana? Mengapa tiba-tiba Bapak menghilang tanpa kabar?" Tanya bi Mila dengan berbagai macam kelimpungannya beberapa hari ini.


"*Saya tidak mempunyai banyak waktu, Bi. Bagaimana kabar kalian? Apakah semuanya baik-baik saja, Bi*?"


"Tidak ada yang baik setelah Bapak pergi. Sejak siang tadi kondisi tubuh mbak Raynka menurun, Pak. Saya sudah mencoba untuk mengajak ke dokter, namun mbak Raynka menolaknya. Saya khawatir dengan mbak Raynka, Pak. Saya harap Bapak secepatnya pulang ya."


"Bagaimana dengan Rily, Bi?"


"Alhamdulillah mbak Rily baik-baik saja, Pak. Hanya saja mbak Rily terlalu syok saat menonton siaran televisi kecelakaan pesawat, yang mbak Rily kira Bapak termasuk korbannya," jelas bi Mila.


"Sebenarnya hari ini saya akan pulang, Bi. Namun kondisi cuaca di Cirebon kurang baik, jadi saya terpaksa harus mengundurnya menjadi besok," ujar Rafardhan. Sangat legah rasanya hati bi Mila setelah mendengar kalimat ini. Ia tak sabar menyampaikan informasi bahagia yang sangat dinantikan oleh 2 perempuan kesayangannya. "Bi, tolong jangan beri tahu siapa-siapa ya. Rahasiakan saja dulu," ingin sekali bi Mila mengungkapkan kekesalannya.


"Tapi Pak, saya tidak tega dengan mbak Raynka. Bahkan dari kemarin malam beliau menunggu kepulangan Bapak hingga sampai sekarang pun mbak Raynka masih menunggunya di ruang tamu. Oh iya Pak, mbak dandan loh buat Bapak. Mau lihat tidak Pak?" Rafardhan menyunggingkan senyum lebarnya. Mengapa bisa seperti ini? Bahkan sangatlah berbeda jauh dari seminggu yang lalu. Rasanya ia tak sabar untuk menjumpai istri kecilnya.


"Boleh, Bi. Share ke nomor baru saya yang ini ya, Bi. Yasudah saya tutup dulu telfonnya. Assalamu'alaikum, Bi."


"Baiklah Pak, Wa'alaikumsalam."


Bersambung....


Happy Reading 🤗


Yeayy double up👑


Selamat hari Raya Idul Adha yah🎉✨


Bilah ada kata yang kurang pantas, typo yang bertebaran, dan alur yang jauh dari kata menarik. Saya mohon maaf🙏


Semoga bahagia selalu mengiringi kehidupan kalian.

__ADS_1


I Love you, All❤️


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


__ADS_2