
10 menit lalu Raynka menghubungi Rafardhan agar menjemputnya. Lihatlah kini mobil itu terparkir sudah di depan gerbang sekolah TK Aqralexia Diltonrexi Bangsa. Dengan Rafardhan yang berdiri di depan mobil memakai kaca mata hitamnya membuat pasang mata kaum hawa menatap bengong ke arahnya.
'Ganjen banget sih!' Batin Raynka dongkol, pasalnya Rafardhan malah seperti keenakan begitu tebar pesona tak ada risih-risihnya sama sekali. Benar-benar genit.
"Halo, Assalamu'alaikum Mas," sapa Raynka sedikit keras intonasi suaranya yang lebih banyak terdengar sindiran menatap pasang mata di sekitar sana. Ia memalsukan senyumnya lalu mengecup punggung tangan Rafardhan.
"Hay, Waalaikumsalam istriku," kecupan singkat yang Rafardhan berikan didahi Raynka. terbesit dibenak Rafardhan akan tingkah aneh istrinya. Entah apa penyebabnya ia'pun tak tahu namun tak apa ia akan mengikuti kedramatisan istri kecilnya ini agar terlihat menyata sesungguhnya. Boleh juga ia melakukannya dengan hati, sedangkan Raynka......Masih tanda tanya.
Rafardhan membukakan pintu mobil di sebelahnya untuk Raynka, setelah Raynka masuk ke dalam mobil Rafardhan menutupnya lagi. Rafardhan menoleh menatap sekelilingnya sebelum berakhir benar-benar masuk kedalam mobil. Ia menyunggingkan senyum, rupanya ini alasan Raynka.
"Bunda cemburu?"
"Jangan ge'er ya! Saya hanya melindungi Anda dari dosa. Apa maksud Anda tebar pesona didepan cewek-cewek seperti tadi? Berharap mereka terpesona? Atau ingin dikatakan tampan? Cih, tolonganlah ingat umur," sinis Raynka membuang muka menatap kaca samping.
'Tebar pesona bagaimananya? Kalau cemburu akui saja'. Ingin sekali Rafardhan mengucap kalimat itu, namun ia belum siap akan murkanya sang istri, melainkan ia lebih menikmati masa-masa kecemburuan Raynka yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Benar hanya sekedar melindungi? Baiknya istriku," goda Rafardhan mengusap lembut kepala Raynka yang tertutup hijab.
"Apaan sih," juteknya cemberut menjatuhkan tangan Rafardhan. Rafardhan terkekeh geli.
Rafardhan maupun Raynka, sama-sama tak memafhumi bahwa sedari tadi masih setia sepasang mata seseorang yang mengikutinya diam-diam di atas motor. Chika. Iya Chika, dahinya mengernyit melihat keakraban antara Raynka dan papanya. Sejak kapan? Benarkah keduanya menjalin hubungan lain selain sebagai ayah dan anak?
Chika menatap heran kala ayah temannya itu memarkirkan mobil diparkiran sebuah rumah sakit. Ingin sekali Chika turun dan menghampiri Raynka karena rasa khawatirnya yang menyala-nyala, namun dengan sabar ia berusaha menahan langkahnya untuk mencari waktu yang lebih tepat.
Setelah Raynka dan Rafardhan masuk ke dalam rumah sakit. Chika memarkirkan motornya lalu berjalan mengendap-endap untuk masuk ke dalam. Selangkah lagi mencapai pintu masuk, malah tubuhnya seperti melayang diangkat seseorang dengan kedua tangan orang tersebut berpegang diperutnya. Chika menjerit-jerit. Sebab jeritan Chika orang tersebut terpaksa menggunakan kekuatan larinya membawa Chika menjauh dari rumah sakit.
Akhirnya seseorang itu mendaratkan kakinya lagi ditanah. "Lo! Lo yang modusin gue sama teman gue dipasar'kan? Apa maksud lo bawa gue ke sini? Lo! Gara-gara lo rencana gue gagal!" Chika melampiaskan kekesalannya melalui sentakan berapi-apinya dan tunjukkan jemari telunjuknya di depan muka Difka sembari matanya melotot.
Begitu santainya Difka malah menenggelamkan jemari telunjuk Chika di dalam mulutnya, menjepit dengan bibir atas serta bawah. Chika menganga tak percaya, "woi cowok stres, lepas! Apaan sih lo!" Tangannya meronta-ronta, namun tak mengubah apapun.
__ADS_1
Lantaran ingin berbicara ia ganti menjadi gigi atas dan bawahnya sebagai jepitan jemari Chika, "gue bakalan lepasin, asal lo janji akan ikuti satu permintaan gue. Deal," kira-kira seperti itulah kalimat yang Difka ucapkan dengan lidah keseleonya.
"Enak aja lo main janji-janji kenal lo aja enggak. Gue bisa teriak kalau lo nggak mau lepasin!" Ancam Chika.
"Silahkan! Lo juga yang nanggung malu. Orang bakal ngira lo seperti ini, 'Cewek hijab kok mau saja jarinya dikulum sama pria non mahramnya' Orang-orang bakal mikir lo jelek. Lagian ya lo tinggal ikuti satu permintaan gue aja susah banget."
"Kenapa harus gue? Cewek didunia ini banyak, cowok stress. Jangan-jangan lo sudah tergila-gila ya sama gue? Hahahah percuma gue nggak akan mau sama cowok stres kayak lo," sinis Chika percaya diri. Difka tersenyum devil menatap sekelilingnya yang ia'pun tak tahu sejak kapan dua pak sekuriti itu menatap intens ke arahnya dan Chika. Chika mengikuti arah tatapan mata Difka. Ia menelan salivanya sulit. Melihat tatapan pak sekuriti itu pastinya ia sedang tercyduk ini.
"Kayaknya sebentar lagi kita bakal dibawa ke KUA deh, tercyduk berbuat mesum ditempat sepi," ucap Difka santai menakut-nakuti Chika.
"Loooooo! Semuanya gara-gara lo," Chika memelankan suaranya menahan rasa kesal. Salahnya di mana sampai-sampai ia harus bertemu manusia stres ini. Ia hanya ingin mencari tahu mengenai Raynka. Malah sia-sia belaka yang ia dapat.
"Mau'kan ikuti permintaan gue?
"Kalau bukan karena ketahuan gini ogah gue penuhi permintaan lo. Cepetan lepas!" Ujar Chika menekan setiap kata dalam kalimatnya menanggapi Difka yang selalu menganggap santai.
"Gue bisa jalan sendiri dan lo tenang aja gue nggak bakal kabur, puas lo!" Chika menyentak tangannya hingga genggaman tangan Difka terputus. Difka berjalan mendahului Chika. Setelah terlihat mobilnya Difka masuk ke dalam diikuti Chika yang duduk dibangku penumpang.
"Oke, untuk kali ini gue maklumi lo jadiin gue supir," pasrahnya. "Gue Difka, nama lo siapa?"
"Memangnya lo mau bawa gue ke mana?" Tanya Chika.
"Lihat aja nanti. Nama lo siapa?" Tanya Difka mengulangi pertanyaannya yang dialihkan Chika.
"Chika," sahutnya singkat.
Hening. Keduanya sama-sama terdiam menelusuri perjalanan dengan penuh keheningan. Difka sama sekali tak berniat berterus terang kepada Chika, Chika'pun tak lagi bertanya.
Difka memarkirkan mobilnya di depan cafe Xenxo Fixys. Hendak keluar dari mobil Chika bertanya seraya menyatukan sepasang alisnya, "lo ngapain bawa gue ke cafe? Kalau cuma mau traktir makan, nggak usah. Gue sudah kenyang."
__ADS_1
"Dih ge'er lo, ayo turun! Tidak usah banyak protes!" Difka mengajak Chika ke lantai cafe paling atas melainkan rofftop, tempat favoritnya dulu bersama sang mantan kekasih.
"Say- - -yang," Bilsha menoleh menatap Difka namun tatapan mata Bilsha jatuh kepada seorang perempuan di sebelah Difka. Lantas itu sapaannya terbata.
Difka merangkul bahu Chika. Chika meronta pelan. "Hay Bil kenalin calon istri gue, oh iya tiga bulan lagi kita akan menikah, ya nikahnya sih nggak di sini, tapi kalau lo mau dateng ya silakan. Gue undang kok," mata Chika membulat sempurna. Berpura-pura menjadi calon istri Difka, ini permintaan si stres begitu?
"Mbak, kenalin aku Bilsha mantannya calon suami Mbak. Sakinah mawadah warahmah ya Mbak. Jagain mantan aku," Bilsha menjulurkan tangannya kepada Chika sembari melengkungkan senyumnya susah payah. Chika bersigap menyambut seraya tersenyum kikuk.
"Difka aku ikhlas kok kamu sama Mbak ini karena dia lebih baik daripada aku. Semoga semuanya lancar dan bahagia ya buat kalian berdua," imbuh Bilsha menahan isaknya menatap wajah Difka. "Aku pamit ya. Makasih Difka udah buktiin janji kamu," Bilsha langsung berlalu pergi dari sana.
Chika menyibak kasar tangan Difka dari bahunya. "Lo tuh playboy banget sih jadi cowok! Kasian tauk mbaknya sedih, lo tuh emang......dasar cowok nggak punya perasaan," Chika yang langsung paham konfliknya'pun protes tak terima.
"Ya gue ngelakuin ini demi bidadari gue. Cinta butuh perjuangan, lo aja nggak ngerti cinta-cintaan, sok lo," bela Difka tak mau kalah.
"Mit-amit gue nggak mau jadi bidadari lo. Gue tuh nggak suka sama cowok stres kayak lo, Difka!"
"Eh cewek aneh. Mana mau juga gue sama lo petakilan. Asal lo tau ya gue tuh terpaksa ngelakuin ini, lo belum lihat aja betapa banyaknya cewek yang ngantri jadi pacar gue. Ya karena tadi tuh gue cuma ketemu sama lo yaudah gue tidak ada pilihan lain. Dan perlu Lo ingat bidadari gue tuh teman lo, Raynka. Jadi nggak usah ge'er lo apalagi berharap jadi pacar gue," belanya lagi pada dirinya berintonasi suara percaya diri dan bumbu-bumbu lengkap kePlayboyannya. Chika memalingkan wajah muak.
...π¦π¦π¦...
Rafardhan memandangi layar USG tersebut dengan raut wajah bahagia. Kedua calon anaknya, sangatlah tak sabar ia menanti kelahiran yang tepat. Berbeda dengan Raynka yang sama sekali tak berkenan menoleh ke layar tersebut.
"Usia kandungan Bu Raynka yaitu memasuki usia 1 bulan setengah atau bisa disebut dengan 6 minggu. Posisi bayinya juga bagus tidak perlu ada yang di khawatirkan. Namun, perubahan hormon yang terkadang tak menentu memang sangat wajar terjadi pada ibu mengandung, saya harap Bapak memahaminya dan lebih bebesar hati lagi. Usia Bu Raynka yang masih terbilang cukup muda sering kali membuat Ibu kewalahan apalagi pada kehamilan pertama, dijaga baik-baik ya Pak istrinya jangan sampai kondisi tubuh beliau drop. Bapak dan Ibu bisa kembali lagi ke sini setiap dua minggu sekali untuk melihat perkembangan sang janin. Semua resep dan vitaminnya sudah saya siapkan, diminum secara teratur ya, Bu," penjelasan dari dokter Willa kepada Raynka dan Rafardhan, yang didengar jelih oleh Rafardhan, namun bagaikan angin yang lewat sesaat bagi Raynka.
"Boleh saya minta foto USG-nya, dok?" Ujar Rafardhan.
"Baik Pak," sahut dokter Willa.
Bersambung........
__ADS_1