Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 30. Menanti Kabar


__ADS_3

Raynka mulai menyiapkan sayur-sayuran, dan beberapa lauk pauk keluar dari lemari pendingin. Bi Mila yang menyaksikannya tergesa-gesa menghampiri Raynka yang masih berdiri di depan lemari pendingin. "Mbak mau masak yah? Jangan Mbak, biar Bibi saja," bi Mila menutup lemari pendingin.


"Kan tadi pagi Bibi sudah. Sekarang gantian Raynka loh Bi," bantahnya terlalu gengsi mengutarakan niat sesungguhnya.


"Tadi pagi Mbak juga ikut bantu loh Mbak. Nanti kalau bapak tahu, Bibi tidak enak Mbak sama bapak. Bapak bilang Mbak tidak boleh memasak dulu," tolak bi Mila lagi keukeuh.


Raynka juga sebenarnya tak tegah menatap wajah permohonan bi Mila. Sepertinya ia harus mengungkapkannya. "Bi, Raynka beneran loh. Ra-raynka, Raynka masak makanan kesukaan Rafardhan. Bibi tidak lihat menunya?" Ungkapnya sedikit malu. Raynka maju 3 langkah mendekati meja tersebut.


Spontan bi Mila menolehkan kepalanya melihat bahan-bahan masakan yang tersusun di atas meja dapur. Bi Mila tersenyum menggodanya. "Mbak, mau Bibi bantuin tidak Mbak?" Tanya si bibi. Yang tadinya melarang gelagatnya menyetujui malah ikut menawarkan diri.


"Emmm.........tidak perlu, Bi. Ra-raynka bisa sendiri kok. Bibi kerjain yang lain saja. Kalau tidak ada yaudah Bibi istirahat saja," sahutnya tak lagi memperdulikan kehadiran bibi, melainkan Raynka telah disibukkan dengan pekerjaan tangan dihadapannya.


"Yasudah, Mbak. Tapi, ingat ya Mbak kalau cape' Mbak bisa panggil Bibi. Bibi ke depan dulu ya, Mbak," ujar si bibi sebelum beranjak dari dapur. Raynka menganggukkan kepala singkat.


...🦐🦐🦐...


Raynka berjalan mondar-mandir di ruang tamu mengarah ke pintu utama seraya tak pernah bosan dirinya menatapi jam yang tertera di ponselnya. "Udah jam segini. Kok dia belum pulang sih? Aduh, mana perutku lapar banget lagi," erang Raynka memegang perut keroncongannya sebab dari sore hari tadi makanan sama sekali tak masuk ke dalam sana.


30 menit Raynka melakukannya hingga kini jam tertuju pada pukul 21.00 namun kehadiran Rafardhan sama sekali tak terlihat. Akhirnya Raynka'pun memutuskan duduk di salah satu sofa ruang tamu. Ia membaringkan tubuhnya disofa tersebut. Tanpa sadar Raynka memejamkan matanya sebagai rasa laparnya.


Sekaan lembut tangan seseorang di sekujur wajahnya menyeka genangan keringat yang membasahi wajahnya. Sebelum Raynka berhasil membuka kedua matanya, tangan seseorang tersebut sudah berpindah di perutnya. Mengusap sayang perutnya.


"Bagaimana kabar kalian?" Mata Raynka terbuka sempurna mendengar suara bariton yang beberapa hari ini berhasil mengosongkan ruang isi hatinya.

__ADS_1


"Ra-rafardhan," bergegas Raynka bangkit dari tidurnya. Ia mengucak matanya, kemudian membuka matanya lagi. Ternyata benar ia sedang tak bermimpi. Raynka langsung memeluk tubuh itu. "Ini beneran kamu? Kamu ke mana aja?" Gumamnya pelan seraya terisak.


"Hey Sayang, kok nangis? Kenapa hm? Lepas dulu ya," Rafardhan berusaha melarikan tangan Raynka dari tubuhnya. Justru tangan itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Nggak mau," bantahnya cemberut. "Jelasin dulu, gimana caranya kamu bisa ada di sini?"


"Maksudmu? Siaran televisi tadi siang, begitu?" Raynka menganggukkan kepalanya singkat. "Oke, aku jelaskan. Masih ingin sambil seperti inikah?" Gelagapan Raynka menarik tangannya, menghapus sisa-sisa air matanya, dan kembali duduk semula dengan dadanya yang berdegup cepat menahan malu.


"Khilaf! Tidak usah ge'er," ungkapnya datar.


Rafardhan memutar tubuhnya. Ia melangkah menuju ke pintu utama. Barulah 3 langkah, kakinya dihentikan oleh pelukan Raynka dari belakang. "Mau ke mana? Mau pergi lagi? Iya? Kamu kenapa sih nggak pernah mikiri perasaan aku sama anak-anak. Mereka tuh kangen sama kamu, tapi........Bundanya yang lebih kangen. Don't go again, please my hubby," kata Raynka berintonasi lirih. Rafardhan tersenyum lebar, ah lebih tepatnya menahan tawa. Bagaimana bisa? Padahal ia hanya ingin mengunci pintu rumah yang tadi tak sempat ia kunci karena keduluan tatapannya jatuh pada sang istri yang tertidur. Tak masalah, mundur selangkah untuk maju seribu langkah. Bukan?


Tawa Rafardhan akhirnya pecah sangking tak tanggupnya menahan gelih. Jika ia hitung mungkin sudah 10 menitan mulut mungil Raynka selalu memotong ucapannya, sepatah kalimatpun tak Raynka izinkan keluar dari mulut Rafardhan. "Iiiiiiihhhh, kok ketawa?" Tanyanya terdengar sebal.


"Aku mau kunci pintu, Sayang," sahut Rafardhan masih tertawa.


"Kan kamu tidak bertanya," sambut Rafardhan senggang. Rafardhan pun melanjutkan langkahnya untuk mengunci pintu rumah, sedangkan Raynka kembali duduk di sofa tadi, setelah selesai Rafardhan pun menyusul Raynka.


"Bagaimana ceritanya?" Ujarnya Raynka tak sabaran.


"Sabar Sayang. Baru juga duduk."


Sambil menguap Raynka berucap lagi, "tapi aku ngantuk, mau lanjut tidur," lenguh lesunya.

__ADS_1


"Yasudah, besok saja. Tak masalah kok," Rafardhan malah mengompor. Jangan kira Raynka tak semakin kesal.


"Mau aku tonjok nggak?" Raynka telah menyiapkan segenggam tangannya yang ia dekatkan tepat dimuka Rafardhan.


"Bolehhhhh. Nih," sahutnya menyodorkan pipi. Refleks mata Rafardhan terpejam seraya memundurkan wajahnya, kala Raynka menarik ulur tangannya untuk maju tanpa batas. Justru.......ketika mata tersebut terbuka wajah itu langsung mendarat di pipinya. Kecupan. Mimpikah? Mendadak Rafardhan diam tak berkutik. Raynka tersenyum hangat.


"Aku juga tidak setegah itu untuk melakukannya. Makanya cepetan cerita!" Raynka meninggikan suara di akhir kalimatnya. Bagaimana bisa Rafardhan tak tercengang menghembuskan nafas.


"Iya-iya. Baru juga ditinggal sebentar, sudah bar-bar," sindirnya yang dibalas dehaman oleh Raynka. "Aku ketinggalan pesawat karena ketiduran di kantor. Sebelum berangkat ke bandara aku sempat mampir ke kantor mencari berkas yang tertinggal. Yasudah sebab pertemuan ini penting aku menyusulnya dengan mobil," mata Raynka membulat sempurna.


"Lantas, handphone kamu gunanya buat apa, hm?"


"Kejambretan, Sayang."


Makin melotot mata Raynka. "Terus kamu nggak'papa? Ada yang luka? Apa aja yang hilang?" Tanyanya khawatir sembari tanpa sadar menggenggam sepasang tangan Rafardhan. "Ma-maaf," kikuknya melepaskan. Raynka memalingkan wajah, tercyduk malu.


"Insyaallah, tidak apa-apa. Bobo yuk?" Ajak Rafardhan. Raynka mengangguk pelan. Keduanya pun sama-sama bangkit dari duduknya. Baru beberapa langkah berjalan, tubuh Raynka sudah seperti melayang di udara.


"Ahhhhhhkh," teriaknya refleks. Raynka menatap Rafardhan. Tatapan mata mereka pun bertemu. 'Tampan' imbuh Raynka membatin tersanjung. Tak pernah bosan ia memandangi wajah itu, wajah Rafardhan yang beberapa hari ini begitu ia rindukan.


"Loh kok kamarku? Kamarmu dong," protes Raynka saat Rafardhan hendak meniti anak tangga. Sebelum melanjutkan langkahnya Rafardhan tersenyum penuh arti. 'Habis gue' batin Raynka.


"Rayn, peluk boleh tidak?" Izin Rafardhan yang disahut Raynka dengan dehaman.

__ADS_1


"Terima kasih sudah kembali membuka hatimu. Terima kasih sudah menerima 'mereka'. Tindakanmu lebih menunjukkan daripada kata-katamu. Love you so much, Bunda," kecupan singkat itu Rafardhan berikan dileher jenjang putih Raynka. Sambil tangannya memeluk tubuh Raynka, memberi usapan-usapan lembut diperut menonjol Raynka, wajah itu masih setia mendusel-dusel dileher Raynka. Sangking nyamannya Raynka hanya diam saja.


Bersambung......


__ADS_2