
"Lo hamil?" Tanya Chika datar.
"C-chik......." Tegur Raynka terbata. Apa inilah saatnya ia membongkar pertahanan ke Chika? Sepertinya iya. Tapi Raynka belum siap. Respon seperti apa yang Chika perlihatkan?
"Gue sudah tahu semuanya Rayn. Dan gue rasa lo nggak perlu tahu gue tahu dari siapa. Lo tegah ya nyembunyiin semuanya dari gue," tambah Chika semakin datar. Raynka menghela nafas panjang. Ia pasrah apapun reaksi Chika.
"Chik, maaffin gue. Gue pengen ceritain semua ke lo. Tapi saat itu gue belum siap. Ra-rafardhan perkosa gue. Gu-gue, gue hamil. Gue stres Chik. Bahkan gue ada niatan buat gugurin 'mereka'. Tapi gue juga sadar, gue nggak mau semakin berdosa lagi. Ja-jadi gue kasih kesempatan sampai mereka lahir dan setelah itu sepenuhnya Rafardhan yang ngurus mereka. Chik, sekarang lo sudah tahu'kan detailnya. Gue nggak'papa kalau lo mau pertemanan kita sampai sini," sejenak Raynka mengangkat kepalanya ke atas menahan air matanya yang hendak tumpah.
"Ups, sekarang lo lagi buka topeng lo? Bodohnya gue yang selalu tertipu sama sikap mahal lo. Tapi nyatanya lo nggak lebih dari murahan. Yaudahlah ya gue juga jijik sama lo," sambut Chika tersenyum miring. Tatapan hina dari sorot mata Chika membuat mata Raynka berkaca-kaca. Sejijik itukah dirinya? Rasa sesak menghunjam dadanya.
"Gue hanya pasrah dengan ketetapan-Nya. Maaffin gue udah buat lo merasa tertipu. Jaga diri lo baik-baik, jadilah wanita mahal, jangan murahan kayak gue. Semoga kedepannya nanti kebahagiaan mengiringi kehidupan lo. Gue pergi dulu ya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Chika cantik," ujar Raynka lirih sebisa mungkin menampilkan senyumannya. Raynka berbalik badan. Tumpah sudah air mata yang setadi susapayah ia bendung.
Raynka menghentikan langkahnya kala terdengar Chika mengangkat suara. "Awalnya gue pengen kasih lo kejutan dengan pulang tiba-tibanya gue. Sebulan nggak lihat lo, gue kangen banget sama lo, Rayn. Gue tadi mampir ke rumah lo kata kak Rily lo ada di kantor. Gue sedikit curiga saat kak rily keceplosan sebut lo 'bunda', terus gue buru-buru ke sini, gue denger semua percakapan lo sama Difka, setelah lo nggak ada gue desak Difka buat cerita, tapi Difka nggak mau, gue terus desak Difka akhirnya Difka nyerah dan cerita semuanya sama gue karena katanya gue juga berhak tahu sebagai teman lo. Rayn, gue tulus sama lo. Sama sekali gue nggak kecewa sama lo, bahkan gue bingung gimana caranya. Gue kenal lo lama Rayn, gue tahu semua sikap dan sifat lo. Cuma lo yang nggak pernah ninggalin gue, cuma lo yang selalu ada buat gue, cuma lo yang terima gue apa adanya, dan hanya lo yang nggak pernah pergi di saat semua orang memilih menjauh dari gue, hanya bersama lo gue kenal bahagia dan tahu artinya keihklasan. Gue nggak bakal bisa ninggalin lo walau lo yang minta. Kita udah janji selalu ada untuk selama-lamanya," Raynka memberanikan diri berbalik badan menatap Chika. Chika setengah melentangkan tangannya dengan wajahnya yang penuh air mata, melihat Chika yang mempersilahkannya Raynka berlari kecil menubruk tubuh Chika.
"Hanya prank. Maaffin gue, ya Rayn. Pasti kata-kata gue tadi nyakitin hati lo banget'kan?"
"Lebih sakit lagi kalau pertemanan kita hancur," ucap Raynka membenarkan.
"Teman Selamanya, janji?"
"Janji, Chik. Makasih ya udah mau temenan sama gue," Raynka malah merendah dengan suara lirihnya.
"Lo segalanya, Rayn. Makasih kembali," Chika melepaskan pelukannya. Tatapannya jatuh pada perut Raynka yang terlihat agak menonjol. "Kabar ponakan gue gimana Rayn? Sudah berapa bulan tuh?" Imbuh Chika menggoda.
"Gue nggak tahu, Chik," sahut Raynka acuh tak acuh. Moodnya selalu saja berubah kala pembicaraan mereka mulai meranjak ke sana.
"Rayn, tapi lo nggak boleh gitu," Chika memberi nasihat sembari memaut tangan Raynka.
"Gue juga butuh waktu, Chik," lerai Raynka.
"Iya Rayn, gue ngerti," nampaknya Chika juga memahami.
__ADS_1
...π¦π¦π¦...
Raynka mengetuk pintu yang terbuka. Memperlihatkan bu Gisna yang sedang mencatat dibuku. "Assalamu'alaikum, Bu," bu panti menoleh ke sumber suara, lalu ia menghampiri Raynka yang berdiri diambang pintu.
"Wa'alaikumsalam, Nak," Raynka mengecup punggung tangan bu panti.
"Oh iya Nak, Ibu ingin mengundang Raynka untuk menghadiri acara syukuran baby Queenka. Apakah Raynka bisa?" Tanya bu panti.
"Insyaallah Raynka bisa, Bu. Maaf ya Bu telfonnya tadi nggak keangkat. Adik-adik pada ke mana, Bu? Tumben sekali sepi," Raynka menjawab dengan menanya heran kepada bu panti.
"Ada di taman samping, Nak."
"Yaudah Raynka ke sana dulu ya Bu. Raynka kangen banget sama adik-adik. Assalamu'alaikum, Bu," sahut Raynka berantusias langsung membelok langkahnya.
"Wa'alaikumsalam........emmm bukankah di sana juga tadi ada pak Rafardhan?" Monolog bu panti tanda tanya. "Raynka, Raynka, Raynka," sontak bu panti meneriaki nama Raynka namun terlambat langkah Raynka sudah kian menjauh.
"Assalamu'alaikum, Adik-adik," salam Raynka kepada semua adik-adik yang sedang menggambar. Seketika semuanya mendongakan kepala menatap Raynka, berbeda dengan Rafardhan yang terlalu sibuk menjawab celotehan riang si kecil.
Rafardhan memutar tubuhnya ke depan menghadap adik-adik tersebut. "Sudah selesai gambarnya? Nanti Om nilai ya. Siapa yang gambarannya rapih dan bagus akan Om beri hadiah, mau tidak?"
"Yey, mau Om!" Sorakan ceria mereka.
Tak sedetikpun lepas dari penglihatan Raynka. Rafardhan baik juga, pikirnya. Tatapan Raynka jatuh pada punggung tangan Rafardhan yang membiru dan terlihat juga deretan rata giginya. Digenggamnya pelan tangan itu, "maaf," katanya memelas.
"Tak apa, Rayn," balas Rafardhan santai.
"Sama Kakak yuk, Sayang," Raynka menjulurkan sepasang tangannya hendak mengambil baby Falila dari Rafardhan. malah Falila mengeratkan tangannya bergelayut dilengan Rafardhan. "Dek, lihat tuh tangan omnya sakit. Sama Kakak aja yuk?" Bujuk Raynka lagi namun tak berpengaruh apapun terhadap Falila.
"Tuh baby-nya tidak mau. Udah jangan dipaksa," Rafardhan menyeka kepala Falila sayang.
"Ih, tapi itukan sakit, warnanya aja biru," bantah Raynka.
__ADS_1
"Tidak, Sayang," sahut Rafardhan santai.
"Bohong!" Serunya.
"Enggak, kok."
"Nggak percaya."
"Kenapa?"
"Kamu bohong!"
"Tidak, Rayn."
"Tidak percaya pokoknya nggak percaya, titik! Berani bantah lagi? Jangan pernah sentuh aku, apalagi peluk-peluk, awas aja kamu!" Astaghfirullahaladzim, apa coba maksud mulutnya. Lihatlah Rafardhan bungkam seribu bahasa. Sebetulnya sih Rafardhan menahan tawaan gelihnya, mendengar kalimat spontan terlontar dari mulut istrinya. Kadang galak, kadang gemas. Tak menentu.
"Kalau Glen lihat-lihat Kakak sama Om kok cocok ya?" Ujar Glen yang berusia 5 tahun. Menatap Rafardhan dan Raynka secara bergantian. Raynka gelagapan salah tingkah. Rafardhan tercengir melihat Raynka yang tersipu malu.
"Bagaimana kalau mahkota ratunya buat Kak Raynka saja?" Timpal salah satu dari mereka. Semuanya menyahut setuju.
Glen memakaikan mahkota ratu dikepala Raynka yang terbalut hijab. Raynka hanya diam membisu. "Yey, Om raja, Kakak ratu," sorak mereka serentak. Rona merah terlihat jelas dipipi gembul Raynka. Ck apa-apaan mereka ini! Malu habis-habisan dirinya kalau Rafardhan mengetahuinya, bisa ge'er nantinya. Rafardhan tahu kok namun masih saja keukeuh menahan
Bersambung.......
Yey, upππMaaf yah *Updat***enya lama.
Happy Reading π
I Love you All
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh**
__ADS_1