
"Bunda, aku ke kamar dulu ya, makasih sudah ditemani," ujar Rily setelah sampai di dalam rumah sehabis membeli cemilan di Indoapril.
"Iya," sahut singkat Raynka. Sembari menenteng sekantung plastik cemilan Raynka berjalan menuju kamarnya, ia membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam kamarnya. Menatap sekelilingnya dengan dahi yang mengerut, kemana barang-barangnya? Ulah siapa lagi jika bukan Rafardhan.
"Aku yang pindahin semua barang-barang kamu. Untuk saat ini dan seterusnya kamu bisa pakai kamarku. Aku minta maaf Rayn karena sebelumnya tidak izin dulu ke kamu, aku harap kamu setuju ya. Aku hanya tak ingin kamu kecapaian turun naik tangga," Rafardhan yang tiba-tiba muncul dan menguraikan penjelasan ketika Raynka hendak melangkah berbalik arah.
"Semakin hari Anda semakin lancang, Rafardhan!" Sindir datar Raynka tak berekspresi.
"Raynka, aku minta maaf tapi sungguh aku tidak mau kalau kamu kecapaian......" Kata Rafardhan lagi mencoba menjelaskan yang belum sampai tujuan karena dipotong Raynka dengan kalimat sentakannya.
"Tapi kenapa harus dikamar Anda! Oh atau Anda ingin mencoba mengingatkan saya lagi akan kebejatan Anda!?"
"Rayn......ma-maaf kalau kamu beranggapan begitu. Oke aku mengerti. Kamu bisa menetap dikamar Rily. Tak masalah akan aku tata ulang kembali barang-barangmu, aku keluar dulu ya," sambut Rafardhan berjalan ke arah pintu kamar Raynka.
"Hahaha, sudahlah tak perlu berpura-pura akui saja hati anak kesayangan Anda adalah prioritas utama. Dan yah sedikit saya kasih tahu, jika memang takdirnya 'mereka' untuk hidup 'mereka' bakalan hidup namun jika ajalnya mati yaudah bakalan mati. Jangan terlalu berlebih-lebihan Rafardhan. Anda tahu Anda semakin terlihat menjijikkan dimata saya?" Sesak memang, namun sudahlah tak juga Rafardhan masukan ke hati perkataan Raynka. Hormon ibu hamil yang memang cepat berubah-ubah. Ia mengerti.
Rafardhan hanya membalas dengan senyuman tawarnya, "kamu juga prioritas utamaku," ungkapnya.
Raynka memegangi perutnya, dari raut wajahnya yang seperti menahan rasa nyeri. Tentu hal tersebut menjadi sorotan mata Rafardhan, "kamu kenapa, Rayn?" Kekhawatiran itu dapat Raynka dengar dari suara Rafardhan.
"Nye-nyeri," kikuk Raynka terbata. Ia menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur di belakang tubuhnya. Rafardhan mendekati Raynka. Kepanikan yang ia tutupi dengan tampang datarnya. Tanpa izin dan mendapatkan persetujuan dari Raynka, Rafardhan duduk di sebelah Raynka dengan tangannya yang melingkar di punggung Raynka dan tangan satunya mengusap turun naik perut Raynka berulang kali.
Justru perihal ini tak lepas dari kesadaran Raynka. Entah mengapa sahutan larangan tak dapat ia lontarkan dari mulutnya. Aneh memang. Hanya usapan namun perlahan rasa nyeri itu hilang.
...π¦π¦π¦...
__ADS_1
Tak sengaja mata Raynka terlihat salah satu pembeli yang tak sengaja memegang besi dari rak barang untuk menyesuaikan keseimbangan tubuhnya, namun beliau tak sadar hal itu membuat isi rak barang terguncang.
"Ibu.....awassss!" Raynka berjalan 5 langkah untuk mencapai seorang ibu tersebut, lalu ia menyangga kardus yang berisi barang milik salah satu pedagang pasar yang nyaris menimpa kepala sang ibu dan Raynka'pun mendorong kardus itu lebih ke dalam rak lagi.
"Ibu nggak'papa?" Tanya Raynka. Dianka mendongakkan kepalanya menatap wajah Raynka. "Ibu, Ya Allah wajah Ibu pucat sekali," imbuh Raynka menatap bibir sang ibu yang memutih.
"Terima kasih ya Mbak sudah menolong saya," sahut Dianka tersenyum tipis. 'Gadis ini. Gadis kemarin, yang juga membantuku.......anakku' batin Dianka. Ingin sekali ia menjerit.
Perkara bukti yang tak tahu akan ia dapat dari mana untuk membuktikan pada gadis ini. Sehebat apapun nalurinya sebagai seorang ibu namun bukti yang kuat harus juga ia genggam untuk membuat gadis ini mempercayainya bahwa ialah ibu kandungnya.
"Sama-sama, Bu. Tapi, sepertinya kita pernah bertemu. Oh iya Ibu yang dompetnya jatuh waktu itukan?" Sahut Raynka dari hasil mengingatnya akan kejadian lalu. Raynka menatap kantung belanjaan yang terisi penuh yang dikepal oleh tangan sang ibu, "sepertinya Ibu mau pulang ya. Bagaimana kalau saya yang antar? Wajah Ibu masih terlihat sangat pucat, saya khawatir kalau Ibu pulang sendirian. Mau ya Bu saya antar?"
"Sebelumnya terima kasih Mbak, tapi tidak usah saya bisa sendiri. Mari Mbak, Assalamu'alaikum," tolak Dianka.
Jelas Dianka bahagia akan perhatian Raynka. Lihatlah matanya berair menahan titikkan air yang hendak jatuh. Ia hanya tak ingin merepotkan Raynka. Walau keadaannya pun sedang tak baik.
"Ibu kuat'kan kalau saya bonceng pakai motor? Mari Bu, Ibu arahkan jalannya ya," kata Raynka.
"Terima kasih ya Mbak," Dianka memeluk tubuh Raynka. Ungkapan mulut tidaklah menjadi saksi kala suara hati satu sama lain sama-sama merasakan kenyamanan.
...π¦π¦π¦...
'Mobil siapa?' Batin Raynka melihat mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Jam segini bukanlah jam pulang kerja Rafardhan, pun Rily sedang ngampus. Tak mungkin bila berdatangan tamu, pikirnya. Ck, ayolah ini bukan urusanmu Raynka.
Raynka berjalan masuk ke dalam rumah. Rafardhan mendekatinya, "Assalamu'alaikum, Rayn," salam Rafardhan.
__ADS_1
"Hem, Wa'alaikumsalam," sahut Raynka tak acuh melewati Rafardhan. Bukankah Rafardhan sedang di kantor, lalu?
"Boss bebas, Sayang. Kalau jawaban ini yang kamu butuhkan," gurau Rafardhan berbangga dada menjawab pertanyaan yang tak tersampai dari mulut Raynka. Terjeda sejenak Raynka melanjutkan langkahnya ke arah kamar. Menatapnya Rafardhan terburu mengutarakan maksudnya, "Rayn, aku mau bicara sama kamu."
"Tidak mau, saya sibuk."
"Sebentar saja, Sayang," bujuk Rafardhan. Tangannya membelit perut Raynka dari belakang, "meluk kamu seperti ini kok nyaman sekali. Tidak mau lepas rasanya," goda Rafardhan. Raynka bergidik geli kala Rafardhan menempelkan hidung di ceruk lehernya yang terlapis hijab, walau begitu tetap saja tak menjadi penghalang kulitnya untuk dapat merasakan hembusan nafas Rafardhan. "Kamu wangi," desis Rafardhan.
"Lepas! Atau tidak jadi bicara sama sekali. Saya sibuk Rafardhan," gelagapan Rafardhan langsung meloloskan tubuh Raynka. "Memangnya Anda ingin bicara apa?"
Rafardhan menyerahkan sebuah kunci kepada Raynka, "mobil di depan, buat kamu," ujarnya santai.
"Bukankah Anda tahu saya tidak bisa mengendarainya? Cih pura-pura tak tahu."
"Sayang dengar dulu dong. Kamu ingin supir perempuan? Atau aku sendiri yang menjadi supirnya? Tak masalah jika kamu setuju," imbuh Rafardhan.
"Ck, memangnya ada apa dengan motor saya?" Bantah Raynka mengujarkan pertanyaan, tanda ia kurang menyetujui keputusan yang Rafardhan ciptakan sepihak.
"Aku tidak izini lagi kamu pakai motor. Semakin hari perutmu semakin membesar Rayn, terlalu sulit jika kamu mengendarainya sendiri, aku tidak mau kamu kecapaian," sahut Rafardhan. Lagi-lagi alasan ini yang Rafardhan jadikan sebagai kalimat pemenangnya. Tidak, kali ini ia tidak boleh kalah lagi.
"Saya tidak setuju! Kan saya sudah bilang 'jangan pernah ikut campur mengenai urusan saya' sesuai perjanjian kita. Anda sudah terlalu sering menentangnya, apakah Anda lupa?!" Sentak Raynka menekan kata di setiap kalimatnya.
"Rayn, kalau mengenai 'mereka' itu tak hanya menjadi urusanmu, melainkan urusanku juga. Dan aku ingin yang terbaik untuk kalian bertiga," sentakan demi sentakan Raynka yang Rafardhan jawab dengan suaranya memelannya. Bukan perihal kalah dan menang, realitasnya ini bukan sebuah pertandingan. Rafardhan hanya ingin yang terbaik untuk Raynka, tetapi bagaimana cara menjelaskannya?
"Enggak ya, kalau saya bilang enggak tetap enggak!" Rafardhan menghela nafas panjang.
__ADS_1
Bersambung........