
Seperti malam-malam sebelumnya jikalau tak pernah ada ketukan pada pintu kamarnya kala dirinya melangkah ke dalam. Sesudah menyiapkan secangkir cokelat hangat untuk dirinya bersantai sejenak di ruang kerjanya. Rafardhan memasuki kamarnya lalu rebahan di tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Jangan ge'er Rafardhan! Saya hanya tidak mau menjadi pengecut!" Rafardhan mengelus dada kala suara ketus nan dingin Raynka menyadarkannya. Rafardhan menoleh menatap Raynka yang keluar dari kamar mandi. "Anda tahu hal yang paling saya benci? Anda dan segala perasaan Anda untuk saya. Jadi mengertilah," imbuhnya. Raynka berjalan ke arah sofa lalu membaringkan tubuhnya di sana menggunakan bantal dan selimut yang ia ambil dari tempat tidur Rafardhan.
Melihat hal itu, Rafardhan menghampiri Raynka. "Kamu bisa tidur di ranjang, biar aku yang tidur di sofa," ujar Rafardhan yang nampaknya sama sekali tak menggubris ucapan Raynka.
"Sudahlah tidak usah sok baik," ketus Raynka.
"Rayn, tapi kamu tidak akan leluasa kalau tidur di sini. Sofa ini terlalu sempit buat kamu," kata Rafardhan lagi membujuk Raynka. Terdengar suara sesegukan cepat-cepat Rafardhan membungkukkan badannya, perlahan Rafardhan menyibak bantal yang membekap wajah Raynka.
"Hey, kamu kenapa Sayang?"
"Jadi maksud kamu aku gendut! Iya, hah!?" Kedua tangan Raynka mendorong dada bidang Rafardhan ke belakang. Rafardhan hanya termundur selangkah. "Sana Rafardhan, nggak usah dekat-dekat aku," rajuknya. Raynka membekap wajahnya lagi dengan bantal.
Rafardhan menahan kekehan gelinya. Ya Allah, mengapa istri kecilnya ini begitu menggemaskan. "Kamu kenapa Sayang, heh? Aku tidak bilang kamu gendut kok. Mau kamu gendut mau kamu kurus takkan bisa memudarkan kadar cintaku padamu," Rafardhan memberikan usapan-usapan lembut dilengan Raynka.
Sepertinya ia salah bicara lagi lihatlah tangisan Raynka semakin menjadi. Raynka menggerakkan lengannya kuat tangan Rafardhan tersentak. Raynka melarikan bantal pembekap wajahnya dan langsung bangkit dari rebahannya. "Jadi maksud kamu aku kurus, iya?! Seperti tripleks kah? Kedua anak kamu sedang dalam kandunganku dan masih bisa-bisanya kamu bilang aku kurus Rafardhan?" Ck'kan Rafardhan salah bicara lagi. Susah pula rupanya bicara dengan bumil. Tapi kalau bumilnya seperti Raynka tak apalah Rafardhan rela ggm, galak-galak manja.
"Sayang, tidak-tidak bukan begitu maksudku. Kamu jangan nangis ya lebih baik kamu tidur lagian ini juga sudah malam Sayang. Kamu ingin tidur di mana? Semaumu tak akan kularang lagi. Kamu mau tidur disofa? Yasudah tak apa," Raynka menganggukkan kepalanya cemberut. Rafardhan membaringkan tubuh Raynka setelah itu meraih selimut yang jatuh dilantai dan merapatkannya agar membungkus tubuh Raynka. Raynka memejamkan matanya. Agak lama Rafardhan menyeka kepala Raynka yang berurai rambut dan berakhir memberikan kecupan di puncak kepala Raynka.
Mana mungkin Rafardhan membiarkan Raynka tidur disofa hanya saja setadi ia menunda kemarahan Raynka. Setengah jam kemudian setelah ia rasa Raynka mulai memasuki dunia mimpinya, Rafardhan menggendong Raynka ala bridal style memindahkan Raynka di tempat tidurnya. Rafardhan meletakkan satu bantal di lantai sebelah tempat tidur, ia'pun mulai merebahkan tubuhnya di sana. Sofa yang memang lebar namun tak sepanjang kakinya, tak memungkinkan kenyamanan ia rasakan.
"Ssssssstttttttttttttt sssssstttttttttt," beginilah desisan rintihan Raynka menahan rasa dingin disekujur tubuhnya.
Pantangan bagi Rafardhan kala mendengar suara-suara biarpun tidurnya nyenyak sekalipun. Rafardhan membuka paksa matanya, cepat-cepat ia bangkit lalu menoleh menatap Raynka yang meringkuk menggigil dibalik selimutnya dengan mata yang tertutup.
"Raynka, hey Sayang, Sayang buka dulu matanya," Rafardhan menepuk-nepuk pelan pundak Raynka sembari mengelus puncak kepala Raynka. Raynka membuka matanya memelas.
__ADS_1
"Ra-rafardhan........di-dingin," ucap Raynka terbata melihat Rafardhan.
"Sebentar Sayang," hendak melangkah berbalik, dengan keadaan lemahnya Raynka mencengkal pergelangan tangan Rafardhan.
"Ti-dak mau," rengek Raynka.
"Aku tidak kemana-mana. Hanya ingin mematikan AC dan mencari selimut yang lebih tebal lagi untuk kamu. Sebentar ya," lagi-lagi Raynka mempererat cengkalannya.
"Nggak mau, hiks, hiks," mendengar isak tangis Raynka, Rafardhan menghela nafas. Mana bisa ia tega sama Raynka kalau sudah begini. Sebisa dengan tangan panjangnya Rafardhan merabah remot AC yang mujurnya tergeletak dimeja TV, lalu ia menonaktifkan AC tersebut, setelah itu Rafardhan meletakkannya kembali.
Rafardhan membersihkan sisa-sisa air mata Raynka. "Maaf Rayn membuatmu kedinginan. Sekarang AC-nya sudah mati. Kamu tidur lagi ya, aku tunggu di sini sampai kamu terlelap."
"Tapi aku nggak bisa bobo Rafardhan. Dinginnya masih terasa ditubuhku. Aku maunya sama kamu," rengeknya terdengar begitu manja ditelinga Rafardhan, oh shittt!!!
"Iya, aku tungguin kamu di sini," sahut Rafardhan yang semakin memuncakkan titik kesal Raynka.
"Raynka, hey, aku janji tidak akan pergi."
"Sudah pergi saja, aku mau sendiri!" Raynka membalikkan tubuhnya membelakangi Rafardhan. Ia membekap wajahnya dengan bantal guling, hal itu tak mengheningkan sama sekali pendengaran tajam Rafardhan akan tangisan Raynka.
"Raynka, Sayang," Rafardhan mengusap lembut kepala Raynka.
"Nggak usah pegang-pegang aku," ketusnya menghempaskan kasar telapak tangan Rafardhan dari kepalanya. Nyatanya bukan malah berhenti tangisan Raynka malah menjadi. Rafardhan tak ada pilihan selain menaiki tempat tidur di sebelah Raynka. Ia'pun menyingkirkan bantal penutup wajah Raynka. Rafardhan memiringkan tubuhnya kemudian memeluk Raynka, membenamkan wajah Raynka didada bidangnya. Dengan sigap Raynka'pun membalas. Isakan tangis Raynka tak terdengar lagi. Jadi ini perkaranya? Kenapa tidak sedari tadi saja, pun Raynka sama sekali tak berterus terang. Perihal gengsi, dasar cewek.
"Gengsi kok digedein Rayn-Rayn," ucapan pelan Rafardhan bergeleng-geleng kepala.
"Apa?" Sahutnya.
__ADS_1
"Tidak Sayang."
...π¦π¦π¦...
"Nih," Raynka mendaratkan segelas cokelat hangat di meja kerja Rafardhan. "Ingat ya, saya melakukan ini hanya tak ingin menjadi pengecut. Jadi jangan pernah terima pakai hati," ketusnya. Semalam begitu manja paginya malah kembali ke sikap asli. Bumil-bumil Rafardhan geleng-geleng kepala.
Rafardhan tersenyum lebar, "memang bisa pakai hati? Bukankah membalas dengan terima kasih. Terima kasih istriku," imbuh Rafardhan menggoda Raynka.
"Cih, menjijikkan!" Raynka membuang muka muak. Rafardhan menanggapi dengan tawaan handalannya. Raynka berbalik dan hendak melangkah keluar.
"Pergi ngajar naik apa?"
"Motor."
Dengan langkah besarnya Rafardhan berjalan memotong langkah Raynka. "Aku antar saja ya," tawarnya.
"Apakah kurang jelas ucapan saya kemarin?" Sindir Raynka meneruskan langkahnya, tak acuh dengan Rafardhan yang berdiam diri.
"Dan juga apakah kurang jelas jawabanku kemarin?" Sahut Rafardhan dengan suara baritonnya.
Sejenak Raynka menoleh ke belakang menatap tajam iris mata Rafardhan, "berhenti mencampuri urusan saya Rafardhan! Satu hal yang harus Anda garis bawahi, mereka bukan anak saya! Mereka hanya meminjam rahim saya untuk melihat dunia, semua karena keegoisan Anda! Jangan pernah lagi sebut kita karena sampai kapan pun saya benar-benar tak sudi memiliki anak hasil dari benih Anda!" Raynka langsung keluar dari ruang kerja Rafardhan. Tak sekatapun lewat dari telinga Rafardhan. Sesakit ini mendengarnya.
"Mereka anugerah terindah dari Allah yang sekian lama ku nantikan kehadirannya. Aku juga tak mengira Rayn mengapa harus denganmu keinginanku terwujud. Percayalah Rayn, aku hanya ingin yang terbaik untukmu karena aku sangat mencintaimu," monolog Rafardhan lirih.
Bersambung.......
Maaf ya kalau up-nya lama. Lagi sibuk praktek soalnya, maklumin ya Mom-Mom, aku pelajar kelas 10 πͺ
__ADS_1
Love you all. Makasih banyak buat Mom-Mom, Dad, Kakak, semua yang udah setia baca.