
Raynka berjalan memasuki rumah dengan langkahnya yang tergontai. Lantaran terjatuh tadi kakinya terkilir juga ada beberapa luka lebam dikakinya, itulah yang ia rasakan. Kalau perkara kandungannya, tenang saja sedikitpun perutnya tak terbentur maupun tersentuh.
Seperti biasanya Rafardhan pulang ke rumah hanya dengan alasan tertentu. Seperti saat ini ia pulang hanya untuk mengambil dokumen-dokumennya yang tertinggal. Mengingat jadwalnya hari ini cukup padat mata Rafardhan hanya tertumpu pada satu arah, ruang kerjanya. Bunyi nada dering panggilan masuk pada ponselnya membuat Rafardhan sejenak menghentikan langkahnya.
"Rafardhan....." Melihat Rafardhan yang tiba-tiba berdiri di depannya entah ada angin apa Raynka menyapa. Tak terdengar balasan dari Rafardhan, secepat ini mengubah suasana hatinya tanpa sadar Raynka menitikkan air matanya tanpa isakan. Susah payah ia berjalan masuk ke dalam kamar Rafardhan.
"Oke baiklah kalau ini keputusan Anda. Anda tidak perlu khawatir, saya akan mengembalikan semua saham perusahaan Anda. Saya harap Anda tidak menyesal," suara Raynka yang terdengar layaknya gumaman tentu kalah saing dengan suara tegas Rafardhan.
Lihatlah bahkan sampai saat keduanya berada di dalam kamar yang sama Rafardhan tetap acuh tak acuh padanya. Faktanya Rafardhan lebih memilih menyibukkan diri dengan merombak ambik isi lemari pakaiannya.
"Nyari apa?" Ujar Raynka yang duduk di atas tempat tidur dengan muka ranjang sebagai topangan punggungnya. Sebenarnya sih Raynka hanya basa-basi tak bermaksud sama sekali untuk peduli, ia hanya ingin mencairkan suasana yang membuat dirinya semakin gerah.
"Map warna biru, apakah kamu melihatnya?" Sahut Rafardhan sekilas menoleh menatap Raynka.
"Di laci nakas. Mangkanya kalau apa-apa tuh bertanya dulu, punya mulutkan? Sama kalau naruh barang tuh jangan sembarang. Biasain jadi orang yang rapih," omelnya. Kesal sudah Raynka sedari tadi terabaikan.
Mendengar suara Raynka tersebut Rafardhan langsung meninggalkan tempat kutikannya tadi. Dengan langkah besarnya ia melangkah mendekati nakas di sebelah Raynka. Dan mencari yang ia cari yang kini telah dalam genggamannya.
"Iya-iya. Terima kasih ya Rayn. Aku lanjut kerja dulu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Raynka," kata Rafardhan terlebih dahulu keluar kamar sebelum Raynka membalas salamnya.
"Wa'alaikumsalam," monolognya. Karena keduluan cepat oleh hilangnya Rafardhan. Raynka menitikkan air matanya kecewa. Rafardhan benar-benar keterlaluan, memang salah dirinya apa?
Cekatan Raynka menyeka air matanya kasar tatkala suara ketukan dari luar pintu kamar terdengar ditelinganya. "Masuk," sambutnya lesu.
"Assalamu'alaikum.......Mbak habis nangiskah?" Kata bi Mila menatap bekas air mata dimata merah Raynka, "Tumben sekali sehabis pulang ngajar Mbak langsung masuk kamar, Mbak kelelahan atau kenapa Mbak? Bibi buatkan wedang jahe ya Mbak."
"Waalaikumsalam, Bi. Makasih ya Bi udah khawatir sama Raynka, tapi Raynka nggak'papa kok Bi," sambutan lesu Raynka menunduk. Jangan lupa, bi Mila selalu bisa menemukan titik-titik kebohongan lewat pandangan mata Raynka.
"Benar Mbak......... Astaghfirullahaladzim ya Allah. Kaki Mbak kenapa?" Panik bi Mila terperanjat menatap lebam dipunggung kaki Raynka. Mengapa ia bisa lupa sampai-sampai tak memasang lagi kaus kakinya, Ck. Raynka-Raynka.
Raynka mendongakan kepalanya. "Emmm.........itu Bi tadi hanya terkilir tapi tidak sakit kok Bi, benar," bohong bila Raynka cakap tak sakit, nyatanya ia hanya tidak ingin membuat bi Mila terlalu khawatir pada dirinya. Rafardhan yang berstatus suaminya saja biasa saja.
__ADS_1
"Bibi tidak percaya tidak sakit, lukanya begitu lebam Mbak. Tunggu sebentar Bibi ambilkan es batu sama tempat kompres dulu ya Mbak, luka Mbak harus segera diobati," kata bi Mila. Hendak dicelah Raynka, bi Mila langsung keluar menuju dapur. Tak butuh waktu lama untuk bi Mila menyiapkan p3k. Bi Mila kembali masuk ke kamar Raynka.
"Tidak Bi, biar Raynka sendiri yang mengompresnya," Raynka menahan tangan bi Mila yang hendak mengompres kakinya.
"Jangan Mbak, biar Bibi saja," bi Mila menghela tangannya yang ditaut Raynka.
"Bi........"
"I-iya Mbak," pasrah bi Mila menghela nafas. Raynka mengambil kompresan air dingin itu dari bi Mila, bi Mila tak lagi menghalangi. Kompresan itu mulai menyentuh punggung kaki Raynka. Seperti mati rasa aura dingin tak bisa ia rasakan.
"Mbak, Bibi telepon bapak saja ya?" Bi Mila menunggu persetujuan dari Raynka. Tenggelam sudah raut muka ceria Raynka mendengar nama orang dalam kalimat tanya yang dilontarkan oleh bi Mila.
"Tidak perlu, Bi. Oh iya, maaf ya Bi karena hari ini Raynka tidak bisa membantu Bibi menyiapkan makan siang. Bibi pasti cape'kan?" Tak jarang bi Mila terharu kala mendengar ucapan rendah hati Raynka.
"Beberapa kali Bibi menjadi art. Hanya di rumah ini Bibi benar-benar merasakan beruntung dan hanya di rumah ini Bibi merasakan punya keluarga sesungguhnya. Bibi sangat berterima kasih sama Mbak, bapak dan juga mbak Rily," bi Mila memaut satu tangan Raynka.
Raynka tersenyum ceria, "karena Raynka sangat menyayangi Bibi," Raynka mengecup punggung tangan bi Mila. Bi Mila mengusap kepala Raynka sayang.
...π¦π¦π¦...
Raynka ke mana? Pikir Rafardhan. Saat mulai memasuki rumah hingga sesudah mandi, ia sama sekali tak melihat batang hidung istri kecilnya. Rafardhan berjalan ke arah dapur untuk memastikan benarkah sekarang Raynkanya sedang memasak di sana? Ternyata tidak. Keadaan dapur benar-benar sepi dan sunyi.
Ck, di mana lagi tempat favorit Raynka selain kamar, dapur dan perpustakaan. Perpustakaan, kaki Rafardhan berjalan ke sana. Dilihatnya Raynka sedang menjijit untuk menggapai buku di rak tertinggi no 2 dari atas. Rafardhan pun masuk tanpa mengeluarkan suara dan berdiri tepat di belakang Raynka, lalu tangannya mengambil sebuah buku tersebut.
Raynka menoleh ke belakang menatap tangan yang mengambilkan bukunya. Rafardhan. Raynka mengalihkan pandangan kemudian melangkah ke kirinya untuk keluar dari sana, tak di sangka malah Rafardhan menghalang Raynka dengan mengikuti langkahnya, Raynka mengalah tanpa membuka suara ia melangkah ke kanannya, cetakan masih Rafardhan halang.
"Minggir, nggak!"
"Kamu kenapa Sayang, heh? Sepertinya sensi sekali, cemberut begini tambah cantik loh," bagaimana Raynka tak kesal Rafardhan yang siang tadi tak mengacuhkannya justru sekarang berantusias menggodanya. "Istrinya siapa sih gemas banget gini kalau lagi ngambek," sangking tak tahannya dengan tampang cemberut galak Raynka, Rafardhan mengapit kedua pipi Raynka dengan jemarinya.
"Ihhhh, nggak usah pegang-pegang," rajuknya menghempaskan tangan Rafardhan dari pipinya. Rafardhan terkekeh geli.
__ADS_1
Tak dihiraukan lagi oleh Raynka. Raynka berjalan mengarah ke pintu perpustakaan. Rasa nyerinya masih sama seperti tadi, mungkin saja karena luka-luka dikakinya belum mengering dan urat-urat dikakinya yang belum kembali layaknya semula lagi. Rafardhan menatap langkah Raynka dengan dahi yang mengernyit, Raynka kenapa?
Tak butuh waktu lama Rafardhan telah berdiri didepan Raynka. Raynka terpaksa menghentikan langkahnya kala wajahnya menubruk dada bidang seseorang. Ia mendongakkan wajahnya perlahan. Rafardhan.
"Kamu kenapa, Rayn?" Tanya Rafardhan cemas memegang sepasang bahu Raynka.
"Nggak'papa," balas Raynka cuek.
"Jujur sama aku, Rayn!"
"Apakah pendengaran Anda bermasalah? Minggir!" Raynka masih keukeuh untuk menyembunyikan.
Kaki yang awalnya bertumpu kini menekuk. Rafardhan menatap jelas punggung kaki Raynka yang lebam dan membengkak, dengan cepat Rafardhan langsung menggulung celana Raynka hingga setengah dengkul, luka dan goresan-goresannya, semuanya dapat ia lihat jelas.
Rafardhan menegakkan tubuhnya. "Ini yang kamu bilang tidak apa-apa, iya Rayn?" Katanya datar menatap Raynka dengan penuh kekecewaan. Raynka menunduk takut.
"A-ak-aku a-aku, jatuh dari motor," ungkapnya. Rafardhan langsung enyah dari sana tanpa meninggalkan sepatah kata. Tubuh Raynka beringsut ke bawah, air matanya mengalir deras tanpa terdengarnya isakan.
"Lebih baik mendengar marahmu dengan membentakku dari pada melihat marahmu yang mendiamkanku," monolog Raynka kecewa.
Bersambung........
Happy Reading
Alhamdulillah udah part 20 (Sama prolog ya, hehe)
Sampai sini gimana? Mengenai semua castnya kalian setuju nggak? Jangan lupa ungkapin isi hati kalian di kolom komentar.
I Love You All
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
__ADS_1