Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 8. Fobia Berujung Seranjang


__ADS_3

"Mama, habis sholat kok bengong, Mama kenapa?" Tanya Gieenza melihat istrinya yang terdiam diatas sajadah.


"Sini, Pah. Ada yang ingin Mama bicarakan," titah Dianka menepuk lantai, menyuruh suaminya segera duduk. Gieenza'pun duduk sesuai dengan titahan istrinya.


"Mama ingin bicara apa?" Sambut Gieenza.


"Sampai saat ini apakah Papa percaya kalau anak kita masih hidup?" Lagi-lagi ini yang di pertanyakan istrinya, ia mesti jawab apa? "Pah, jawab!" Suara Dianka yang ingin menyadarkan suaminya yang tergeming.


Gieenza mendongak menatap lengkat istrinya. "Kenapa Mama menanyakan hal tersebut? Papa tidak tahu Mah harus percaya atau sebaliknya. Tapi Papa percaya jika memang sudah takdir, Allah akan mempertemukan kita dengan anak kita, di belahan bumi manapun beliau berada," nasihat positif Gieenza berusaha menghapus keganjalan dihati istrinya. Sepenuhnya istrinya ini belum mengikhlaskan atas hilangnya putri mereka pada 18 tahun yang lalu.


"Menjelang Dhuhur tadi Mama bertemu dengan seorang gadis. Menatap mata gadis itu entah mengapa hati Mama yakin bahwa dia Raynka Pah, anak kita. Papa percayakan sama Mama?" Dianka menggenggam tangan Gieenza memberi penjelasan dengan suara yang memaksa sambil matanya yang berkaca-kaca.


"Mama tenang, kita obrolin baik-baik ya," Gieenza mengusap lengan sang istri yang masih terbungkus mukena, "Papa ingin bertanya, apakah Mama melihat gadis itu memakai kalung? Kalung yang kita pakaikan kepada Raynka saat masih bayi," imbuh Gieenza hati-hati.


"Gadis itu mengulurkan hijab menutupi dada, bagaimana bisa Mama melihat kalung dibalik hijabnya. Tapi Mama yakin dia Raynka, Pah. Tolong percaya sama Mama! Mama ini ibunya, Pah! Papa paham'kan betapa kuatnya naluri hati seorang ibu!" keukeuh Dianka agar Gieenza dapat mengiyakan perkatannya. Gieenza memeluk erat istrinya. Jelas ia juga hancur melihat air mata Dianka yang tak berhenti menetes.


"Papa percaya sama Mama. Mama jangan nangis ya."


...🦐🦐🦐...


Setelah sampai di depan rumah, Rafardhan membuka pintu utama. Benar-benar sunyi. Sudah tak ada lagi suara ceria Raynka yang menyambutnya selepas pulang dari kantor. Biasanya jam berapapun Rafardhan pulang, tak sekalipun Raynka absen dalam menyambutnya dan menyiapkan makan malam untuknya.

__ADS_1


Rafardhan melanjutkan langkahnya kearah kamar untuk mandi lalu bersiap-siap segera sholat isya. Setelah selesai..... seperti sediakala Rafardhan berjalan menuju dapur membuatkan susu sebelum ia ke kamar Raynka. Memang cukup sulit memaksa Raynka, mengingat 'Susu' adalah minuman yang tak disukainya, namun Rafardhan yakin lama-kelamaan Raynka pasti mengerti.


"Assalamu'alaikum, Rayn. Hari ini kamu pasti belum minum susu'kan? Ini sudah aku buatkan, kamu habiskan ya!" Rafardhan langsung masuk kedalam kamar Raynka tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, lalu meletakkan segelas susu diatas meja belajar Raynka yang kini tengah sibuk dengan tumpukkan buku murid-muridnya.


Melihat Rafardhan, Raynka memalingkan wajah malas. "Saya sibuk! Anda bawa saja kembali!" jawabnya datar.


"Rayn, aku mengerti kamu tidak suka susu. Tapi Rayn dari awal kamu tak pernah meminumnya. Mau ya dicoba pelan-pelan? Satu sendok saja, Aaa," Rafardhan mengarahkan sendok tersebut ke mulut Raynka. Bukannya menerima, Raynka malah membanting sendok itu ke lantai. Rafardhan menghela nafas pelan.


Raynka berdiri dari duduknya.


"Anda egois Rafardhan, sungguh. Anda selalu ingin mendapatkan apa yang Anda inginkan! Dulu, dulu saya yang mengemis secercah kasih sayang dari Anda, namun apa yang saya dapat? Anda tak pernah mengacuhkan saya! Dan di saat saya benar-benar lelah saya memilih pergi, namun Anda juga yang menundanya. Di saat saya ingin mereka mati, masih Anda yang keukeuh mempertahankan! Lihatlah Rafardhan, disela mana lagi kemenangan yang Anda rebut dari saya. Saya benci sama Anda! Mengapa, mengapa hidup saya harus bergantung dengan, Anda?" Ungkap Raynka berapi-api. Raynka mengambil gelas susu tersebut berlangsung membantingnya. Rafardhan tersenyum tawar. Lagi-lagi perkara susu. Rafardhan mengambil satu-persatu beling itu, menadahnya dengan tangan. Sebanyak apapun serpihan yang menusuk kulitnya, sedikit'pun rasa perih tak dirasakannya.


Rafardhan membuka pintu kamar Rily lalu masuk kedalamnya. Sudah menjadi kebiasaannya mengecup kening sang putri yang selalu menjadi princess kecil bagi dirinya.


"Selamat tidur, Nak," monolognya kepada Rily yang telah lama memejamkan mata. Rafardhan membenarkan selimut anaknya yang sudah tak menutup tubuhnya. Sehabisnya ia kembali keluar dan berakhir tidur di kamarnya.


...🦐🦐🦐...


Hujan deras di tengah malam yang membasahi bumi mampu membangunkan Raynka dari tidur panjangnya. Ia menutup rapat telinganya dengan telapak tangan tatkala suara petir terdengar ditelinga. Raynka histeris ketakutan.


"Diam, aku takut!"

__ADS_1


Malah suara petir tersebut kian membesar dan membanyak melebihi suara kembang api pada malam tahun baru. Cukup, telinganya sudah benar-benar tak sanggup. Ditutup menggunakan tangan, bantal, maupun selimut, semuanya tak mempan. Kala seperti ini biasanya bi Mila yang memeluk dan menenangkannya.


Raynka melompat dari tempat tidur. Ia berlari kearah kamar Rafardhan. Mujur pintu kamar Rafardhan tak terkunci. Terusik dalam tidurnya akibat suara gesekan pintu dengan lantai, Rafardhan membuka matanya dan menoleh pada pintu kamarnya yang terbuka.


Ia terperanjat kaget menatap Raynka yang berurai air mata sembari menutup telinga. "Raynka kamu kenapa?" Tanyanya panik. Rafardhan turun dari tempat tidur mendekati Raynka yang berjalan kearahnya. Raynka mendekap tubuh Rafardhan erat.


"Raynka, hei, bicara sama aku, kamu kenapa? A-apakah kamu fobia petir?" Raynka mengangguk. Rafardhan dapat merasakan tubuh Raynka yang bergetar hebat. Tak terdengar lagi suara petir, Rafardhan mencoba untuk menenangkan Raynka.


"Lepas dulu ya," Rafardhan membimbing tangan Raynka melepas pelukannya, "tenangin diri kamu. Duduk dulu yuk!" Rafardhan merangkul bahu Raynka hingga keduanya duduk dipinggir tempat tidurnya.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Jangan menangis," Rafardhan menghapus air mata Raynka dengan jemari tangannya. Syukurlah, Raynka sudah terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


"Ini masih larut malam. Kamu harus lanjut tidur, Rayn. Hujannya juga sudah reda. Yuk, aku antar kamu ke kamar!" Rafardhan hendak bangkit, Raynka mencekal tangan Rafardhan.


"Aku mau tidur di sini!"


Rafardhan menoleh menatap Raynka dengan senyuman sembari tangannya mengangkut sebuah bantal guling, "boleh kok. Biar aku yang tidur diluar." Lagi-lagi Raynka mencekal tangan Rafardhan.


"Aku maunya sama kamu!" Raynka menarik kuat pergelangan tangan Rafardhan. Tubuh Raynka terhempas ke belakang, tubuh Rafardhan membalik ia yang tanpa aba-aba'pun ikut terhempas diatas tubuh Raynka. Untung saja Rafardhan dapat mengontrol badannya hingga tak menindih perut Raynka. Terjadilah kegiatan pandang-memandang.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2