
"Selamat tinggal," lirih Raynka menatap seputar kamarnya. Raynka memantapkan tekadnya untuk angkat kaki dari rumah. Besok, Zireyah, kakaknya pulang ke kediaman. Raynka harus pergi sebelum bertemu dengan Zireyah.
Raynka mengangkut tas jinjing yang berisi seluruh pakaiannya. Ia'pun keluar dari kamar. Di persimpangan jalan, Raynka berpapasan dengan Rafardhan. Raynka hanya menoleh sekilas, ia tetap melanjutkan langkahnya. Dengan langkah panjangnya Rafardhan berhasil mencekal lengan Raynka, namun tidak erat.
"Kamu mau kemana?" Raynka membalikkan tubuhnya. Matanya menatap tajam ke arah tangan Rafardhan yang mencekal lengannya. Rafardhan membebaskan tangan Raynka. "Maaf."
"Pergi. Sebelum Anda usir untuk kedua kalinya," balas Raynka santai. Ia berjalan mendahului Rafardhan.
"Nggak, kamu nggak boleh pergi!" Tegas Rafardhan menekan suara di setiap perkataannya.
"Terserah, tapi persetujuan dari Anda sudah tidak penting!" Raynka masih melanjutkan langkahnya. Walau menanggapi ucapan Rafardhan, tapi ia tak lagi menoleh menatap wajah Rafardhan.
"Saya sudah tau semuanya, Raynka! Kamu nggak bisa menutupi apapun dari saya!"
Raynka mematung tanpa suara. Kenapa bisa terbongkar secepat ini di tangan Rafardhan? Padahal Raynka sudah menutupi semampunya. Tatapan Raynka lurus ke depan. CCTV yang terpasang di ruang tamu menjadi sorotan matanya.
"Kenapa kamu nggak jujur sama saya?" Tiba-tiba Rafardhan sudah berada di hadapannya.
"Udahlah, nggak penting. Lupain aja. Semua itu musibah. Anggap aja setelah Raynka pergi, semua udah selesai. Beres. Nggak ada lagi yang perlu di permasalahkan," tanggapan Raynka sama seperti tadi. Datar dan santai. Yang Rafardhan lihat tak ada emosi ataupun kekesalan yang tertampak di raut wajah Raynka.
Sebelum Raynka melangkah lebih jauh, lagi dan lagi Rafardhan mencekal lengan Raynka. "Kamu akan tetap tinggal di sini. Nggak ada pergi-pergian, Raynka. Dan saya akan tanggung jawab."
"Saya nggak butuh itu!" Raynka berontak hendak melepaskan cekalan tangan Rafardhan. Kian Raynka berusaha, kian juga Rafardhan mempererat cekalannya. "Lepasin!"
"Saya sama sekali tidak mau menyakiti kamu, Rayn. Tolong, dengerkan penjelasan saya untuk kali ini," ucap Rafardhan penuh permohonan. Raynka sama sekali tak memperdulikan hal itu. Rafardhan merenggangkan cekalannya. Ia langsung memeluk Raynka. Pelukan erat pertama yang Raynka rasakan setelah puluhan tahun satu atap dengan Rafardhan.
Walau Raynka tau Rafardhan tak akan melepaskannya begitu saja. Kalau begitu Raynka juga tak tinggal diam, pasrah begitu saja. Ia keukeuh berteriak sembari meronta-ronta. Memukul-mukul punggung Rafardhan. Rafardhan sama sekali tak terganggu atas tindakan-tindakan Raynka.
"Jangan pergi ya, saya sayang sama kamu."
__ADS_1
"Bulshit," sepasang tangan Raynka memegang dada Rafardhan, kemudian Raynka mendorongnya kasar sembari giginya menggigit tangan Rafardhan sebelum pelukan itu benar-benar terlepas.
Raynka berlari secepat mungkin. Ia sudah tak memperdulikan lagi tas jinjingnya yang tertinggal di sana.
"Agghhh," sepatah kata yang keluar dari mulut Raynka sebelum ia kehilangan kesadaran.
Licinnya lantai yang beradu dengan sandal Raynka, membuat keseimbangannya goyah. Tubuhnya terhuyung ke depan. Sisi tajam meja kaca menyentuh dahi Raynka. Tak sampai di situ, kepalanya juga terbentur cukup keras ke dinding, karena meja tersebut yang jaraknya berdekatan dengan dinding.
"Raynka! Ya Allah!" Rafardhan berlari mendekati Raynka yang tergeletak tak berdaya di lantai. Darah bercucuran mengalir dari dahinya.
"Maafkan saya, Rayn," erang Rafardhan tak kuasa menahan air matanya. "Saya nggak siap kehilangan kamu."
🧠🧠ðŸ§
1 minggu telah berlalu. Namun sampai kini Raynka tak kunjung sadarkan diri. Setelah peristiwa mengenaskan itu, Raynka dinyatakan koma. Menurut hasil pemeriksaan, Raynka akan sadar dalam waktu beberapa hari, namun juga di dasarkan oleh kemauan Raynka sendiri.
"Saya tau, cepat atau lambat dia bakal hadir di sini, Rayn," monolog Rafardhan mengelus perut rata Raynka. "Kamu baik-baik ya. Nanti saya kembali lagi," Rafardhan mengecup singkat kening Raynka. Dengan berat hatinya untuk meninggalkan Raynka seorang diri, Rafardhan melangkah keluar dari ruangan VIP Raynka.
🧠🧠ðŸ§
Rafardhan memutar knop pintu ruangan Gieenza, "Kak," sapanya pada Gieenza yang tengah pokus menandatangani lembaran berkas-berkas. Rafardhan masuk dan duduk santai di atas sofa.
"Tumben lo Dek ke sini. Pasti ada maunya. Ada apa sih?" Gieenza sudah tak heran lagi pada Rafardhan. Memang bila sedang berada di satu ruangan seperti ini keduanya sama-sama menggunakan embel-embelnya 'Adik' dan 'Kakak'.
"Kak, kali ini lo harus bantu gue!"
Gieenza mengernyitkan dahi. Ia merenggangkan bolpoin dari kepalan jarinya. Sontak Gieenza menghentikan kegiatannya, beralih menatap manik mata Rafardhan yang juga menatapnya dengan tatapan serius.
"Lo kenapa? To the point, Dek!"
__ADS_1
"Kak, gue mau nikah. Pokoknya lo harus mau jadi wali dari perempuan yang gue pilih!" Tutur Rafardhan sungguh-sungguh. Gieenza tertawa lepas bahkan sampai terbatuk-batuk saat perkataan Rafardhan sampai di telinganya.
"Apa, lo mau nikah!" seru Gieenza tersentak kaget membelalakkan matanya menatap Rafardhan intens.
"Iya, dan lo harus mau jadi wali dari calon gue," tegas Rafardhan mengulangi perkataannya.
"Kenapa nggak lo suruh aja bapaknya? Malah mintanya ke gue yang nggak ada sangkut-pautnya, ngadi-ngadi lo, Dek," sahut Gieenza masih sembari tertawa. Jelas Gieenza menolak, sekaligus terbahak-bahak atas penuturan Rafardhan. Tanpa Gieenza terangkan, Gieenza yakin Rafardhan mengerti.
'Ya karna lo ayahnya. Makanya gue mintanya ke lo' Batin Rafardhan geram.
"Gue akan kasih tau semuanya, tapi setelah lo bersedia ikuti kemauan gue,"ujar Rafardhan kian serius. Nampaknya suasana kian menegang. Sepertinya Rafardhan tak main-main kali ini, pikir Gieenza. Gieenza beranjak dari kursi besarnya. Ia menghampiri Rafardhan, dan duduk bersebelahan dengan pria itu.
"Emang ada apaan sih, Dek? Lo dari tadi ngomongnya berbelit-belit," bukannya menjawab, alih-alih Gieenza malah meminta penjelasan.
"Lo tinggal ikuti kemauan gue, Kak. Dan gue akan kasih tau semuanya....."
"Kenapa nggak sekarang aja?" Katanya tak sabaran memotong ucapan Rafardhan.
"Dek, lo gila ya! Lo mau pernikahan lo 'nggak sah'?" Gieenza menekankan perkataan terakhirnya. Ck Gieenza memang menyebalkan, pikir Rafardhan.
"Oke. Dan, apakah lo bersedia memenuhi apa yang gue bilang tadi?" Tanya Rafardhan lagi. Gieenza tergeming bimbang. Rafardhan melanjutkan perkataannya lagi. "Kak, lo cukup jawab 'iya' maka semua akan beres. Gue nggak punya banyak waktu, Kak. Sekali lagi gue tanya ke lo, lo mau atau nggak? Gue berharap sih lo mau," Gieenza mencoba menggali sesuatu dari mata Rafardhan, namun yang Gieenza lihat hanyalah tampang tegas nan gagah sekaligus tegang dari sahabat karibnya itu.
"Emang kapan lo mau nikah?" Tanya'nya mencairkan suasana.
"Sekarang!"
"Apa!" Lagi-lagi Gieenza dibuat tercengang oleh Rafardhan.
Bersambung.....
__ADS_1