Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 32. Diary Mama Risa


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Mbak Arin," sapa ramah Raynka kepada sang penjaga lobby kantor.


"Wa'alaikumsalam," Arin memalingkan wajahnya menatap Raynka tercengang, "loh, Mbak Raynka. Ingin bertemu dengan bapak ya Mbak?" Raynka menyungging bibirnya mengangguk, "namun, maaf sekali Mbak dari beberapa hari lalu pak Rafardhan sudah take off ke Cirebon. Apakah pak boss tidak memberitahu Mbak?" Sahut Arin penasaran.


"Saya boleh tahu Mbak papa saya perginya dengan siapa saja?"


"Iya, Mbak. Jika dari sini hanya bersama bu Giesha, sekretarisnya pak Rafardhan. Dan tiga orang kepercayaan pak Rafardhan, Mbak. Namun, bu Giesha dan tiga orang itu di perintah pak Rafardhan untuk berangkat lebih awal, karena rencananya bapak ingin berangkat bersama Mbak. Hanya informasi ini Mbak yang saya dengar dari bu Giesha, selebihnya saya kurang tahu," jelas Arin.


"Oh iya Mbak, apakah papa bilang kapan pulangnya?" Tanya Raynka lagi.


"Sesuai dengan tanggalnya sih sepertinya pulangnya hari ini. Tapi kalau mengenai jamnya saya kurang tahu Mbak," tanggap Arin tersenyum kecil.


"Oh yasudah terima kasih ya Mbak Arin atas infonya. Saya pamit pulang dulu ya, Assalamu'alaikum," sekejap Raynka menundukan kepala tanda sopan.


"Iya, Mbak. Hati-hati dijalan. Wa'alaikumsalam," Raynka mulai melangkahkan kakinya menuju parkiran depan kantor. Ia'pun mendekati mobil Rily, dan masuk ke dalamnya.


"Bunda, gimana?"


"Kenapa tadi kamu tidak mau ikut turun?" Raynka memutar balik tanya.


"Buat apa? Kalau aku nggak bakal ketemu sama papa. Bunda, jujur sama aku papa ke mana? Tidak mungkin kalau Bunda tidak tahu, dan juga tidak mungkin kalau papa tidak bilang," lirih Rily menatap Raynka dengan raut muka sendunya.


"Aku tidak tahu," dinginnya suara yang keluar dari mulut Raynka.


"Bunda, please, papa nggak pernah tanpa kabar begini. Tolong jujur sama aku. Aku mohon. Apakah papa ada dalam kecelakaan pesawat itu, Bunda? Dan apakah sekarang papa......"


Telinga Raynka sudah sangat panas mendengar kalimat-kalimat terkaan Rily yang tak jelas. "Cukup ya Rily, aku bilang cukup! Kamu itu nggak tahu apa-apa nggak usah sok tahu begitu!" Raynka melihat jelas butir-butir putih itu menetes dari mata Rily saat sambutan sentakan ia ujarkan. "Pokus saja ke jalan! Kamu itu sudah dewasa jadi tidak usah cengeng," tubuh itu bergetar ketakutan. Seperti inikah rasanya dibentak? Seram sekali ternyata. 'Maafkan Bunda, Kak. Bunda tahu kamu pasti kecewa denganku. Dan Bunda belum siap hal itu terjadi' lanjut Raynka membatin.


Berakhir lagi dengan kebungkaman di sepanjang jalan tersebut hingga sampai kepada tempat tujuan.


...🦐🦐🦐...


"Masuk," sahut Raynka tatkala terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Rafardhan.


Mendengar persetujuan dari Raynka barulah bi Mila berani melangkah ke dalam. "Kenapa Bi?" Sapa Raynka bangkit duduk dari rebahannya.

__ADS_1


"Ini Mbak," Bi Mila langsung memajukan buku tersebut, "tadi pas Bibi ingin merapikan gudang, Bibi tidak sengaja melihat buku ini diantara barang-barangnya Mbak Raynka dulu. Bibi kira ini punya-nya Mbak yang hilang mungkin. Kelihatannya juga bukunya masih bagus."


Raynka mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia juga asing dengan buku itu. "Raynka juga nggak tahu Bi, tapi sepertinya bukan, eh tapi coba Raynka lihat dulu. Terima kasih, ya Bi," Raynka tetap mengambil buku itu dari tangannya bi Mila.


"Sama-sama, Mbak. Bibi keluar dulu ya Mbak."


"Iya, Bi."


Raynka memandangi buku yang kini berada di tangannya dengan teliti sembari juga mengingat-ingat. Benar kok buku ini memang bukan miliknya. Lancang sekali jika ia buka. Namun kenapa bisa bersatu dengan barangnya? Toh bukankah pemiliknya secara tidak langsung mengizinkan Raynka untuk melihat isi dalamnya?


Perlahan Raynka menarik maju resleting yang mengelilingi sampul buku tersebut. Ia'pun membukanya. Terbacalah halaman pertama, yaitu dengan nama 'Rierisally Gianyka Auzoravya Vinika'


"Mama," gumamnya terperangah. Sampai-sampai buku tersebut mendarat indah di lantai. Cukup lama Raynka diamkan ia bimbang antara kembali meneruskan membaca atau membiarkan begitu saja? Ck sopankah? Jujur selama ini Raynka juga tak mengetahui bila mamanya mempunyai buku dairy.


Ia hanya mengikuti hatinya loh ditambah juga dengan segudang rasa penasarannya yang menggebu-gebu. Raynka mengambil buku tersebut dan balik lagi duduk diatas ranjang. Ia memberanikan diri membaca lembaran selanjutnya setelah nama. Ternyata kosong. Begitulah dengan halaman-halaman selanjutnya, masih tetap kosong. Hingga sampai dipertengahan buku, barulah dilembaran tersebut terlihat tinta pena.


Assalamu'alaikum Wr Wb


Dear Diary.


Tetesan air mataku membasahi rupa indahanmu.


Mungkin inilah terakhir kalinya aku merusakmu.


Terima kasih sudah menjadi teman hidupku.


Membiarkanku berkeluh kesah tanpa batas.


Wahai hatiku.....


Keikhlasan dari hati terdalam telah tertanam


Semua rasa yang bercampur aduk telah membuyar.


Entah rasa syukur atau bersalah?

__ADS_1


Terima kasih sudah terus menjadi lembut, dengan ikhlas dan tabah kau terima semua takdir Yang Maha Kuasa.


Masalalu kelam membawaku kepada kesempurnaan cinta.


Akan kubongkar definisi hatiku:


Bagaikan mentari yang tak pernah lelah menyinari siang, nyata saat malam datang tenggelam.


Bagaikan bulan yang terlihat begitu indah, namun nyata dalamnya begitu gersang.


Kadang semesta tersenyum melihat topengku terbuka kala semua mata tertutup rapat.


Tuhanku.....


Allah, peluk hamba-Mu yang lemah ini.


Nyawa ini milik-Mu.


Terima kasih telah membiarkanku bernafas hingga detik ini, meski esok Engkau akan mengambilku kembali.


Aku ikhlas ya Allah.


Bukankah setiap yang bernyawa akan merasakan mati?


Tanpa ku sebut nama kuyakin Engkau lebih tahu siapa orang-orang yang kusayang setelah Engkau, berikanlah kebahagiaan kepada mereka ya Allah.


Untuk kamu siapapun yang membaca temukan kelengkapannya di selembaran kertas yang kutulis lagi yah, letaknya di selipan dairy ini. Aku akhiri, Wassalamu'alaikum Wr Wb.


Halaman selanjutnya hingga akhir halaman tak lagi Raynka temukan tintanya. Ternyata hanya lembaran tengah yang berisi tulisan. Itupun juga tak sepenuhnya Raynka paham, ralat bahkan semuanya Raynka tak paham. Semua kata-kata yang terbentuk layaknya teka-teki. Perlu dicari, agar lengkap kembali.


Tapi bukankah kata mamanya tadi ada lagi kertas tambahan yang terselip dibuku ini? Justru tidak ada. Apakah hilang? Atau malah jatuh? Ck mana Raynka tahu. Harus sesegera mungkin ia menemukannya. Raynka yakin dikertas itu pasti semua pertanyaan dibenaknya ini akan terjawab. Dan juga sepertinya tulisan dikertas ini ditulis sehari sebelum kepergian mamanya.


"Yaudah nanti ajadeh aku cari. Aku mau istirahat dulu. Kepalakku juga kenapa bisa tiba-tiba pusing gini huffh? Aku tidur aja deh sebentar, setelah bangun aku baru masak," rencananya Raynka. Kemudian ia menutup buku dairy itu dan meletakkan di atas meja nakas. Saat Raynka berpaling lagi ke lantai disitu ia melihat kertas putih yang tergeletak. Benarkah itu......? Cepat-cepat Raynka mengambilnya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2