Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 5. Petaka |Revisi|


__ADS_3

Di persimpangan jalan menuju pulang ke kerumahnya, Rafardhan mendapati ponselnya yang sekilas berbunyi mendakan sebuah message. Tangannya meraba untuk bisa mencapai benda segiempat tersebut yang kini ada dalam genggam tangan kirinya.


Ternyata bunyi dentingan sekilas tadi berasal dari what's app-nya. Rafardhan mengernyitkan dahi menatap sebuah video yang di share dari nomor yang sama sekali tak ia kenali. Lantas apakah ini? Pikirnya.


Rafardhan menepikan mobilnya. Pandangan matanya kembali lagi menatap intens benda segiempat tersebut. Lincah jemarinya tergerak membuka video itu.


"Ahhhhh, kenapa Sayang? Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu tinggalin aku? Aku hampa, Ca. Hidupku hancur. Aku nggak bisa tanpa kamu, Ca. Agghhhhh, kenapa semuanya terjadi Sayang? Aku nggak pernah bisa tanpa kamu, Ca. Kenapa kamu nggak pernah mengerti akan hal itu," Rafardhan mengacak rambutnya.


'Ca, aku sangat-sangat mencintaimu, janji ya bakal selalu ada disampingku selamanya?'


Ganica mengambil salah satu tangan Rafardhan, yang di kapit oleh kedua tangannya. 'Hey, aku nggak bisa janji akan hal itu, Sayang. Tapi kamu harus percaya selama aku masih ada, aku akan terus bersamamu,' sejenak Ganica menunda ucapannya sembari membimbing tangan Rafardhan menyentuh dadanya. 'Dan jikalau takdir kita berbeda, ragaku sudah tak berarti, yakinlah hatiku selalu ada. Kamu akan tetap menjadi cinta terakhirku.'


Rafardhan langsung memeluk Ganica erat. 'Aku juga mencintaimu, sangat,' gumam Ganica yang bisa di dengar oleh Rafardhan. Ganica merenggangkan pelukannya. Rafardhan mengecup lama dahi istrinya, seperti hendaknya kehilangan. Ganica menangis sembari tersenyum lirih.


Kira-kira seperti itulah isi video yang lebih tepatnya disebut rekaman CCTV. Rafardhan melempar ponselnya lewat kaca mobil yang tadi sempat ia buka.


"Brengsek!" Ia membanting wajahnya disetir sambil memejamkan mata. Tangan Rafardhan menggepal emosi sampai buku-buku jarinya memutih. Ia memejamkan matanya menahan hati yang bergejolak.


'Sayang makan dulu yuk! Tuhkan kamu kalau udah di depan laptop, semuanya pasti dilupain. Pokoknya awas aja kalau kamu sakit karna kerja. Aku nggak akan terima uang bulanan'


'Ihhh, tuhkan masih kerja lagi. Emang nggak cukup ya seharian udah nonstop di kantor? Kapan coba waktu kamu istirahat? Kalau besok-besok masih diulangi, aku bakalan ngambek sama kamu'


'Sayang, Tuhan baik banget ya sama aku. Padahal aku selalu jahat. Allah kasih kebahagiaan tak terduga dalam hidupku. Dan semua bahagiaku dimulai dari hadirnya kamu. Jika aku harus merasakan kehilangan lagi? Maka, lebih baik aku kehilangan diriku daripada harus merasakan pahitnya kehilangan kamu.'


Hampir semua perkataan Ganica terngiang di kepalanya. Suara itu masih terdengar jelas tanpa hambatan. Sekarang, detik ini Rafardhan tak mampu menyembunyikan kehancurannya.

__ADS_1


Belasan tahun lamanya Rafardhan sengaja menutupi semua hal yang berkaitan dengan mendiang istrinya. Setelah Ganica tiada bahkan untuk sekedar memandangi wajah Ganica saja merupakan hal sulit bagi Rafardhan.


"Nggakkkkk! Gue nggak bisa seperti ini!" Dengan keadaan emosi ia mengendarai mobilnya.


...🧠🧠🧠...


Lantaran ketukan pintu yang begitu kencang Raynka terbangun dari tidurnya. Sangking kencangnya mendadak ia menjadi gugup. Pasti ia akan mendapatkan semburan kata-kata pedas lagi.


Bergegas Raynka menyibak selimutnya ke lantai dan melompat dari sofa berlari kearah pintu utama. Setelah pintu terbuka malah Raynka yang heran, penampilan papanya begitu berantakan berbeda jauh dari sebelum pergi. Raynka mencium aroma menyengat alkohol yang berasal dari tubuh Rafardhan. Bulu kuduknya seketika merinding semriwing.


"Ma--masuk Pah. Ma-maaf-fin Ra-raynka bu-bukain pi-pintunya lama ka--karena Rayn--Raynka ketiduran," Raynka memberanikan diri memulai percakapan walaupun tak lancar.


Tiba-tiba Rafardhan mencengkal lengan Raynka lalu menutup pintu dan menguncinya.


"Pa---pa m-mau apa?" Raynka memajukan sepasang tangannya seakan untuk melindungi dirinya. Dan juga Raynka menghindari kontak mata dengan Rafardhan.


"Kamu akan mendapatkan balasan yang sebanding dengan yang kamu lakukan, Raynka sayang," desis Rafardhan tepat ditelinga Raynka. Raynka bergidik ngeri.


Jarak mereka yang terlalu dekat. Untuk pertama kalinya hal ini sukses membuat Raynka ketakutan setengah mati.


"Pah, Raynka melakukan apalagi memangnya?" Tanya'nya yang mencoba meminta penjelasan.


"Kamu pembunuh Sayang. Apa kamu lupa, hm? Dan pembunuh kecil sepertimu tak pantas untuk bahagia! Demi Tuhan aku akan membuatmu semakin hina Raynka! Aku sangat membencimu! Kamu pembawa sial, tapi kenapa semua orang bahkan menyayangimu?!"


Rafardhan menyeka air mata yang mengalir deras dipipi Raynka, "jangan menangis Sayang. Toh, sebentar lagi kamu akan menikmatinya," ujar Rafardhan tersenyum lebar. Raynka semakin ketakutan. Namun Raynka tak menyerah begitu saja, ia masih berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya, dan menjerit sekencang-kencangnya.

__ADS_1


"Ingin kamu berteriak bagaimana'pun, mustahil terdengar dari luar, bodoh! Kehancuranmu sudah di depan mata Sayang, sudahlah nikmati saja!"


"Nggak Pah hiks hiks jangan Rayn-Raynka mohon. Papa boleh bunuh Rayn atau mau siksa Raynka juga Raynka pasrah, asal jangan lakuin ini Pah, tolong Raynka mohon," pinta Raynka ditengah suara seraknya membuat bibirnya sulit bersuara normal.


Tubuhnya tak lagi meronta. Sungguh ia benar-benar tak rela jika kehormatannya yang selalu ia jaga selama ini direnggut dengan cara seperti ini. Berpacar-pacaran saja ia tak berani, apalagi melakukan kegiatan terlarang. Tuhan begitu besar dosanya.


"Diammmmm!" Bentak Rafardhan.


"Lepasinnn! Lepasinnnn aku! Apa selama ini nggak cukup apa yang telah aku lakukan! Kenapa aggghhhh? Jawab, jawab dengan cara apalagi aku harus bertanggung jawab? Namun tidak untuk ini."


"Dan hanya ini yang ku mau," desis Rafardhan. Dengan buasnya Rafardhan merobek pakaian Raynka. Raynka tak menyerah ia masih terus meronta-ronta, namun tenaganya tak sekuat itu untuk bisa lepas dari tindihan tubuh besar Rafardhan. Dan terjadilah........Raynka menangis dan teriak sekuat-kuatnya. Berbeda dengan Rafardhan yang tertawa lepas akibat mabuk.


"Anda benar-benar bajingan!"


"Ahhhh, kamu benar-benar nikmat."


...🧠🧠🧠...


Berulang kali Raynka mengejapkan matanya yang sedikit kesulitan untuk mencelik. Sambil menguap ia menolehkan kepalanya ke samping, betapa terperanjatnya Raynka melihat Rafardhan di sebelahnya yang tertidur dengan tubuhnya yang terbungkus bed cover. Tak hanya itu, matanya juga terpanah pada bed cover yang dilumuri darah merah kental.


Raynka membekap mulutnya tak sanggup. Ia menangis dengan dadanya yang berdegup cepat.


Bergegas Raynka kembali memakai pakaiannya yang berserakan di lantai. Kemudian, ia keluar dari kamar tersebut mengangkut bed cover itu memisahkannya dari tubuh Rafardhan yang kini masih terlelap. Mengingat selangkangannya meninggalkan rasa perih, membuat Raynka kesulitan berjalan meniti anak tangga untuk mencapai kamarnya di lantai atas.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2