Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 25. Ke Mana Diriku Yang Dulu?


__ADS_3

"Welcome my kamar," katanya setengah Inggris-Indonesia. Raynka menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. "Huh, akhirnya bisa juga tidur pulas dikasur kesayangan. Nggak perlu lagi lihat wajah tuh orang tiap malem, nggak perlu lagi nyiapin semua keperluan dia, huh enak juga bebas gini," Raynka tertawa lepas. Ia mengangkat kedua tangannya riang. Sesuai tantangan yang dibuat Rily. Sekarang satu bulan sudah berlalu, jadi saatnya Raynka kembali lagi seperti semula.


"Apasih kalian ini mengganggu saja," Raynka menepuk pelan perutnya kesal, pasalnya sekonyong-konyong rasa mual itu datang lagi.


"Huek," Raynka membekap mulutnya. Tergesa-gesa ia menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya di wastafel. "Bisa nggak biarkan saya senang sebentar saja. Kapan sih kalian dipihak saya?" monolognya. Tepukan-tepukan kecil tadi, kini berubah menjadi usapan-usapan lembut. Iya, Raynka melakukannya tanpa sadar.


Setelah ditunggunya hingga jam 23.30. Ia baru keluar dari kamarnya menuju dapur dengan langkahnya yang mengendap layaknya maling. Raynka mengambil salah satu susu yang tadi dipungutnya dari kotak sampah di lemari khusus susu, lalu diseduhnya menggunakan air hangat.


"Sudah mulai suka susu, hm?" Raynka menghentikan adukannya. Refleks ia memegang dadanya, kala suara bariton Rafardhan terdengar dengan jarak yang lumayan dekat, di sebelahnya.


"Rasanya tak buruk-buruk amat," sahut Raynka senggang.


Rafardhan meletakkan kembali gelas kaca yang airnya usai ia habiskan. "Alhamdulillah kalau kamu suka. Aku sangat bersyukur, Rayn. Meskipun bukan aku yang membuatmu candu," kata Rafardhan pelan. "Apa aku boleh tahu? Kenapa bisa kamu kenal sama Difka? Kenal dari mana?" Imbuh Rafardhan bertanya. Terbesit rasa penasaran dibenaknya akan kedekatan Raynka dan Difka yang menurutnya begitu cepat.


"Apakah penting untukku jawab? Urusannya sama kamu di mana?" Alih-alih menjawab, Raynka malah berbalik tanya dengan suara tak terimanya, sembari mendudukkan bokongnya dikursi meja makan.


"Sangat penting, Raynka. Sebagai suamimu aku rasa aku punya hak untuk tahu," jawaban dari Rafardhan yang terkesan mendesak. Ia ikut duduk dikursi sebrangan Raynka.


Raynka mengertakkan giginya. "Hanya status Rafardhan, sadarlah! Bahkan aku tak pernah menganggapmu begitu, cih najis," umpatnya membuang muka ke samping. "Kamu tak lebih dari penghancur hidupku!"


"Aku tahu, Raynka. Aku sadar. Tapi sampai kapan? Apakah kamu sama sekali tak bisa menghapus rasa bencimu padaku? Bilang sama aku Rayn, apa yang bisa kulakukan agar kamu bisa menghapus sedikit rasa bencimu padaku? Aku tak bisa seperti ini terus-menerus," permohonan Rafardhan yang terdengar frustasi.


"Benarkah kamu akan melakukannya, apapun itu? Baiklah ini sangat mudah, Rafardhan. Cukup pergi dari hidupku dan setelah 'mereka' lahir, maka saat itu juga aku yang pergi," sahutnya datar. Sejanak Rafardhan tergeming tanpa suara.


"Kamu sungguh tak adil kepadaku, Rayn. Bahkan kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk dekat denganmu secara sadar bukan karena 'mereka'. Sedangkan Difka? Apakah kamu mencintainya? Atau dia yang mencintaimu? Atau malah kalian saling mencinta?" Dengan lantangnya kalimat itu meluncur dari mulut Rafardhan meskipun dengan nada lirihnya. Suara keras layaknya raduan tangan mengisi keheningan ruangan dapur itu yang terjadi beberapa detik lalu. Spontan Rafardhan meringis pelan.


"Bertahun-tahun satu atap denganku, rupanya kamu sama sekali tak paham sikapku. Dan ingat, kesempatan kedua hanya untuk orang beruntung. Namun bagiku untuk saat ini dan selamanya kamu sama sekali nggak berhak mendapatkannya," balas Raynka tak kalah pedas.

__ADS_1


"Aku mengerti. Maafkan aku yang selalu menentang kebahagiaanmu. Semoga kamu bisa bahagia setelah mereka lahir. Tidurlah di kamarku jika kamu mau, tak mau juga tak masalah. Terima kasih atas 30 harinya. Tidurnya jangan terlalu larut ya nanti kamu sakit. Assalamu'alaikum," Rafardhan berjalan menuju ke lantai atas.


Raynka terdiam. Kenapa? Ini seperti bukan dirinya. Ia dulu tak begini. Ke mana dirinya yang selalu sembunyi dibalik kata maaf? Di mana hatinya yang senantiasa mengikhlaskan? Letak kesabarannya yang tiada batas? Kenapa semuanya berubah kala dirinya tengah berbadan dua?


Bahkan lihatlah tadi mulutnya sudah seperti setajam pedang. Raynka menatap telapak tangannya yang masih memerah. Lantas bagaimana dengan wajah Rafardhan tadi? Raynka menitikkan air matanya tanpa isakan. "Ma-maaffin aku. Wa-wa'alaikumsalam."


...🦐🦐🦐 ...


Rafardhan turun melewati titian satu-persatu anak tangga untuk menuju ke ruangan sholat, menunaikan sholat tahajud di jam sepertiga malam. Langkahnya mengarah ke kran air yang terletak di dekat kamar mandi. Rafardhan terpaku menatap Raynka tertidur lelap dengan posisi terduduk di atas kursi meja makan dengan lengannya sebagai bantalan kepala.


Tanpa berpikir panjang lagi. Rafardhan langsung menggendong Raynka ala bridal style, lalu menidurinya di atas ranjang kamarnya, ia naikkan selimut tersebut hingga menutupi perut Raynka. Setelah itu ia mencabut jarum pentul yang masih terpasang dihijab Raynka. Sejenak ia pandangi wajah teduh itu. "Maaffin aku ya," ujarnya. Rasa bersalah yang entah sampai kapan menancap dihatinya. "Jaga bunda ya anak-anaknya Papa. Jangan susahi bunda, ya Nak. Papa yakin kok bunda sayang banget sama kalian," Rafardhan mengusap perut Raynka yang nampaknya agak menonjol. Setelah itu ia keluar dari kamarnya meninggalkan kecupan singkat didahi Raynka.


...🦐🦐🦐...


"Sayang, main tebak-tebakan yuk!" Ajak Raynka sembari memainkan rambut Rafardhan yang berguling mesra di pahanya.


"Ayo, tapi kamu duluan."


"Kipas angin. Kan di rumah kita memang tidak ada kipas angin. Tapi kenapa kamu tidak pernah bilang kalau ingin kipas angin?" sahut Rafardhan cepat.


"Salah," sahut Raynka yang membuat Rafardhan menautkan alisnya.


"Kipastian dari kamu kapan buat debay?" Rafardhan terbahak-bahak mendengar jawaban Raynka.


"Ayo. Mau berapa?" Sambut Rafardhan bergurau. Raynka menyodorkan 10 jarinya di depan wajah Rafardhan. Rafardhan menelan salivanya. Betulkah sebanyak itu? Walaupun proses pembuatannya enak......


"Awwww," spontan Rafardhan mengucap, ketika segenggam tangan Raynka mengetuk dahinya. "Pasti mikirin yang enggak-enggak. Kamu kira aku beneran gitu? Gila aja. Enaknya sama-sama, susahnya diaku. Aku juga nggak mau kali tekdung tiap tahun, bisa melar badanku. Kamu mah enak tinggal cari perempuan sana-sini. Duda kaya raya siapa yang nggak mau?" Omel si bumil. Iya, bumil. Raynka tengah mengandung dua buah hati mereka yang keempat dan kelima. Rafardhan terbahak-bahak.

__ADS_1


"Kal......."


"Ayah! Bunda!" Perkataan Rafardhan terpotong kala suara 3 anak mereka sekonyong-konyong masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Gelagapan Rafardhan bangkit dari rebahannya.


"Sayanggggg. Kenapa, Nak?" Tanya Raynka.


"Bunda, mau bobo sini boleh? Sama dedek," katanya. Lalu ketiganya langsung naik ke atas ranjang, dan duduk di tengah-tengah mereka.


"Ini semua gara-gara kamu tau'nggak. Baru aja bisa berduaan," Desis Raynka tepat ditelinga Rafardhan. Pasalnya tadi si twins dan satu adiknya memang sedang tidur. Kalau tidak, mana mungkin mereka berduaan seperti tadi.


"Bunda, kok diem? Oh iya Bunda tekdung itu apa? Kayaknya kita baru pertama kali denger," kata salah satu si kembar. Kepo memang anaknya ini.


"Iya Bunda. Tekdung itu apa? Kita juga penasaran tauk," timpal si kembar satunya.


"Hey, kalian itu masih kecil. Tidak boleh apa-apa selalu ingin tahu, Bunda tidak pernah ajari ya Nak. Owh atau jangan-jangan Ayah ya?" Raynka menatap Rafardhan di sampingnya.


"Kok jadi Ayah? Ayah tidak pernah begitu loh, Bund."


"Tuh, benarkan? Didikkan Bunda mana ada yang seperti ini," tanpa keduanya sadari mereka telah berpindah tempat yaitu di sebelah kiri sang bunda.


"Sebahagianya Bunda saja. Insyaallah, Bunda bahagia Ayah juga bahagia," ramai-ramai tangan mereka mendorong lengan Raynka, tubuh Raynka hendak mendarat di pangkuan Rafardhan, tetapi kalah cepat dengan dekapan dari sepasang tangan Rafardhan.


"Horeeee! Cieeeee pacaran! Ka-ka-kaburrrrrr!" Raynka geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak-anaknya.


"Anak kamu, tuh," ujarnya masih seraya didekap Rafardhan.


"Kita, Sayang," yang diralat Rafardhan.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim," satu kata yang keluar dari mulut Raynka setelah mengalami mimpi panjang. Tiba-tiba Raynka langsung terduduk dari bangun tidurnya.


Bersambung.......


__ADS_2