Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 21. Gara-Gara Susu Cokelat


__ADS_3

Rafardhan berlari menuju di mana tempat Raynka berada. "Assalamu'alaikum, Sayang. Rayn tahu tidak aku punya kejutan buat kamu," dengan antusiasnya ia langsung memeluk Raynka bahagia.


"Wa'alaikumsalam. Rafardhan, apaan sih datang-datang main peluk-peluk, sesak tauk," risi Raynka mengguncang tubuhnya namun Rafardhan tetap tak membebaskannya. Kedua tangan Raynka mendorong dada Rafardhan, pelukan pun terputus. Rafardhan malah tersenyum lebar.


"Sebentar Sayang," bergegas Rafardhan keluar dari ruangannya menuju dapur kantor dengan menenteng sebungkus susu. Dirinya baru tahu ternyata susu ibu hamil juga memiliki banyak berbagai varian rasa. Raynka menatap bingung atas tingkah bahagia Rafardhan.


Setelah meminta izin atas ketidakhadirnya Raynka di sekolah TK. Rafardhan tak sengaja melihat toko khusus peralatan bayi termasuk berbagai merek susu. Lihatlah betapa bodoh dirinya selama ini hanya singgah disatu supermarket memborong apa yang ia inginkan tanpa menggunakan mulut untuk bertanya. Pun Risa dulu hanya minum susu rasa vanila, mana pernah dirinya ikut campur. Deal ya masalah susu Rafardhan tak tahu-menahu.


"Ada yang lucu ya Pak? Kok senyum-senyum sendiri?" Goda Giesha, sang sekertaris. Bolehkah dirinya berbangga dada saat ini? Karena berhasil melihat sedetik senyuman lebar dari atasannya. Walaupun pak boss-nya ini tak termasuk kategori pria angkuh, namun baris pertama untuk pria cuek.


"Kamu ini menganggu saja," sahut Rafardhan menghentikan adukan pada segelas susu tersebut dan berlalu pergi dari dapur menuju ruangannya.


"Rayn, mau tahu tidak kejutannya apa?" Ucap Rafardhan kepada Raynka dengan menyembunyikan segelas susu cokelat itu di balik tubuhnya berpegang pada satu tangannya.


"Kalau aku jawab tidak mau kamu akan kasih tahu jugakan akhirnya, yaudah kenapa mesti bertanya lagi," sambut Raynka santai bernanda menyindir. Rafardhan cengengesan tak jelas.


"Rayn, ternyata setelah aku cari-cari susu kamu banyak varian rasanya loh. Aku yakin kali ini pasti kamu suka," Rafardhan menjulurkan segelas susu yang masih berada di tangan kanannya. "Nih aku sudah siapkan buat kamu. Aku jamin rasanya pasti enak."


"Saya sudah berulang kali bilang sama Anda, saya tidak suka susu! Jauhkan dari hadapan saya atau Anda lihat dengan mata kepala Anda apa yang bakal saya lakukan!" Seru Raynka sukses membuat Rafardhan tercengang dalam hitungan detik. Tak semudah itu ternyata membujuk Raynka. Rafardhan kira dengan mengganti rasa susu Raynka bakal mempertimbangkan.


"Sayang, kamu tak pernah loh mencobanya," bujuknya lembut seakan tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Oke, benarkah Anda ingin saya mencobanya?" Raynka langsung merampas gelas susu tersebut dari tangan Rafardhan. Rafardhan tersenyum lebar. Dugaannya salah besar ia kira Raynka akan meminumnya melainkan malah dengan santainya Raynka menuangkan susu itu ke lantai dan menjatuhkan begitu saja gelas kosong itu. Secepat itulah senyuman Rafardhan memudar.


"Beres'kan? Ternyata susu itu lebih memilih mengalir ke bawah daripada masuk ke mulut saya," ujar Raynka tersenyum licik. "Anda tak pernah mengerti ya ternyata! Susu murahan itu sama sekali bukanlah penentu hidup dan matinya kedua anak Anda! Harusnya Anda sering-sering berkaca Rafardhan, kalau tidak mau dipaksa jangan pernah memaksa!" Imbuh Raynka menyeru.


"Rayn aku tahu kamu sangat membenciku. Tapi setidaknya sayangi mereka Rayn, mereka anak 'kita' walaupun kamu tak ikut andil dalam membuatnya."


"Cih, 'kita?' Bermimpilah Rafardhan karena mereka tak lebih dari pembawa sial. Dan pembawa sial selamanya akan menjadi pembawa sial. Untuk itu Anda jangan terlalu sering berhalusinasi!" tatapan tajam itu menghujam Rafardhan. Rafardhan terbungkam. Raynka berjalan maju ke arah pintu kamar untuk keluar, tak sampai lolos Rafardhan lebih dulu menempelkan tubuhnya dipintu.


Rafardhan menghela nafas pelan. "Rayn, tadi kamu sudah berjanji padamu akan beristirahat di sini. Beristirahatlah, aku tahu kamu lelah."


"Jangan halangi saya! Minggir!" Raynka mendorong tubuh Rafardhan dari samping. Sayangnya hal tersebut sama sekali tak berpengaruh terhadap tubuh besar Rafardhan.


"Rayn........."


Rafardhan mencoba menyentuh Raynka namun lagi-lagi Raynka menghindar. "Tolong jangan seperti ini Sayang. Tak masalah kalau kamu tak mau meminum susu, kedepannya aku tak lagi menyuruhmu, aku janji Rayn. Tapi kamu jangan keluar ya. Keadaan kamu sedang tak stabil, aku hanya tidak ingin kamu berbuat yang tidak-tidak," ujar Rafardhan menjelaskan Raynka dengan sabar.


Tangkas Raynka memaut satu tangan Rafardhan lalu menggigit punggung tangan itu sekuat-kuatnya hingga tertampaklah cap-an penuh gigi Raynka dan warna kulit Rafardhan yang berubah menjadi merah kebiruan.


"Awwwww," refleks Rafardhan menarik tangannya. Tentu inilah kesempatannya Raynka takkan menyia-nyiakan, Raynka menginjak kaki Rafardhan, keseimbangan Rafardhan pun menjadi goyah, Raynka mendorong tubuh itu hingga membentur besi tempat berdirinya ranjang, kemudian ia langsung keluar tanpa memperdulikan Rafardhan.


...🦐🦐🦐...

__ADS_1


Sejenak Raynka mengejapkan matanya. Secangkir susu cokelat yang digenggam oleh tangan seseorang sekonyong-konyong tertuju tepat di depan wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Rafardhan, pikirnya. Cekatan ia meraih cangkir itu, Raynka langsung memutar kepalanya ke belakang hendak menumpahkan kekesalannya sekaligus membuang susu itu.


Tangannya tertahan kala perkiraannya berbeda dengan kenyataan. "Kakak......" Gumamnya terperangah.


"Hay Dek, anggap aja hadiah dari Kakak buat kamu. Diminum ya," ujar Difka santai sembari duduk dibangku taman yang berbeda dari Raynka. memuat jarak.


"Aku tidak suka susu, Kak," sahut Raynka memelas.


"Benarkah? Apakah kamu pernah mencobanya?"


"Kak, aku memang tak pernah mencobanya. Tapi sedari dulu aku memang tak suka susu, apalagi rasa vanilla. Jadi aku kembaliin ya. Mohon maaf untuk hadiahnya tak bisa aku terima," tolak Raynka menjulurkan tangannya mengembalikan secangkir susu yang tadi hampir ia buang kepada Difka. Hanya sekilas ditatap Difka namun tangannya tak berniat maju mengambil.


"Dek, dikittttttttt aja, seydikittt aja. Seteguk deh," Difka mengatupkan kedua tangannya. "Adek nggak ingat Adek pernah ngomong gini sama Kakak, 'Kakak, kita tidak akan pernah bisa tahu apakah makanan itu beracun atau tidak sebelum kita mencobanya, pun menerka percuma sebelum mencoba' hayo ingat nggak?" Difka mengulangi perkataan Raynka dengan tampang cengengesannya, mana bisa ia serius. Raynka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Memangnya itu susu apa? Kakak sih aneh tiba-tiba kasih susu begini," protes Raynka yang merasa ganjil.


"Ya, ya, ya, itu, itu susu........oh iya mama suka banget loh Dek sama apapun yang berkaitan dengan cokelat. Tahu nggak Dek mama paling nggak suka loh sama susu. Waktu hamil Kakak'pun kata papa mama nggak minum susu tuh sama sekali. Tapi pas Kakak tahu mama suka cokelat, Kakak coba beliin mama susu rasa cokelat, itupun pertamanya harus dipaksa dulu buat si mama minum. Akhirnya dari situlah mama doyan susu. Ya meskipun nggak semua rasa yang mama suka hanya rasa cokelat dan stowbery aja. Karna kata mama hanya rasa itu yang nggak enek, selebihnya mama nggak suka tuh. Dek, selain tampan Kakak juga pintar ya?" Difka menepuk dadanya bangga. Raynka menanggapi dengan batuk-batuk kecil sambil membekap mulutnya. Difka tersipu canggung.


Perlahan tangannya terangkat ia mengarahkan gelas tersebut ke mulutnya, dengan perasaan was-was Raynka menelan susu tersebut, setelah dirasanya tak ada yang salah Raynka langsung meneguk habis susu cokelat itu. Ternyata rasanya tak seburuk yang ia kira. Difka tersenyum tawar, syukurlah usahanya tak sia-sia.


Raynka menoleh tak sengaja ia menatap Rafardhan yang berdiri diujung sana yang juga menatap dirinya. Terlihat bibir Rafardhan tersungging merekah. "Rafardhan," gumamnya. Raynka memalingkan wajah menghindari tatapan Rafardhan. Setelah ia memutar bola matanya lagi ke tempat di mana Rafardhan berdiri. Jangankah orangnya bayangan'pun tak dapat Raynka jangkau.

__ADS_1


"Pak Rafardhan suami kamu?"


Bersambung.......


__ADS_2