Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 28. Semua Tentangmu


__ADS_3

"Ih, kok nggak bisa tidur sih?" Monolog Raynka. Terbuang sia-sia waktu 1 jam untuknya masuk dalam dunia mimpi. Nyatanya, Raynka grasak-grusuk mencari posisi ternyaman. Tapi entahlah, mengapa rasa kantuk itu tak kunjung datang?


Raynka bangkit dari tempat tidur. Ia meranjak dari kamarnya menuju dapur. Mungkin saja dengan meneguk segelas air putih matanya bisa tertutup, harapnya. Sebelum mencapai dapur, Raynka justru memutar langkah kakinya. Perlahan ia membuka pintu kamar tersebut. Dahinya mengernyit, langkahnya kian memaju ke dalam.


"Kok Rafardhan tidak ada? Apa jangan-jangan dia memang belum pulang sedari tadi ya? Tapi Rafardhan ke mana belum pulang selarut ini?" Buru-buru Raynka mengecek panggilan terakhir di ponselnya, "tumben banget dia nggak kasih kabar? Biasanya kalau pulang telat dia selalu hubungi aku. Sebenarnya dia ke mana sih?" Raynka kular-kilir di depan tempat tidur Rafardhan. Khawatir? Hanya secuil. Gemercik air dari kamar mandi sama sekali tak terdengar, tak mungkin jika Rafardhan berada di dalamnya.


"Telfon aja deh," Raynka mengutip ponselnya. Nama Rafardhan sudah terlihat bahkan telah ia klik, namun seketika ia langsung menghentikan gerakan pada jemarinya, "enggak-enggak. Ntar dia ge'er lagi. Udahlah ini jugakan bukan urusanku. Mendingan sekarang aku tidur. Pasti besok dia juga bakalan pulang sendiri," Raynka merebahkan tubuhnya di ranjang Rafardhan. Ia bahkan mengurungkan niatnya untuk ke dapur. Kakinya benar-benar pegal bila di bawa jalan lebih jauh lagi.


Pantulan cahaya sinar matahari memasuki jendela kamar yang gordennya telah tersingkap. Kebiasaan sang wanita di waktu subuh hari. Rupanya cahaya tersebut cukup mengusik wanita yang sedang tertidur pulas itu, terpantul panasnya sinar matahari mata Raynka terbuka lebar.


"Ya Allah, kenapa bisa ketiduran gini," Keluhnya sembari menguap. Raynka melirik jam dinding yang tertuju pada pukul 06.00. Ia menoleh ke sebelahnya, kosong dan masih rapih seperti semalam. Kemudian Raynka menoleh ke lantai sebelah ranjang tempat di mana biasa Rafardhan tidur, kosong juga, tidak ada satupun bantal begitupun selimut yang tergeletak. Apakah Rafardhan belum masuk kamar?


Raynka meranjak dari kamar Rafardhan menuju ke dapur. Ia menghampiri bi Mila yang sedang mencuci sayuran di wastafel. "Bi, Rafardhan udah berangkat kerja ya, Bi?" Basa-basi Raynka.


Bi Mila menoleh sekejap menatap wajah Raynka. "Loh Mbak, Bibi saja belum melihat bapak dari pagi kemarin. Bibi kira bapak sakit mangkanya tidak keluar," sahut bi Mila sedikit terkejut.


"Enggak, Bi. Berarti Rafardhan semalaman tidak pulang dong, Bi?" Celetuk Raynka bertanya.


"Ya kira-kira seperti itulah, Mbak. Tapi bapak ke mana ya, Mbak? Tumben sekali tiba-tiba tidak ada kabar seperti ini?"


"Raynka juga tidak tau, Bi. Yaudahlah ngapain juga bahas dia, tidak penting juga. Raynka bantuin ya Bi. Bibi mau masak apa hari ini?" Raynka memindahkan semua sayur dan lauk pauk yang usai di bersihkan bi Mila ke meja dapur. Ia mulai sibuk menyiapkan bumbu-bumbu masakan tersebut.


"Mbak, jangan Mbak, biar Bibi saja. Nanti bapak bisa marah, Mbak," tolak bi Mila berdiri tepat di sebelah Raynka.

__ADS_1


"Enggak kok, Bi. Lagian Raynka bosan Bi, kan hari ini tanggal merah jadi Raynka libur. Raynka juga bantuin Bibi masak nggak setiap hari seperti dulu. Sekarang hanya hari-hari tertentu aja, masa' Raynka juga masih tidak boleh, Bi?" Bantah halus Raynka cemberut seraya tangannya tetap berkerja.


"Yasudah deh Mbak........boleh. Tapi jangan sering-sering, ya Mbak. Nanti bisa-bisa Bibi kena marah bapak lagi."


"Hahahha, dia nggak bakal berani sama Bibi," Raynka tertawa remeh.


"Kebalikannya, Mbak," bi Mila ikut tertawa kecil.


...🦐🦐🦐...


"Cie, yang lagi mikirin aku."


"Siapa juga yang mikirin kamu!? Sana pergi dan nggak usah ganggu-ganggu aku! Aku'kan nggak nyuruh kamu buat ke sini," Raynka menjulurkan tangannya mengusir seolah-olah Rafardhan. Chika menatap Raynka heran, pasalnya temannya ini bicara sendirian, jelas-jelas di depannya tidak ada siapa-siapa.


"Gimanapun kondisimu, keadaanmu, dan apalah itu, semuanya tidaklah penting bagiku Rafardhan. Mau kamu mati sekalipun juga terserah. Aku sama sekali tidak perduli padamu. Jadi berhentilah bersikap seolah-olah kamu penting di hidupku!" Chika masih melongo seraya mendengarkan semuanya dengan teliti tanpa menyadarkan Raynka.


"Aku akan buktikan ke kamu Rayn, bahwa aku juga bisa menjadi orang penting dalam hidupmu."


"Serah, serah kamu! Sana pergi! Pergi, dan jangan kembali lagi," Raynka mengejapkan matanya, setelah matanya kembali terbuka Rafardhan yang berdiri di depannya tadi seketika hilang, otomatis matanya celingukan mencari keberadaan Rafardhan, sayangnya tetap tak ia temukan.


"Kenapa lo?" Tegur Chika.


"Hah, apa? Eng-enggak. Emangnya gue kenapa?" Kikuk Raynka kelimpungan.

__ADS_1


"Ngapain dari tadi lo ngomong sendirian?"


"Emang iya yah? Tadi perasaan gue bicara sama Rafardhan kok," bantahnya polos.


"Mana ada, Raynka. Orang di depan lo tadi emang nggak ada siapa-siapa. Udahlah nggak usah ngeles. Bilang aja kangen. Mana sampai halusinasi gitu lagi," ledek Chika.


"Ah, serah lo, bodo amat! Gue laper, mau cari makan," Ia langsung bangkit dari duduknya, berjalan menuju keluar pintu ruang baca di gramedia.


"Ikuttt! Tungguin!" Chika berlari menyusul Raynka. "Tempat biasa'kan?" Imbuh Chika merangkul bahu Raynka. Raynka mengiyakan singkat.


Keduanya pun berjalan saling berjabat tangan menuju cafe tersebut. Karena jaraknya yang memang dekat, hanya beberapa langkah dari gramedia, maka dari itu tak perlu memerlukan kendaraan untuk menuju ke sana. Begitu sampai tempat tujuan keduanya langsung masuk dan mendudukkan diri di tempat biasanya.


Chika meraih buku menu yang tergeletak di atas meja. Ia mulai membuka serta tidak lupa juga membaca lembaran-lembaran menu makanan dan minuman tersebut. Lumayan banyak terdapat menu-menu yang baru terdaftar membuatnya sedikit ragu, apa yang akan ia makan? Berbeda dengan Raynka. Chika kembali diperlihatkan dengan tingkah aneh Raynka.


'Rafardhan, apaan sih ganjen-ganjen banget gitu!' batin Raynka menatap intens ke arah satu lelaki yang di kelilingi empat wanita berpakaian kurang bahan, begitulah dalam pandangan matanya. Rasa sesak menghantam dadanya. Tangannya menggepal kuat. Bisa-bisanya Rafardhan menyelingkuhi dirinya dengan perempuan-perempuan seperti itu lagi! No, Raynka tidak sudi anaknya jadi gelandangan.


Chika mengikuti arah pandangan manik mata Raynka. Jelas-jelas itu adalah orang yang tak mereka kenal, tapi mengapa temannya bisa seemosi ini?


"Raynka," tepuk Chika di salah satu bahu Raynka.


Spontan Raynka merundukkan kepalanya terperanjat. "Astaghfirullahaladzim. Hah, hah, apa?" Gelagapan ia menoleh ke sebelahnya. Raynka mengalihkan tatapannya kembali pada Rafardhan dan keempat selingkuhannya. Faktanya yang ia lihat lelaki itu bukanlah Rafardhan, melainkan orang lain yang tak dikenalnya. Ck, mengapa bayang-bayang Rafardhan menghantui dirinya?


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2