
"Kak, mampir ke pasar dulu ya, Bunda mau belanja keperluan dapur," ujar Raynka kepada Rily yang fokus menyetir mobil.
"Bund jam segini di pasar sudah dikit loh yang jualan, dan juga sayur-sayurannya udah nggak segar lagi. Gimana kalau ke supermarket yang baru buka itu aja, Bund? Kan tiga lantai, sepertinya juga besar, pasti lengkap deh, Bund," saran Rily
"Boleh, Kak. Bunda juga belum pernah belanja di sana. Kakak tahu'kan tempatnya?" Raynka menoleh menatap Rily.
"Tahu kok, Bund," sahut Rily yang diangguki oleh Raynka. Mobil pun melaju ke tempat tujuan mereka berdua. Tak butuh waktu lama untuk mobil itu berhenti sampai ke supermarket tersebut, sebab jalanan yang mendukung, juga jaraknya yang tak terlalu jauh.
Kemudian, keduanya'pun turun dari mobil. Rily celingukan menatap tempat parkir yang penuh dengan kendaraan roda dua. "Bunda, kayaknya parkir mobil di atas deh. Gimana Bund? Bunda masuk duluan aja ya."
"Beneran? Yaudah, Kakak hati-hati ya," Raynka'pun masuk ke dalam supermarket tersebut. Dan Rily kembali masuk ke dalam mobil, menjalankannya memasuki ruangan gelap yang katanya tempat parkir di lantai paling atas, dengan jalan merosot dan berbelok-belok hingga ia keblablasan tak menginjak rem saat hendak berhenti.
"Astaghfirullahaladzim," katanya. Spontan tangannya membekap mulutnya. Rily langsung keluar dari mobil begitu melihat si pemilik mobil yang ia tabrak juga hendak mengecek kondisi mobilnya. Tatkala ia'pun mendekati.
"Pak maaf Pak, saya betul-betul tidak sengaja. Apakah ada yang lecet? Bila ada, saya siap tanggung jawab, Pak," suara Rily memelas, dengan kepala tertunduk sembari mengantupkan kedua tangannya.
Gieenza mengalihkan pandangannya menatap Rily. "Tidak apa-apa, Mbak. Tidak ada yang perlu di khawatirkan," jawab Gieenza lembut.
"Tapi Pak, tadi suara tabrakannya cukup keras, dan tidak mungkin apabila tidak ada kerusakan," Rily mendongakkan wajahnya. Ia terpaku menatap wajah Gieenza, bagai pinang dibelah dua, begitulah dengan wajahnya, benar-benar mirip.
'Wajah gadis ini...... mengapa bisa begitu menyerupai wajahku?'
'Kenapa wajah orang ini bisa sama persis denganku? Bahkan wajah aku dengan papa saja sama sekali tidak ada kemiripan' batin Rily bingung sekaligus......tentu ada secuil rasa sedihnya.
"Paling hanya sedikit. Tidak apa-apa, Mbak. Saya duluan ya Mbak," Gieenza langsung enyah dari sana. Menyisakan Rily yang diam mematung.
"Ngapain sih aku mikirin ini? Ngapain juga aku harus sedih? Mungkin ajakan hanya kebetulan. Bukankah memang masing-masing orang mempunyai 7 kembaran di dunia ini, jadi wajar aja kalau banyak kemiripan. Yaudahlah, ngapain juga masih di sini," monolognya tersenyum simpul, lalu berjalan masuk ke supermarket melewati pintu yang terbuka di dekat sana.
...π¦π¦π¦...
__ADS_1
Raynka melangkah mendekati tempat sayur-sayuran. Serempak dengan si ibu sebelahnya, yaitu menggenggam sebuah jagung yang digenggam oleh dua tangan keduanya. Sama-sama menoleh saling menatap.
"Embakkkk."
"Ib......eh Tante," kikuk Raynka kepada Dianka.
"Sering belanja di sini juga, Mbak?"
"Ini baru pertama kalinya Tan, nyoba-nyoba aja."
"Oh iya, kebetulan ketemu di sini. Dari pertama bertemu kita belum sempat kenalan loh Mbak, bahkan nama Mbak saja Tante tidak tahu," kata Dianka mengajak Raynka saling bertukar nama. Dianka menjulurkan tangannya, "nama Tante Dianka. Mbak bisa panggil, Tante Di. Kalau Mbak sendiri?"
"Raynka, Tan," Raynka'pun membalas dengan jabatan tangan sembari menyunggingkan senyumnya. Namun lebih dulu Dianka menarik tangannya, mengganti dengan sepasang tangannya memegang kedua bahu Raynka.
"Raynka? Benar kamu Raynka?" Desak Dianka. Kemudian memeluk Raynka erat. "Ya Allah, anakku. Kamu anak Mama, Raynka. Ya Allah," berlinanglah air matanya. Raynka diam ketakutan. Pasalnya pelukan Dianka yang terlalu erat. Ia khawatir akan perutnya yang tergencet.
"Ta-tante," tegur Raynka lirih. Mencoba membebaskan dirinya, namun tak berhasil. 'Bagaimana ini?' batinnya panik.
Flashback on
"Ibu, Ibu beneran tidak tahu ya di mana orang tua Raynka? Raynka kangen Bu sama bapak, sama ibu," Ujar Raynka yang kala itu berusia 3 tahun sambil berurai air mata memberanikan diri bertanya kepada bu panti.
"Iya, Nak. Dulu waktu Raynka masih kecil, masih baby, ada salah satu perawat yang katanya membantu proses lahiran mamanya Raynka mangantar Raynka ke sini."
"Terus perawat itu bilang apa sama Ibu?"
"Sini, Nak," bu panti menepuk pahanya mengisyaratkan Raynka agar duduk di pangkuannya. Raynka'pun mengikuti. "Raynka masih terlanjur kecil buat tahu permasalahan orang dewasa. Yang harus Raynka lakuin sekarang hanyalah belajar. Raynka harus fokus belajar, Raynka harus menjadi orang yang sukses, Raynka bilang Raynka mau jadi desainer'kan? Kalau begitu jangan memikirkan masalah ini ya Nak. Jangan sampai cita-cita Raynka buyar karena ini. Raynka mau janji sama Ibu?" Bu panti mengecup kepala Raynka. Air matanya menetes. Di usianya yang sangat kecil bahkan Raynka sudah sangat pintar.
"Ibu, beneran Raynka bisa jadi desainer yang jahit-jahit baju besar itu ya Bu? Tapi asalkan Raynka melupakan ibu dan bapak. Iyakan Bu? Raynka mau Bu. Raynka mau. Kan bisa aja',kan Bu, ibu sama bapaknya Raynka lagi cari uang buat Raynka. Iyakan Bu? Raynka janji, Raynka nggak akan tanya tentang ibu dan bapak lagi," Bu panti hanya menganggukkan kepalanya, berlanjut memeluk gadis kecil nan menggemaskan itu.
__ADS_1
Flashback off
Flashback On
"Papa, kata Papa kemarin bilang sama mama mau cari tahu tentang ibu dan bapaknya Rayn. Hasilnya gimana Pah? Ibu sama bapaknya Raynka ke mana?" Raynka, gadis berusia 6 itu bicara terang-terangan dengan Rafardhan, papanya. Orang yang paling ia takuti.
"Hem....kamu nguping?"
"Kan Raynka nggak sengaja dengar Pah. Tapi Raynka nggak nguping kok, cuma nggak sengaja denger. Suer Pah," cekatan Raynka mengacungkan 2 jemarinya, telunjuk dan tengah. "Raynka nggak bohong kok, Pah," ucapnya bersikeras.
"Orang tua kamu dua-duanya sudah tidak ada," tubuh Raynka beringsut ke bawah, ia menangis sejadi-jadinya.
"Kamu bisa diam tidak sih? Saya ini banyak kerjaan. Kalau mau menangis sana di keluar saja. Saya tidak ada waktu untuk mendengar tangisan tak berguna kamu," ujar Rafardhan dingin. Tanpa berucap lagi Raynka langsung berlari keluar dari ruang kerja Rafardhan.
"Maafkan saya, Raynka. Saya terpaksa melakukan ini," Rafardhan menjambak rambutnya frustrasi.
Flashback Off
'Ya Allah, adaapa dengan hatiku? Kenapa jantung Raynka berdebar? Ibu. Dari kecil Raynka tidak pernah bertemu sama ibu, Raynka'pun tak tahu bagaimana wujudnya ibu? Melihat tatapan ibu tadi, mengapa rasanya beda seperti Raynka tatap mama Risa?'Air matanya lolos begitu saja.
"Ra-raynka tidak tahu, Tante," ucapan manakah yang harus dirinya percaya? Ia betul-betul bimbang.
"Kenapa Raynka, kamu tidak percaya sama Mama? Mama ibu kandung kamu Raynka. Ini Mama Nak, ini Mama," Dianka menepuk dada menunjukkan dirinya. Ia bersikeras membuat Raynka percaya.
"Ya Allah, adaapa ini?" Monolog Gieenza yang melihat istrinya terus mendesak seorang perempuan.....tunggu perempuan itu tidaklah asing di matanya. Raynka hanya berdiri mematung dan menunduk. Cepat-cepat Gieenza menghampiri mereka.
"Mbak, maafkan istri saya ya Mbak," Gieenza menatap sejenak ke arah Raynka. Lalu ia merangkul bahu istrinya. "Ayo, Mah," katanya mengajak istrinya pergi dari sana. perlahan Dianka berjalan.
"Pah, dia Raynka Pah, dia anak kita," ucapnya tegas yang di mana setiap perkataannya menekan. Sembari berjalan.
__ADS_1
Setelah di rasanya lorong ini agak sepi. Gieenza menghentikan langkahnya dan menatap wajah Dianka, istrinya. "Hanya kebetulan mirip namanya, Mah. Mau sampai kapan Mama terus seperti ini? Dia bukan anak kita Mah. Dia adalah istri teman Papa. Kalau dia memang anak kita, dia tidak mungkin takut dengan mama seperti tadi. Apakah Mama melihat wajah ketakutan gadis tadi? Bahkan tubuhnya bergetar Mah. Sadarlah Mah. Terima kenyataan. Papa tidak mau Mama terus-terusan seperti ini. Biarlah Raynka dengan kehidupannya Mah. Dan kita dengan kehidupan kita," Dianka diam seribu bahasa. Rasanya ia sudah kehabisan kata-kata untuk membela diri, hanyalah titikan air mata yang menjelaskan. Gieenza menyeka air mata istrinya tersebut.
Bersambung........