
"Bapak!" Bi Mila terlonjak kaget ketika berbalik badan sekonyong-konyong sudah terdapat majikannya ini yang berdiri tak jauh dari tubuhnya.
"Assalamu'alaikum, Bi," salam Rafardhan terkekeh geli.
"Wa'alaikumsalam, Pak. Kok Bapak tiba-tiba bisa muncul di sini yah?" Ayolah, pertanyaan macam apa yang dipertanyakan oleh bi Mila?
"Bukankah di sana terdapat pintu, Bi?" tuding Rafardhan ke pintu masuk rumah. Bi Mila menepuk jidatnya. Barangkali saking gugupnya. "Bibi, bagaimana kabarnya? Dan oh yah di manakah Raynka dan Rily? Sepertinya rumah sepi sekali," kepala Rafardhan celingukan.
"Alhamdulillah saya baik, Pak. Mbak Raynka dan mbak Rily sama-sama sedang tidur Pak. Bapak sendiri bagaimana kabarnya?"
"Seperti yang Bibi lihat. Saya ke dalam dulu ya, Bi....." Rafardhan hendak melangkah.
"Sebentar, Pak," cegah bi Mila. Rafardhan menunda langkahnya. "Mbak Raynka belum makan dari pagi Pak, tadi pas pulang langsung masuk kamar dan tidur. Bibi siapkan sebentar ya, Pak."
"Tidak usah, Bi. Biar saya sendiri saja," seusai sampai di dapur. Rafardhan menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan ia olah. Seperti biasa ia akan memasak sup jagung kesukaan Raynka. Setelah selesai ia pindahkan ke dalam mangkuk yang akan dimakan Raynka, Rafardhan juga menyeduh segelas susu hamil rasa cokelat untuk Raynka, air kompresan, semuanya ia letakkan dibaki.
Salah satu tangan Rafardhan membuka pintu kamarnya dengan perlahan agar tidak tertimbulnya bunyi. Ia masuk ke dalam. Meletakkan baki di atas meja. Beralih memandangi wajah Raynka yang tertidur pulas. Rafardhan tersenyum kecil. Natural saja cantiknya MasyaAllah, apalagi dengan make up kemarin. Tapi sayangnya Rafardhan tidak suka wajah Raynka-nya penuh make up. Cukup kain kanvas saja yang dilukis, wajah istrinya jangan.
Mengapa pipi itu semakin hari semakin membesar? Rasanya Rafardhan tak sabar untuk mengapitnya. Benar-benar besar layaknya bakpau, kata orang-orang.
__ADS_1
Namun, tidak-tidak, Rafardhan hanya mendaratkan kecupan dipipi Raynka. Sampai-sampai ia lupa untuk mengompres dahi Raynka saking nyamannya menempel dipipi gembul itu.
Rafardhan memeras kain kompres di dalam wadah air. Ia merapikan kain putih itu dan menempatkannya di dahi Raynka. Raynka yang merasakan ada beban di dahinya, pun sebenarnya cukup mengusik tidurnya, namun ia enggan saja membuka matanya, karena ia tahu kalau bukan bi Mila siapa lagi? Lebih baik melanjutkan tidur lebih lama. Karena kenyataan tak seromantis mimpinya.
"Assalamu'alaikum, Anak-anaknya Papa. Selama Papa pergi bunda jahat tidak Nak sama kalian? Tapi, sepertinya bunda sudah sayang ya Nak sama kalian? Cieee, gimana sih cara mengambil perhatiannya, bunda? Anak-anaknya Papa pada pinter ya," seketika jantung Raynka berdetak kencang. Suara itu.....mimpinya benar-benar indah, Ya Allah. Padahal ini masih siang hari. Secara sadar ia merasakan sentuhan lembut Rafardhan. Raynka terlalu takut, bukankah jika ia membuka mata semua mimpinya akan buyar tak bersisa?
Rafardhan merebahkan tubuhnya di sebelah Raynka. Satu tangannya ia gunakan untuk menopang kepalanya. Dan tangan satunya lagi ia mengusap rambut Raynka. Sesekali Rafardhan mengecup wajah tersebut.
Tanpa sepenglihatan Rafardhan, satu tangan Raynka mengapit pipinya sendiri. 'Awwwww' jeritnya membatin. Sadar kok. Ini dirinya tak sedang dalam dunia mimpi. Buktinya cubitannya terasa. Perlahan Raynka meraba tangan Rafardhan yang masih mengusap rambutnya. Ia memegang tangan itu menjauh dari kepalanya, dan matanya langsung terbuka melihat tangan tersebut masih dalam genggamnya. Raynka menjatuhkan tangan Rafardhan begitu saja, ia memutar tubuhnya dari melentang menjadi ke kanan membelakangi Rafardhan. Otomatis Rafardhan terperangah atas reaksi Raynka.
"Hey, kamu kenapa?" Tegur Rafardhan menyeka bahu Raynka.
5 menit kemudian ia kembali membuka matanya. "Tuh'kan enggak ada, tuh'kan mimpi lagi, udahlah," Raynka beranjak dari ranjang. Keseimbangan tubuhnya goyang karena terhalang oleh satu kaki Rafardhan. Rafardhan yang melihat Raynka hendak tersungkur, cekatan menghela tangan Raynka hingga terduduk di pangkuannya dengan tangan Rafardhan yang merangkul pinggang Raynka.
"Lain kali hati-hati," desisnya.
Lambat laun Raynka menolehkan kepalanya ke belakang. Ia melongo tak percaya menatap wajah itu, bahkan dengan jarak yang hanya beberapa jengkal. "Tampar aku please tampar aku," tanpa sadar bibirnya berucap begitu. Rafardhan menyunggingkan senyum geleng-geleng kepala. "Ini pasti mimpi," imbuhnya. Rafardhan mengecup pipi Raynka. Raynka mematung di tempat. Entahlah keisengannya, kecupan lembut tersebut berakhir gigitan. Spontan tangannya menggeplak wajah Rafardhan, "sakit, sableng."
"Aku bercanda kok," Raynka membalas kecupan di pipi Rafardhan. Rafardhan menggerakkan wajahnya. Sampai di mana bibirnya berhenti tepat dibibir mungil Raynka. Rafardhan ********** pelan. Sekujur tubuh Raynka berdesir hebat. Jantungnya terpompa begitu cepat. Ingin melanjutkan aksinya lagi, hendak lidahnya menembus mulut Raynka, keduluan sama Raynka yang bangkit dari pangkuan Rafardhan. "A-apaan sih," berlanjut ia kembali berbaring di atas tempat tidur.
__ADS_1
'Ck rasanya kenapa begitu manis?' Batin Rafardhan frustrasi membayangkan kejadian tadi.
Raynka menghela nafas mencari ketenangan. Sejenak ia terdiam menormalkan detak jantungnya. "Kamu ngapain tiduran di situ?" Tuturnya heran. Bukannya Rafardhan mengikutinya. Malah berbaring di lantai.
"Kan tadi kamu yang suruh. Ngendorong pula," sambut Rafardhan acuh tak acuh.
"Yaudah, naik!"
"Beneran boleh? Lembutan dikit dong, Bund," goda Rafardhan manja. Mari kita lihat. Apakah Raynka akan tetap mempertahankan gengsinya? Atau hatinya?
"Serah deh serah," sahut Raynka bodoamad. Justru dirinya asik memeluk guling. Nyatanya ini benar-benar kenyataan. Bolehkah ia sebut ini dengan kebahagiaan? Ia ingin sekali memeluk tubuh itu. Tapi apa kabar dengan perempuan yang bersama Rafardhan di foto yang Chika share? Terbagi memang tidak enak, namun dirinya bisa apa? Jika kehilangan lebih menyakitkan.
Mendengar suara pintu terbuka. Tergesa-gesa Raynka lompat dari tempat tidur. Saking panik juga ceroboh kakinya terkilir dan ia kembali terduduk di dilantai. "Awwwww," erang sesaat Raynka memegang kakinya yang terkilir. Rafardhan menutup pintu kamar. Ia menoleh ke belakang. Raynka berlari cepat tanpa memperdulikan kakinya yang tak sempurna diajak berjalan.
Memeluk tubuh Rafardhan erat. "Mau ke mana lagi? Nemui perempuan itu? Setidaknya kalau mau menikah lagi izin gitu ke aku. Bagaimanapun juga aku istri sah kamu. Kenapa, takut? Aku juga sama sekali tidak masalah bilah dimadu," ungkap Raynka agresif. Rafardhan tergeming bingung. Menikah lagi? Kenal perempuan saja dirinya ogah. Apalagi sampai sejauh yang dikatakan Raynka. Ck ada apalagi dengan istri kecilnya?
"Rayn, maksudnya bagaimana? Siapa yang ingin menikah lagi? Bahkan hatiku sepenuhnya hanya milikmu," sayangnya telinga Raynka sudah terlalu lengah mendengar kalimat-kalimat manis Rafardhan yang sebagai kalimat penenang sesaat.
"Untuk hari ini. Aku ingin sepenuhnya waktumu hanya untukku. Ya, satu hari penuh. Untuk hari ini saja.....aku tak ingin terbagi," Raynka menghirup dalam aroma khas tubuh Rafardhan. Dirinya begitu merindukan pelukan ini. Yang sangat dinantikannya.
__ADS_1
Bersambung.....