
"Ih Bibi kok darenya makan mulu sih. Bosen tauk," gerutu Rily kala ujung tutup botol itu mengarah padanya, bi Mila menyuruhnya makan semangkuk tekwan dengan durasi waktu 1 menit, iya tekwan yang setadi mereka masak bersama.
"Tidak boleh seperti itu Mbak. Mbak tidak ingat siapa tadi yang ngerjain Bibi habis-habisan," sahut bi Mila cengar-cengir menggoda Rily.
"Ih Bibi mah," bibir Rily terkelepai ke bawah.
"Assalamu'alaikum. Pada main apaan sih, kayaknya seru banget. Raynka boleh ikut?" Ujar Raynka yang tiba-tiba muncul lalu duduk lesehan diantara mereka.
Rily tersenyum ceria. Akhirnya bebas juga ia dari tantangan bi Mila. Menyerah'kan sama sekali bukan kriterianya, namun jika ada yang membantu apa salahnya? "Waalaikumsalam. Bi Mila Bunda ikut jadi tantangannya dipending dulu ya, sesuai perjanjian kita tadi."
"Iya deh, Mbak."
"Papa juga ikut, boleh?" Sebelum terdengar sahutan dari mereka, Rafardhan juga langsung duduk lesehan.
"Bi, Raynka tidak jadi ikut deh," ucap Raynka yang kurang setuju dengan kehadiran Rafardhan, merubah moodnya saja. Raynka bangkit dari duduknya, namun jauh lebih cepat dengan bi Mila yang mencekal tangannya.
"Tidak bisa begitu Mbak. Kalau sudah masuk tidak bisa keluar," bi Mila tahu kok jadi tak perlu dijelaskan. Mengetes kejujuran dari keduanya sepertinya hal bagus, itulah alasan bi Mila menahan Raynka.
"Bibi, tapikan Raynka nggak ngerti cara mainnya?" Elak Raynka mencoba keukeuh pada pendiriannya. Bi Mila tak akan biarkan rencananya dan Rily gagal begitu saja, percayalah.
"Bibi jelaskan ya Mbak. Kan nanti botolnya akan diputar, jadi misalnya tutup botol itu mengarah ke Bibi dan ujung botolnya mengarah ke Mbak, artinya Mbak yang tanya ke Bibi kalau Bibi jawab truth Mbak kasih pertanyaannya, dan begitu juga sebaliknya kalau Bibi pilih dare Mbak anjurkan tantangannya. Sedikit note dari Bibi, truthnya tidak boleh ada campuran-campuran kedustaan, pun darenya sanggup tak sanggup harus sanggup. Mengerti bukan Mbak, Pak?" Jelas bi Mila beralih dari Raynka menatap Rafardhan. Rafardhan mengangguk singkat. Tak ada lagi elakan selain sahutan menginyakan dari Raynka. Ia kembali mendaratkan pantatnya ke bawah. Bi Mila tersenyum lebar.
"Mari kita mulai!" Sambut Rily. Seusai digerakkan Rily botol'pun memutar di mana botol tersebut berhenti dengan tutup botol menunjuk ke Raynka dan ujung botol menunjuk ke dirinya sendiri.
Sontak hal itu membuat Raynka berantusias tangkas menoleh ke Rily, "mau pilih apa, truth atau dare?"
"Truth deh, Bund."
__ADS_1
"Apa alasan kamu memilih untuk berhijab selain mengharap ridho Allah?"
"Karena aku sayang sama papa. Pada saat Bunda pergi aku juga pernah berjanji sama Allah bahwa aku tidak akan lagi membuka hijab, asal Bunda tetap bersamaku. Tapi alasan utamanya semata-mata hanya mengharap ridho Allah Bund, semakin hari umur semakin menua kalau tidak sekarang kapan lagi sempat menutup aurat? Bukankah Allah tidak memberitahu umatnya kala Ia mengambil milik-Nya kembali," jawaban bijak Rily yang membuat Raynka mengacungkan jempol, luar biasa. Rafardhan dan bi Mila bertepuk tangan, bangga.
Pertanyaan inilah yang sedari awal ingin Raynka tanyakan ketika bertemu Rily setelah kepergiannya, namun Raynka'pun bingung untuk mempertanyakannya, ia hanya cukup bersyukur. Satu pertanyaan lagi yang mengganjal di hati Raynka, "aku pergi? Bukankah saat itu Kakak sedang tidak di rumah?" Katanya menautkan kedua alisnya.
Rily menelan salivanya sulit. Ia meski jawab apa? Bi Mila yang macamnya paham akan pembicaraan Raynka menarik Raynka kembali keluar dari pemikiran-pemikirannya. "Mbak, Bibi lupa beri tahu ya, bertanya hanya cukup satu kali. Next ya Mbak!"
"Oh iya juga ya Bi, kan giliran hehhe Raynka lupa," sahut Raynka cengengesan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rily menghembuskan nafas lega.
"Aku yang kena jadi aku lagi yang putar, benar?"
"Oke!" Sorak ketiganya serentak. Bi Mila, Rafardhan, dan Raynka. Rily kembali memutar lagi botolnya. Botol berhenti tepat ke arah tunjukkan Rafardhan dan Raynka. Raynka memutar kedua bola matanya malas.
"Jujur atau tantangan?"
"Truth," jawab Raynka singkat.
"Tidak ada. Apakah Anda tahu maknanya cinta? Cih bulshit. Seumur hidup saya, saya tidak akan lagi mengenal kata itu, karena sejatinya cinta memang menghancurkan," sambut Raynka datar yang diakhiri dengan bibirnya membentuk senyum smirk.
'Dan aku juga yang akan merubah cinta itu menjadi menumbuhkan' batin Rafardhan. Prinsipnya, ia senantiasa mendapatkan apa ia mau. Termasuk mendapatkan Raynka kembali. Surat perjanjian pernikahan akan ia ambruk kala waktu yang tepat, itu janjinya.
"Terima kasih atas jawabannya, next ya!"
Botol'pun kembali diputar oleh Raynka. Malah kena lagi di dirinya. Apa-apaan ini. Raynka mengernyitkan dahinya, Tidak adil dong meskipun ia yang memutar.
"Kok Raynka lagi?" Hendak memutar, mujurnya Rily sigap menahan.
__ADS_1
"Tidak boleh Bund. Tadikan panahnya ke Bunda dan papa kalau sekarang ke Bunda dan aku. Jadi sah-sah saja, kecuali begini kalau panahnya seperti tadi ke Bunda dan papa baru kita putar ulang," jelas Rily.
"Yaudah deh kamu mau nanya apa sama aku? Aku pilih dare saja," jadi panggilan 'Bunda' yang dilontarkannya oleh bundanya ini hanya ketika sedang berdua dengan dirinya saja? Sudahlah tak apa Rily mengerti.
"Oke Bunda, siap menjalani dare dari aku?" Alih-alih mengatakan, gelagatnya Rily justru bertanya perihal kesanggupan. Raynka hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Menatap kepasrahan bundanya, Rily'pun mengungkapkannya.
"Darenya, Bunda harus menjalankan kewajiban sebagai seorang istri sungguhan selama 1 bulan. Bunda bersedia?" Dengan nada bergairah Rily menjulurkan tangannya kepada Raynka. Raynka bengong dalam pikiran-pikiran kalapnya atas penyampaian Rily barusan. "Seperti melayani papa pada pagi hari, menyiapkan semua keperluan papa dan........tidur dalam satu kamar," Imbuh Rily menjeda perkataannya dikalimat tidur bersama. Rafardhan menganga lebar, apa-apaan anaknya ini, dengan tantangan seperti ini murkanya Raynka akan semakin menjadi pada dirinya. Aish.
Tanpa membatin serta berperang melawan antara benaknya dan kata hati, saat itu juga Raynka menyambut uluran tangan Rily. Oh iya jangan lupa di garis bawahi 'ia bukan pengecut'. "Oke! Aku bersedia!" Balasnya kembali menantang. Gelagapan Rafardhan menatap Raynka. Rily tersenyum merekah.
"Mau next tidak, Bund?"
"Iya dong, aku yang jalani," sahut Raynka antusias meraih botol tersebut kemudian memutarnya. Seperti tadi botol itu selalu berhenti hanya saja dengan arah yang berbeda, tepat pada bi Mila dan Rafardhan.
"Berarti Bibi dong yang bertanya sama Bapak? Boleh tidak Pak? Bapak tidak akan pecat Bibi'kan?" Kata bi Mila was-was.
Rafardhan manggut-manggut, "ini hanya game Bi, masa' saya sampai pecat Bibi tidak profesional dong. Saya pilih truth deh," balasan yang dinantikan bi Mila dan Rily. Bi Mila menahan tawanya kala menatap Rily yang cengar-cengir.
"Bibi mohon maaf ya, Pak. Pertanyaannya, apakah Bapak mencintai Mbak Raynka? Maksud Bibi cinta seperti apa, apakah sebagai seorang ayah pada anaknya? Atau sebagai suami pada istrinya?" Mata Raynka membulat sempurna. Semoga saja tidak, jeritan menolak dari hatinya.
"Saya jawab ya Bi. Emmm......iya saya mencintai Raynka sebagai seorang suami," setelah terjadi jeda, dengan sekali tarikan nafas pelan Rafardhan mengucapkannya. Rily dan bi Mila tersenyum lega. Akhirnya jawaban yang keduanya nantikan kini ternantikan juga meski hanya sebelah pihak. Sekilas Rafardhan menatap Raynka, tatapan tajam yang begitu menusuk berasal dari manik mata Raynka. Tapi tak apa, Raynka berhak tahu isi hatinya. Rafardhan sama sekali tak mengharap balasan.
"Raynka, Raynka pamit ke kamar dulu. Mainnya dilanjut lain kali saja ya Bi, Raynka ngantuk. Assalamu'alaikum."
Yang cepat ditangkap ketiganya, "Waalaikumsalam," Raynka langsung berjalan ke arah kamar Rafardhan yang mungkin untuk saat ini akan menjadi kamarnya juga. Rafardhan menatap langkah kaki Raynka bingung. Bukankah semua barang Raynka telah ia pindahkan kembali ke kamar Raynka, lantas?
"Saya permisi ke dapur," ujar Rafardhan menghilang juga dari sana.
__ADS_1
Tinggalah bi Mila dan Rily yang tersenyum penuh kemenangan. Keduanya bertos riang. "Yey berhasil!"
Bersambung......