Dia Dari Mama

Dia Dari Mama
Part 24. Salah Kecup


__ADS_3

"Raynka, aku boleh nanya tidak?" Tanya ragu Rafardhan menatap Raynka yang bersandar lesu dikaca mobil.


"Sayang......mau rujak dong, boleh?" Alih-alih menjawab, justru Raynka mengujarkan permintaan menggunakan ekspresinya yang begitu menggemaskan. Rafardhan membelalakkan matanya. Benarkah 'sayang?'


"Hah, apa Sayang? Aku juga sayang kok sama kamu. Anna uhibukka fillah, Zaujati," goda Rafardhan yang seketika......mungkin bukan sekarang saat yang tepat ia menanyakan tentang hubungan Raynka dengan anak rekan bisnis sekaligus temannya itu.


"Mau aku balas tidak? Tapi bikinin aku rujak. Buah-buahnya kamu harus petik dari pohon, aku nggak mau beli di pasar tradisional, ataupun supermarket. Karna rasanya beda tak sesegar dari pohon," ungkap Raynka. MasyaAllah, benarkah istrinya ini sedang mengidam? Bagaimana kira-kira saat kedua anaknya nanti sudah lahir? Sudah pasti rumahnya ramai dengan suara tangisan gemas anak kecil. Seindah ini terhanyut dalam khayal.


"Kamu nggak mau ya? Yaudah nggak'papa. Lagian aku bisa bikin sendiri kok," sambung Raynka menatap Rafardhan yang tergeming cengar-cengir masih sambil mengendarai mobil. Raynka memutar wajahnya kecewa. Padahal ini bukan permintaannya loh, melainkan 'mereka'. "Semua laki-laki itu sama. Mau enaknya doang. Emang benar ya, nggak ada laki-laki yang mikirin perasaan perempuan, termasuk dia," monolog Raynka pelan lebih ketepatnya ucapan sindiran. Serah Rafardhan apakah mendengar dan tidaknya.


Tiba-tiba Rafardhan menghentikan mobilnya. Kala Raynka yang sesenggukan membuyarkan dunia khayalnya. Rafardhan menatap Raynka yang memalingkan muka darinya. "Rayn, Ya Allah, maaf Sayang. Iya nanti aku bikinin. Ingin buah apa saja? Biar aku cariin sekarang. Tapi sebelum itu, aku antar kamu pulang dulu ya," Raynka memutar tubuhnya langsung sepasang tangannya melingkar dibahu Rafardhan. Gelagapan Rafardhan membalas. "Nggak boleh nangis ah."


"Ck, mengganggu saja," umpat Rafardhan pelan. Lantaran suara klakson kendaraan di belakang mobilnya. Raynka buru-buru menghela tangannya. Tak sengaja matanya menatap kaca spion, terlihatlah mobil yang berbaris panjang akibat ulah dirinya. Setelah mobil Rafardhan berjalan jalanan kembali normal lagi.


"Kok arah jalannya ke rumah?" Protes Raynka cemberut.


"Iya, kan aku antar kamu pulang dulu, biar kamu bisa istirahat. Setelah itu nanti aku pergi lagi."


"Tapi aku nggak mau. Aku maunya ikut kamu."


"Nanti kamu kecapaian, Sayang."


"Enggak kok. Ya, boleh ya? Aku bosan di rumah. Piss," Raynka mengantupkan sepasang tangannya.


Mana mungkin Rafardhan tak luluh kalau Raynka sudah begini. Sembari tersenyum Rafardhan menganggukkan kepalanya pelan. Raynka tersenyum ceria. Kadang galak kadang manja. Ia sangat-sangat menikmati sikap manja Raynka, sebelum kegalakkan itu muncul.


Rafardhan terus mengitari jalanan.Ya begitulah tak semua rumah orang terdapat pohon sesuai permintaan Raynka. 3 rumah orang yang sudah ia datangkan untuk membeli buah mangga muda itu, namun ada saja alasannya yang membuat ia harus mencari lagi. Pohon pertama, buah terletak terlalu tinggi, sedang dirinya tak bisa manjat, pun dijangkau dengan galah masih kalah jauh apalagi dekat dengan tiang listrik yang lebih menakutkan. Pohon kedua, pohonnya lumayan rendah ia'pun sudah berhasil untuk meraihnya meskipun dengan susapayah memanjat, namun sayangnya banyak buah yang memilih untuk terjatuh dialiran sungai yang mengalir, sekitar 3 buah yang berhasil ia bawa pulang.


Pohon ketiga, getah dipohon tersebut yang begitu sangat-sangat banyak, dan juga ribuan semut-semut hitam yang menghiasi pohon buah mangga muda tersebut, membuat bulu kuduknya berdiri seketika.


"Oh iya Rafardhan, di dekat rumahnya Chika ada tuh pohon mangga muda dan jambu air. Gimana kalau kita ke sana? Tapi pemiliknya galak. Kamu berani nggak bilangnya?"


"Memang ada ya Sayang? Di sebelah mananya? Aku sering loh lewat jalan sana. Perasaan tidak ada," sahut Rafardhan dengan suara bingungnya.

__ADS_1


"Itu, rumah yang halamannya paling luas. Tapi sayang pemiliknya itu pelit banget loh. Tahu nggak sangking pelitnya pohonnya itu di tutupi pakai terpal plastik. Dan kamu tahu nggak, dulu waktu sd aku sama Chika sering banget malingin buah di sana," curhat Raynka tertawa gelih mengingat masa-masanya dahulu bersama Chika.


"Kenapa tidak pernah bilang, hm? Hanya satu buah mangga bahkan sekarung takkan pernah bisa menghabiskan uangku loh Rayn," sambut Rafardhan berlagak sombong.


"Dih, sombong. Allah mengambil titipannya tanpa aba-aba loh. Jangan nangis kelengar aja kamu," katanya tak mau kalah.


Malah Rafardhan tertawa remeh. "Aku ikhlaskan kok, Sayang. Harta terberhargaku hanya kamu, Rily, dan calon anak-anak kita nanti," gombalnya yang InsyaAllah berdasarkan kenyataan.


"Bisa aja gembelnya. Pede (percaya diri) bener," Raynka memalingkan wajah muak. Tak terasa mobil sudah melaju ke tempat tujuan. Rafardhan sengaja memperlambat laju mobilnya agar rumah tersebut tak terlewat.


"Itu rumahnya," tuding Raynka menggunakan jemari telunjuknya ke salah satu rumah deretan sana. Rafardhan langsung memberhentikan mobilnya. Raynka turun dari mobil yang juga disusul oleh Rafardhan.


"Assalamu'alaikum," ujar Rafardhan mengucap salam sembari punggung tangannya mengetuk pintu. Setelah 3 kali salamnya. Barulah keluar sang pemilik rumah yang katanya Raynka, pelit.


"Ada apa ya?" Sinis bapak paruh baya tersebut memandang keduanya secara bergantian.


"Begini Pak, saya ingin membeli sebagian buah mangga dan jambu air milik Bapak," kata Rafardhan to the point.


"Saya tidak menjual buah yang Anda sebutkan. Saya rasa di pasar banyak," sahut si bapak.


Si bapak menautkan sepasang alisnya, "dari mana Anda tahu jika pohon saya berbuah mangga dan jambu? Padahal Anda saja tak melihatnya sedikitpun," kata polos si bapak, sayangnya tingkat kesinisan itu tambah bertingkat.


"Saya mengenal dari batangnya, Pak. Dan jika Bapak berkenan saya ingin membeli sebagian buahnya. Berapa'pun harga yang Bapak tentukan, akan saya bayar," balas Rafardhan. Karena menurutnya hanya di sini yang mudah. Pohonnya sangat rendah dan juga cukup besar.


"Apakah Anda yakin? Apakah Anda mampu membayar jika harganya mahal? Ya, Anda tahu ori'kan? Barang yang ori pastinya mahal," adakah orang sederhana yang seperti bapak ini? Style pakaian yang Rafardhan kenakan apakah tak cukup membuktikan?


Rafardhan mengeluarkan dompet tebalnya. "Tentukan saja, Pak," sambutnya santai.


"Baik. Untuk mangga, harga satu buahnya lima puluh ribu, dan untuk jambu murah saja, hanya tiga puluh lima ribu. Bagaimana?" Mata Raynka membelalak. Ingin sekali ia membuka suara, namun rasanya mulutnya seperti terkunci. Sungguh, kenapa ia benar-benar ingin sekali memakannya.


"Oke saya ralat, bukan hanya sebagian namun semua buahnya," jawab Rafardhan semakin menantang. Tak apa demi istri tercinta. Hanya harga segitu tak masalah sama sekali baginya.


Raut wajah si bapak berbinar karena merasa sudah berhasil memorot uang orang di hadapannya ini. Padahal harga asli di pasar'pun mungkin separuh dari harga yang ditentukannya. Bodoh sekali orang ini, pikir bapak itu. "Baiklah. Tunggu sebentar," si bapak'pun mulai memetik buah-buahan tersebut. Sambil menghitung jumlahnya lalu bapak itu memasukkannya ke dalam kantung kresek.

__ADS_1


"Seluruh jumlah mangga 40 dan jambu air hanya 21. Jadi harganya 2.735.000,00," Rafardhan mengambil uang yang berwarna merah tanpa menghitung ia langsung menyerahkannya ke bapak tersebut. Si bapak'pun cepat-cepat menghitung.


"Jika ada kembaliannya, ambil buat Bapak saja. Terima kasih Pak sudah membantu saya. Kita permisi dulu, Assalamu'alaikum."


"Sama-sama, Tuan. Wa'alaikumsalam," sahut si bapak yang berbeda intonasi dari salam pertama kali tadi.


"Kok mau aja sih kamu dimanfaati bapak tadi?" Tanya Raynka yang tampaknya kurang setuju.


"Dirimu lebih penting, percayalah."


...🦐🦐🦐...


Keduanya menyibukkan diri di meja makan. Yaitu dengan Rafardhan yang membuat bumbu rujak, dan Raynka yang meniriskan mangga muda tersebut. Setelah semuanya selesai. Raynka langsung melahapnya.


"Enak?"


Raynka mengangguk. Mau nggak?"


"Buat kamu saja," sambut Rafardhan bergidik ngeri. Raynka memakannya dengan begitu cepat.


"Emmmmmm........makasih ya. I-inni uhibukki fillah, Zauji. Ahabbakalladzi ahbabtani lahu (Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku)," ujar Raynka tersenyum. Ia setengah memutar wajahnya lalu memajukannya, Rafardhan spontan menggerakkan mukanya ke samping. Niatnya mengecup pipi itu berubah menjadi......melainkan bibir. What! Raynka malu bukan main.


Bersambung.......


Kadang baik, kadang jutek. Raynka nya lucu ya Bund-Bund😁


Yeyyyyy, Happy Reading 🤗


Al-kahfi nya jangan lupa di baca😉


Love you All❤️


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

__ADS_1


🤭🙏


__ADS_2