Dia Kembali

Dia Kembali
bab 1


__ADS_3

Seorang perempuan kini sedang melamun, besok dirinya akan menghirup udara segar setelah sekian lama dirinya terkurung di dalam jeruji besi.


Jennie menobatkan dirinya sendiri sebagai orang tersial di dunia ini. bagaimana tidak? dia harus dihukum atas kesalahan yang sama sekali tidak dilakukan oleh dirinya.


Untuk kesekian kalinya Dia meratapi nasib buruk yang menerpanya, dimana semua orang yang di cintainya menjauh tanpa memperdulikannya membuat dirinya nyaris mengakhiri hidupnya.


Jennie putri dari keluarga berada kini harus menelan pil pahit atas kesalahpahaman yang menerpanya.


Jennie tersangka pembunuhan seorang gadis. Dirinya di jadikan kambing hitam oleh seseorang yang entah siapa pelakunya, sebab semua bukti mengarah kepadanya begitupun dengan saksi yang melihat jelas tindakan kriminalnya membuat Jennie semakin tersudut.


Hari-hari yang di jalaninya di dalam penjara membuat mentalnya semakin terganggu. Semua orang yang dicintainya sudah mutlak dibencinya. memang selama dirinya dipenjara tidak seorangpun yang menjenguknya. Orangtua? bahkan tidak pernah menganggapnya ada. Ya dia sudah terbuang.


Kekasih? Dialah yang kini paling di benci oleh Jennie, sebab orang tersebutlah yang menjebloskannya ke dalam penjara tanpa mendengarkan penjelasan dari mulut Jennie.


Memang waktu itu Jennie bisa apa?


...****************...


"Jennie bangun..!!! dasar gadis tak berguna.. " teriak Hana istri dari paman Jennie yaitu Johan.


Jennie terbangun dari tidurnya dengan menggosok kupingnya yang terasa pengan akibat teriakan cempreng Hana. Selalu saja begitu padahal hari masih gelap.


Ya, Jennie di titipkan oleh kedua orangtuanya kepada sang paman sejak Jennie masuk sekolah menengah atas dengan alasan kedua orangtuanya sudah kewalahan mengurusinya yang bertingkah seperti berandalan.


Jennie memang berkelakuan buruk selama duduk di bangku SMP. pergaulannya yang bebas menjadikannya seperti itu. Jangan salahkan Jennie berkelakuan seperti itu, orangtuanya lah yang bersalah disini "tidak becus mengurus putri satu-satunya! ".


menurut Jennie kewalahan adalah alasan klasik tidak lebih dari kata menyerah, bilang saja jika mereka memang lebih mementingkan pekerjaannya daripada putrinya sendiri.


Jennie sedang merapihkan bekas sarapan keluarga Johan. terlihat keterpaksaan Jennie mencuci piring dan peralatan memasak. "sial.. sial.. " umpatnya dalam hati.


Sejak tinggal di kediaman sang paman Jennie terpaksa membiasakan diri mengerjakan semua pekerjaan rumah keluarga pamannya. kemana asisten rumah tangga keluarga Johan?


ada dan bahkan banyak seperti yang ada di rumah orangtuanya. tetapi di dalam semua pekerjaan di situlah Jennie turut serta membantu para pekerja rumah pamannya.


"nih Jen.. sekalian sampe kinclong" ucap Hana menaruh beberapa peralatan memasak yang tidak pernah terpakai.


"Tante, Jennie bisa telat sekolah kalo banyak gini.. " ucap Jennie memelas, menurutnya Hana sangat keterlaluan.


" mangkanya bangun lebih pagi biar gak telat, gitu aja ribet.. " timpal Hana melengos pergi meninggalkan Jennie dengan tumpukan cucian kotor.

__ADS_1


"harusnya gue tinggal di asrama aja sekalian.. bete banget sama lampir satu ini, untuk lo cantik lampir mangkanya om Johan mau jadi suami lo.. "


Setelah bersiap untuk berangkat ke sekolah, Jennie mendapat panggilan alam yang harus segera di tuntaskan. tentu saja ini akan membuat Johan kerena harus menunggunya dan mengulur waktu.


"Buka Jen.. atau om dobrak pintunya" teriak Johan dari depan kamar mandi seraya terus menggedor pintu kamar mandi tersebut.


"dobrak aja pi.. " ucap Steven mengompori ayahnya. memang dirinya dan Jennie merupakan saudara sepupu yang usianya hanya terpaut satu tahun. mereka tidak pernah akur bagaikan anjing dan kucing.


Johan semakin geram dengan Jennie yang tidak kunjung keluar, "om hitung sampai tiga, kalo kamu gak keluar.. "


ceklek... akhirnya Jennie keluar dari kamar mandi tersebut dengan wajah yang gugup.


"asap..? " Johan terkejut dengan kepulan asap yang keluar, sementara Jennie semakin panik.


"kebiasaan lo kak kalo boker sambil ngerokok.. " ucap Steven sengaja mengeraskan suaranya membuat Jennie langsung menatap horor ke arahnya. sialnya Steven malah menjulurkan lidah ke arah Jennie berasa ada tameng yang tak lain ialah ayahnya.


"Jen, sudah berapa kali om bilang.. stop Jen.. " ucap Johan memperingatkan Jennie yang kini menghela napas menunduk seraya berucap "maaf ".


Jennie berjalan menuju kelasnya dengan langkah yang lunglai setelah di beri wejangan oleh Johan selama di perjalanan. Jennie harus sadar jika dirinya sepenuhnya menjadi tanggungjawab keluarga Johan. itulah yang disimpulkan oleh Jennie. dirinya benar-benar dibuang oleh orangtuanya sendiri.


" rasain.. emang enak lo gak dapet uang jajan " ucap Steven cengengesan sengaja menyusul langkah Jennie.


"gue bukan bocil kak, gue udah gede" ucap Steven hampir merengek, tolong cabut kata-katamu kak.


"bodo.. bagi gue lo bocil yang suka ngompol..!!! " timpal Jennie melengos sengaja mengencangkan suaranya membuat Steven geram karena malu.


"itu dulu sialan.. !!! " teriak Steven tak terima.


tiba waktu istirahat.


semua memandang Jennie dengan heran dan takut akan terjadi hujan badai sebab Jennie melangkah ke ruangan OSIS, sudah rahasia umum jika Jennie sangat anti menginjakan kaki di sana.


"hi Jen.. ada apa gerangan? " tanya Anto ketua OSIS yang merasa heran dengan kehadiran Jennie.


"masukin gue ke semua ekskul kak.. gue ikut" ucap Jennie malas berbasa-basi, semua anggota yang di sana tercengang.


"semua? nanti bakalan nyita waktu lo tiap pulang sekolah Jen.. " ucap Anto mengingatkan, Anto memang menaruh hati kepada Jennie, tetapi latar belakangnya yang jauh berbeda dengan Jennie membuat dirinya kurang percaya diri untuk mendekati Jennie.


"itu emang tujuan gue bodoh.. " batin Jennie. dirinya merasa lebih baik menghabiskan waktu untuk kegiatan di sekolah daripada berlama-lama di rumah mendengar ocehan tante Hana. itulah tujuan utamanya, terlebih Om Johan pasti dengan senang hati mengijinkan Jennie melakukan kegiatan yang positif.

__ADS_1


"wah, kayaknya ada yang mau famous.." sarkas Tia anggota OSIS melirik Jennie dengan tatapan tak suka. sayangnya Jennie malas menanggapinya, tentu saja cewek sekeren Jennie memang sudah popular tanpa mengikuti organisasipun.


dia cantik, pintar hanya saja tertutup dengan kelakuannya yang bar-bar.


"songong tuh anak.. " ucap Tia kesal melihat kepergian Jennie yang melengos tanpa menanggapinya.


berharap semua akan berpihak kepadanya, tetapi malah cengengesan menertawakan Tia yang tak di anggap oleh Jennie. sungguh Tia merasa geram sebab harga dirinya telah di injak oleh Jennie.


"awas aja lo gue gak bakalan biarin lo hidup tenang.. ".


Jennie sekarang sedang bermain game online bersama teman-temannya di atas rooftop karena untuk makan di kantin, Jennie tidak memiliki uang jajan. Jennie sendiri tidak enak dengan kawannya yang menawarkan diri untuk mentraktirnya, bisanya dirinyalah yang mentraktir mereka.


Jennie bersama temannya heran dengan kehadiran adik kelas yang menghampiri mereka dengan gemetaran.


"heh cupu.. ngapain lo kesini? mau ikut nabar lo? " ucap Riki dengan nada yang mengejek, sementara si cupu hanya bisa menunduk dan menyodorkan sebuah paperbag berisikan makanan kepada Jennie.


"ini buat Kak Jen.." ucap si cupu dengan gugup. Jennie menerima pemberiannya seraya mengulas senyuman "thanks..", namun dengan cepat Riki menyambar paperbag tersebut dari tangan Jennie seraya membukanya.


"lo gak ada niatan buat racunin temen gue kan?" tanya Riki menatap penuh curiga kepada si cupu dan langsung mendapat gelengan kepala oleh si cupu. tentu saja Riki merasa curiga dengan kebaikan si cupu yang selalu di bully olehnya.


'' dalam rangka apa lo ngasi beginian?'' masih belum puas Riki terus menyelidik, tetapi dengan cepat Jennie merebut kembali kotak makanan yang sudah dibuka oleh Riki, dengan senang hati Jennie akan menerima pemberian dari si cupu karena dirinya merasa lapar.


"udah sono lo cabut.."' ucap Jennie kepada si cupu agar tida menjadi bahan bullyan oleh para temannya karena melihat raut wajah Riki yang geram, dengan mudahnya Jennie melepas mangsa.


" gimana udah lo kasih ?" tanya Stevan tidak sabaran mendapat anggukan dari si cupu,


" gue hampir di terkam'' gumam si cupu terdengar jelas oleh Stevan dan langsung tergelak,


"justru kalo lo gak kasih, lo bakalan di terkam.. dia pasti lapar" batin Stevan terkekeh langsung menepuk bahu si cupu " thanks..''


Jennie dengan lahap memakan makanan pemberian dari si cupu. sebenarnya dia juga merasa heran kenapa si cupu bisa mengetahui makanan kesukaannya, tetapi rasa lapar membuatnya malas berpikir.


" Jen, lo serius mau ikut semua ekskul?'' tanya Riki tak percaya dengan tindakan Jennie.


Jenniepun menganggukkan kepala '' seriuslah, gini gini juga gue pengen jadi gadis baik baik, iya gak?'' ucap Jennie menaikturunkan kedua alisnya membuat yang lainnya paham maksud dan tujuan Jennie.


'' tapi, sebelum gue jadi anak baik-baik, gue mau ajak lo semua..'' ucap Jennie menyeringai bagaikan iblis membuat yang lainnya bergidik.


'' kemana Jen?'' tanya Riki penasaran sementara Jennie terkekeh geli melihat reaksi semua temannya , " tar lo pada juga tau, udah gatel kan ?'' ucap Jennie menunjukan kepalan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2