Dia Kembali

Dia Kembali
bab 5


__ADS_3

Hari yang di nanti telah tiba, di mana Deryil akan melaksanakan acara serah terima jabatan mengingat dirinya sebentar lagi akan menghadapi ujian Nasional.


Deryl terlihat begitu tampan dan gagah dengan jas almamaternya membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona tak terkecuali Jennie yang sekarang turut menghadiri acara tersebut sesuai permintaan Deryl.


Meskipun Deryl sudah menyiapkan tempat duduk yang berada di barisan belakang, tetapi Jennie memilih berdiri di kejauhan. Deryl mengerti dengan Jenie yang merasa kurang percaya diri jika harus menemaninya, Deryl membiarkan Jennie berdiri di belakang, toh Jennie sudah bersedia hadirpun sudah hal yang patut di syukuri olehnya.


setelah acara selesai Deryl mengantar Jennie untuk pulang. sepanjang perjalanan Jennie terdiam menunduk tak seperti biasanya membuat Deryl terheran.


" oh ya Jen, selamat ya lo masuk kandidat ketua OSIS, semoga lo bisa menang.." ucap Deryl mencairkan suasana.


Jennie menoleh ke arah Deryl, " thanks.. ini juga berkat lo yang bimbing gue.." ucapnya mengulas senyuman.


ucapan Jennie memang benar adanya, Deryl perlahan mampu merubah diri Jennie lebih baik dari sebelumnya.


" Ryl.." panggil Jennie dengan lirih karena Deryl tak menanggapinya melainkan lebih fokus untuk menyetir.


" kenapa..? " tanya Deryl heran melihat perubahan raut muka Jennie.


" orang tua gue bakalan bangga gak ya sama gue sekarang, selama ini gue gak berani pulang ke sana.."


ucapan Jennie menggantung sebab teringat kembali kedua orangtuanya yang sangat dirindukannya. selama ini memang dirinya tidak pernah berani untuk pulang ke rumah orangtuanya sebab merasa tidak pantas dengan dirinya yang belum berubah menjadi lebih baik.


terlebih kedua orangtuanya tak ada sedikitpun memberi kabar kepadanya selama tinggal di rumah keluarga Johan. akan tetapi hal tersebut tidak Ia bicarakan pada Deryl. Jennie hanya berbicara soal ketidakpantasan dirinya saja.


Deryl mengulas senyuman, "gue yakin orangtua lo bangga ngeliat lo sekarang.. gue aja yang bukan siapa siapa lo merasa bangga sama lo, apalagi keluarga sendiri.."


Jennie mengerutkan dahinya mendengar kata menohok dari mulut Deryl,


" maksud lo? bukan siapa siapa gue apaan?"


ucapnya tak terima, terus selama ini kedekatan keduanya itu apa?


Deryl terkekeh mendengar itu, " jadi gimana Jen..?" tanyanya memastikan, ini pertanyaan untuk kesekian kalinya bagi Jennie.


Jennie menghela napas, " sorry, lo tau sendiri kan gue numpang di kandang singa yang banyak aturan.. " ucapnya dengan lirih menunduk.


sementara Deryl mengangguk paham, " okeh, setidaknya perasaan gue gak bertepuk sebelah tangan.." timpalnya santai menyimpulkan jika Jennie juga memiliki perasaan yang sama dengannya, hanya saja memang terkendala aturan hidup Jennie saat ini.


perkataan Deryl membuat Jennie jadi salah tingkah.


" oh ya Jen, setelah ini gue mau pulang ke bogor sebentar.."


Jennie terkesiap mendengar kata bogor, sebab rumah kedua orang tuanya juga di sana,


" gue ikut.." ucapnya dengan mata berbinar berharap Deryl tidak keberatan.


" Lo serius mau ikut pulang ke rumah gue?" tanya Deryl dengan wajah sumringah. tentu Deryl dengan senang hati jika Jennie ikut pulang dengannya.


" maksud gue, gue numpang bareng lo.. gue kangen sama bokap nyokap gue.." timpal Jennie serius.


" lo udah siap Jen? " tanya Deryl kembali memastikan kesiapan Jennie untuk pulang ke sana, mengingat selama tinggal bersama keluarga Johan, dia belum berani untu pulang.


Jennie menanggapinya dengan anggukan kepala. Ya, dirinya sangat siap sebab sudah sangat rindu dengan kedua orangtuanya. walaupun dirinya sendiri meragukan orangtuanya apakah perduli atau tidak terhadapnya.


" kalo gitu, lo harus ijin dulu sama Om tante lo.." ucap Deryl menyarankan sebab Ia tak ingin gegabah untuk membawa Jennie.


Jennie menghela napas menggeleng, " gak perlu Ryl, mereka juga sama sibuknya akhir-akhir ini jarang ada di rumah.. lo tenang aja, gue jamin mereka gak bakalan ngomelin gue, toh gue cuma mau balik ke rumah bentar.." ucap Jennie meyakinkan Deryl.


Sementara Deryl mengangguk pasrah, dirinya bisa apa?


...****************...


Mereka telah tiba di kota hujan tepat saat hari mulai gelap.


Deryl melajukan mobilnya menuju rumah Jennie lebih dulu.

__ADS_1


Saat sudah sampai di depan rumahnya, Jennie dibuat bingung dengan keadaan rumahnya yang sepi tanpa penghuni, bahkan para penjaga yang biasanya siaga di depan gebang pun tak didapatinya. Rumah Jennie benar-benar kosong, sepi dan gelap.


Deryl yang melihat Jennie murung di pintu gerbang, segera Ia mengajaknya pergi dari sana sebab akan segera hujan.


sementara Jennie terus menolak kekeh ingin terus berada di sana sampai hujan benar-benar turun.


dan akhirnya Jenniepun mau menuruti Deryl untuk ikut pulang bersamanya sebab hujan semakin deras disertai petir membuat rasa takut kembali hadir pada dirinya.


sesampainya di kediaman Deryl, mereka di sambut oleh para pekerja rumah tersebut dengan ramah.


" Ryl, bokap nyokap lo pada kemana? " tanya Jennie pelan. tentu dirinya antusias akan menyapa mereka dan mengakrabkan diri


Deryl menghela napas, " mereka udah gak ada Jen.." ucapnya lirih, kembali teringat kejadian naas yang menimpa kedua orangtuanya. kecelakaan maut yang merenggut nyawa keduanya membuat pribadi Deryl menjadi lebih mandiri.


Deryl sendiri tidak pernah membahas kepergian orangtuanya bahkan kepada Jennie sekalipun.


" sorry.." ucap Jennie lirih meraih tangan Deryl sebab merasa tidak enak.


Deryl menanggapinya dengan tersenyum tipis dan mengangguk, dirinya merasa baik-baik saja dan Jennie tidak perlu merasa bersalah akan hal ini.


" kakak.. kakak juga pulang? " ucap seorang gadis membuat keduanya menoleh ke arahnya.


Jennie terkejut melihat gadis yang berada di hadapannya yang memanggil Deryl dengan sebutan kakak, begitupun dengan gadis tersebut yang sama terkejutnya melihat Jennie,


" Jen, kenalin Mutiara, dia adik gue satu-satunya.. lo bisa panggil dia Mutia atau Tiara, but gue suka manggil dia Tiar.." ucap Deryl membuyarkan lamunan keduanya.


" Tiar, ini kak Jen.. dia adalah.."


" gue ceweknya abang lo.. imut.." sahut Jennie menaikturunkan kedua alisnya terkekeh melihat kekesalan pada wajah Mutiara.


ucapan dari Jennie sukses membuat keduanya kaget. jika Deryl kaget dengan pengakuan Jennie secara tiba-tiba yang mengakuinya sebagai pacar, sementara Mutia terkejut dengan panggilan Jennie untuknya, sebab panggilan tersebut hanya keluar dari mulut seseorang yang kini spesial baginya.


" Ryl.. gue lebih suka manggil adek lo imut karena wajahnya menggemaskan.. boleh kan Ryl..?" ucap Jennie terkekeh.


Jennie tentu tahu dengan gadis yang berada di hadapannya sekarang sebab dia merupakan kekasih dari sepupunya.


" Tiar, pinjemin kak Jen baju.. bajunya basah.. " ucap Deryl.


" ck.. cewek kakak, ngerepotin tau gak.. " timpal Mutiara ketus seraya menghentakkan kakinya menaiki tangga.


" Hey imut, gue calon kakak ipar lo, lembut dikit dong jangan judes gitu.. " ucap Jennie terkekeh mengejek Mutiara dan berhasil membuat langkahnya terhenti dan menoleh seraya menjulurkan lidahnya ke arah Jennie.


Deryl menggeleng melihat tingkah dua gadis di hadapannya. sepertinya ini PR untuknya.


Ya, Deryl berpikir jika Jennie menobatkan diri sebagai calon kakak ipar untuk Mutiara sebab sudah mengakui bahwa Jennie adalah kekasihnya.


sementara maksud Jennie meledek Mutiara sebab berhubungan dengan Stevan.


tak lama Mutiara menghampiri keduanya dengan membawakan baju ganti untuk Jennie.


" nih.. " ucapnya ketus memberikan baju tersebut pada Jennie.


"thanks imut.. " sahut Jennie terkekeh. sementara Mutiara menanggapinya berlagak ingin muntah.


"ah.. calon ipar gue benar-benar imut.. " ucap Jennie kembali.


Deryl menghampiri Jennie setelah selesai mengganti bajunya,


" jen, lo mau makan apa? biar gue pesenin, bibi gak masak soalnya gue gak ngabarin mau dateng kesini.. "


"eh.. gak usah Ryl, mending gue masak aja, gue lagi gak selera makan makanan luar.. " timpal Jennie.


" emang lo bisa masak? " tanya Deryl mengejek.


"wah lo ngeremehin gue? ini hikmah gue diperbudak sama mak Lampir, jadi pinter masak.. dan lo wajib coba masakan gue.. "

__ADS_1


timpal Jennie percaya diri menepuk dada bangga.


Deryl terkekeh, " okeh.. gue tunggu.. " timpalnya.


setidaknya Deryl bersyukur melihat Jennie sudah tidak murung lagi.


setelah aktivitas memasak selesai, Jennie pun menghidangkannya di meja makan dimana Deryl setia menunggu dan memperhatikannya sedari tadi saat dirinya sedang memasak.


" adek lo panggil dulu buat ikut makan Ryl.. " ucap Jennie terkekeh melihat Deryl yang langsung menyantap masakannya dengan dengan lahap.


Deryl menghentikan aktivitas makannya sebentar untuk memanggil sang adik.


" tiar, ayo makan.. ini kak Jen yang masak, enak tau.. " ajak Deryl pada Mutiara.


Mutiara sempat menelan ludahnya melihat makanan yang tersaji di sana, tetapi untuk menerima ajakan Deryl rasanya terlalu gengsi untuknya.


"ck.. tiar pikir kakak manggil tiar buat apa? eh malah nyuruh makan makanan yang keliatannya gak enak.. " ucap Mutiara melengos.


" tiar.. " panggil Deryl dengan geram sebab merasa adiknya sudah kurang ajar.


" udah Ryl, gak papa.." sahut Jennie menenangkan Deryl.


Selepas makan malam, Deryl mengajak Jennie berbincang di gazebo yang berada di pinggir kolam belakang rumahnya.


"Ryl.. ko lo gak cerita kalo lo punya adek yang satu sekolah sama gue.. ? " tanya Jennie heran.


Deryl memang terlalu tertutup mengenai keluarganya. dan bukan hanya Jennie saja yang tidak mengetahui perihal Deryl memiliki adik perempuan, melainkan hampir semua orang terkecuali saudaranya.


" gue gak mau adek gue di jadiin perantara sama cewek-cewek yang ngejar gue, lo tau sendiri kan gue gimana? " timpal Deryl terkekeh seraya menaikturunkan kedua alisnya.


"ck.. blagu.. " gumam Jennie masih terdengar oleh Deryl.


Deryl hanya mengelak mencari alasan, sebab sebenarnya Ia menjaga privasi sang adik demi keamanannya. terlebih banyak yang menginginkan kekuasaan terhadap perusahaan raksasa peninggalan orangtuanya.


" terus selama ini adek lo tinggal dimana? " tanya Jennie kembali, pasalnya Ia mengetahui jika Deryl tinggal seorang diri di apartemennya selagi menimba ilmu di Ibukota.


" tinggal sama keluarga cowok yang pernah lo hajar.." jawab Deryl terkekeh teringat saat Jennie menghajar orang dengan membabi-buta.


sementara Jennie melongo tak percaya, " What.. jadi itu sodara lo Ryl..? "


" Bokapnya orang kepercayaan Bokap gue, keluarga bokap gue semua di Jerman, dan nyokap.. dia dulu dari panti.. " Jawab Deryl dengan lesu membuat Jennie merasa tidak enak sudah mengungkitnya.


"oh.. pantesan lo cakepnya gak ketulungan.. blasteran.. "


ucap Jennie santai, niat hati ingin mencoba menghibur Deryl, sialnya ucapannya malah membuat Jennie sendiri salah tingkah.


" dan itu membuat lo suka.. " timpal Deryl percaya diri membuat Jennie semakin salah tingkah.


" jadi gimana Jen? " goda Deryl.


" apanya? " ucap Jennie gugup.


" itu yang lo bilang kalo lo calon kakak ipar buat adek gue.. " timpal Deryl mengingatkan.


" gue.. gue.. "


prang... suara benda pecah dari arah dapur membuat keduanya langsung menuju ke sana.


Deryl dan Jennie menggeleng menahan tawa saat mendapati Mutiara sedang membereskan serpihan beling gelas yang pecah tadi di kolong meja makan, dimana di atasnya terdapat sepiring makanan yang hampir habis.


" ada kucing manis keciduk.. " ucap Jennie dengan nada mengejek.


" iya kucingnya kelaparan jadi makanan gak enak juga di lahap.. "


timpal Mutiara ketus, jelas dirinya mengelak.

__ADS_1


dan sejak saat itu Jennie dan Mutiara semakin tidak akur membuat Deryl harus ekstra bersabar untuk membuat keduanya akur layaknya adik kakak.


__ADS_2