
"Bhuvi"
"Akhirnya kau sadar Abi. Ibu sangat khawatir dengan keadaanmu ibu sangat takut, ibu tak mau kau seperti ini lagi, mereka jahat mereka harus menerima ganjarannya ibu tak mau mereka senang sedangkan dirimu seperti ini, ibu sungguh tak rela "
"Lalu mana Bhuvi ibu apa dia baik-baik saja dia tidak kenapa-napa kan, aku melihatnya memetik bunga dan tak tahu apa yang terjadi, kenapa tiba tiba aku seperti ini ibu"
"Jangan kau pikirkan dia sudah lupakan perempuan itu, aku sudah membuat keluarganya miskin sudah biarkan mereka menderita, mereka harus merasakan apa yang kita rasakan sudah kau jangan pikirkan dia ya "
"Maksud ibu apa menderita seperti apa, Bhuvi tidak tahu apa-apa jangan lakukan itu pada Bhuvi dia tidak tahu apa apa, jangan pernah libatkan dia Bu, Bhuvi tak tahu apa apa "
"Sudahlah lupakan dia nak carilah perempuan di sini yang memang sama dengan kita, dia manusia dia tidak pantas untuk kita untuk keluarga kita bahkan keluarganya saja tidak menerimamu. Sudah lupakan perempuan itu kau sudah sembuh aku senang dan aku juga bahagia karena perempuan itu sudah tidak ada di sampingmu lagi kau akan lebih leluasa melakukan apapun, dia hanyalah benalu dalam hidup mu sudah ibu bilang kan dari dulu bunuh dia, karena dia tidak akan pernah cocok dengan mu nak, bukannya ibu jahat itu memang sebuah kebenaran"
"Maksud ibu apa kenapa Ibu menjadi membenci Bhuvi, dia tidak tahu apa apa, ibu tak pantas membencinya sampai kapan pun aku tak akan pernah membunuhnya, ibu jangan asal bicaranya ya aku sudah mencintai Bu, aku tak bisa melakukannya sampai kapan pun "
"Karena dia sudah menikah lagi dengan laki-laki lain hari ini adalah hari pernikahan dia dengan seorang laki-laki, kau tahu dia menikah lagi dan menghianatimu Abi, dia pengkhianat dia mengikuti apa kemauan keluarganya dia juga mencintai laki laki itu, dia licik seperti neneknya hanya ingin memanfaatkan mu saja "
"Tidak mungkin tidak mungkin Bhuvi tidak mungkin menghianatiku Bu dia tidak mungkin, aku tahu Bhuvi aku mengenal Bhuvi dia tak mungkin melakukan ini, dia tak licik Bu, dia baik Bu aku yakin itu aku sudah lama bersamanya bahkan saat dia masih kecil aku selalu ada bersamanya "
"Kau ini ya neneknya saja licik dia adalah keturunan nenek licik itu, ya pasti cucunya sama liciknya bahkan anak yang dia kandung dia gugurkan. Aku sudah mengambilnya dia ada di sini kau bisa lihat anakmu mereka sungguh jahat, kau jangan percaya lagi pada manusia-manusia itu mereka hanya memanfaatkan kita saja"
Abi yang tidak percaya dia menggelengkan kepalanya saat dirinya akan bangkit badannya begitu sangat lemas sekali, sampai-sampai tak bisa untuk berjalan. Bhuvinya tak mungkin melakukan itu ,Bhuvi tak mungkin mengkhianatinya.
__ADS_1
"Kau baru saja sadar kau jangan kemana-mana ya, ingat jangan pernah memikirkan perempuan itu lagi karena dia bukan perempuan terbaik untukmu, akan ibu carikan perempuan yang memang cocok untuknya yang memang satu bangsa dengan kita, bukan seperti dia mereka licik mereka pasti akan memanfaatkan kita nantinya, jangan pernah percaya apa mereka "
"Aku tidak mau menikah dengan siapa-siapa ibunda aku hanya ingin Bhuvi, aku hanya ingin dia saja tak ingin yang lain, yang ada dalam hatiku hanya Bhuvi saja tak ada yang lain "
"Kalau kau sudah melihat semuanya pasti kau akan kecewa pada Bhuvi, kau akan kecewa pada perempuan itu karena telah menghianatimu, kau bisa melihatnya nanti sendiri. Ibu sudah mengatakan yang sesungguhnya dan itu memang nyata dia memang sudah berselingkuh darimu. Dan sudah mengecewakan dirimu bahkan Ibu saja sudah sangat kecewa pada perempuan itu, segera pulihkan badanmu dan balas apa yang pernah Bhuvi lakukan padamu pada keluarga kita, dia sudah menjadi penghianat dia tidak bisa hidup miskin dia hanya butuh harta makanya kau harus mempertimbangkan lagi semuanya karena dia bukanlah perempuan terbaik untukmu, fokuslah pada kesehatanmu sekarang aku akan melihat bayimu kasihan dia"
"Bhuvi apakah benar yang dikatakan oleh ibuku, tapi hatiku merasa kalau ucapan yang ibu ku katakan ada yang keliru, sepertinya dia sedang membuat aku agar benci padamu, ada apa dengan ibuku ini, kenapa dia seperti itu"
**
Aji yang baru menyelesaikan tugas kantornya yang sangat begitu numpuk melihat istrinya sudah tertidur dengan pulas, rasanya bahagia sekali melihat perempuan yang dirinya inginkan ada di sampingnya dia tertidur dengan sangat pulas sepertinya memang pas pilihannya cocok dengan Bhuvi dia nyaman tidur di tempat tidur itu.
Aji melepaskan seluruh pakaiannya lalu mengambil pakaian tidurnya memeluk Bhuvi dari belakang dan mengusap apapun yang dirinya lihat, perempuan yang dirinya damba-dambakan akhirnya bisa dirinya dapatkan perempuan yang dirinya inginkan ada di sampingnya, ada dalam dekapannya sungguh sesuatu yang luar biasa dan sangat mengagumkan sekali.
"Bhuvi bangunlah apakah kita tidak akan melakukan malam pertama, ayo sayang bangun aku sudah selesai bekerjanya sekarang adalah waktu kita "
Aji mengguncang sedikit tubuh Bhuvi karena dirinya sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertama dengan istrinya, istrinya yang cantik dan muda ini.
Bhuvi membuka kedua bola matanya dan melihat Aji ada di hadapannya, Bhuvi yang kaget langsung membuka kedua bola matanya alangkah kagetnya dengan apa yang dirinya lihat laki-laki asing, bukan Abi yang dulu selalu ada di sampingnya tidur menemaninya dengan mata terbuka.
"Apa yang kau lakukan. Bukannya kau sedang mengerjakan pekerjaanmu "
__ADS_1
"Sudah selesai semuanya, sudah selesai apakah kau tidak mau melakukan malam pertama bersamaku mau tidak, kalaupun kau belum siap aku akan menunggumu Bhuvi. Aku tidak akan memaksa jika kau tak mau aku janji itu"
Bhuvi memegang perutnya dan menatap Aji dengan wajah yang entahlah tidak bisa dideskripsikan "aku sakit perut aku ke kamar mandi dulu ya, kalau kamu mau tidur duluan tidur saja karena aku kalau buang air besar itu suka lama tidur saja ya jangan menungguku, aku bisa menghabiskan waktu 3 jam "
Bhuvi berlari ke arah kamar mandi dan menutup pintunya dengan sangat kencang, tak lupa dia juga mengunci pintunya sebenarnya dirinya tidak sama sekali sakit perut, tapi bingung apa yang harus dirinya lakukan apakah harus memberikannya pada Aji.
Apakah dia akan tahu kalau dirinya sudah pernah melakukan hubungan suami istri dengan laki-laki lain, bagaimana kalau sampai ketahuan dan dia tahu apakah dirinya tidak akan diusir oleh Aji.
Bukannya takut tapi bagaimana dengan keluarganya, bagaimana dengan keadaan keluarganya bahkan sekarang perusahaan kakeknya sudah disuntik dana oleh keluarganya Aji, kalau dirinya sampai ketahuan dan diusir dari sini bagaimana dengan hidup keluarganya, dirinya harus memikirkan semua itu, memikirkan bagaimana nasib keluarganya "
"Aku belum siap untuk melakukannya, bagaimana ini apakah dia akan kecewa apakah dia akan marah padaku apakah dia akan tahu semuanya aku bingung sekali, aduh kenapa sih jadi aku ini pusing sekali, kapan aku akan tenang kapan coba "
Tok tok tok tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi, "kau tak apa kamu di dalam sana kamu baik-baik saja kan kau tak apa Bhuvi, aku khawatir "
"Tentu aku baik-baik saja aku tidak apa-apa sebentar lagi, aku masih sakit perut aku memang suka seperti ini kalau tengah malam suka tiba-tiba pengen ke kamar mandi dan beginilah. Maafkan aku kau harus ingat kebiasaanku yang satu ini ya jangan menggangguku nanti aku tidak konsentrasi, nanti malah tak membuahkan hasil"
"Baiklah aku tidur terlebih dahulu Bhuvi, aku lelah kau jangan lama-lama ya"
"Baiklah kau tidur saja terlebih dahulu aku nanti akan menyusul mu"
Tak ada jawaban Aji tidak menjawabnya mungkin dia marah, biarkan itu bagus.
__ADS_1
"Biar saja dia marah agar aku tidak perlu melakukan itu bersamanya, belum siap dan aku tidak mau dia sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak mau dia membatalkan semua dana yang sudah diberikan pada keluargaku. Aku tidak mungkin membiarkan mereka hidup sengsara kalau aku sih tidak masalah, tapi keluargaku pasti mereka tidak akan menerimanya. Menjadi cucu dan anak satu-satunya ternyata ribet dan membuatku pusing seharusnya waktu dulu aku meminta ibu untuk membuatkan adik untukku. Mungkin akan ada teman untuk memikirkan semua ini tidak sendiri seperti ini kepalaku rasanya ingin pecah, rasanya sakit "
Bhuvi menghela dan mengacak ngacak rambutnya pusing sekali rasanya.