
Jennie berdiri di bawah pohon rindang dekat tempat acara tadi. cukup lama dirinya di sana setia menunggu Stevan yang tak kunjung datang untuk menjemputnya, bahkan Anto yang bersikeras mengantarnya pulang pun di tolaknya sebab Stevan sudah berjanji akan menjemputnya. sayangnya Stevan tidak kunjung datang bahkan mengabarinya saja tidak.
terlihat Jennie mondar mandir dengan wajahnya yang kesal terus menghubungi Stavan, namun Stevan susah sekali untuk di hubungi sampai ponselnya mati karena kehabisan baterai. Jennie terhenyak saat sebuah mobil mewah menghampirinya dengan kaca terbuka.
" hey, ayo gue anter lo pulang.." ucap Deryl penuh semangat, namun dengan cepat Jennie menggeleng tanpa berucap.
" ayolah Jen, ini udah mau gelap" Deryl tidak menyerah begitu saja.
" gak! gue mau order ojol aja.." timpal Jennie dengan ketus tanpa menoleh ke arah Deryl yang terus menatapnya.
" gue bakalan terus di sini sampe lo mau bareng sama gue.." ucap Deryl kekeh ingin mengantar Jennie, sayangnya Jennie malas menanggapinya.
Jennie masih bertahan berdiri di sana dengan pura-pura memainkan ponselnya yang mati, begitupun dengan Deryl yang setia menunggunya di dalam mobil yang tak hentinya memandang Jennie. sesekali Deryl mencuri untuk memotret Jennie dengan ponselnya.
Tiba-tiba saja hujan turun dengan deras, sontak Deryl keluar dari mobilnya untuk menghampiri Jennie dan langsung menutup kepala Jennie dengan jas almamaternya.
Jennie terpaku dan kagum dengan perlakuan Deryl terhadapnya, namun dengan cepat Ia menepis pikirannya.
Jennie bersikeras menolak ajakan Deryl untuk masuk ke dalam mobilnya, hingga suara guruh membuatnya langsung berjongkok dengan raut muka yang ketakutan. padahal suara guruh tersebut tidak kencang sama sekali tetapi mampu membuat seorang Jennie ketakutan. yaps, Jennie memang memiliki Astraphobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap suara guruh.
Melihat Jennie ketakutan, Deryl memberanikan diri merangkul Jennie untuk menenangkannya. asli, baru kali ini seorang Deryl mau menyentuh kaum perempuan selain keluarganya. meskipun Deryl bersikap ramah dan murah senyum, tetapi untuk bersentuhan dengan lawan jenis tidak pernah Deryl lakukan.
Deryl menuntun Jennie untuk segera masuk ke dalam mobilnya. kali ini Jennie tidak menolaknya sebab perasaan takut akan suara guruh sudah mengalahkan egonya.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan sama sekali mengingat Jennie masih di hantui perasaan takut dan cemas. sampai akhirnya Deryl membuka pembicaraan untuk menanyakan alamatnya.
"rumah lo dimana? " tanya Deryl dengan lembut, tetapi Jennie diam tidak menanggapinya.
Deryl menepikan mobilnya membuat Jennie terhenyak sebab Deryl berani meraih tangannya.
"gak usah takut, gue gak bakalan ngapa ngapain ko, lo tenang yah.. kasih tau alamat lo di mana.. " ucap Deryl dengan lembut agar Jennie tenang. dan benar saja perlahan Jennie mulai tenang. akan tetapi dirinya enggan untuk bicara melainkan memberikan ponselnya pada Deryl dimana di sana sudah tertera alamat pada aplikasi Maps.
Hari sudah gelap bersamaan dengan hujan yang mulai reda.
Deryl membangunkan Jennie yang tertidur sebab sudah sampai di kediamannya. Sebelum membangunkannya, Deryl tak hentinya menatap wajah Jennie yang terlelap dengan tenang. ada perasaan tidak tega untuk membangunkannya.
" hey.. bangun.. " ucap Deryl seraya menggoyangkan bahu Jennie membuatnya terbangun dan menyambar ponsel miliknya dan langsung keluar begitu saja tanpa berucap terimakasih.
Deryl hendak memanggil Jennie sebab jas miliknya terbawa oleh Jennie. sayangnya Jennie cepat sekali menghilang membuatnya menggeleng.
Jennie mengambil napas dalam-dalam, sudah siap menerima omelan dari tante Hana sebab dirinya terlambat untuk pulang. Dengan langkah mengendap-endap seraya celingukan dirinya memasuki kamarnya.
__ADS_1
"ko sepi??? " batinnya tidak mendapati Om Johan beserta tante Hana membuatnya bernapas lega.
setelah membersihkan diri dan hendak beristirahat, perut Jennie berbunyi meminta sesuatu untuk di cerna.
Jennie pun ke luar dari kamarnya untuk makan malam di dapur.
Seketika langkahnya terhenti saat mendengar gumaman seseorang yang sedang berbincang lewat sambungan telepon.
Dengan rasa kesalnya Jennie pun menghampiri orang tersebut. rupanya itu adalah Stevan.
Jennie melemparkan sendalnya ke arah Stevan membuatnya langsung mematikan telponnya karena terkejut.
"apaan si lo kak? ganggu aja.. " ucap Stevan ketus membuat Jennie semakin kesal terhadapnya. dan kini Jennie melepas sendal yang sebelahnya lagi untuk memukul Stevan.
"lo yang apaan? kemana lo gak ada jemput gue.. " timpal Jennie tak hentinya memukul Stevan dengan sendalnya.
" cie.. ngarep gue jemput.. " timpal Stevan terkekeh mengejek Jennie.
"bukan gitu bocil, gue telat pulang gara-gara lo sialan.. " elak Jennie terus memukul Stevan tanpa ampun.
"lebay lo kak.. tenang aja, mami sama papi juga lagi pergi, so elo gak bakalan kena hukuman.. " ucap Stevan masih terkekeh.
Jennie melengos begitu saja malas harus meladeni Stevan, sebab dirinya benar-benar lapar.
Jennie terus mencoba menghubungi nomor kedua orang tuanya secara bergantian tetapi tidak ada yang mengangkat, begitupun dengan telepon rumahnya malah tidak tersambung.
saat Jennie memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan vidio masuk membuatnya langsung mengangkat dengan semangat.
"mami, papi.. "
"hi.. cantik kesayangan.. "
deg..
Rupanya Deryl yang menghubunginya membuat Jennie hendak menutupnya tetapi dengan cepat Deryl mencegahnya.
"eits.. tunggu dulu.. gue cuma mau mastiin lo baik-baik aja.. " ucap Deryl penuh semangat.
Jennie membiarkan Deryl berceloteh tanpa menutup sabungan panggilan videonya.
Jennie hanya menanggapi dengan "hmm" malas meladeni ucapan Deryl yang terkesan puitis. tanpa sadar Jennie ketiduran sebab sedari tadi dirinya menahan kantuk.
__ADS_1
cantik.. batin Deryl sebelum menutup sambungannya.
...****************...
Jennie terbangun dari tidurnya sebab ponselnya berdering sedari tadi.
"sial gue telat.. bisa ngamuk nih mak Lampir".
Jennie berniat mematikan ponselnya, tapi sayangnya Ia malah mengangkat panggilan tersebut.
" Hey.. gue nungguin lo di depan.. " ucap Deryl dengan santai, tetapi tidak dengan Jennie yang langsung panik.
Jennie buru-buru membersihkan dirinya dan bersiap untuk berangkat.
Beruntung di rumah hanya ada para pegawai, rupanya Tuan Rumah belum pulang dari kemarin, dan Stevan? dia memang sudah berangkat dari pagi tanpa memikirkan Jennie akan terlambat atau tidak.
Jennie segera menghampiri Deryl, meskipun malas harus meladeni pujangga tersebut, tetapi kali ini dirinya tidak bisa menolak ajakan Deryl sebab merasa akan telat berangkat mengingat sekarang dirinya adalah anggota OSIS, tidak lucu jika harus di hukum karena telat.
" gue turun di sini aja.. " ucap Jennie setelah sampai di persimpangan jalan. dirinya baru bersuara selama perjalanan hanya Deryl lah yang berbicara, lebih tepatnya membual dengan puitis.
Deryl pun menepikan mobilnya menuruti kemauan Jennie, meskipun dirinya ingin mengantar Jennie sampai area sekolah, tetapi Deryl tidak memaksa, Jennie mau berangkat bersamanya saja sudah membuatnya senang. terlebih Deryl juga takut terlambat.
" nanti gue jemput lo ya.. " ucap Deryl setelah membukakan pintu untuk Jennie.
" gak perlu, lagian gue ada kegiatan, gak tau pulang kapan ". timpal Jennie ketus, sialnya Deryl tidak akan pantang menyerah dan terkesan memaksakan kehendaknya.
" gue bakalan tungguin lo.. dan gue gak suka penolakan.. " ucap Deryl dengan enteng membuat Jennie semakin kesal terhadapnya.
dan sejak saat itu Deryl terus berusaha mendapatkan hati Jennie, setiap kesempatan dirinya terus berucap " I love you " entah itu secara langsung atau melalui telepon.
Entah mengapa Jennie malah membiarkannya, dari semua pengagum yang menyatakan perasaannya dan mengejar dirinya, hanya Deryl lah yang membuatnya nyaman.
terlebih Deryl mengarahkannya kepada hal yang bernilai positif.
Meskipun Jennie tidak pernah membalas pernyataannya, tetapi menurut Deryl Jennie juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, mengingat Ia semakin hari semakin dekat saja dengan Jennie.
Bukan tanpa alasan Jennie tidak pernah menerima Deryl untuk jadi kekasihnya. Jennie lebih mematuhi aturan Om Johan juga tante Hana yang menuntutnya harus belajar bersungguh tanpa memikirkan percintaan. dan peraturan tersebut tidak berlaku hanya kepada Jennie, melainkan untuk Stevan juga.
Berbeda dengan Deryl yang mengklaim Jennie sebagai kekasihnya, Ia menganggap hubungan keduanya " Backstreet ".
Deryl juga berniat serius menjadikan Jennie sebagai masa depannya.
__ADS_1
" Jen, sebelum gue lulus.. gue mau lo temenin gue nanti pas Sertijab.. " ucap Deryl memohon kepada Jennie.
Ini yang tidak di inginkan oleh Jennie yang merasa minder jika harus menemani Deryl nantinya. ini juga salah satu alasan mengapa Jennie tidak pernah menanggapi pernyataan cinta Deryl. sebab Jennie merasa tidak pantas untuk Deryl yang banyak di idamkan oleh para kaum hawa. sementara dirinya merasa hanya gadis yang jauh lebih buruk dari yang lainnya.